
“Bagaimana, apa ia sekarang sedang berada di gudang itu?”
Seorang pria dengan jaket kulit bertanya pada salah satu rekannya sambil menyeringai licik. Setelah sang rekan mematikan sambungan teleponnya, pria itu menganggukan kepalanya sambil tersenyum penuh kemenangan karena ia telah berhasil memperdaya sang kapten. Dan setelah ini kaptennya akan menyelidiki perusahaan yang salah dan sama sekali tidak bersalah.
“Aku sudah mengatakan padanya jika Han Company terlibat dalam bisnis gelap itu, sehingga bos bisa sedikit lebih tenang untuk beberapa waktu kedepan. Bos bisa menjalankan bisnisnya dengan aman.”
“Apa kau yakin? Kupikir kapten Lee tidak akan sebodoh itu, kita harus terus memantaunya.” ucap pria berjaket kulit sambil bersedekap. Pria yang sejak tadi masih menggenggam ponselnya itu tampak mendengus gusar karena kinerjanya selalu mendapat celaan dari sang rekan yang menurutnya tidak lebih baik darinya. Tapi
apa yang dikatakan oleh kawannya itu benar, reputasi Lee Haejun sangat baik dalam jajaran intel, ia jelas tidak akan berlaku gegabah dan akan ditipu dengan mudah seperti itu. Ia harus meminta tolong rekan timnya yang lain untuk mengawasi pergerakan Lee Haejun.
“Aku sudah mengirim pesan pada Oscar untuk mengawasi kapten Lee. Jika kapten Lee pada akhirnya mengetahui kebusukan kita, Oscar akan langsung menghabisinya dan menghilangkan jejak kita dengan bersih. Jadi kau tenang saja.”
Pria berjaket kulit itu menyeringai puas sambil menganggukan kepalanya mengerti. Sudah sejak dulu ia muak dengan pemimpinnya itu karena selalu bersikap sok berkuasa dan semena-mena, padahal ia yakin jika pemimpinnya itu hanyalah pria bermuka dua yang telah menipu banyak bawahannya dengan wibawanya yang sama sekali tidak mumpuni. Dan ia sangat membenci pria itu karena ia membuat peraturan yang begitu mencekik di divisinya hingga ia tidak bisa mendekati wanita yang dicintainya dengan leluasa. Beruntung sejak awal ia bukan bagian dari intel itu, karena ia hanyalah seorang mata-mata yang sewaktu-waktu dapat menghancurkan timnya hingga benar-benar tercerai berai dan tak tertolong.
“Lakukan tugasmu dengan baik, aku akan kembali ke markas untuk mengintai pergerakan para intel itu.”
-00-
Yuka mengelus rambut Enzo pelan yang sedang terlelap di sebelahnya. Setelah ia menyiapkan berbagai hidangan bersama Enzo, bocah kecil itu merengek lelah dan meminta Yuka menemaninya untuk tidur. Yuka pun akhirnya menyimpan semua hasil masakannya di kulkas dan segera menemani Enzo untuk tidur sebelum bocah empat tahun itu kembali merengek.
Sembari mengelus rambut Enzo, Yuka mulai mengutak-atik ponselnya untuk membaca berita-berita populer di internet. Tapi tiba-tiba Yuka teringat akan suaminya yang hingga siang hari belum memberinya kabar. Yuka pun mencoba menghubungi Haejun. Dan pada dering ke lima suaminya itu akhirnya mengangkat panggilan teleponnya juga.
“Oppa, kau dimana?” tanya Yuka langsung. Samar-samar Yuka mendengar suara berisik yang berasal dari seberang dan membuatnya tidak fokus mendengarkan ucapan Haejun.
“Yuka, kau mendengarku?”
“Aku tidak bisa mendengar suaramu dengan jelas oppa. Kau dimana?” tanya Yuka lagi.
“Aku sedang di markas. Di sini memang sangat ribut karena aku sedang mengawasi Sungjo melatih beladiri para agent baru.”
“Sungjo? Ahh, aku merindukannya. Tolong sampaikan salamku padanya oppa. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya setelah ia diangkat menjadi kepala keamanan di distrik busan. Apa aku perlu pergi ke sana?”
“Tidak usah.” jawab Haejun tegas.
“Aku bosan oppa. Ini seperti bukan gayaku, seharian berada di rumah dan mengurus anak. Bukankah selama ini aku selalu bekerja dan menyelesaikan kasus di luar? Aku ingin pergi ke markas.” rengek Yuka berisik. Haejun mendengus kesal dengan keinginan Yuka yang sangat merepotkan itu. Bukankah seharusnya wanita itu
senang karena bisa menghabiskan waktunya untuk mengurus Enzo?
