
“Halo, kau dimana?”
“Itu bukan urusanmu.” jawab Yuka ketus pada Sehun yang sedang menghubunginya. Wanita itu menepikan mobilnya di depan sebuah mini market yang buka dua puluh empat jam untuk membeli sesuatu karena ia merasa begitu lapar. Namun ketika ia akan turun, ia melihat sebuah mobil hitam yang juga berhenti tak jauh dari tempatnya berhenti. Ia pun mengurungkan niatnya untuk turun dan kembali melajukan mobilnya untuk mengetes apakah mobil hitam itu benar-benar mengikutinya atau tidak.
“Itu menjadi urusanku sekarang karena kau adalah tunanganku.” balas Sehun tegas. Yuka mendengus tak suka dan bersiap untuk mematikan sambungan teleponnya, namun nada peringatan yang dilontarkan oleh Sehun berhasil menghentikan niatnya untuk menekan tombol merah di ponselnya.
“Jangan pernah berpikir untuk mematikan sambungan ponselmu Krystal Park. Aku tahu saat ini kau sedang diikuti.”
Krystal melirik kaca spionnya dan melihat mobil sedan hitam yang memang sedang mengikutinya. Ia kemudian membuka laci mobilnya dan menarik sebuah pistol yang selalu ia simpan di dalam sana.
“Siapa mereka? Kenapa mereka mengikutiku?” tanya Yuka pura-pura tidak tahu. Tapi sebagian hatinya berspekulasi jika penguntitnya mungkin saja berasal dari Bloods yang telah mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya atau mungkin saja berasal dari markas yang mengira jika ia adalah putri dari Park Jaejong.
“Pergilah ke rumah utama, aku akan menjelaskannya di sana.”
“Rumah utama? Untuk apa? Aku tidak sedang ingin bertemu kakek.” ucap Yuka gusar. Sungguh yang ia inginkan saat ini adalah tidur karena ia sangat lelah. Belum lagi ia harus menyusun rencana untuk menhancurkan mafia-mafia itu agar ia bisa segera kembali pada keluarganya.
“Ada sedikit masalah di rumah, di sini banyak sekali agent-agent. Entah bagaimana mereka bisa menemukan rumah ini, tapi ayahmu dan yang lainnya sedang dalam perjalanan menuju rumah utama. Dan yang mengikutimu adalah anggota Bloods, mereka hanya ingin memastikan kau aman.”
Yuka menghembuskan napasnya pelan sambil melirik spionnya untuk melihat mobil sedan hitam yang masih setia mengikutinya. Ia pun memutuskan untuk mengikuti perintah Sehun. Meskipun ia cukup bingung karena beberapa saat yang lalu suaminya tidak mengatakan apapun mengenai penyerangan ke rumah Park Jaejong.
“Baiklah, aku akan pergi ke rumah utama. Tapi apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana mungkin mereka mengetahui dimana letak rumahku?”
“Entahlah, mungkin Bloods telah disusupi oleh pengkhianat.”
Seketika keringat dingin meluncur dari kening Yuka. Meskipun ia yakin jika yang dimaksud oleh Sehun bukan dirinya, tapi ia merasa jika penyusup itu dirinya. Apalagi beberapa menit yang lalu ia baru saja memberitahukan semua informasi yang diketahuinya pada Lee Haejun, suaminya.
“Hmm, aku akan mendengarkan cerita selengkapnya di rumah utama. Cepatlah datang.”
Setelah itu Yuka langsung menutup sambungan teleponnya dan berniat untuk menghubungi suaminya. Tapi sayangnya ponsel milik Haejun sedang tidak aktif. Ia pun mencoba untuk tenang dengan berpikir positif. Dan apapun yang terjadi ia akan bertahan sekuat tenaga. Identitasnya tidak boleh terbongkar sekarang karena ia memerlukan perannya sebagai Krystal untuk membongkar semua kebusukan Park Jaejong dan juga Park Juhyuk.
