Ignite

Ignite
Forgotten Day (Nine)


__ADS_3

Malam hari Yuka terlihat sedang berbaring miring menghadap Enzo yang telah tertidur lelap di sampingnya. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan untuknya, karena untuk pertama kalinya ia menghadapi misi penyelamatan sendiri tanpa Haejun disampingnya. Tiba-tiba Yuka merindukan suami manjanya itu dan ingin menghubunginya. Ia pun turun dari ranjang dan berjalan menuju meja riasnya untuk mengambil ponselnya yang ia letakan di sana. Namun tanpa disangka-sangka Haejun justru menghubunginya terebihdahulu melalui video call.


            “Hai sayang, bagaimana kabarmu hari ini?”


            Haejun menyapa Yuka dengan lembut di seberang sana. Yuka terlihat begitu senang saat wajah Haejun yang tampan menghiasi layar ponselnya disertai senyum khas pria itu yang selalu berhasil membuat jantungnya berdetak kencang.


            “Hmm... aku berhasil menyelesaikan misi hari ini dengan sukses tanpa menyakiti para sandera.” cerita Yuka bangga. Lee Haejun tersenyum bangga pada isterinya sambil menunjukan tanda jempol untuk Yuka.


            “Bagus. Sudah kuduga jika kau pasti bisa melakukannya. Apa kau sekarang sedang di rumah?”


            “Iya, hari ini aku pulang ke rumah bersama Enzo. Entah kenapa hari ini aku sangat merindukan Enzo dan ingin membawanya pulang, mungkin karena Enzo selalu mengingatkanku padamu.” jawab Yuka sekenanya sambil menunjukan wajah Enzo yang sedang tertidur pulas di sebelahnya. Haejun terkekeh pelan di seberang sana dengan jawaban jujur yang dilontarkan oleh Yuka.


            “Yahh aku tahu jika kau memang tidak bisa berpisah terlalu lama denganku. Kau tenang saja sayang, dua hari lagi aku akan segera kembali. Tapi ngomong-ngomong kenapa kau tidak menginap di rumah eomma? Bukankah biasanya kau lebih suka berada di sana jika aku tidak pulang ke rumah?”


            “Aku sedang malas. Disana eomma tak henti-hentinya memarahiku dan mengatakan jika aku ceroboh, padahal luka ini sama sekali tidak sakit dan hanya luka gores biasa.” adu Yuka kesal. Haejun tiba-tiba mengernyitkan dahinya heran sambil menatap Yuka penuh selidik yang belum disadari oleh wanita itu. Yuka terlihat


sedang membelai kepala Enzo dengan lembut sambil menciumi rambut anaknya yang wangi.


            “Kau terluka sayang? Saat melakukan misi hari ini?”


            Sontak Yuka langsung menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal dan tampak enggan untuk melanjutkan video callnya dengan Haejun. Padahal ia sudah berencana untuk menyembunyikan insiden penembakan hari ini pada Haejun agar suaminya itu tidak terlalu over protektif padanya. Namun dengan bodohnya ia justru menceritakan sendiri pada suaminya jika ia sedang terluka.


    Bodoh kau Lee Yuka, dan tamatlah riwayatmu!


Yuka terus meruntuki kebodohannya dalam hati tanpa berniat untuk mengambil ponselnya yang ia letakan di sebelahnya. Namun suara Haejun yang gusar karena memanggil-manggil namanya berkali-kali membuatnya mau tidak mau harus berhadapan lagi dengan suaminya yang akan berubah menjadi galak setelah sikap lembut yang sempat ditunjukan suaminya itu beberapa saat yang lalu.


            “Eee kau tahu, sebenarnya ini hanya luka tembak biasa. Peluru itu hanya melukai lenganku sedikit.”


            “KAU TERTEMBAK LAGI? Sudah berapa kali kukatakan untuk selalu berhati-hati dan tidak ceroboh, kau membuatku selalu mengkhawatirkanmu Lee Yuka.” ucap Haejun dengan suara menggelegar yang langsung membuat telinga Yuka panas. Apalagi wajah Haejun yang saat ini tengah menghiasi


layar ponselnya semakin membuat ia gusar dengan sikap berlebihan suaminya.


            “Sssstt.. kecilkan suaramu oppa, kau bisa membangunkan Enzo. Kau dan eomma sama saja, kalian selalu berisik dan membuat hidupku terkekang.” ucap Yuka kesal dengan wajah cemberut. Haejun sudah akan membuka mulutnya lagi, namun hal itu ia urungkan karena percuma saja memarahi Yuka jika wanita itu berada jauh darinya. Akan jauh lebih puas baginya untuk memarahi Yuka saat ia kembali dari China. Dan ia juga bisa menghukum isterinya dengan hukuman apapun.


            “Sudahlah, aku tidak akan memarahimu sekarang, rasanya tidak akan sama jika aku memarahimu nanti. Lebih baik kau buka lemari pakaian kita dan ambilah hadiah yang kuletakan di dalam sana.”


