Ignite

Ignite
Dark Atmosphere (Twenty One)


__ADS_3

            Satu minggu setelah kepergian Yuka, Haejun mulai beradaptasi dengan status barunya. Sekarang ia belajar untuk melakukan semuanya sendiri. Mulai dari membangunkan Enzo untuk pergi ke sekolah, menyiapkan Enzo sarapan, dan mengantarkan Enzo ke sekolah. Namun itu semua tidak serta merta dikerjakan oleh Haejun sendiri karena Jaekyung selalu membantunya. Sejak mengetahui semua hal yang menimpa Haejun, ia semakin berani menunjukan rasa perhatiannya dengan sering datang ke rumah Haejun untuk menyiapkan sarapan atau mengurus Enzo jika Haejun sedang sibuk menyelesaikan pekerjaanya di markas.


            “Selamat pagi.”


            Jaekyung menyapa ayah dan anak yang sedang berjalan beriringan menuruni anak tangga satu persatu. Enzo yang berada di sebelah Haejun langsung menatap Haejun aneh lantaran Jaekyung sudah berada di rumahnya sepagi itu.


            “Dad, kenapa aunty Jae bisa masuk ke rumah kita?” tanya bocah kecil itu polos. Haejun mengendikan bahunya tak tahu dan langsung menatap sang tukang kebun yang kebetulan baru saja lewat di depan mereka.


            “Sepertinya Jungso yang membiarkannya masuk. Jungso ssi, lain kali jangan biarkan orang yang tidak dikenal masuk ke rumah ini.” peringat Haejun sungguh-sungguh dengan wajah dingin. Jungso tampak merasa bersalah dan langsung menundukan kepalanya dalam. Namun Jaekyung langsung menepuk pundak Jungso pelan untuk menenangkan pria awal tiga puluhan itu.


            “Tenang saja Jungso ssi, Haejun tidak akan memecatmu hanya karena kau mengijinkanku masuk ke dalam rumah ini, aku yang akan bertanggungjawab jika kau dipecat oleh kapten galak itu.”


            Jaekyung dengan terang-terangan menatap Haejun penuh permusuhan, namun sama sekali tak ditanggapi oleh Haejun.


            “Daddy, aku lapar.”


            “Ohhh kau lapar, ayo ayo kita sarapan bersama.”


            Jaekyung dengan antusias langsung menyiapkan menu sarapannya untuk Haejun dan Enzo. Haejun pun langsung mendudukan Enzo di atas kursi dan ia pun menyusul di sebelah Enzo sambil membaca setiap email yang masuk ke dalam ponselnya. Sesekali Haejun juga melirik Jaekyung yang dengan telaten memenuhi setiap keinginan Enzo yang aneh-aneh. Sebenarnya ia cukup salut dengan kegigihan Jaekyung untuk menarik perhatiannya, tapi sejak awal ia sudah bersumpah untuk hanya mencintai Yuka, sehingga keberadaan Jaekyung di sini hanya ia anggap sebagai teman yang dapat ia manfaatkan untuk menjaga Enzo atau memasakan Enzo makanan jika ia sedang sibuk. Lagipula mencari pembantu rumah tangga yang benar-benar bisa dipercaya sangat sulit. Apalagi dengan statusnya sebagai intel yang kini sudah semakin tersebar luas di kalangan masyarakat, membuatnya harus berhati-hati dalam memasukan seseorang ke dalam kehidupan rumah tangganya. Dan selama ini Jaekyung menurutnya bukan tipe wanita yang membahayakan serta dapat dipercaya. Hanya saja ia sedikit risih dengan sikap Jaekyung yang seakan-akan ingin menggantikan posisi Yuka di rumahnya.


            “Hae, kau tidak ingin memakan sarapanmu?”


            “Hmm, sebentar lagi.”


            Haejun memasukan ponsel pintarnya ke dalam saku seragamnya dan mulai menyendokan nasi ke dalam mulutnya. Suasana sarapan pagi itu terdengar hening seperti biasa. Hanya Enzo yang sesekali ribut karena ia tidak suka wortel dan meminta Jaekyung untuk menyingkirkannya.


