Ignite

Ignite
Terror (Fourteen)


__ADS_3

           Yuka dan Haejun berjalan beriringan di dalam pemakaman Ilsan yang terlihat sepi dan senyap. Matahari hampir saja tenggelam di ufuk barat, dan membuat suasana di dalam pemakaman Ilsan semakin mencekam. Yuka dan Haejun terus berjalan menyusuri setiap makam yang berada di sana untuk menemukan sang peneror yang kemungkinan sedang bersembunyi di dalam makam tersebut. Tapi hingga mereka lelah berputar-putar mengelilingi makam tersebut, mereka sama sekali tidak menemukan satu pun orang di sana. Makam itu sepi, hanya ada mereka


berdua yang sejak tadi berjalan kesana kemari tak tentu arah seperti orang bodoh.


            “Oppa, kupikir si peneror itu sudah pergi dari makam ini, kita terlambat untuk menemukannya.” ucap Yuka lelah sambil menyandarkan kepalanya di pundak Haejun. Mereka berdua terus berjalan diantara makam-makam untuk menemukan jalan keluar yang berada di ujung jalan setapak yang mereka lalui.


            “Kalau begitu anggap saja kita sedang berkencan.” jawab Haejun santai. Yuka memukul lengan Haejun pelan sambil memberikan tatapan penuh peringatan pada pria itu.


            “Jangan bicara sembarangan oppa, kita sedang berada di dalam makam.” ucap Yuka memperingatkan. Lee Haejun tertawa mengejek kearah isterinya sambil menuduh isterinya penakut.


            “Apa kau takut sayang?” goda Haejun sambil berjalan cepat di depannya. Yuka mendengus kesal dengan sikap Haejun yang sedang menggodanya dan hendak pergi meninggalkannya untuk menakut-nakutinya.


            “Aku tidak takut oppa! Bukankah dulu sebelum menjadi salah satu intel kami juga pernah menjalani ujian seperti ini, jadi kau tidak bisa menakut-nakutiku dengan trik murahanmu yang tak berguna itu.”


            “Benarkah? Kalau begitu sekarang kita berpencar, aku akan pergi ke sisi barat, dan kau pergi ke sisi timur. Siapa tahu kita telah melewatkan sesuatu yang penting di dalam makam ini, karena aku memiliki perasaan yang kuat jika peneror itu sedang mencoba untuk menunjukan sesuatu pada kita.” tantang Haejun dengan seringaian licik. Yuka menatap Haejun angkuh sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Tentu saja ia akan menerima tawaran itu dengan senang hati, karena ia bukan wanita penakut. Justru ia lebih memilih bertemu hantu karena mereka tidak lebih berbahaya daripada manusia.


            “Tidak masalah, lagipula aku bukan wanita penakut. Kita akan bertemu di depan pintu keluar pemakaman.”


            Yuka pun segera berjalan pergi mendahului Haejun untuk berjalan ke sisi timur. Suara hewan malam yang mulai keluar dari sarangnya membuat suasana pemakaman itu semakin mencekam. Namun Yuka memilih untuk bersikap santai sambil mengamati deretan batu nisan yang tersusun rapi di samping kanan dan kirinya. Setiap batu nisan yang ia lewati, ia selalu membaca nama-nama yang tertera di atas batu nisan tersebut agar ia dapat menghubungkannya dengan si peneror yang benar-benar misterius itu.


            “Yuka, kemarilah.”


            Yuka mendengar suara Haejun yang tengah memanggilnya dari sisi sebelah barat. Pria itu melambaikan tangannya dalam kegelapan malam yang membuat Yuka merasa kesulitan untuk melihat sosok suaminya.


            “Tunggu sebentar, aku tidak bisa melihat wajah oppa dengan jelas.” teriak Yuka keras. Yuka pun memutuskan untuk mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senter yang berada di ponselnya. Tapi ketika ia menyorotkan lampu senternya kearah suara Haejun, tiba-tiba suaminya itu sudah menghilang. Ia pun mengarahkan senter ponselnya ke berbagai arah untuk mencari suaminya, namun hasilnya nihil, suaminya tidak ada dimanapun. Dengan perasaan was-was, Yuka berjalan tergesa-gesa menuju sisi barat makam untuk mencari keberadaan suaminya yang tiba-tiba menghilang.