            Mendengar kata hadiah dari Haejun, refleks Yuka langsung melompat turun dan melupakan tangannya yang sedang terluka dan membuatnya merintih kesakitan karena lengannya terasa ngilu.


            “Ck, lagi-lagi kau melakukan hal ceroboh itu lagi. Sampai kapan kau akan hidup dengan sikap cerobohmu yang menjengkelkan itu Lee Yuka.”


            “Oppa, kenapa kau memarahiku lagi, aku lelah dan tidak ingin mendengar amarahmu yang menyebalkan itu.” gerutu Yuka kesal. Haejun pun memutuskan untuk membungkam bibirnya dan menunggu Yuka untuk menemukan sesuatu yang telah ia siapkan di dalam lemari pakaian mereka.


            “Oppa, kau memberikanku ini?” tanya Yuka sambil menunjukan sebuah kotak kecil berpita merah. Lee Haejun mengagguk di ujung sana sambil menyuruh Yuka untuk membukanya.


            “Happy anniversay sayang, hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita yang ke lima.”


            Yuka menutup bibirnya tak percaya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak menyangka jika Haejun akan mengingat hari bersejarah mereka berdua, karena ia sendiri sebenarnya sama sekali tidak mengingatnya.


            “Oppa, kau mengingatnya? Oh.. aku.. maaf aku melupakannya.” ucap Yuka dengan air mata yang mulai turun membasahi wajahnya. Jari-jari lentiknya kemudian mulai membuka kotak kecil yang diberikan Haejun padanya. Dan saat membukanya, Yuka langsung berseru girang karena Haejun ternyata memberikannya hadiah sebuah mobil.


            “Oppa membelikanku mobil baru?” teriak Yuka girang. Ia mengeluarkan kunci mobil itu dari kotaknya dan langsung menunjukannya pada Haejun yang dijawab dengan anggukan kepala.


            “Untuk beberapa hari ke depan aku akan lebih sibuk, jadi aku tidak akan bisa mengantarkanmu. Dan kau sudah lama menginginkan mobil itu, jadi aku memutuskan untuk memberikannya sebagai hadiah ulang tahun


pernikahan kita. Tapi aku tidak akan mengijinkanmu menyetir sendiri jika sifat cerobohmu itu belum bisa kau hilangkan. Jika kau terbukti bersikap ceroboh sekali lagi, aku akan mengambil mobil itu darimu.” ancam Haejun galak. Namun Yuka seperti tak peduli dengan ancaman itu dan justru sedang sibuk menciumi kunci mobil barunya.


            “Kapan mobilku akan datang oppa?” tanya Yuka antusias. Haejun mendengus kesal di seberang sana karena isterinya itu terlalu larut dalam euforianya sehingga ia melupakan keberadaanya yang sedang meminta Yuka untuk merapalkan janji padanya.


            “Berjanjilah padaku untuk tidak akan ceroboh dan aku akan menghubungi pihak dealer untuk mengirimkan mobilmu besok.”


            “Hmm baiklah. Meskipun sedikit bersyarat, tapi tidak masalah. Oppa... terimakasih banyak, kau memang suami yang paling mengerti keinginan isteri. Tapi ngomong-ngomong mengapa oppa mengingatnya, padahal aku sama sekali tidak ingat jika hari ini adalah hari pernikahan kita.” tanya Yuka penasaran. Jujur ia merasa takjub pada Haejun yang ternyata masih mengingat hari dimana mereka menikah dan mengikrarkan janji suci di altar gereja. Padahal biasanya seorang suami selalu cuek dengan hari-hari spesial yang berhubungan dengan pasangannya, namun ajaibnya Haejun justru mengingatnya. Bahkan pria itu juga sudah menyiapkan hadiah khusus yang sudah lama diinginkannya. Ia menjadi merasa bersalah pada Haejun karena ia tidak menyiapkan apapun untuk pria itu. Bahkan beberapa hari ini ia sudah sering marah-marah pada pria itu terkait misi rahasia yang disembunyikan pria itu darinya.


            “Wajar jika kau melupakannya karena hari ini bukanlah hari yang indah untuk dikenang, tapi sesuatu yang menggelikan dan justru terkesan terburu-buru.” Timpal Haejun memaklumi. Yuka terkekeh geli sambil mengingat hari pernikahan mereka yang memang tidak terkesan romantis sedikitpun, justru hari pernikahan mereka sangat aneh karena dilakukan secara tertutup dan tanpa rencana.


            “Ah.. tapi menurutku hari ini tetap hari yang istimewa, untuk kita berdua dan untuk keluarga kecil kita.” ucap Yuka lembut sambil menerawang jauh pada kejadia lima tahun yang lalu.


Flashback


“Ah.. terlalu biasa.”