            “Nanti siang aku akan ada rapat dengan dewan jenderal, apa kau bisa menjemput Enzo di sekolahnya?” tanya Haejun sambil mengunyah makanannya. Jaekyung langsung mengangguk bersemangat dan terlihat antusias.


            “Bisa bisa, tentu saja aku bisa. Kebetulan hari ini aku sedang tidak memiliki pekerjaan.”


            “Memangnya kau selama ini memiliki pekerjaan?”


            Haejun berucap dingin tanpa perasaan, menyindir Jaekyung yang memang selama ini hanya terlihat menyibukan diri tanpa mengerjakan sesuatu yang berkualitas.


            “Ck, aku bukan seorang pengangguran tuan Lee Haejun, aku memiliki biro konseling yang juga harus kuurus.”


            “Ya, terserah apa katamu.” jawab Haejun malas. Pria itu kembali melanjutkan acara makannya yang tertunda sambil bergumam dalam hati jika sebenarnya biro konseling Jaekyung sama sekali tidak kompetitif. Andai ayahnya bukan seseorang yang kaya dan berpengaruh, mungkin biro itu sudah ditutup sejak lama karena model konsultannya yang sangat seenaknya seperti Jaekyung.


            “Ayo dad kita berangkat, aku sudah selesai.”


            Enzo turun dari tempat duduknya dengan Jaekyung yang dengan cekatan langsung mengelap mulut Enzo yang belepotan karena kuah sup. Setelah ia selesai dengan Enzo, Jaekyung bergegas mendekati Haejun untuk membersihkan sisa kopi yang menempel di sudut bibir Haejun, namun Haejun segera menahannya dan merebut tisu itu dari tangan Jaekyung.


            “Itu tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri.”


            Setelah itu Haejun langsung berjalan pergi diikuti Enzo di belakangnya. Sedangkan Jaekyung masih tampak syok sambil memegangi dadanya dongkol.


            “Ya Tuhan, pria itu!! Kenapa sulit sekali mendapatkan perhatianmu!” runtuk Jaekyung kesal sambil berjalan pergi meninggalkan sisa piring-piring kotor yang tidak ia bersihkan karena ia sedang kesal pada Haejun.


-00-


            “Dad, kenapa aunty Jae sangat berisik?”


            Di dalam mobil Enzo menyuarakan pertanyaanya tentang Jaekyung yang dinilainya sangat berisik. Terkadang anak itu juga merasa jengah, sama seperti Haejun, ketika melihat Jaekyung sudah muncul di rumahnya pagi-pagi buta seperti hari ini. Tapi Enzo sebenarnya tidak membenci Jaekyung, ia hanya merasa malas mendengar suar heboh Jaekyung yang sangat mengganggu.

__ADS_1


            “Entahlah, mungkin karena ia terlalu banyak mengurus orang gila.”


            Enzo terkikik geli membayangkan Jaekyung yang sedang mengurusi pasien-pasien sakit jiwa di rumah sakit. Dulu Haejun memang pernah memberitahu Enzo jika Jaekyung adalah lulusan psikologi yang pekerjaanya adalah mengurusi orang gila, walaupun pada kenyataanya Jaekyung selama ini sama sekali tidak pernah mengurusi orang gila, karena ia mengambil bidang psikologi anak.


            “Dad, apa Jae aunty menyukai daddy?”


            Haejun menoleh sekilas kearah anak lelakinya yang mulai memahami apa itu perasaan cinta. Padahal selama ini sepertinya Jaekyung tidak pernah mengatakan secara terang-terangan, meskipun wanita itu memang menunjukannya melalui sikapnya yang agresif.


            “Kenapa kau bisa berkata seperti itu?” ucap Haejun balik bertanya. Ia ingin sedikit mengetes Enzo mengenai kepekaan anak itu.


            “Aunty Jae terlihat menempel terus pada daddy. Dan hal itu membuatku sedikit tidak suka. Dad tidak akan menggantikan posisi mommy dengan aunty Jae bukan?”


            “Hmm, jadi Enzo tidak ingin memiliki mommy baru?”


