
Krystal tertawa terbahak-bahak di dalam mobil sambil membayangkan wajah Angelo yang tersiksa. Ia yakin jika Angelo akan sangat gusar setelah kepergiaanya karena ia berhasil membuat pria itu bergairah. Kini ia
telah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai dari pakaian sebelumnya yang ia gunakan. Sebuah kaos putih dan celana pendek, serta hoodie yang dapat menyamarkan wajahnya dari pandangan orang-orang asing di luar sana. Entah kenapa sejak dulu ia tidak terlalu suka mengekspos wajahnya, meskipun ia akui ia memiliki wajah yang dapat menarik pria manapun untuk mendekat padanya. Tapi ia tidak suka terlihat mencolok. Ia lebih suka tersamarkan diantara orang-orang biasa karena bagaimanapun ia adalah salah satu anggota mafia yang
berbahaya di Amerika. Ia memiliki banyak musuh di luar sana yang sewaktu-waktu dapat membunuhnya jika kinerjanya tidak bagus. Dan selama ini ia hanya sebatas mempertontonkan dirinya di depan umum ketika ia menjadi stripper.
“Pesawat kakek sudah mendarat?”
Krystal bertanya pada Yunho saat mereka berdua telah tiba di gerbang kedatangan internasional dan saat ini sedang menunggu kakeknya dengan bosan. Sesekali Krystal memainkan ponselnya sambil mendengarkan lagu-lagu favoritnya untuk mengusir rasa bosan yang menderanya.
“Seharusnya tuan besar sudah sampai, pesawatnya mendarat sepuluh menit yang lalu.”
“Kalau begitu kau tunggulah di sini, aku akan pergi ke toilet sebentar.”
Krystal berjalan pergi menuju toilet sambil memainkan ponselnya yang berisi banyak email dari beberapa rekan bisnisnya. Sesekali Krystal mendengus gusar dengan laporan yang ia dapat dari salah satu anak buahnya jika pengiriman atau pekerjaan mereka mengalami kendala. Padahal hari ini sang kakek pasti akan meminta laporan pengiriman yang dilakukan bulan ini. Ahh.. ia semakin malas
untuk bertemu kakeknya.
Bruk
Krystal menabrak bahu seseorang dengan keras hingga membuatnya sedikit meringis karena sakit. Namun ia lebih memilih untuk segera pergi dan tidak mengatakan apapun pada sang penabrak karena ia sedang malas untuk berurusan dengan seseorang. Biarlah orang itu menuduhnya sebagai wanita angkuh yang sombong, karena pada kenyataanya ia memang demikian.
-00-
Haejun berjalan pelan menuruni undakan tangga ketika ia telah tiba di Vegas. Ia mengamati setiap sudut bandara internasional Vegas dengan wajah datar. Hari ini ia datang untuk menjalankan sebuah misi. Ia harus bisa menemukan bukti-bukti kejahatan itu secepatnya agar ia tidak terus dihantui perasaan bersalah karena ia telah menyebabkan Yuka meninggal. Ia pun mengingat interaksinya dengan Park Jaejong yang telah ia lakukan selama dua tahun ini. Selama ini pria itu tidak pernah memberikannya informasi yang sebenarnya, tapi pria itu justru membuatnya semakin pusing dengan berbagai teka-teki yang sejak dulu selalu diucapkan pria itu saat ia mengintrogasinya.
Seekor anak ayam bisa berubah menjadi bebek jika ia dibesarkan oleh seekor bebek, begitupun dengan seekor anak ayam dapat berubah menjadi singa apabila dibesarkan oleh singa.
Ia pikir saat itu Park Jaejong sedang meracau karena tekanan batin yang dialaminya. Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin apa yang dikatakan oleh Park Jaejong mengandung makna tertentu.
Bruk
Haejun mengelus bahunya yang ditabrak oleh seseorang. Namun saat ia menoleh wanita itu sudah berjalan menjauh tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dengan gusar ia berniat untuk menegur wanita itu agar jangan berjalan sambil menggunakan ponsel, namun ia justru dibuat terkejut dengan siluet wanita itu yang telah berbelok menuju toilet.