-00-
Lee Haejun berjalan lebar-lebar ke dalam markas dengan rahang mengetat.
“Kapten, apa yang terjadi?”
“Kalian bersiaplah, malam ini kita akan meringkus mafia-mafia itu.” perintah Haejun tegas. Yeri dan Lay yang masih tidak mengerti dengan jalan pikiran kaptennya berusaha mengejar langkah Haejun yang lebar-lebar.
“Kenapa mendadak kapten? Apa kapten yakin akan melakukannya malam ini?”
“Aku yakin. Ini adalah satu-satunya kesempatan yang kita miliki sebelum mereka kembali melarikan diri dan sulit untuk dilacak. Siapkan lima tim untuk menyerang di lima titik. Aku akan memberikan alamat detailnya setelah ini.”
Yeri dan Lay saling berpandangan satu sama lain dan mengangguk bersamaan pada Haejun. Mereka kemudian membiarkan Haejun pergi menuju ruang jenderal utama dan tidak melayangkan banyak pertanyaan lagi.
“Aku terkejut dengan rencana ini, kenapa sangat mendadak.” tanya Yeri dengan mimik tidak percaya. Lay mengangguk mengiyakan dan menghalau Yeri supaya pergi ke divisi amunisi untuk memanggil seluruh agent yang dibutuhkan oleh kaptennya.
“Kupikir juga begitu, apa ini karena salah satu anggota mafia itu menembak putra kapten Lee kemarin?”
“Ahh iya, Enzo ditembak kemarin namun kapten mengatakan padaku jika kondisinya sudah stabil.”
“Apapun yang diperintahkan kapten Lee, aku yakin jika itu memang yang terbaik. Lagipula aku sudah cukup bosan dengan mafia-mafia itu. Bayangkan, sudah berapa tahun kita mencoba menangkap mereka dan selalu menuai kegagalan hingga kita harus kehilangan senior Im. Sekarang adalah saatnya kita membalaskan dendam senior Im dan mengamankan negara tercinta kita.”
Yeri mengangguk kecil pada Lay dan tersenyum kecil pada pria itu.
“Ya, kita akan membuat mereka membayar atas kematian senior Im.”
-00-
Yuka memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah Park Juhyuk, kakek palsu yang lebih dari dua tahun ini turut andil dalam membentuk kepribadian kejamnya. Sebelum turun Yuka menyelipkan pistol di belakang ikat pinggangnya dan menatap spionnya sebentar untuk memastikan jika penampilannya tidak mencurigakan. Ia kemudian menoleh ke belakang, tempat dimana mobil sedan hitam yang mengikutinya sejak tadi juga sedang memarkirkan mobilnya.
“Huh, siapa sebenarnya mereka?” gumam Yuka kesal. Biasanya anggota Bloods tidak seperti itu. Mereka jelas tidak akan mengganggu privasinya karena ia pernah melarang mereka untuk ikut campur dalam urusannya, kecuali Yunho karena ia adalah asistennya sekaligus pelayannya dan juga mentornya. Tapi... entahlah untuk sekarang, ia jelas tidak akan mempercayakan urusannya pada Yunho lagi karena ia ingin menghancurkan organisasi ini sedikit demi sedikit.
“Nona Krystal...”
Seorang anggota Bloods tingkat rendah menyapanya dan membukakan pintu utama mansion mewah milik Park Juhyuk di depannya. Yuka yang sedang berperan menjadi Krystal berpura-pura bersikap angkuh seperti biasa dan tidak menggubris sedikitpun sapaan pria muda yang terlihat tulus itu.
“Apa kakek ada?”
Sebelum ia benar-benar melangkah masuk, Yuka menghentikan langkahnya dan berbalik sedikit untuk bertanya pada sang pembuka pintu itu.
“Tuan besar ada di ruangannya.”
Yuka mengangguk mengerti dan segera melangkah masuk, namun ia berhenti sejenak ketika penjaga itu mulai berbicara lagi.