“Nikmati saja waktumu bersama Enzo, mungkin saja kau tidak akan mendapatkan kesempatan langka itu lagi karena mungkin kau akan disibukan dengan berbagai kasus besok.”
“Hmm, baiklah. Aku akan membuat diriku nyaman di rumah. Tapi kapan oppa akan pulang? Kami sudah membuat berbagai masakan untuk makan malam bersama oppa nanti, kuharap oppa tidak akan mengecewakan Enzo karena anak itu sangat bersemangat untuk membuatkan makanan kesukaan daddynya.” peringat Yuka sungguh-sungguh. Haejun tampak diam sejenak di seberang, pasalanya ia tidak tahu apakah ia akan pulang atau tidak hari ini. Ia masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
“Akan kuusahakan.” jawab Haejun akhirnya setelah terdiam cukup lama. Yuka mengernyitkan dahinya heran karena ia merasa ada yang sedang disembunyikan oleh suaminya. Jika memang benar Haejun sedang berada di markas, itu berarti pekerjaanya sudah selesai. Tapi nyatanya suaminya itu tidak berani berjanji untuk pulang, itu berarti Haejun telah membohonginya. Ia yakin saat ini suaminya tidak sedang berada di markas.
“Kalau begitu aku akan menunggu oppa pulang. Sampai jumpa nanti di rumah.”
Yuka menutup sambungan teleponnya sambil memikirkan keberadaan suaminya. Ia kemudian teringat akan software pelacak yang beberapa hari lalu dikirimkan oleh rekannya. Dengan penuh semangat Yuka segera membuka aplikasi itu untuk melacak dimana keberadaan Haejun.
“Semoga software ini masih berfungsi.” harap Yuka sambil memasukan beberapa digit nomor ponsel milik Haejun ke dalam kolom percarian. Lalu pada layar ponselnya mulai muncul gambar peta kota Seoul beserta koordinat angka yang masih bergonta-ganti untuk menyesuaikan koordinat sinyal ponsel Haejun berada.
“Kenapa lama sekali.” gumam Yuka tidak sabar ketika software itu tak kunjung memunculkan koordinat angka dimana lokasi Haejun berada. Namun tiba-tiba beberapa deret koordinat angka itu muncul di layar ponsel Yuka dengan penanda peta yang menunjuk pada sebuah titik. Dengan senyum terkembang Yuka mulai
memperbesar titik peta itu untuk mengetahui dimana keberadaan suaminya. Tapi Yuka langsung tertegun heran ketika ia justru menemukan nama sebuah jalan, bukan nama markas seperti yang disebutkan oleh suaminya. Yuka pun semakin memperbesar gambar peta itu dan ia mendapatkan sebuah fakta jika suaminya sedang berada di
daerah Gwangwon. Sebuah daerah yang terkenal dengan pasar gelap dan juga tempat perjudian. Sembari berpikir, Yuka melirik Enzo cukup lama sambil menimbang-nimbang rencananya.
“Aku harus ke sana.” putus Yuka mantap. Ia pun mencium kening anaknya lama sebelum ia melompat turun dari atas ranjang dan bersiap-siap untuk menyusul suaminya di Gwangwon. Lagipula jarak antara rumah ibunya dan Gwangwon tidak terlalu jauh, sehingga ia yakin dapat mengejar Haejun di sana sebelum suaminya itu pergi ke tempat lain.
__ADS_1
“Enzo ya, tunggu mommy hingga makan malam nanti. Mommy janji akan membawa daddy untuk makan malam bersamamu.” bisik Yuka pelan sambil mengecup pipi anaknya lagi. Setelah itu Yuka segera keluar dari kamar anaknya untuk bergegas menuju daerah perjudian Gwangwon.
-00-
Sementara itu di dalam sebuah tempat perjudian elit di kota Seoul, Haejun sedang menyamar sebagai bandar judi untuk membuntuti anak buahnya yang tertangkap basah sedang bermain judi di tempat tersebut satu jam yang lalu. Sembari bermain kartu, Haejun terus mengamati gerak gerik Han Jaeshin yang sedang duduk di meja kedua di sebelahnya.
Satu setengah jam yang lalu saat ia hendak masuk ke markas, tanpa sengaja ia melihat Jaeshin sedang berjalan keluar dari markas. Melihat hal itu, ia segera membuntuti Jaeshin untuk melihat jati diri Jaeshin yang sebenarnya karena pria itu sudah berani mempermainkannya dan membohonginya mengenai keberadaan para mafia yang sedang diincarnya.