Yuka...
Dengan penuh tekad Haejun berjalan menuju toilet wanita dan mennggu di depan toilet itu untuk memastikan dengan mata kepalanya sendiri jika apa yang ia lihat bukan hanya halusinasinya. Ia sangat yakin jika wanita yang baru saja menabrak pundaknya adalah Yuka karena mereka memiliki postur tubuh yang sama dan siluet wajah yang sama. Hanya saja wanita itu berambut blonde, sedangkan Yuka berambut coklat gelap. Tapi ia tiba-tiba teringat jika saat itu ia sendiri yang menemukan mayat Yuka. Kalung yang tergantung di leher mayat itu sudah menjadi bukti jika mayat itu benar-benar Yuka. Tapi bagaimana mungkin sekarang ia menemukan seorang wanita yang sangat mirip dengan Yuka? Andai ia boleh meminta pada Tuhan, ia berharap semoga mayat yang ia temukan dua tahun yang lalu bukan mayat Yuka. Ia berharap jika Park Jaejong yang kejam itu saat ini tengah menjebaknya dengan memalsukan kematian Yuka.
Cklek
Haejun menatap pintu itu penuh antisipasi dengan detak jantung yang bergumuruh. Sejak tadi ia menunggu di depan toilet itu, dan belum ada siapapun yang masuk. Sehingga ia berharap jika seseorang yang akan keluar dari toilet itu adalah wanita yang telah menabraknya.
“Tunggu..”
Haejun mencekal tangan wanita itu dengan wajah terkejut yang tercetak jelas di wajahnya. Sedangkan Krystal tampak marah dan langsung mengibaskan tangan Haejun keras untuk menghalau pria itu pergi. Tapi sayangya cengkeraman tangan Haejun terlalu kuat, hingga membuat pergelangan tangannya terasa nyeri.
“Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan padaku?” teriak Krystal marah. Haejun menatap wajah Krystal lekat-lekat dan hampir tidak menemukan cela atas kemiripan wanita itu dengan Yuka. Hanya rambut mereka yang berbeda karena Yuka memiliki warna rambut coklat gelap, sedangkan wanita itu berambut blonde.
“Yuka...” gumam Haejun dengan rahang mengetat. Beribu-ribu perasaan rindu dan emosi tengah menggelegak di hatinya hingga membuatnya nyaris ingin menubruk wanita itu untuk memeluknya. Tapi tatapan tajam dan ekspresi marah dari wanita itu membuatnya mengurungkan niatnya untuk merengkuh tubuh ramping itu karena sepertinya wanita itu memang bukan Yuka. Ia hanya orang lain yang kebetulan berwajah sama seperti Yuka.
“Lepaskan aku brengsek, atau aku akan berteriak!” bentak Krystal kasar sambil menghempaskan tangan Haejun sekali lagi. Kali ini Haejun memilih untuk melepaskan tangan kecil itu sambil menatap datar pada sang wanita yang sedang menunjukan kemarahan yang meluap-luap di depannya.
Yukanya tidak mungkin berkata kasar padanya
Sebuah bisikan menggema pelan di telinganya ketika ia mengingat sebuah fakta jika Yuka bukanlah wanita kasar yang akan mengumpati orang yang tidak dikenalnya seperti itu. Meskipun ia memang telah berbuat kurangajar dengan mencekal pergelangan tangan wanita itu.
“Minggir! Jangan halangi jalanku.” ucap wanita itu ketus. Haejun menggeser sedikit kakinya dan membiarkan wanita itu pergi. Hatinya saat ini sedang merasa sakit karena pertemuan yang tidak terduga dengan wanita yang berwajah mirip seperti Yuka, namun ternyata ia bukan Yuka. Haejun pun menolehkan kepalanya kearah perginya wanita itu sambil menatap tubuh wanita itu dengan perasaan perih. Ia sangat merindukan Yuka
-00-
“Yunho..”