            “Tidak, enzo tidak mau!”


            Enzo menjawab dengan tegas dan sedikit bentakan di akhir. Haejun terkekeh melihat reaksi anaknya yang luar biasa itu. Dan ia benar-benar bersyukur jika Enzo memang tidak menginginkan ibu baru karena sejujurnya ia juga tidak berniat untuk mencari pengganti Yuka. Ia hanya memanfaatkan Jaekyung untuk kepentingannya.


            “Baguslah jika Enzo memang tidak menginginkan mommy baru, karena daddy juga tidak akan mencarinya. Daddy hanya mencintai mommymu.” ucap Haejun apa adanya dan terdengar penuh luka, meskipun ia berhasil menyamarkannya dengan suara dinginnya yang kaku.


            “Lalu bagaimana dengan aunty Jae? Ia akan terus menempel pada daddy seperti cacing.” ucap Enzo dengan wajah jijik. Haejun menghentikan mobilnya tepat di depan sekolah Enzo dan langsung beralih pada anaknya setelah ia berhasil menarik handrem di sisi kemudinya.


            “Biarkan saja aunty Jae seperti itu, selama ia bisa membantu daddy untuk mengurusmu, maka daddy tidak akan menyuruh aunty Jae pergi. Apa Enzo tidak keberatan jika aunty Jae menemani Enzo selama daddy bekerja?”


            Enzo menganggukan kepalanya pelan dan tampak mengerti dengan posisi daddynya yang memang sibuk, namun juga harus mengurusnya karena sekarang ia tidak dititipkan lagi di rumah neneknya.


            “Dad, tapi bagaimana jika Enzo berada di rumah halmeoni seperti dulu?”


            “Baiklah, aku mengerti. Aku menyayangi dad.”


            Enzo memeluk tubuh Haejun sekilas sebelum ia turun dari mobil sport milik sang ayah dan melambai ringan pada ayahnya yang segera melajukan mobilnya pergi meninggalkan halaman besar taman kanak-kanak tempat Enzo menimba ilmu.


-00-


            Yeri bertopang dagu di atas mejanya sambil menatap bosan pada keadaan rekan-rekannya yang mendadak menjadi pengangguran setelah kepergian Yuka. Di sisi kanan mejanya, Yeri melihat Minzi sedang sibuk membaca majalah fashion yang sudah ia baca berkali-kali karena wanita itu sudah tidak memiliki stok bacaan lagi untuk


mengisi waktu luangnya yang membosankan. Padahal biasanya Minzi harus mencuri-curi waktu untuk membaca majalah-majalahnya karena pekerjaan mereka yang sangat sibuk. Tapi sekarang mereka justru terlihat seperti pengangguran karena tim mereka belum aktif kembali semenjak Haejun masih dalam suasana berkabung dan tengah berunding alot dengan para dewan jenderal yang menurut Yeri sangat kolot itu.


            “Arghh, aku bosan!” teriak Yeri keras dan membuat seluruh rekan-rekannya menoleh aneh padanya. Sehun yang berada tak jauh dari meja Yeri langsung melempar kepala wanita itu dengan bolpoin karena ia merasa terganggu dengan suara berisik Yeri.


            “Kau kenapa? Apa kau tidak memiliki bahan gosip yang bisa membuat harimu lebih baik?” Ucap Sehun sakarstik. Yeripun berjalan menghampiri meja Sehun sambil kembali bertopang dagu di depan Sehun.


            “Apa yang harus kugosipkan lagi Oh Sehun, jika senior Im sudah tidak ada? Selama ini aku selalu tahu bagaimana hubungan mereka selama di markas, sehingga aku bisa menjadi sumber berita bagi wanita-wanita kehausan itu. Tapi sekarang, semuanya terasa hambar tanpa kehadiran senior Im dan kapten Lee. Aku merindukan mereka.” rengek Yeri seperti anak kecil. Sehun memutar bola matanya malas sambil mendorong kepala Yeri kebalakang karena gemas.