__ADS_1
“Tuan baru saja melihat keadaan gudang minuman keras ilegal di pelabuhan yang mendapatkan serangan dari agent-agent intel negara malam ini.”
Yuka terdiam di tempat, namun ia tidak sedikitpun menoleh pada pria itu. Di cengkeramnya ujung pistol hitam yang ia selipkan di balik ikat pinggang kuat-kuat. Sekarang ia khawatir jika mereka telah mengetahui kebohongannya.
“Aku akan bertemu dengan kakek untuk membicarakan hal itu.” ucap Yuka akhirnya setelah cukup lama ia terdiam di tempat. Saat ini otaknya sedang bekerja untuk memikirkan berbagai macam kemungkinan yang terjadi. Ia tidak mau semua kesempatan ini menjadi sia-sia hanya karena kecerobohannya.
“Kakek...”
Yuka langsung masuk ke dalam ruangan coklat bernuansa klasik itu ketika salah satu anggota Bloods membukakan pintu untuknya. Di dalam sana tuan Park Juhyuk sedang merenung di atas kursi kebesarannya sambil menopangkan kepalanya di atas dua tangannya yang bertaut. Dan ketika ia mendengar suara cucunya, ia langsung mendongakan kepalanya sambil tersenyum getir.
“Mereka sudah tahu, ada seorang penyusup di dalam Bloods.”
“Kakek, sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Yuka berpura-pura prihatin. Ia berjalan mendekati Park Juhyuk sambil menyambar gelas wine milik kakeknya yang berada di dalam bar mini. Ia dengan wajah penuh prihatin memberikan gelas itu pada kakeknya dan mencoba terlihat simpatik di depan kakek palsunya, meskipun saat ini batinnya sedang menjerit girang.
“Bloods telah dikhianati oleh orang yang berbahaya. Tidak mungkin agent-agent itu tahu seluk beluk Bloods secara detail jika mereka tidak mendapatkan informasi dari orang yang sangat penting di dalam Bloods. Mereka saat ini telah mengobrak-abrik gudang minuman kerasku dan juga gudang senjata ilegalku. Padahal selama ini dua aset itu selalu tersembunyi dengan aman karena hanya sedikit anggota Bloods yang mengetahuinya. Bahkan aku tidak pernah membiarkan pekerja di sana keluar dalam keadaan hidup. Setiap pekerja harus bekerja di sana seumur hidup mereka, dan jika mereka ingin keluar, maka mereka harus mati. Jadi tidak mungkin ada seorang pun yang tahu tentang bisnis itu, kecuali orang-orang penting yang berada di dalam Bloods.”
“Jika memang seperti itu, ia pasti orang yang sangat hebat karena ia berhasil mengelabuhi kakek dan juga ayah. Baru saja Sehun menghubungiku, ia mengatakan jika agent-agent itu telah menyerbu ke rumah. Well, kita harus bertindak cepat kakek, sebelum bisnis kakek benar-benar hancur.”
Prangg!!
Park Juhyuk melemparkan gelas winenya asal dan membuat cairan merah itu berceceran di atas lantai dengan beling-beling berwarna emas yang berasal dari gelas mahal itu. Kemarahannya saat ini benar-benar sedang meluap-luap. Dan sebagai pemimpin utama Bloods ia harus segera bertindak sebelum semua bisnisnya benar-benar hancur seperti apa yang dikatakan oleh Krystal padanya.
“Ini tidak boleh terjadi, pengkhianat itu harus mati.”
Ckrek
Seiring dengan ucapan Park Juhyuk yang terhenti, pria tua itu menodongkan pistol kearah Krystal dengan slot peluru yang telah aktif, siap untuk menembak Krystal kapanpun.
“Kau bukan Krystal, kau Im Yuka!”