Krystal memanggil Yunho pelan ketika pria itu terlihat sedang bercakap-cakap dengan seorang pria tua di depannya. Kedua pria itu refleks membalikan tubuh mereka dengan salah satu pria yang langsung tersenyum sinis pada Krystal.
“Cucuku, Krystal Park.”
Krystal berjalan kaku mendekati pria itu dan mencoba memeluk kakeknya dengan hangat. Namun ketika Krystal memeluk tubuh kakeknya, ia merasakan sesuatu yang hampa. Ia merasa tidak mengenali kakeknya karena selama ini mereka memang tidak pernah bertemu dan hanya sering melakukan percakapan melalui telepon atau panggilan video.
__ADS_1
“Kau sepertinya tidak senang dengan kedatanganku, apa kau sedang memiliki suatu masalah yang kau sembunyikan?”
“Tidak, aku hanya... merasa sedikit asing.” jawab Krystal apa adanya. Pria tua itu terkekeh pelan dan kembali membawa Krystal ke dalam pelukannya. Tidak ada rasa marah ataupun kecewa karena ternyata cucunya sendiri merasa asing dengannya. Ia justru merasa maklum dan bertekad ingin menambah kedekatannya dengan Krystal karena sekarang Krystal adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki selain Park Jaejong.
“Tidak apa-apa, kita memang tidak pernah bertemu sebelumnya bukan? Lebih tepatnya kau yang selama ini mengalami sakit, sehingga kau tidak pernah melihatku dalam keadaan nyata. Tapi setelah ini kita akan lebih sering menghabiskan waktu bersama, karena aku akan menjadi mentormu untuk meneruskan bisnis keluarga kita.”
Krystal melihat sebuah seringaian yang begitu mengerikan dari kakeknya. Namun ia tidak heran jika sang kakek memiliki tatapan yang begitu mengerikan dibandingkan kakek-kakek lain yang dimiliki oleh kebanyakan orang karena kakeknya adalah ketua Bloods, pemilik The Wyn, sebuah sindikat mafia yang sangat diperhitungkan di dunia. Jika kau berani macam-macam, maka bersiaplah untuk kehilangan nyawamu saat itu juga.
“Bagaimana dengan ayah? Apa ia baik-baik saja di penjara?”
“Saat ini? Saat ini ia lebih dari baik-baik saja di penjara itu. Anak buahku memperlakukannya dengan baik, namun kapten mereka yang bertanggungjawab atas kasus ayahmu sering berbuat kasar pada ayahmu untuk mencari informasi penting yang disembunyikan ayahmu. Terakhir kudengar ayahmu mendapat pukulan di perut
karena memberikan informasi palsu. Mungkin setelah ini hidupnya akan lebih menderita di tangan kapten itu karena ia tak kunjung memberikan informasi penting yang dibutuhkan oleh sang kapten.”
Krystal mengernyit tidak suka membayangkan ayahnya yang babak belur di dalam penjara. Meskipun ia belum pernah melihat bagaimana rupa asli sang ayah, tapi Yunho sering menceritakan padanya dan menunjukan beberapa foto ayahnya saat sedang melakukan kerjasama atau melakukan sesuatu untuk Bloods. Rasanya ia tidak terima jika ternyata di luar sana ada yang memperlakukan ayahnya dengan serendah itu.
“Kapan kita akan mengeluarkan ayah dari markas itu? Ia pasti merasa tertekan di sana.”
“Sabar, jangan terlalu terburu-buru. Jika waktunya sudah tepat, kita pasti akan membawa
keluar ayahmu dari tempat rongsokan itu. Sekarang lebih baik kau tunjukan pada kakek bagaimana hasil kerja kerasmu selama ini. Yunho baru saja mengatakan padaku jika kau berhasil melakukan kerjasama dengan kartel narkoba dari Italia, Angelo. Kakek benar-benar bangga padamu karena akhirnya kau bisa menaklukan pria angkuh yang naif itu.”
