Ignite

Ignite
See You Chagiya (Nineteen)


__ADS_3

            Enzo menangis di dalam pelukan neneknya ketika peti yang membawa mayat Yuka telah tiba di rumah nyonya Im. Seluruh agent dan kerabat dekat Yuka menangis atas kepergian Yuka yang tiba-tiba dan juga tragis.


Di sudut ruangan yang terlihat sepi, Haejun sedang melamun sambil membayangkan berbagai kenangan indah yang selama ini telah ia ukir bersama Yuka. Dimulai dari perkenalan mereka yang tak biasa hingga masa-masa pendekatan mereka yang diwarnai keributan serta kehidupan rumah tangga mereka yang tidak selalu manis, namun meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi Lee Haejun. Yuka adalah segalanya untuknya. Meskipun Yuka bukan cinta pertamanya, tapi Yuka adalah cinta terakhirnya dan ibu dari anaknya. Yuka adalah cinta sejatinya. Jika Yuka pergi, lalu apa yang akan ia lakukan? Ia tidak yakin ia bisa membesarkan Enzo sendiri dan menjalankan hari-harinya yang sulit tanpa kehadiran Yuka.


            Tiba-tiba sebuah tepukan lembut mendarat di bahu Haejun dan membuat Haejun menoleh ke belakang dengan mata sendunya. Disampingnya kini telah berdiri sang presiden dengan stelan tuxedo berwarna hitam yang menunjukan rasa belasungkawanya. Pria tua itu duduk di sebelah Haejun dan menatap Haejun dalam, penuh penyesalan. Secara tidak langsung ini semua karena kesalahannya. Ia yang memberikan Haejun misi khusus itu meskipun ia tahu jika Haejun telah berkeluarga. Sekarang apa yang menimpanya dulu juga terjadi pada Haejun. Mereka berdua telah kehilangan sosok wanita yang paling berarti dalam hidup mereka karena mengemban sebuah misi yang sangat mengerikan.


            “Aku turut berduka cita atas meninggalnya isterimu.” ucap presiden Park Boyoung pelan. Haejun menoleh sekilas kearah presiden dan hanya menganggukan kepalanya pelan sebagai jawaban ya.


            “Maaf, saya belum berhasil menyelesaikan misi itu. Mungkin besok dewan jenderal akan mulai memutuskan untuk memberikan hukuman atas pelanggaran yang telah saya lakukan. Jadi kemungkinan saya tidak bisa menyelesaikan misi itu. Pangkat saya sebagai kapten akan dicabut segera setelah dewan jenderal selesai


merapatkannya.” ucap Haejun lirih dan terlihat tak bernyawa. Presiden Park menatap Haejun prihatin sambil menepuk pundak pria muda itu pelan. Ia pikir Haejun tidak pantas mendapatkan hal itu. Kematian isterinya sudah menjadi hukuman terberat untuknya. Jika Haejun harus didepak dari jajaran intel, rasanya itu akan semakin memperparah rasa sakit yang mendera Haejun. Ia harus melakukan sesuatu agar Haejun tetap berada di posisinya meskipun Haejun memang telah melanggar peraturan markas yang sangat terlarang.


            “Aku akan bicara pada ayahmu dan dewan jenderal yang lain agar mereka tidak memberikan hukuman padamu. Kau tidak berhak mendapatkan itu, kematian isterimu sendiri telah menjadi pukulan yang berat. Aku tidak ingin kau semakin terpuruk karena kehilangan jabatanmu dalam markas. Aku tahu kau adalah pria yang memiliki kompetensi tinggi, semua ini bukan karena kehendakmu. Jika kau memang pria yang