            “Oppa... kau dimana?” Teriak Yuka keras di tengah-tengah makam. Suaranya yang nyaring terdengar menggema disetiap sudut pemakaman, namun suaminya itu sama sekali tak menjawab panggilannya dan hanya suara angin yang terus berdesir disekitarnya. Yuka pun memutuskan untuk berjalan lebih jauh menyisiri pemakaman sisi barat karena ia takut jika si peneror itu telah menangkap suaminya.


Srakk


            Yuka mengarahkan senternya ke belakang tubuhnya ketika ia mendengar suara ranting yang bergesekan dengan tanah. Namun tidak ada apapun yang terjadi di belakangnya, hanya ada jejeran makam yang tampak mengerikan diterpa cahaya bulan yang remang-remang. Yuka pun kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari


Haejun. Namun tiba-tiba pergelangan tangannya dicengkeram seseorang dan membuatnya memekik keras karena terkejut.


            “Kyaaaa.. Kyaaa, lepaskan aku!!” teriak Yuka histeris sambil melompat-lompat heboh di tengah makam. Haejun yang mendengar suara teriaka Yuka yang ketakutan langsung tertawa terbahak-bahak dengan ekspresi wajah puas yang menyebalkan.

__ADS_1


            “Jadi, seperti inikah sikap seorang wanita pemberani?”


            “Oppa!! Dasar menyebalkan! Minggir, jangan halangi langkahku.” bentak Yuka gusar sambil mendorong tubuh Haejun keras ke samping.


            “Arghh... Yuka!” rintih Haejun keras karena ia baru saja terjatuh di atas sebuah makam. Yuka pun membalas suaminya dengan tertawa tak kalah menyebalkannya seperti apa yang dilakukan Haejun padanya.


            “Rasakan! Itu adalah balasan untuk orang menyebalkan seperti oppa. Ck, cepat bangun. Kita harus segera pergi untuk menemui Hyerin, kita sudah terlalu lama pergi meninggalkannya.” ajak Yuka sambil membantu Haejun untuk berdiri. Wanita itu meletakan ponselnya di atas makam yang berada di sebelah Haejun, lalu menarik tangan suaminya untuk berdiri.


            “Siapa nama suami Jung Hyerin yang sudah meninggal?”


            “Shinjung, Kang Shingjung.”


            “Lihat makam itu, apa itu milik mendiang Kang Shinjung, suami dari sahabatmu?”


            Yuka pun menyorot senternya pada sebuah nisan yang baru saja diduduki oleh Haejun saat pria itu terjatuh.


            “Kurasa ini memang milik Kang Shinjung, tanggal kematiannya tertulis bulan lalu, jadi ini benar-benar makam Kang Shinjung. Tapi apa hubungannya dengan makam Kang Shinjung dan si peneror itu, apa si peneror itu pernah memiliki hubungan khusus dengan Kang Shinjung sebelum Kang Shinjung meninggal dan memutuskan untuk meneror Hyerin? Ck, aku lupa menanyakan hubungan Hyerin dan Shinjung setelah kami berpisah dari senior high school.” decak Yuka kesal pada dirinya sendiri. Haejun tampak sibuk berpikir di sebelah Yuka sambil mengamati makam milik Kang Shinjung lekat-lekat.


            “Menurutku, Hyerin, Kang Shinjung, dan si peneror itu saling berhubungan, tapi apa? Sampai sejauh ini aku belum bisa menganalisisnya dengan jelas karena kita belum mendapatkan cukup informasi untuk menguak kasus peneroran yang terjadi pada Jung Hyerin. Apa kau merasa ada sesuatu yang janggal dengan Jung Hyerin selama kau berada di apartementnya dan di kamarnya. Mungkin kau menemukan sesuatu yang terlihat mencurigakan di sana?”


            Yuka tampak berpikir sebentar sebelum ia memekik heboh dan menyuruh Haejun untuk mengeluarkan anting-anting yang Haejun temukan di depan tangga darurat.


            Haejun merogoh saku kiri celananya dan memberikan sebuah anting-anting kecil berbandul mutiara yang tampak bersinar tertimpa cahaya bulan yang remang-remang.