Krystal tersenyum kecil dan langsung membawa kakeknya menuju mobil. Akan ada banyak hal
yang ingin ia tunjukan pada kakeknya. Terkait jerih payahnya selama ini untuk mengembangkan Bloods agar menjadi salah satu kelompok mafia yang diperhitungkan di dunia. Apalagi selama ini ia melakukannya dengan tidak mudah. Banyak anggota Bloods yang dulu meremehkannya karena ia seorang wanita. Namun setelah ia berhasil menunjukan kompetensinya, mereka semua seperti berlomba-lomba untuk mencium kakinya sambil bersujud-sujud di bawah kakinya. Benar-benar munafik.
-00-
Hari ini Krystal sedang gerah. Ia ingin menyalurkan rasa marah dan kesalnya dengan menari sepuasnya di The Wyn. Yunho yang sejak tadi berada di belakangnya terus mengikuti langkah kakinya yang sudah berpijak di pintu masuk The Wyn. Ia kemudian menoleh gusar pada Yunho yang menyuruh pria itu menjaga jarak darinya karena ia tidak ingin dikenali sebagai Lady The Wyn.
“Menjauhlah dariku, aku tidak ingin siapapun mengenaliku sebagai Lady The Wyn.”
“Nona ingin menjadi stripper malam ini?” tanya Yunho sangsi pada Krystal. Pasalnya diantara stripper yang ada, Krystal adalah salah satu stripper yang paling mencolok. Selama ini jika sedang menari Krystal selalu menggunakan topeng dan menggunakan gaun yang lebih tertutup daripada stripper yang lain. Tak pelak hal
itu membuat pengunjung The Wyn semakin antusias untuk melihat Krystal menari, karena mereka begitu penasaran dengan wajah Krystal yang sesungguhnya. Terkadang salah satu pengunjung The Wyn secara terang-terangan memintanya untuk menjadi teman tidur mereka. Tapi sayangnya, Krystal pasti akan selalu membunuh
“Apa aku terlihat seperti akan menari balet? Pergi jauh-jauh dariku, aku tidak ingin kau mengacaukan kesenanganku hari ini. Cukup kakek yang membuat moodku menjadi buruk hari ini. Kakek tua itu benar-benar menyebalkan.”
“Tapi nona, apa yang dikatakan tuan Juhyuk benar, anda memang seharusnya mengambil langkah tegas pada mereka. Nona harus mengusir para gelandangan itu agar mereka segera mencari tempat lain, karena tempat itu sudah dibeli oleh The Wyn dan akan dibangun menjadi arena tarung bebas.”
Krystal mendecakan lidahnya pada Yunho yang lagi-lagi terlalu ikut campur dengan urusannya. Lagipula urusan penggusuran lahan itu bukan teritori Yunho, pria itu hanya seorang pelayan, bukan pengatur hidupnya.
“Kau tidak perlu ikut campur, aku bisa menyelesaikannya dengan caraku sendiri. Sebelum aku kembali ke Korea kupastikan sengketa itu sudah selesai. Sekarang biarkan aku bersenang-senang.”
Krystal segera memasang topeng putihnya dan langsung melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri ke dalam kasino miliknya. Malam ini pengunjung sedang ramai, dan mereka langsung bersiul-siul menggoda ketika melihat ia berjalan menaiki panggung untuk mulai melakukan tarian strip yang sudah ditunggu-tunggu oleh para pria hidung belang di depannya.
Alunan musik yang cukup keras mengawali gerakan Krystal dalam melakukan tarian erotis. Ia meliukan tubuhnya kesana kemari dengan gerakan yang begitu menggoda, membuat sebagian pengunjung yang tengah melakukan kegiatan mereka langsung teralihkan ketika melihat Krystal mulai menari. Salah satu pria dengan stelan jas hitam berjalan sedikit limbung ke atas panggung. Pria itu mendekati Krystal yang sedang meliukan tubuhnya di dekat sebuah tiang panjang berwarna maroon yang biasanya juga digunakan oleh penari stripper lain. Pria itu merangkul bahu Krystal tiba-tiba dan mendekatkan wajahnya hingga hampir menyentuh bibir Krystal, namun Krystal langsung menahannya sambil menggeram marah.