Yuka tersenyum sinis pada Park Juhyuk sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Akhirnya kau mengetahuinya juga kakek, ups maaf, mungkin kau bukan kakekku. Tapi aku cukup berterimakasih pada kalian yang telah merawatku selama ini dan menjadikanku sebagai Krystal kalian yang berharga, namun juga kejam.” ucap Yuka santai. Kedua tangannya masih setia berada di depan dada dan ia terlihat tak gentar sedikitpun meski Park Juhyuk bisa saja menembaknya kapanpun.
“Kau telah menghancurkan bisnisku! Aku pasti akan segera membunuhmu, tapi aku ingin melakukannya di depan keponakanku yang bodoh itu karena selama ini ia masih mempertahankanmu meskipun aku sudah memperingatkannya sejak dulu.”
“Sebenarnya aku tidak terima dengan tuduhanmu itu tuan karena aku tidak sepenuhnya menghancurkan bisnis-bisnismu, lebih tepatnya belum, karena aku baru merencanakannya bersama suamiku beberapa saat yang lalu. Tapi jika pada akhirnya penyerangan ini sedikit dipercepat, aku tidak masalah. Toh kalian cepat atau lambat akan segera hancur.”
Ckrek
Brakk
“Paman! Krystal!”
Park Jaejong masuk dengan peluh yang membanjiri wajahnya dan juga mimik panik yang tercetak jelas di wajahnya. Dibelakangnya Yunho juga ikut mengekori sambil menatap penuh antisipasi pada Yuka dan juga Park Juhyuk yang saling menodongkan pistol satu sama lain.
“Ini semua salahmu, seharusnya dulu kau langsung membunuh wanita itu dan tidak mengangkatnya sebagai anak. Lihat apa yang ia lakukan sekarang setelah apa yang telah kita berikan padanya. Bahkan pengorbananmu selama ini hanya berakhir sia-sia.” sembur Park Juhyuk dengan nada sengit. Park Jaejong yang sejak awal telah memperingatkan pamannya mengenai Krystal yang telah mengingat semuanya kini mulai goyah karena bagaimanapun ia cukup menyayangi Yuka sebagai Krystal. Wajah mereka berdua benar benar mirip, dan hal itulah yang membuatnya tidak bisa membunuh Yuka. Mungkin ia harus meminta orang lain untuk melakukannya.
“Membunuhnya tidak akan menjadi jalan keluar paman, agent-agent itu tetap akan menghancurkan bisnis kita. Wanita ini justru bisa kita gunakan untuk mengancam kapten keparat itu karena ia tidak mungkin akan melukai isterinya sendiri.” ucap Park Jaejong memberi jalan tengah. Yuka menggeram tertahan dengan rencana picik Park
Jaejong. Sejak dulu ia selalu dijadikan kambing hitam untuk menghancurkan keluarganya sendiri. Dan sekarang selagi ia memiliki kesempatan, ia akan membunuh mereka semua untuk membalaskan dendam atas perbuatan mereka padanya selama ini.
Dor! Dor!
Prang
Yuka menembak Park Jaejong, namun sayangnya pelurunya meleset karena Yunho langsung melompat untuk menyelematkan Park Jaejong sehingga peluru itu hanya melukai kaki Yuho dan juga memecahkan satu guci besar yang berada di belakang mereka.
“Sialan! Lihat apa yang ia lakukan sekarang, kau benar-benar bodoh karena tetap menganggapnya sebagai Krystal, dia bukan Krystal! Dia akan menghancurkan kita!”
Dor
Dorr
Park Juhyuk mencoba menembak Yuka, namun Yuka berhasil menghindar dan membalas tembakan Park Juhyuk padanya, namun sayangnya tembakan itu meleset karena Yuka menembaknya tidak dengan fokus yang penuh.