            “Jika selama ini kau selalu memata-matai mereka, seharusnya kau tahu jika senior Im dan kapten Lee sudah menikah, bahkan mereka sudah memiliki anak berumur empat tahun. Huh, kau memang reporter gadungan.” umpat Sehun sakarstik. Yeri berseru kesal dan ingin membalas ucapan Sehun, namun suara bisik-bisik yang berasal dari luar ruangan mereka lebih menarik perhatiannya yang membuatnya segera berlari ke luar ruangan.


            “Ada apa?”


            “Lihat, kapten Lee sudah kembali. Ia sekarang terlihat lebih dingin dari sebelumnya.”


            Yeri melihat siluet tubuh kaptennya yang sedang berjalan menuju ruang rapat yang berada di ujung lorong.


            “Hus, kalian jangan sembarangan menggosipkan kapten Lee.” ucap Yeri tak terima pada rekan-rekan beda divisinya. Tiga orang wanita yang sejak tadi sedang membicarakan Haejun langsung menoleh tidak suka pada Yeri.

__ADS_1


            “Kami tidak menggosipkannya, kami berbicara yang sesungguhnya. Kau pikir bagaimana sikap kapten Lee sekarang setelah isterinya meninggal? Aku mulai bertanya-tanya tentang kredibilitasnya karena ia telah terbukti melanggar aturan markas.” sinis wanita itu menyebalkan. Rasanya Yeri ingin mencekik leher wanita itu dan menendangnya keluar dari markas karena wanita itu dengan terang-terangan menjelek-jelekan Haejun di depan anak buahnya. Padahal dulunya mereka adalah wanita yang mengejar-ngejar Haejun dengan sikap yang menjijikan. Dan hanya karena Haejun ternyata telah menikah dengan Yuka, mereka menjadi sinis seperti itu untuk menutupi rasa iri mereka karena telah dikalahkan oleh Yuka.


            “Huh dasar penjilat. Dulu kalian memuji-muji kapten Lee dan mengejar-mengejarnya dengan cara yang menjijikan sambil menitipkan sebatang coklat pada senior Im. Dan setelah kalian kalah dari senior Im, kalian menjelek-jelekan kapten Lee sesuka kalian. Kalian benar-benar menjijikan.” balas Yeri dengan mulut pedasnya. Ketiga wanita itu hendak membalas Yeri sebelum Haejun tiba-tiba muncul di belakang mereka dan membuat mereka semua pucat pasi, termasuk Yeri karena bagaimanapun ia telah membicarakan Haejun, meskipun niatnya berada di sana untuk membela Haejun dari gerombolan wanita penjilat di depannya.


            “Kkapten, apa yang anda lakukan di sini?” tanya Yeri tergagap. Haejun mengamati kumpulan wanita itu satu persatu dengan wajah datarnya yang mengerikan. Semua orang yang berada disana langsung kehilangan keberanian untuk sekedar bertatapan dengan wajah Haejun yang pias.


            “Aku mendengar suara ribut-ribut dan namaku beberapa kali disebut. Apa kalian tidak memiliki pekerjaan lain selain membicarakanku dan mendiang isteriku? Sebaiknya kalian kembali ke ruangan kalian dan kerjakan pekerjaan kalian dengan benar. Aku tidak akan segan-segan melaporkan kalian kepada ketua divisi kalian. Dan kau Yeri, sebaiknya kau masuk ke ruanganmu karena setelah ini aku akan memberikan penjelasan mengenai hasil rapat dewan jenderal pada kalian.”


            Yeri membungkuk dalam sambil sesekali melirik gerombolan wanita penjilat di depannya dengan tatapan sebal. Sedangkan gerombolan wanita-wanita itu juga langsung meminta maaf pada Haejun setelah Yeri pergi terlebihdahulu meninggalkan mereka.


-00-


            Haejun menatap malas para dewan jenderal yang sedang duduk melingkar di dalam ruang rapat untuk membicarakan masalahnya yang telah melanggar aturan. Di dalam ruangan ini terdapat dua kubu yang sejak tadi begitu alot mempertahankan opini mereka masing-masing. Namun dari kedua kubu itu sama sekali tidak ada titik


terang yang dapat mengakhiri perdebatan mereka yang menurut Haejun sangat membosankan itu.