“Ladies and gentlemen, wanita ini akan menjadi milikku malam ini.” teriak pria itu meracau dengan aksen mabuknya. Krystal mencoba bersabar dengan mengikuti permainan pria itu. Dibalik pinggangnya ia telah menyiapkan sebuah pistol semi otomatis yang berperedam. Hanya menunggu saat yang tepat ia akan memecahkan kepala pria itu hingga hancur berkeping-keping.
“Ayo sayang, kita bersenang-senang.”
Krystal mengetatkan rahangnya marah, namun ia dengan wajah malaikatnya yang menipu justru tersenyum menggoda dibalik topeng putih berbulu angsa yang dikenakannya. Ia lalu sedikit menyeret pria itu agar turun dari panggung karena ia sudah tidak bisa berlama-lama memainkan sandiwara murahan itu. Apalagi saat ini kedua tangannya sudah gatal untuk menarik pelatuk pistolnya agar pria kurangajar itu mendapatkan hukuman yang setimpal. Berani-beraninya ia menggoda seorang Lady Bloods, Krystal Park.
“Sayang, kau akan membawaku kemana, hmm?” tanya pria itu sambil mengelus pipi Krystal. Ia berdecak kesal dan segera menghempaskan tangan kurangajar itu dari wajahnya, namun pria mabuk itu justru merapatkan tubuhnya pada Krystal dan memojokan tubuh Krystal di basement The Wyn yang sepi.
“Kau tahu, aku sudah lama menginginkanmu.”
“Hmm.. dan aku juga sudah lama ingin meledakan kepalamu.” desis Krystal pelan sambil membuka topeng bulu angsanya pelan dan menyeringai mengerikan pada pria mabuk itu.
-00-
Haejun berdiri di depan sebuah kasino mewah yang berada di kompleks Paradise Way, Vegas. Dua jam yang lalu Yeri memberikan informasi jika kasino itu merupakan kasino milik Bloods yang dicurigai sebagai kelompok mafia yang berasal dari Korea Selatan. Haejun sedikit merapikan jas armaninya sebelum berjalan masuk ke
dalam kasino itu untuk menyelidiki apapun yang bisa ia selidiki. Dan jauh di dalam hatinya ia sangat berharap jika keputusannya untuk menyelidiki kasino itu tidak salah, karena ia benar-benar sangat membutuhkan informasi itu untuk menjebloskan orang-orang licik yang telah merusak negaranya.
“Tolong angkat tangan anda tuan.”
__ADS_1
Haejun mengangkat tangannya dan seorang petugas mulai menggeledah seluruh jasnya untuk menemukan barang-barang yang tidak boleh dibawa masuk ke dalam kasino.
“Pisau?”
Haejun mengendikan bahunya acuh tak acuh dan membiarkan petugas itu mengambil pisau lipat yang ia sembunyikan di dalam saku jasnya. Ia hanya sedang berjaga-jaga, bukan untuk melakukan suatu kejahatan.
“Aku sudah tidak membawa apapun lagi.” ucap Haejun datar ketika petugas itu terus meraba tubuhnya setelah ia menemukan sebuah pisau lipat di dalam jas yang dikenakan oleh Haejun.
Setelah dirasa Haejun memang tidak membawa senjata apapun, Haejun diijinkan masuk ke dalam ruang utama kasino yang besar. Sekilas Haejun cukup kagum dengan interior kasino yang begitu berkelas. Tapi sayangnya tempat itu adalah sarang bagi penjahat-penjahat berbahaya yang selama ini selalu menjadi buronan intel-intel sepertinya. Ia yakin jika di dalam kasino ini ia akan menemukan banyak penjahat yang seharusnya membusuk di penjara, namun mereka berhasil lolos karena mereka memiliki kekuasaan.