“Krystal! Hentikan semua ini, kau berada di dalam mansion utama Bloods. Saat ini semua anggota Bloods sudah bersiap di luar sana. Jika kau membunuh salah satu diantara kami, kau jelas tidak akan selamat karena mereka pasti akan membunuhmu tepat ketika kau melangkahkan kakimu keluar dari ruangan ini. Jika kau masih ingin berkumpul dengan keluargamu, lebih baik kau turuti perintahku. Buang senjata itu sekarang juga!” perintah Park Jaejong tegas. Yuka tersenyum sinis pada Park Jaejong dan justru menodongkan pistolnya tepat di depan wajah Park Jaejong yang sedang menatapnya dengan serius.
“Kau pikir aku takut? Selama ini kau telah membentukku sebagai wanita tangguh yang jahat. Membunuh orang bukan lagi masalah untukku, bahkan selama ini aku sudah membunuh banyak orang di luar sana. Jadi, membunuh sekali lagi untuk malam ini, rasanya tidak masalah.”
Dor
Yuka melepaskan satu pelurunya dan peluru itu berhasil menggores wajah Park Jaejong yang terlihat syok di depannya.
__ADS_1
“Yuka! Apa yang kau lakukan?”
Tiba-tiba Sehun muncul dengan beberapa percikan darah yang mengotori kemeja putihnya. Pria itu memberikan kode pada Park Juhyuk agar menahan tembakannya karena ia yang akan membereskan Yuka untuk mereka.
“Jatuhkan senjatamu sekarang juga!”
“Tidak! Kau pengkhianat sialan Oh Sehun! Selama ini aku mempercayaimu dan memperlakukanmu dengan baik seperti adikku sendiri, tapi kau justru mengkhianatiku.”
“Aku tidak mau menjadi adikmu, aku mencintaimu.”
Dengan gerakan gesit, Oh Sehun mengunci lengan Yuka dan menjatuhkan pistol itu ke atas lantai. Ia kemudian menempelkan ujung pistol itu tepat di kening Yuka untuk menggertak Yuka yang justru sedang tersenyum santai di bawah kungkungannya.
“Pria sepertimu tidak pantas mendapatkan cinta, Oh Sehun, bahkan dari Yeri sekalipun.”
“Jangan bawa orang lain ke dalam pembicaraan kita Yuka.” geram Sehun memperingatkan. Yunho yang melihat Sehun mampu menangani Yuka, memberikan kode pada Park Juhyuk dan juga Park Jaejong untuk segera keluar dari mansion itu. Setidaknya mereka bertiga harus selamat untuk memulihkan kembali kondisi Bloods yang malam ini cukup terancam.
“Kalian tunggulah di halaman belakang, aku sudah mengamankan tempat itu dan menyiapkan mobil untuk kalian. Setelah aku menangani Yuka, aku akan membawa kalian ke tempat yang aman. Aku tahu dimana tempat yang aman untuk kalian.” ucap Sehun tegas pada Yunho yang sedang berusaha berjalan dengan kaki penuh darah yang terasa menyakitkan untuknya. Namun pria itu mematuhi perintah Sehun dan segera membawa kedua bosnya untuk mengamankan diri sesuai perintah Sehun.
“Kau membuatku kehilangan mereka! Lepaskan aku!” teriak Yuka meronta-ronta.
“Diam! Jangan banyak bergerak atau aku benar-benar akan menembakmu Im Yuka.” teriak Sehun murka. Pria itu menyeret Yuka untuk keluar dari ruangan Park Juhyuk sambil tetap menodongkan pistol di kening Yuka. Dan ketika mereka melintasi ruang utama mansion itu, Yuka dapat melihat puluhan mayat yang tergletak mengenaskan dengan kepala berlubang atau jatung yang berlubang. Bahkan sebagian dari mereka ada yang sedang merenggang nyawa dengan kondisi yang mengenaskan.
“Lihat, bahkan agent-agent itu sudah kalah telak dengan jumlah anggota Bloods yang banyak. Jika kau membunuh Park Jaejong dan Park Juhyuk di dalam sana, berapa banyak peluru yang akan bersarang di dalam tubuhmu senior?”