tidak berkompetensi, mungkin sejak dulu hubungan pernikahanmu dengan nona Im telah diketahui. Tapi selama ini kau selalu menunjukan kompetensi yang baik. Kau harus sabar nak, aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Kau tidak boleh patah semangat karena telah kehilangan isterimu, kau harus memikirkan bagaimana nasib Enzo karena saat ini ia hanya memilikimu sebagai pelindungnya. Bagaimanapun Enzo harus tetap hidup dengan baik meskipun ia telah kehilangan ibunya.” nasihat presiden Park bijak. Haejun hanya menanggangguk sekilas sambil tersenyum getir pada presiden. Apa yang dikatakan oleh presiden memang benar, tapi hal itu jelas tidak mudah untuk dilakukan. Menjalani hari-hari tanpa Yuka, pasti akan terasa seperti di neraka baginya. Penuh kesakitan dan rasa perih!


            “Daddy...”


            Enzo tiba-tiba berlari kearah Haejun dan langsung memeluk tubuh Haejun erat. Dari kejauhan Haejun dapat melihat eommanya dan eommonim sedang berpelukan satu sama lain sambil menumpahkan kesedihan mereka atas meninggalnya Yuka. Rupanya sang eomma telah tiba dari pulau  Nami setelah pagi ini ia menghubungi eommanya dengan segala perasaan sedih yang menggelayutinya jika Yuka telah meninggal. Ingin rasanya ia tidak mempercayai semua ini dan menganggap peristiwa ini adalah mimpi buruk. Tapi sekeras apapun usahanya untuk menyangkal semua ini, ia justru terus dihadapkan pada fakta menyakitkan jika ia memang telah kehilangan Yuka


untuk selamanya. Peti kayu yang saat ini berada di ruang tamu rumah nyonya Im merupakan saksi bisu atas meninggalnya Yuka yang memang benar terjadi.


            “Ada apa? Kenapa berteriak dan menangis?” tanya Haejun lembut pada Enzo. Melihat Enzo yang saat ini tengah menatapnya dengan berurai air mata, membuatnya mengingat Yuka. Enzo mewarisi mata bulat Yuka. Dan mata yang berurai air mata itu mengingatkan Haejun pada Yuka saat wanita itu menangis ketika mengenang ayahnya yang meninggal.


            “Enzo... hiks hiks, ingin mommy.. hikss. Kenapa mommy tid.. hiks dur.. dan tidak mau keluar dari dalam peti.. hiks hiks.” ucap Enzo terbata-bata. Presiden Park mengusap kepala Enzo lembut dan ia merasa menyesal karena telah menghancurkan kehidupan seorang anak yang polos seperti Enzo.


            “Tidak apa-apa, biarkan mommy tidur di dalam sana, karena mommy lelah. Mommy sekarang sedang bersama harabeoji di atas sana, melihat Enzo dari kejauhan sambil tersenyum dengan manis. Mommy sangat menyayangi Enzo, jadi Enzo tidak boleh menangis.”


            Haejun mendongakan kepalanya penuh kepedihan sambil menahan bulir-bulir air mata yang sebentar lagi akan menetes dari kelopak matanya. Ia sungguh ingin menangis sekarang! Ia ingin menangis dengan keras seperti Enzo tanpa mempedulikan orang lain yang mungkin akan mengecapnya sebagai pria cengeng.


            “Tapi Enzo ingin mommy, Enzo belum makan malam bersama mommy dan daddy, padahal Enzo sudah menyiapkan semuanya kemarin. Seharusnya semalam mommy pulang bersama daddy untuk makan malam bersama, kenapa mommy justru pergi bersama harabeoji!” teriak Enzo meraung-raung di dalam pelukan Haejun. Haejun mengangkat Enzo ke atas pangkuannya dan memeluk bocah kecil itu dengan erat. Ia tidak tahu kapan Enzo akan paham dan menerima kepergian Yuka. Tapi ia bersumpah pada dirinya, bahwa ia akan selalu ada untuk menggantikan sosok Yuka dalam hidup Enzo. Ia akan berperan sebagai orangtua yang sesungguhnya untuk Enzo. Ia tidak akan pernah meninggalkan Enzo lagi, mulai sekarang Enzo akan tinggal bersamanya. Di rumah yang seharusnya mereka tempati bersama.