            “Ada apa dengan anting-anting itu Yoong, apa kau menemukan sesuatu?”


            “Oppa sekarang aku ingat dengan anting-anting ini. Sebenarnya anting-anting ini milik Jung Hyerin. Dulu saat senior high school Hyerin pernah menunjukan padaku jika ia dulu mendapatkan hadiah dari mendiang ayahnya sebuah anting-anting yang sama persis dengan milik Hyura, namun milik Hyura memiliki bandul mutiara berwarna


hitam, sedangkan milik Hyerin memiliki bandul mutiara berwarna putih. Tadi saat aku menenagkan Hyerin di kamarnya, aku melihat Hyerin menggunakan anting-anting berbandul mutiara hitam dikedua telinganya. Oppa, jangan-jangan wanita yang mengaku sebagai Jung Hyerin sebenarnya adalah Jung Hyura, karena selama ini mereka memiliki wajah yang snagat mirip.”


            “Tapi kenapa Hyura harus berpura-pura untuk menjadi kakaknya, kenapa ia harus menyembunyikan identitasnya dari kita?”


            “Bagaimana jika sebenarnya Hyerin sedang menyuruh Hyura untuk menjadi dirinya agar ia bisa meminta tolong padaku, karena selama ini Hyerin sudah tahu jika aku bekerja sebagai intel negara. Oppa kita harus kembali ke apartement Jung Hyura, karena mungkin saja wanita itu sedang dalam bahaya.” ucap Yuka panik. Namun sebelum Yuka berjalan pergi meninggalkannya, Haejun langsung mencengkeram pergelangan tangan Yuka agar Yuka tidak bisa bergerak kemanapun, karena wanita itu harus menjelaskan analisisnya yang membingungkan itu.


            “Katakan padaku apa yang sedang terjadi.”

__ADS_1


            “Menurutku pelaku peneroran Jung Hyura adalah kakaknya sendiri, Jung Hyerin karena selain barang bukti berupa anting-anting yang oppa temukan di depan pintu tangga darurat, si peneror juga terlihat begitu ahli dalam melakukan rencananya. Bahkan peneror itu sampai memasang alat penyadap di dalam kamar Hyura yang selalu tertutup itu. Jika bukan Hyerin yang melakukannya, lalu siapa lagi? Apalagi selama ini Hyura dan Hyerin tinggal di dalam apartement yang sama semenjak Hyura kehilangan suaminya. Jadi, aku sangat yakin jika pelaku peneroran itu adalah Jung Hyerin. Tapi aku masih tidak mengerti dengan motif Jung Hyerin melakukan hal ini pada adiknya sendiri. Bukankah selama ini mereka saling menyayangi satu sama lain?”


            “Tapi kau melupakan Shinjung dalam analisismu. Kau bilang Shinjung adalah kekasih Jung Hyerin saat senior high school, tapi jika yang kita temui adalah Jung Hyura, berarti pria itu tidak menikah dengan Jung Hyerin, melainkan menikah dengan Jung Hyura, menurutku salah satu alasan Hyerin melakukan hal ini karena Shinjung yang menikah dengan adiknya, bukan dirinya. Sebaiknya kita memang segera kembali ke apartement Jung Hyura untuk menyelidiki masalah ini lebih lanjut dan membuktikan kebenaran analisis kita.”


            Pasangan suami isteri itu pun langsung berjalan tergesa-gesa meninggalkan pemakaman Ilsan yang sepi itu untuk membuktikan kebenaran analisis mereka di apartement Jung Hyura, karena hanya wanita itulah yang mengetahui alasan sebenarnya dibalik sikap kakaknya yang terus menerornya selama ini.


-00-


Ting tong


            Yuka menekan bel apartement milik Jung Hyura berkali-kali hingga kakinya terasa pegal, karena sejak tadi sang pemilik apartement tak kunjung membukakan pintunya. Padahal mereka sudah berdiri sejak lima belas menit yang lalu sambil menekan bel tersebut secara serampangan.


            “Yuka, kita dobrak saja pintunya, aku takut sesuatu yang buruk telah terjadi pada Jung Hyura di dalam sana.”