“Bung, tunjukan kartumu.”
Haejun membanting kartu-kartunya di meja judi dengan seringaian kemenangan yang tercetak jelas di wajahnya.
“Aku menang.”
Haejun pun mendapatkan sejumlah uang taruhan dari pemain lain, dan setelah itu ia langsung berlalu pergi karena ia melihat Jaeshin yang mulai meninggalkan tempat duduknya.
Sementara itu seorang pria dengan stelan jas rapi yang sejak tadi menjadi lawan judi Haejun terlihat begitu serius memperhatikan langkah Haejun yang mulai menghilang ditelan kerumunan pengunjung cassino. Pria berjas itu menyeringai sekilas sambil bersiul pelan menikmati permainan judi yang sedang ditekuninya.
-00-
“Benarkah Haejun oppa berada di sini?” gumam Yuka pelan ketika ia telah berhenti di depan sebuah cassino elit di kota Seoul. Sesaat Yuka merasa ragu untuk masuk ke dalam cassino karena setahunya Haejun tidak suka bermain judi, meskipun ia tahu jika suaminya itu sangat jago bermain judi karena ia pernah melihat Haejun mengajarkan trik-trik judi pada juniornya saat juniornya hendak menyamar sebagai taipan kaya yang brengsek.
Yuka pun mengecek ponselnya lagi untuk memastikan keberadaan sinyal ponsel Haejun yang memang berada di dalam cassino tersebut. Ia pun mulai merapikan penampilannya dan bersiap untuk turun. Tapi tiba-tiba saja ia melihat salah satu rekan intelnya sedang berjalan keluar dari pintu cassino di depannya, dan tak berapa lama munculah suaminya yang sedang berjalan tenang, menyaru diantara pengunjung cassino dan para pejalan kaki yang berjalan memadati jalanan utama Gwangwon. Tanpa pikir panjang Yuka segera turun dari mobilnya untuk mengikuti kemana perginya Haejun.
Yuka terus berjalan mengendap-endap di belakang Haejun sambil sesekali ia berpura-pura berinteraksi dengan pedagang makanan ringan karena Haejun tiba-tiba menoleh ke belakang.
“Ah, berapa harga satu porsi jjangmyeon?” tanya Yuka tiba-tiba pada seorang pedagang bunga. Entah kenapa kalimat pertanyaan yang keluar dari mulutnya justru mengenai jjangmyeon, padahal jelas-jelas wanita muda itu sedang berjualan bunga.
“Bunga nona?”
“Sial! Kemana perginya Haejun oppa?” umpat Yuka kesal sambil terus berjalan menyusuri jalan trotoar yang begitu padat di depannya. Sembari berjalan Yuka mulai meruntuki kebodohannya yang sempat kehilangan fokus karena berbagai macam spekulasi yang bersarang di kepalanya.
Brukk
Tanpa sengaja Yuka menabrak pundak seorang pria berperawakan jangkung yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Pria itu menatap Yuka sekilas dibalik kacamata hitamnya sambil memperingatkan Yuka agar lebih berhati-hati.
“Perhatikan langkahmu nona.” ucap pria itu santai dan kembali berjalan sambil bersiul pelan. Yuka menatap pria itu kesal sambil mengumpat keras dalam hati karena sekarang pundaknya terasa sakit karena tabrakan keras pria asing itu.
“Aishh, dasar pria menyebalkan!”
Yuka pun kembali melanjutkan langkahnya dengan wajah yang luar biasa kesal sambil menahan nyeri di pudaknya. Sekarang ia merasa benar-benar kesal karena ia telah kehilangan jejak suaminya. Ia pun memutuskan untuk kembali ke mobilnya dan pulang karena tak ada gunanya ia terus berputar-putar di Gwangwon sedangkan suaminya sudah menghilang entah kemana.
Srett
“Mpphhhh....”
Tiba-tiba Yuka dibungkam dan diseret ke dalam sebuah gang sepi. Yuka meronta-ronta dengan sekuat tenaga sambil memukuli si penyergap itu. Namun ia tetap diseret ke dalam gang gelap itu hingga menjauh dari keramaian.
Brukk
Tubuh Yuka dihempaskan begitu saja pada tembok dengan posisi punggung Yuka yang mendarat terlebih dulu di atas permukaan dinding yang keras.
“Ahh..”
Yuka mengaduh kesakitan ketika si penyerang memojokannya ke dinding dengan tubuhnya yang cukup besar.
“Oppa..”