            “Enzo, mulai sekarang kau akan tinggal bersama daddy. Kita akan bersatu dan menjalankan kehidupan ini bersama, tanpa kehadiran mommymu di sisi kita. Dan jadilah kekuatan untuk daddy kedepannya.” bisik Haejun parau di telinga Enzo sambil tetap memeluk Enzo dengan lelehan air mata yang kini semakin deras membanjiri wajah pucatnya.


-00-


            Sementara itu Yeri, Minzi, Lay, Sehun, dan Myungso tengah berkumpul bersama di ruang tamu keluarga Im sambil menatap peti kayu Yuka dengan nanar. Sejak semalam Yeri tak henti-hentinya menangis karena Yuka merupakan sosok senior favoritnya. Sejak dulu ia selalu bercita-cita untuk menjadi seperti Yuka, dan Yuka merupakan panutannya. Sekarang ia telah kehilangan sosok panutan itu untuk selamanya. Dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti jika Yuka sudah tidak ada untuk membimbingnya dalam berbagai tugas. Baginya Yuka sudah seperti ibu, dan ia telah kehilangan sosok ibu yang selalu membimbingnya selama ini.


            “Sudahlah Yeri, ikhlaskan kepergian senior Im, ia sudah bahagia di sana, kau jangan terus-menerus menangis seperti itu.” hibur Minzi menenangkan. Tapi bukannya berhenti menangis, Yeri justru semakin menangis kencang karena ia teringat saat-saat pertama kali ia mengenal Yuka. Saat itu ia merupakan agent baru yang tidak tahu apa-apa. Lalu tiba-tiba Yuka datang kedalam hidupnya sebagai seorang senior pembimbing yang selalu mengajarinya menjadi seorang intel yang handal dengan sabar. Dan sejak saat itu hubungan mereka semakin dekat layaknya kakak dan adik karena terkadang Yuka suka memberikan nasihat-nasihat bijak untuk kebaikannya. Ia belum siap untuk kehilanga Yuka.


            “Berhentilah menangis, bukan hanya kau saja yang merasa sedih, kami juga merasakan hal yang


sama dengan apa yang kau rasakan. Justru aku merasakan sakit yang lebih dalam karena aku baru saja patah hati oleh kapten Lee, dan sekarang aku harus menerima kenyataan pahit jika aku telah kehilangan senior Im untuk selama-lamanya.” ucap Sehun dengan nada sedikit meninggi. Yeri kemudian memeluk Sehun erat dan menumpahkan seluruh air matanya di pundak Sehun. Apa yang dikatakan Sehun memang benar jika mereka saat ini tengah berduka karena kematian senior Im yang mengerikan.


            “Maaf, tapi aku benar-benar sedih dengan semua kenyataan ini. Senior Im tidak pantas pergi dalam kondisi seperti itu. Seharusnya senior Im mendapatkan yang lebih baik karena ia adalah wanita yang baik. Kasihan Enzo dan kapten Lee, mereka pasti sangat sedih atas meninggalnya senior Im.”


            Minzipun ikut memeluk Yeri sambil terisak pelan di bahu Yeri. Ia juga sama kehilangannya seperti Yeri. Bagaimanapun Yuka adalah sosok senior yang telah menjadikannya sebagai agent hebat seperti saat ini. Dulu ia adalah wanita yang pemalu dan sangat sulit bergaul dengan orang lain yang baru saja dikenalnya. Tapi Yuka


tiba-tiba datang dan mengulurkan tangannya dengan ramah untuk menjadi teman pertamanya. Lalu Yuka mengenalkannya pada Yeri dan rekan-rekannya yang lain hingga kini ia memiliki tim dan teman dekat yang sangat mengerti dirinya.