            “Kita


tidak bisa melepas jabatan Lee Haejun sebagai kapten hanya karena ia melanggar aturan pertama dalam markas ini. Lagipula selama ini Lee Haejun selalu bersikap profesional. Jika bukan karena nona Im mengalami kecelakaan dalam menjalankan tugas, status mereka tidak akan pernah diketahui. Kita harus mempertimbangkan


keputusan untuk melepaskan jabatannya dan menskorsnya karena kapten Lee adalah salah satu intel yang berjasa dalam markas ini.”


            “Tapi bagaimana dengan agent yang lain, mereka akan menganggap kita tidak adil hanya karena kapten Lee adalah kapten dalam markas ini dan memiliki banyak prestasi. Mereka pasti akan mempertanyakan kompetensi kita sebagai jenderal.”


            Haejun manatap datar jenderal Jang dan jenderal Shin yang sedang beradu opini dengan


alot di depannya. Sedangkan ia sejak tadi tidak berniat mengeluarkan suara sedikitpun karena ia benar-benar sudah jengah dengan keadaanya saat ini. Dan mereka para jenderal sama sekali tidak tahu bagaimana perasaanya setelah kematian Yuka. Yang mereka permasalahkan hanya statusnya dan kredibilitasnya. Padahal tanpa berada di markas inipun jika ia memiliki bakat untuk menjadi intel yang hebat, ia pasti bisa melakukannya. Lagipula saat ini tujuan utamanya adalah menangkap Park Jaejong atas tuduhan penyelundupan barang-barang ilegal ke China. Dua hari yang lalu ia berhasil mendapatkan bukti fisik yang dapat digunakan untuk menangkap Park Jaejong. Dan setelah ia berhasil menangkap pria licik itu, ia akan mengintrogasinya agar ia bisa menemukan sang bos besar yang selama ini mungkin sedang bersembunyi di belakang punggung Park Jaejong dan para menteri yang terlibat kejahatan di luar sana.


            “Kapten Lee, apa kau ingin melakukan pembelaan?”


            Suara jenderal Shin membuyarkan pikirannya tentang Park Jaejong. Ia kemudian berdeham pelan untuk mengeluarkan semua ganjalan yang selama ini selalu mengganggu hati dan juga pikirannya.


            “Terimakasih jenderal Shin atas kesempatannya, aku akan menggunakan kesempatan ini untuk menyadarkan kalian betapa jengahnya aku berada di posisi ini. Jadi aku tidak peduli jika kalian akan mencabut jabatanku sebagai kapten atau tidak, karena menurutku jabatan itu sama sekali tidak penting. Prioritasku saat ini adalah untuk menangkap Park Jaejong dan bos besar mafia yang selama ini bersembunyi dibalik Park Jaejong dan para menteri yang terlibat masalah di luar sana. Perlu kalian ketahui, sejak awal aku tidak ingin mendapatkan misi khusus itu dari president karena misi itu jelas-jelas akan membahayakan keluargaku. Aku sadar jika aku telah melanggar peraturan markas yang melarang setiap agent untuk saling jatuh cinta dan memiliki hubungan. Tapi bagaimana mungkin kalian bisa membatasi sebuah perasaan yang dimiliki oleh seseorang. Perasaan cinta, jijik, benci, atau marah adalah perasaan yang datang dengan sendirinya tanpa pernah direncanakan. Dan akupun selama ini selalu berusaha bersikap profesional karena aku tidak pernah ingin mengecewakan kalian semua. Aku dan Yuka sudah menikah sejak lima tahun yang lalu, tapi apakah kalian pernah mendengar berita itu sebelum petaka itu menghampiri isteriku? Apa kalian pernah merasa dikecewakan dengan kinerjaku yang tidak loyal? Kurasa tidak, karena kalian semua tidak membantahnya. Dan sejujurnya tanpa kalian melepas jabatankupun aku sudah merasakan bagaimana kejamnya hukuman yang diberikan Tuhan atas kesalahanku yang telah menikah dengan sesama agent. Jadi jika kalian ingin melepaskan jabatanku sebagai kapten dan menjadikanku agent biasa, aku tidak keberatan. Aku siap melepaskan jabatan itu kapanpun kalian memintanya.”