__ADS_1
Akhirnya Yuka bisa mengelurkan suaranya setelah ia berhasil menenangkan dirinya yang panik karena mendapatkan serangan tiba-tiba disaat ia sedang tidak siap.
“Untuk apa kau berada di sini? Kau mengikutiku!” tuduh Haejun tepat sasaran. Yuka mendelik kesal pada Haejun dan meminta pria itu untuk melepaskannya. Tapi Haejun rupanya masih enggan untuk melepaskan Yuka karena ia ingin memberi sedikit pelajaran pada isteri pembangkangnya itu. Bukankah sudah jelas ia meminta Yuka untuk berada di rumah bersama Enzo. Tapi nyatanya isterinya itu justru berkeliaran di jalanan sambil mengendap-endap seperti pencuri.
“Aku sedang berjalan-jalan karena aku bosan berada di rumah.” ucap Yuka beralasan. Haejun semakin merapatkan tubuhnya pada Yuka, dan kali ini ia sedikit menekan tulang dada Yuka dengan sikunya untuk memberikan efek mengintimidasi pada Yuka.
“Sejak kapan kau suka berbohong padaku nona Im? Aku tahu kau ke sini karena melacak sinyal ponselku.”
Dengan gerakan cepat Haejun merogoh saku kemeja Yuka dan langsung mengambil ponsel putih milik Yuka yang tersimpan di sana. Dan ketika Haejun membuka kunci pengaman milik isterinya, ia langsung disuguhkan dengan hamparan peta Seoul dan juga angka-angka koordinat yang menunjukan dimana keberadaanya.
“Lihat, bukankah ini titik koordinat dimana kita sedang berdiri bukan? Apa kau masih ingin berbohong dariku?”
Yuka merampas ponsel putihnya dari tangan Haejun dan langsung memasukan benda persegi itu ke dalam saku celananya. Sekarang ia memang tidak bisa mengelak lagi, karena suaminya itu sudah mendapatkan bukti yang valid dari perbuatannya hari ini.
“Baiklah, aku mengaku jika aku memang menguntit oppa hari ini. Tapi jangan salahkan aku jika aku melakuka hal itu, oppa menipuku.” ucap Yuka sengit. Haejun menatap Yuka tajam dan sedikit menguarkan tatapan ancaman pada wanita itu. Tapi rupanya hal itu tidak berpengaruh pada Yuka karena wanitanya itu sudah sangat mengenalnya dengan baik.
“Aku hanya tidak ingin melibatkanmu dalam bahaya. Mafia ini, mereka sangat berbahaya. Aku tidak mau kehilangan orang-orang yang kucintai. Aku hanya ingin melindungimu, Enzo, eommonim, dan orangtuaku.” ucap Haejun jujur. Mendengar hal itu Yuka sedikit melunak dan mencoba untuk memahami alasan suaminya. Tapi sekarang ia sudah terlanjur berada di sana, ia tidak mungkin pulang begitu saja dan berpura-pura jika ia tak tahu apa-apa. Ia ingin membantu Haejun menyelesaikan misinya.
“Karena aku sudah berada di sini, aku ingin membantumu oppa. Aku ingin membantu menyelesaikan misimu agar hari ini kau bisa pulang ke rumah karena aku berjanji pada Enzo akan membawamu pulang untuk makan malam bersama. Hari ini Enzo terlihat begitu semangat ketika memasak bersamaku, ia benar-benar ingin kau ada dalam acara makan malam hari ini. Jadi kumohon ijinkan aku untuk membantu agar pekerjaanmu segera selesai.”
Haejun menghela nafas pelan sambil melepaskan himpitan tubuhnya pada Yuka. Wanita itu baru saja membujuknya dengan bujukan manis yang sialnya benar-benar menyentuh hatinya. Membayangkan Enzo yang hari ini telah bekerja keras untuk membuatkan acara makan malam yang istemewa dengannya sangat menyentuh hatinya. Apalagi selama ini mereka memang jarang berkumpul apalagi makan bersama, jadi ia akan merasa sangat berdosa jika tidak bisa memenuhi keinginan putranya hanya karena kesibukannya untuk mengejar gerombolan mafia. Jadi, ia tidak memiliki pilihan lain selain menerima Yuka sebagai partnernya hari ini. Lagipula ia yakin jika isterinya itu lebih dari mampu untuk diandalkan. Ia wanita yang tangguh.