            Mereka semua yang sedang berkumpul di ruang keluarga merupakan agent-agent yang sudah Yuka

__ADS_1


anggap seperti keluarganya sendiri hingga hubungan mereka begitu dekat. Sehingga kepergiannya yang mendadak begitu menyiksa mereka dan menyisakan sebuah kepedihan yang begitu mendalam di hati mereka masing-masing. Yuka adalah segalanya untuk mereka. Yuka bukan hanya sebatas senior untuk mereka, tapi Yuka adalah ibu, sahabat, dan juga mentor untuk mereka.


-00-


            “Yuka.”


            Haejun menatap nanar foto Yuka yang sedang menggunakan dress biru selutut di ruang tamu rumahnya. Ini sudah lima jam sejak Yuka dimakamkan disebelah makam ayahnya, dan Haejun masih belum bisa menerima kepergian Yuka. Ia masih merasa jika Yuka sedang berada di sekitarnya dan sedang menjalankan misi dengannya.


Tapi pada kenyataanya sosok itu hanyalah angan-angannya saja. Yuka tidak nyata, dan wanita itu sudah tidak ada disampingnya. Ia sendirian sekarang. Ia hanya sendiri tanpa Yuka sebagai penguat dan pelengkap hidupnya.


            “Yuka aku merindukanmu.” ucap Haejun lirih sambil mengingat masa lalunya bersama Yuka empat setengah tahun yang lalu ketika Yuka untuk pertama kalinya berteriak girang kearahnya sambil memeluknya dengan erat ketika ia baru saja masuk ke dalam rumah. Dan ia merasa semua itu baru saja terjadi kemarin.


Flashback


            “Yuka aku pulang.”


            Haejun masuk ke dalam rumahnya dengan keadaan lelah dan wajah kusut. Hari ini baru saja menyelesaikan misi pembunuhan yang terjadi di apartemen mewah di daerah Gangnam, dan misi kali ini benar-benar menguras tenaganya karena sang pembunuh ternyata begitu licik dan pintar dalam memainkan rencananya.


            “Oppa!!!”


            Tiba-tiba ditengah-tengah kelelahan yang melanda Haejun, Yuka muncul dari arah dapur sambil melompat kearahnya dan memeluknya dengan erat. Wanita itu berteriak di sisi wajahnya dengan keras hingga membuatnya harus memiringkan kepalanya ke samping untuk menghindari suara melengking isterinya yang memekakan telinga.


            “Ada apa, kenapa berteriak?” tanya Haejun gusar. Yuka masih berada di pelukan Haejun sambil mengguncang-guncangkan tubuh Haejun berkali-kali hingga Haejun merasa tubuhnya saat ini benar-benar akan luruh karena perbuatan Yuka.


            “Yuka, kau membuatku semakin sakit. Lepaskan tanganmu dari pundakku.”


            Dengan sedikit memaksa Haejun melepaskan jari-jari lentik itu dari pundaknya dan mendorong Yuka sedikit ke belakang agar ia dapat melihat wajah isterinya lebih jelas yang sedang tenggelam dalam sebuah euforia, entah apa.


            “Oppa aku hamil! Aku hamil oppa!” ucap Yuka girang sambil melompat-lompat seperti anak kecil. Haejun memincingkan wajahnya heran dan langsung menghentikan aksi Yuka yang sedang melompat-lompat di depannya.


            “Aku sudah mencobanya dengan dua testpack. Ini, bukankan kedua-duanya memunculkan dua garis merah.”


            “Kau baru mencobanya dua kali, kau belum mencobanya untuk ketiga kali. Bagaimana jika kedua testpack itu salah?”


            Yuka memberengut kesal di depan Haejun dan langsung meninggalkan Haejun sendiri di ruang depan karena suaminya itu benar-benar kelewat menyebalkan.