“Tolong berikan aku satu koin.”
Haejun mencoba bermain jackpot untuk menyamarkan gerak geriknya yang mungkin mencurigakan. Sembari bermain jackpot, kedua matanya terus bergerak kesana kemari untuk mengawasi keadaan sekitar. Tanpa sengaja ekor matanya melihat seorang wanita yang tengah menari dengan sangat gemulai di atas panggung.
Wanita itu menggunakan gaun putih dengan belahan sebatas betis dan juga sebuah topeng putih berhiaskan bulu angsa. Merasa tertarik dengan wanita itu, Haejun mencoba berjalan mendekat kearah panggung dan meninggalkan permainan jackpotnya yang belum sepenuhnya ia mainkan. Wanita itu mengingatkannya pada seseorang yang pernah ia termui sebelumnya, namun ia tidak yakin dengan dugaanya.
“Yuka..”
Lagi-lagi gumaman itu yang keluar dari bibir Haejun ketika ia merasa jika siluet wanita itu sangat mirip dengan Yuka. Ia pun semakin intens memperhatikan wanita itu sambil sesekali menyesap wine yang dipesannya. Ia begitu penasaran dengan wanita itu, dan berharap ia akan membuka topengnya setelah ia selesai menari. Namun tanpa diduga, seorang pria dengan stelan jas hitam berjalan sempoyongan ke atas panggung dan mencoba untuk merayu wanita itu. Sesekali sang pria membela wajah stripper itu dan hendak menciumnya, tapi sang stripper dengan sigap menghindari sentuhan pria itu dan justru menyeret pria itu untuk turun dari atas panggung. Sekilas Haejun mendengar jika pria itu hendak membawa sang wanita ke atas ranjangnya.
Diam-diam Haejun berjalan mengikuti stripper itu untuk melihat apa yang akan mereka lakukan. Sebenarnya ia cukup curiga dengan gerak gerik sang stripper karena ia terlihat begitu berani dan tidak seperti seorang stripper yang notabenenya adalah seorang ******* rendahan. Ketika berada di basement, Haejun melihat stripper itu membuka topengnya dan menodongkan pistolnya tepat di kepala pria itu. Untuk sesaat Haejun terpaku di tempat karena ia merasa mengenali wanita itu. Ia adalah wanita yang ditemuinya di bandara. Ia adalah wanita yang sangat mirip dengan Yuka.
“Aku sudah muak melihat pria hidung belang sepertimu. Dan aku sudah melihat gerak
gerikmu selama ini di sini, kau adalah salah satu pria brengsek yang telah menggagalkan pengiriman paket ke Irlandiam, bukan? Kau harus mati!”
Dor
Haejun menonton serangkaian peristiwa dramatis itu dalam diam. Tiba-tiba ia merasa tertarik dengan ucapan wanita itu dan ingin mengetahui latar belakang wanita itu lebih lanjut. Selain memiliki wajah yang sangat mirip dengan Yuka, wanita itu juga sempat membicarakan sebuah paket yang ia yakini pasti berisi sesuatu
yang penting. Karena jika tidak, wanita itu tidak akan segan-segan mengotori tangannya hanya untuk membunuh seorang pria mabuk yang tak sadarkan diri.
Srek
Gerakan Haejun yang tiba-tiba membuat wanita itu waspada dan langsung menodongkan pistol kearah Haejun. Haejun mengangkat kedua tangannya di atas kepala, dan berjalan mendekati wanita itu dengan gerakan santai.
Krystal mengamati gerakan pria itu yang santai sambil mengambil ancang-ancang untuk menarik pelatuknya. Bagaimanapun pria itu adalah saksi mata dari pembunuhan yang baru saja ia lakukan. Dan jika ia sedang sial, pria itu dapat membuatnya harus berurusan dengan polisi yang merepotkan.
“Tembakan yang bagus, aku suka. Jadi apa klienmu sudah mengecewakanmu?”