“Well, bagaimana oppa? Apa kau bersedia menerima bantuanku?” tanya Yuka tidak sabar setelah Haejun terdiam cukup lama. Pria itu mendengus dan langsung menarik tangan Yuka agar berjalan beriringan keluar dari gang sempit itu bersamanya. Seketika hati Yuka bersorak girang karena akhirnya sang suami mengijinkannya untuk ikut andil dalam misinya yang selama ini dirahasiakannya. Tapi ia masih penasaran, sebenarnya seberapa berbahaya mafia-mafia yang sedang ditangani oleh Haejun?
“Oppa, sebenarnya siapa mafia yang sedang oppa kejar? Kenapa presiden benar-benar terlihat terganggu dengan pergerakan mereka?”
“Ceritanya panjang, tapi intinya mafia itu adalah mafia yang sama dengan yang membunuh ayahmu, meskipun aku belum mendapatkan bukti tentang hal itu, tapi aku sangat yakin.”
Yuka terperangah seketika ketika mendengar penuturan dari Haejun. Jadi selama ini suaminya sudah tahu semuanya, sedangkan ia tidak tahu apa-apa.
“Kenapa oppa tidak mengatakannya sejak awal? Oppa sengaja menyembunyikannya dariku?” tuduh
Yuka sinis. Haejun menoleh pada isterinya sekilas dan kembali menghadap ke depan dengan rahang keras. Ia tidak mau didebat oleh isterinya hari ini, ia sudah cukup lelah dengan semua risiko yang mencekik lehernya hingga ia merasa sesak dan ketakutan sepanjang waktu.
“Aku tidak bisa memberitahumu karena ini berbahaya. Aku tidak mau insiden tiga tahun lalu terulang lagi. Aku hanya ingin keluargaku dapat berkumpul dengan utuh.”
Mendengar alasan Haejun yang memang masuk akal, Yuka memilih untuk bungkam dan menerima semua ketidakjujuran suaminya selama ini. Toh itu semua juga untuk kebaikannya dan Enzo, jadi untuk apa ia menyalahkan Haejun dan berbalik memusuhi suaminya. Justru ia akan sangat menyesal jika melakukan hal itu.
“Jadi apa rencana oppa hari ini? Apa yang harus kita lakukan?”
“Hari ini aku sedang membuntuti Han Jaeshin karena aku yakin dia adalah mata-mata untuk mafia itu. Hari ini ia telah menipuku dan memberikan informasi palsu padaku. Dan jika hari ini aku bisa menangkap basahnya sedang melakukan kerjasama dengan mafia itu, aku bisa langsung membawanya kepada jaksa untuk diadili. Tapi sebenarnya hal itu terlalu baik, mengingat ia adalah seorang pengkhianat. Dan seorang pengkhianat seharusnya dihukum mati dengan cara yang keji.”
Yuka melirik wajah suaminya yang penuh dengan aura membunuh di wajahnya. Dan ia pun memilih diam karena ia tidak ingin memancing kemarahan Haejun yang mengerikan itu.
“Oppa, lebih baik kita berpencar untuk mencari Han Jaeshin. Kita akan bertemu di depan cassino satu jam lagi, bagaimana?”
“Baiklah, cepat hubungi aku jika kau dalam masalah.”
Setelah Yuka mengangguk, Yuka mulai berjalan berlawanan arah dari Haejun. Wanita itu berjalan ke arah barat dan menyaru diantara para pejalan kaki yang ada. Sesekali Yuka melongok ke belakang untuk memastikan jika ia tidak sedang diikuti karena perasaanya tiba-tiba merasakan sesuatu yang janggal.
Suara itu....
Yuka tiba-tiba mendengar suara siulan yang begitu familiar di telinganya. Dengan penuh kewaspadaan Yuka mulai mengamati setiap pejalan kaki yang berjalan disekitarnya satu persatu.
Yuka pov
Lagi-lagi aku mendengar suara siulan itu disekitarku. Tapi aku sama sekali tidak melihat seorangpun yang tampak mencurigakan. Mereka semua, para pejalan kaki, terlihat sedang berjalan melewatiku begitu saja tanpa ada masalah. Aku pun memutuskan untuk melupakannya dan kembali berjalan untuk menemukan Han Jaeshin. Kuharap pria itu masih berada di sekitar Gwangwon karena tadi kami cukup lama berdebat di dalam gang sempit, sehingga aku khawatir jika Han Jaeshin mungkin saja sudah pergi dari sini. Tapi untuk saat ini aku mencoba untuk lebih teliti dalam mencari Han Jaeshin, karena jika aku menemukannya, tidak menutup kemungkinan aku akan mendapatkan informasi tentang mafia-mafia yang terlibat dalam pembunuhan ayahku.
__ADS_1