            Yuka menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan memutuskan untuk menonton tv show sejenak di ruang tengah untuk menghilangkan rasa kesalnya pada Haejun. Padahal ia ingin melihat reaksi Haejun seperti tetangga sebelahnya yang langsung mengecup kening isterinya lembut penuh perasaan ketika isterinya hamil. Tapi ternyata Haejun memang bukan tipe pria seperti itu. Haejun tipe pria yang hanya semangat saat membuatnya, tapi tidak terlalu bersemangat dengan hasilnya. Menyebalkan!


            “Hey, kenapa kau meninggalkanku begitu saja? Kau marah?”


            Rasanya Yuka ingin mengumpati Haejun saat ini juga karena suaminya itu benar-benar bodoh dengan pertanyaanya yang terdengar menyebalkan. Tentu saja saat ini ia sedang marah, tapi pria itu dengan bodohnya justru menanyakan hal itu padanya. Benar-benar rasanya ia ingin meledak sekarang juga.


            “Kenapa oppa terlihat tidak bahagia ketika mendengar kabar mengenai kehamilanku? Apa oppa tidak suka jika sebentar lagi kita akan memiliki seorang anak yang lucu?” tanya Yuka cemberut.


            “Bukan begitu, aku hanya ingin memastikan jika kau benar-benar hamil. Mungkin saja testpack itu salah. Selama kau belum melakukan pemeriksaan ke rumah sakit, kau belum terbukti hamil. Besok sebelum pergi ke markas, kita pergi ke dokter kandungan.” putus Haejun mutlak. Namun Yuka masih saja cemberut karena Haejun


dengan terang-terangan mengatakan jika ia meragukan kehamilannya. Padahal ia sangat yakin jika ia sedang hamil sekarang. Ck, suaminya itu memang berbeda.


            “Terserah oppa, padahal aku mengharapkan oppa bereaksi lebih senang. Tapi sudahlah, itu tidak penting sekarang. Lebih baik oppa segera makan. Aku sudah menyiapkan makan malam untuk oppa di dapur.” ucap Yuka ketus dan segera melangkah pergi meninggalkan Haejun yang hanya mampu mendenguskan nafasnya pelan. Padahal ia tidak bermaksud begitu, ia hanya ingin memastikan semuanya terlebihdahulu sebelum berteriak-teriak girang seperti orang gila. Ia tidak ingin seperti sepupunya yang langsung menghubungi semua orang ketika isterinya menunjukan testpack yang dicobanya. Tapi setelah dicek ke dokter kandungan ternyata isterinya tidak hamil, bukankah itu sangat memalukan? Oleh karena itu ia tidak ingin bernasib sama seperti sepupunya. Ia hanya ingin semuanya jelas, dan setelah itu mungkin ia bisa berteriak teriak seperti orang gila sepanjang hari karena isterinya hamil.


-00-

__ADS_1


            Keesokan harinya setelah memeriksakan diri ke dokter kandungan, Yuka tak henti-hentinya tersenyum bahagia di dalam mobil karena dokter telah memastikan jika ia memang benar hamil. Dokter itu mengatakan jika usia kandungan Yuka sudah memasuki tiga minggu. Dan dokter juga memberikan nasihat padanya supaya ia tidak boleh terlalu lelah karena usia awal kehamilan di bawah delapan minggu sangat rentan untuk mengalami keguguran.


            “Sudah sampai, kau tidak ingin turun?” tanya Haejun tiba-tiba merusak kesenangan Yuka yang sedang membayangkan bayinya yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. Wanita itu menoleh sekilas pada Haejun dan langsung turun dari mobil begitu saja tanpa mempedulikan Haejun yang masih bergeming di tempatnya untuk menunggu Yuka, tapi Yuka justru sudah meninggalkannya terlebihdahulu.


            “Ck, wanita memang makhluk yang membingungkan.” decak Haejun sebal dan segera turun dari mobilnya. Ia pun segera menyusul langkah Yuka yang sudah cukup jauh meninggalkannya dan kini wanita itu telah masuk ke dalam lift sambil menjulurkan lidahnya.