            Suasana di ruang rapat itu menjadi hening setelah Haejun mengeluarkan seluruh ganjalan hatinya. Tuan Lee yang melihat bagaimana terlukanya sang putra tampak tak bisa berkata apapun. Ia tahu jika saat ini adalah saat-saat terberat putranya dan rapat ini bagaikan garam yang ditaburkan di atas luka hati putranya.


            “Kau mau kemana nak?”


            Haejun menghentikan langkahnya yang telah berada di ambang pintu. Dari pintu lain munculah sosok president Park Boyoung yang tengah menatapnya dengan tatapan menenangkan. Pria itu meminta Haejun duduk kembali di tempatnya karena ia ingin mengumumkan sebuah berita penting.


            “Jadi tujuanku datang ke sini adalah untuk meminta maaf pada kapten Lee atas kejadian yang tidak terduga beberapa hari yang lalu. Aku sadar, semua hal yang menimpa kapten Lee sebagian besar karena kesalahanku yang telah menempatkan kapten Lee dan keluarganya dalam bahaya, padahal saat itu aku sudah mengetahui status kapten Lee yang telah menikah dengan mendiang agent Im Yuka. Tapi saat itu aku tetap bersikeras untuk memberikannya misi untuk menangkap mafia-mafia yang berada di Korea. Dan ternyata pilihanku benar-benar tepat, kapten Lee adalah agent yang dapat diandalkan untuk menangkap pion-pion mafia itu, karena dalam tiga bulan terakhir kapten Lee berhasil mengungkap delapan kebusukan para menteri dan beberapa kebusukan para pengusaha yang terlibat dalam kelompok mafia itu. Apa kalian setuju dengan keputusanku untuk mempertahankan posisi kapten Lee?”


            Hening. Tidak ada satupun yang berani mengeluarkan suaranya. Disatu sisi mereka merasa ingin memberikan hukuman untuk Haejun, tapi disisi lain mereka juga setuju dengan alasan yang dikemukakan oleh president Park. Jadi pada akhirnya diam adalah pilihan terbaik.


            “Oh ya, ada satu informasi dariku. Hari ini Park Jaejong akan pergi ke luar negeri. Sepertinya ia sudah tahu jika kita akan menangkapnya atas tuduhan penyelundupan barang-barang ke China dan juga kasus pembunuhan nona Im Yuka. Shin Jaeshin akhirnya mengakui perbuatannya kemarin dan ia memberikan nama Park Jaejong sebagai bos yang menyuruhnya untuk membunuh nona Im Yuka dan menjadi mata-mata di markas ini. Nak, apa kau ingin menyelesaikan tugasmu?” tanya president Park pada Haejun. Haejun hanya terdiam di tempat tanpa menjawab iya atau tidak. Sekarang ia sedang menunggu keputusan para dewan jenderal, karena ia tidak mau mendapatkan banyak musuh di dalam markasnya sendiri.


            “Aku memberimu kesempatan nak.” ucap president Park sekali lagi untuk membuat Haejun segera bergerak. Haejun kemudian menatap ayahnya untuk meminta persetujuan, dan sang ayah menganggukan kepalanya mantap.


            “Lakukanlah nak, selesaikan misimu dan buktikan pada kami jika kau berhak atas jabatanmu sebagai kapten.”


            Haejun segera bangkit dari kursinya tanpa mengucapkan sepatah katapun pada anggota dewan ataupun president. Ia justru langsung menghubungi salah satu rekannya yang bertugas di bandara untuk menahan Park Jaejong karena dia saat ini adalah tersangka.


            Sementara itu president Park tampak tersenyum puas karena akhirnya ia bisa membela Haejun di detik-detik terakhir sebelum pria itu mendapatkan hukuman yang seharusnya tidak diterimanya. Ia dan pengawalnya kemudian meninggalkan ruang rapat dengan terlebihdulu tersenyum pada tuan Lee sebagai ucapan terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2