            Yuka menganggukan kepalanya setuju dan sedikit menyingkir menjauh dari pintu karena suaminya hendak mendobrak pintu kayu itu dengan tubuhnya.


Brakk


            Dalam tiga kali dorongan akhirnya pintu itu dapat terbuka. Kesan pertama yang dirasakan Yuka saat masuk ke dalam apartement Jung Hyura adalah sepi dan senyap. Tidak ada tanda-tanda adanya kehidupan di dalam apartement tersebut. Bahkan letak barang-barang yang berserakan di ruang tamu masih sama seperti sebelum mereka pergi meninggalkan apartement itu untuk pergi ke pemakaman Ilsan.


            “Apa menurut oppa Hyura masih tertidur di dalam kamarnya? Ruangan ini tampak tak berubah sedikitpun sejak kita pergi menuju pemakaman Ilsan. Bahkan ponsel milik Hyura masih berada di atas karpet. Apa menurut oppa Hyura baik-baik saja?”


            “Lebih baik kita melihat langsung bagaimana kondisi Hyura di kamarnya daripada kita hanya sekedar menebak-nebaknya di sini.” ucap Haejun memberi saran. Mereka berduapun semakin masuk ke dalam apartement Jung Hyura untuk mencari keberadaan sang pemilik apartement di dalam sana.


            Yuka menyusuri setiap sudut apartement milik Jung Hyura, namun ia sama sekali tidak menemukan Hyura dimanapu kecuali di dalam kamarnya karena ia belum mencoba untuk mencarinya di dalam kamar. Ia pun memanggil suaminya dan menyuruh sang suami untuk mendobrak pintu kamar Hyura yang terkunci. Padahal sebelumnya Yuka merasa yakin jika Hyura tidak mengunci kamarnya dari dalam.


Brakk! Brakk!


            Haejun mendobrak pintu coklat itu beberapa kali hingga akhirnya pintu coklat tersebut dapat membuka sempurna dan memunculkan Hyerin dan Hyura sedang memejamkan matanya damai dengan sebuah pisau yang menancap di dada mereka masing-masing.


            “Oppa!”


            Yuka memekik terkejut sambil menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


            “Oppa, kita terlambat. Hyura dan Hyerin sudah meninggal.” ucap Yuka penuh penyesalan sambil menyeka bulir-bulir air matanya yang semakin deras membanjiri wajahnya. Namun Haejun langsung menenangkan Yuka dan mengatakan pada Yuka jika semua itu bukan salahnya, karena Haejun baru saja menemukan sebuah surat yang tertempel di depan cermin milik Hyura.

__ADS_1


            “Sudahlah, ini bukan salahmu. Hyerin sendiri yang ingin mengakhiri kehidupan adiknya karena adiknya sudah banyak membawa kekecewaan bagi kakaknya. Dan untuk menebus rasa bersalahnya pada sang adik, akhirnya Hyerin memutuskan untuk bunuh diri karena meskipun ia membenci adiknya atas keserakahannya, tapi ia tidak bisa membiarkan adiknya pergi begitu saja. Ia ingin terus bersama adiknya dan mengurus adiknya meskipun mereka sudah tidak hidup lagi di dunia, jadi jangan salahkan dirimu sendiri atas kematian mereka. Terkadang kita memang tidak bisa menyelamatkan orang-orang yang seharusnya kita selamatkan. Tapi kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri atas kejadian ini, karena Tuhan memang sudah menggariskan kematian Jung Hyura hari ini oleh kakak kandungnya. Yang harus kau ingat dari peristiwa hari ini adalah, kau telah berusaha. Kau telah berusaha untuk melindungi sahabatmu dan juga saudara kandung sahabatmu, jadi tenanglah dan ikhlaskan kepergian mereka.”


            Yuka memeluk tubuh Haejun erat sambil menangis pilu di atas pundak Haejun. Apa yang baru saja dikatakan oleh Haejun memang benar, ia memang tidak bisa selalu menyelamatkan orang-orang yang sedang dalam bahaya, tapi setidaknya hari ini ia telah berusaha untuk melindungi wanita itu dari kejahatan sang peneror. Tapi Tuhan sepertinya berkehendak lain dan ingin mengirim Hyerin dan Hyura ke surga secepatnya.


__ADS_2