            “Sampai jumpa oppa.”


            Dan bersamaan dengan itu pintu lift yang ditumpangi Yuka menutup, meninggalkan Haejun sendiri di dalam basement dengan perasaan dongkol karena hari ini isterinya terus menguji kesabarannya dengan tingkahnya yang kekanakan. Dengan gusar ia memutuskan untuk menunggu pintu lift terbuka sambil mengetuk-etukan tangannya ke dinding dengan bosan.


Ting


            Haejun bernafas lega ketika denting lift akhirnya berbunyi dan pintu lift kini telah terbuka perlahan.


            “Selamat pagi kapten.”


            Haejun menganggukan kepalanya sedikit pada Cha Yeonsang yang menyapanya dengan ramah. Pria itu kemudian menekankan angka letak ruangan Haejun sebelum pintu lift di depan mereka tertutup rapat.


            “Bagaimana pekerjaan kapten akhir-akhir ini, apa kapten mendapatkan misi khusus lagi?” tanya Yeonsang memecah suasana hening diantara mereka. Haejun menoleh sekilas ke arah Yeonsang sambil berseru dengan malas.


            “Pekerjaanku akhir-akhir ini tidak terlalu berat, tapi aku masih memiliki kasus untuk menyelidiki anggota dewan yang dicurigai terlibat korup.” Jawab Haejun apa adanya. Yeonsang mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dan ia hendak bertanya lagi pada Haejun, namun pintu lift tiba-tiba terbuka dan memaksanya untuk segera keluar dari dalam lift.


            Dari kejauhan Haejun melihat Yuka sedang berbicara dengan rekannya yang berasal dari divisi lain. Dari gelagatnya Haejun sudah menduga jika Yuka akan membantu rekannya itu untuk membawa tumpukan map yang terlihat berat.


            Nyonya tidak boleh terlalu lelah, karena usia kandungan nyonya masih sangat rentan...


           “Kapten saya permisi.”


            “Tunggu.”


            Tiba-tiba Haejun menghentikan langkah Yeonsang dan membuat pemuda berusia pertengahan dua puluh itu berbalik.


            “Ada apa kapten?”


            “Tolong kau bantu Chaerin untuk membawakan map-mapnya yang berat, Yuka harus segera ke


ruang meeting bersamaku.” ucap Haejun beralasan. Yeonsang mengangguk mengerti dan segera berjalan mendahului Haejun untuk meminta map-map milik Chaerin yang saat ini telah berada di tangan Yuka.


            “Berikan semua map itu padaku, aku akan membawanya bersama Chaerin.”


            “Eh, apa kau serius Yeonsang ssi?” tanya Yuka sedikit terkejut ketika Yeonsang telah mengambil tumpukan map yang berada di tangannya. Yuka pun membiarkan Yeonsang mengambil map-map itu sambil melambaikan tangannya pada Chaerin.


            “Sampai jumpa, semoga berhasil.” ucap Yuka pada Chaerin yang akan melakukan meeting dengan dewan jenderal.


            “Kau meninggalkanku.”


            Tiba-tiba Haejun sudah berdiri di sebelahnya sambil berseru datar. Yuka menatap Haejun malas sambil menyilangkan tangannya di depan dada, namun tiba-tiba ia teringat sesuatu.


            “Oppa sengaja menyuruh Yeonsang untuk membawakan map-map itu?”


            “Tidak.” jawab Haejun singkat dan langsung melangkah pergi meninggalkan Yuka yang sedang tersenyum penuh arti di belakang tubuh tegap suaminya.

__ADS_1


            “Aku tahu itu kau kapten Lee Haejun.” teriak Yuka keras dengan senyum manis yang tercetak jelas di wajahnya. Sedangkan Haejun hanya tersenyum separuh dan segera masuk ke dalam ruangannya yang nyaman.


Flashback end


__ADS_2