Yuka mengepalkan tangannya penuh kebencian ketika ia melihat banyak agent-agent yang mati di mansion besar itu. Namun sebagian masih bertahan dengan kondisi yang terlihat cukup memprihatinkan. Dan disaat-saat seperti ini ia membutuhkan sosok suaminya untuk membantunya.
“Haejun oppa pasti tidak akan membiarkanmu hidup!”
“Memang, kapten keparat itu tidak pernah sedetikpun membiarkanku hidup sejak aku mengatakan yang sebenarnya. Hentikan serangan kalian! Aku tidak akan menyakiti wanita ini jika kalian menghentikannya.”
“Oh Sehun!”
“Oh Sehun, lepaskan Yuka!”
Haejun dan Yeri berteriak bersamaan dengan mimik wajah terkejut dan juga geram. Yeri yang mengira Sehun telah mati terlihat tak percaya ketika melihat sosok Sehun yang terlihat sangat bugar tanpa cela. Sementara itu, Haejun terlihat begitu waspada dengan ujung pistol yang sudah siap untuk menembak Sehun kapan saja.
“Aku akan melepaskan Yuka asalkan kalian juga berhenti untuk menghancurkan tempat ini.”
“Tahan serangan kalian!”
Haejun memberi perintah pada anak buahnya dan langsung diikuti mereka dengan patuh. Namun saat ini keadaan diantara mereka justru semakin panas karena kedua belah pihak sama-sama sedang bersitegang dan sudah siap satu sama lain untuk saling membunuh.
“Serahkan Yuka sekarang, dan aku tak akan melukai anggota Bloods yang masih tersisa.”
“Huh, apa jaminannya kau tidak akan menyerang mereka setelah aku memberikan istrimu yang berharga ini padamu kapten?”
“Nyawaku! Jika aku melukai mereka, kau boleh mengambil nyawaku.”
Semua orang yang berada di sana menatap Haejun dengan jaminan yang dilontarkan oleh pria itu. Jelas tujuan mereka ke sana adalah untuk membunuh semua anggota Bloods yang mematikan jaringan bisnis mereka. Namun jika mereka tidak bisa melukai mereka, lalu untuk apa mereka berada di sana?
“Nyawa ya? Sebuah jaminan yang cukup berharga, mengingat wanita ini juga sama
berharganya dengan nyawamu kapten.”
Sehun kemudian mendorong tubuh Yuka ke depan dan membuat Yuka hampir jatuh karena keseimbangan tubuhnya yang goyah. Namun dengan sigap Haejun langsung menangkapnya dan menyembunyikan Yuka di belakang tubuhnya.
“Sekarang tarik seluruh anak buahmu!” ucap Sehun menagih janji Haejun. Namun Haejun justru menyeringai licik di depannya dengan wajahnya yang terlihat berbahaya.
“Aku bertaruh dengan nyawaku jika aku tidak akan melukai mereka, tapi aku akan membunuh mereka. Serang mereka dan jangan sisakan satupun dari mereka!”
Sehun terbelalak tak percaya sambil mengumpat keras di depan Haejun. Ia pun segera pergi untuk menyelamatkan diri. Berlama-lama berada di sana sama saja dengan bunuh diri.
“Keparat kalian semua!”
Dor dor dorrr
Sehun mengarahkan tembakan berkali-kali untuk melindungi dirinya yang sudah dikepung oleh mantan rekan-rekannya di intel negara.
“Jangan biarkan Oh Sehun kabur! Yuka, kau bisa melindungi dirimu sendiri?”
“Oppa tenang saja, aku pasti melindungi diriku sendiri. Setelah ini kita akan kembali bersama, sebagai keluarga yang bahagia.”
Yuka tersenyum lembut pada Haejun dan meraih pistol hitam yang diangsurkan Haejun padanya. Setelah itu mereka berdua berpisah untuk menyelesaikan misi besar mereka. Dan malam itu semuanya menjadi awal dari segalanya. Awal kebahagiaan Lee Haejun dan Lee Yuka, dan juga keluarga kecil mereka.
__ADS_1