Haejun berhenti sejauh dua meter dari tempat wanita itu berdiri. Ia masih menaikan kedua tangannya di atas kepala, pertanda ia datang secara baik-baik, bukan untuk memulai suatu pertikaian. Namun Krystal sudah memasang ancang-ancang waspada karena ia sama sekali tidak mengenal pria asing itu.
“Siapa kau? Apa kau salah satu anggota Outfit atau Taiwaness Triad? Katakan saja, aku tidak takut.” ucap Krystal lantang. Sejak dulu Bloods memang memiliki masalah dengan kedua kelompok itu karena mereka sama-sama memperebutkan jalur perdagangan gelap yang berada di Asia dan Eropa.
“Aku bukan salah satu dari mereka, aku hanya pengunjung yang kebetulan melihatmu sedang menyeret seorang pria mabuk yang saat ini sudah tergeletak mengenaskan di bawah kakimu. Ngomong-ngomong, wajahmu mengingatkanku pada isteriku yang sudah meninggal, Lee Yuka.”
Tiba-tiba Haejun menarik tangan Krystal yang sedang menodongkan pistol kearahnya, dan ia mengunci tangan Krystal ke belakang, sehingga Krystal saat ini berada di dalam dekapan Haejun dengan ujung pistol yang mengarah pada kepalanya sendiri.
“Sial! Lepaskan aku brengsek! Aku bukan isterimu atau siapapun yang berhubungan
denganmu. Jadi kuperingatkan padamu untuk melepaskanku sebelum peluru di pistol ini melubangi kepalamu.”
Haejun tersenyum mencemooh sambil menyeringai licik pada Krystal. Ia tahu jika wanita itu hanya menggertaknya, karena ia tidak akan mungkin bisa menyerangnya dalam keadaan terkunci seperti itu. Kecuali jika ia mengetahui triknya.
“Hahaha, lakukan saja jika kau bisa. Tapi ngomong-ngomong, berapa tarifmu untuk satu malam, sayang? Karena aku merasa tertarik dengan tubuhmu.”
“Keparat! Bedebah sialan! Aku tidak serendah itu. Aku adalah Lady Bloods, dan tidak ada yang bisa bermain-main denganku.”
Krystal mulai memberontak di dalam cekalan tangan Haejun, dan ia mencoba menyerang Haejun agar pria itu lengah dan mengendurkan cengkeramannya yang menyakitkan. Suara tembakan berkali-kali terdengar di dalam basement yang sepi itu karena Krystal berusaha membunuh Haejun dengan pistolnya, namun selalu meleset karena gerakan gesit Haejun. Sekarang ia hanya memiliki satu peluru untuk membunuh Haejun. Mau tidak mau ia harus mencoba peruntungannya sebelum ia melawan pria asing itu dengan tekhnik-tekhnik bela diri yang dipelajarinya selama ini.
Dor
Darah segar merembes dari lengan kiri Haejun ketika Krystal berhasil menembakan peluru terakhirnya pada Haejun. Tapi sayangnya peluru itu tidak mematikan Haejun, hanya sedikit melukainya, dan membuat pria itu bergeming di tempat tanpa mengeluh kesakitan.
“Itu adalah peringatan untukmu. Dan kutekankan padamu sekarang juga jika aku bukan istermu atau siapapun yang kau kenal, karena aku adalah Krystal Park, salah satu pemimpin Bloods. Jika kau berani macam-macam denganku, maka aku tidak segan-segan untuk membunuhmu. Anggap saja hari ini kau sedang beruntung karena peluruku tidak sampai mengoyak kepalamu hingga pecah berkeping-keping.”
Haejun menatap wanita itu dalam diam tanpa mengeluarkan ekspresi apapun. Saat ini yang berkecamuk di dalam kepalanya justru satu, mengapa wanita itu mengetahui teknik kuncian yang ia gunakan. Padahal selama ini satu-satunya wanita yang pernah mempelajarinya hanyalah Yuka.
__ADS_1