            Yuka mendesah frustasi sambil berputar-putar di depan cermin. Ia pun kembali membongkar lemarinya untuk mendapatkan sebuah gaun yang bagus dan elegan untuk ia kenakan hari ini karena keluarga Haejun akan datang untuk melamarnya. Sebenarnya ia tidak terlalu yakin jika keluarga Haejun akan melamarnya hari ini, tapi yang jelas mereka akan datang untuk makan malam bersama dan untuk saling mengenal keluarga masing-masing lebih jauh.


            “Yuka apakah... astaga! Berantakan sekali kamarmu nak, apa yang kau lakukan dengan semua gaun-gaunmu?”


            “Eomma.... aku tidak bisa menemukan gaun yang pas untukku, semua gaun ini terlalu biasa untuk dikenakan di depan keluarga Haejun oppa.” gerutu Yuka kesal sambil melempar gaun kuning yang berada di tangannya ke atas ranjang. Nyonya Im memunguti gaun-gaun milik putrinya yang berserakan di atas lantai dan


meletakannya di tempat semula. Wanita setengah baya itu membuka lemari milik putrinya dan mencoba mencari gaun yang pas untuk anaknya. Meskipun sebenarnya Yuka hanya harus mengenakan pakaian yang nyaman untuk tubuhnya, tapi tetap saja, seorang gadis muda yang sedang dimabuk asmara pasti menginginkan yang terbaik untuk tampil di depan calon mertuanya.


            “Bagaimana dengan gaun merah ini, eomma rasa ini bagus untukmu.” tawar nyonya Im sambil mengangkat gaun merah yang digenggamnya tinggi-tinggi pada Yuka.

__ADS_1


           “Itu terlalu mencolok eomma, lagipula potongan di bagian dadanya juga terlalu rendah, bagaimana komentar orangtua Haejun oppa nanti jika aku memakai gaun itu, mereka pasti akan berpikiran macam-macam tentangku.” tolak Yuka mentah-mentah pada tawaran ibunya. Nyonya Im kembali mencari gaun yang pas untuk Yuka sambil mendesah kesal karena putrinya itu terlalu ribet dan pilih-pilih.


            “Bagaimana dengan yang ini? Eomma rasa gaun ini memiliki warna yang soft dan juga tidak terlalu terbuka, cocok untuk acara makan malam kita hari ini.”


            Yuka mengambil gaun itu dari tangan ibunya sambil mencoba mematutnya di depan cermin.


            “Kurasa ini memang gaun yang pas untuk bertemu dengan orangtua Haejun oppa. Ah... jam berapa ini eomma, aku belum merias wajahku dan menata rambutku! Oh Tuhan, aku harus segera bergegas.”


            Yuka berteriak heboh sambil menenteng gaunnya ke dalam kamar mandi. Nyonya Im yang melihat kelakuan putrinya yang sedang dilanda kasmaran itu hanya mampu menggelengkan kepala sambil merapikan kamar putrinya yang sangat berantakan.


            “Cepatlah Yuka, eomma akan menunggumu di bawah.” teriak nyonya Im keras sebelum berjalan keluar meninggalkan kamar Yuka.


-00-


            Pukul tujuh tepat nyonya Im dan Yuka telah bersiap-siap di ruang tamu untuk menyambut kedatangan orangtua Haejun. Lima belas menit yang lalu Haejun baru saja menghubungi jika ia akan sedikit terlambat karena pesawatnya baru saja tiba di bandara Incheon, sedangkan orangtuanya sudah dalam perjalanan dan mungkin akan


segera tiba. Yuka pun memutuskan untuk menunggu kedatangan kedua orangtua Haejun di ruang tamu agar ketika mereka datang, ia dapat langsung menyambutnya tanpa harus membiarkan mereka menunggu terlalu lama. Lagipula kekasihnya itu memang pria yang tidak sabaran, seenaknya saja menyuruh kedua orangtuanya untuk datang disaat ia belum siap secara mental dan fisik. Apalagi ayah Haejun adalah salah satu jenderal yang sangat disegani di markas, ia merasa sangat gugup untuk bertemu dengan ayah Haejun nanti.


            “Eomma, aku takut. Aku tidak yakin apakah orangtua Haejun oppa akan menerimaku atau tidak. Aku merasa tidak pantas untuk bersanding dengan Haejun oppa, dan juga kantor sebenarnya melarang kami untuk saling memiliki hubungan satu sama lain. Eomma.... apa yang harus kulakukan?”


Ting tong


Yuka terkesiap ketika di bel pintu di rumahnya berbunyi. Dengan panik Yuka segera berlari ke depan untuk membukakan pintu, karena menurutnya tamu mereka adalah orang sudah mereka tunggu sejak tadi.


            “Selamat malam, apakah ini benar kediaman tuan Im Minkyu?”


            “Ya, Im Minkyu adalah ayah saya, apakah anda adalah ayah dan ibu Haejun oppa?” tanya Yuka kikuk dan terkesan tidak yakin. Pasangan suami isteri itu langsung tersenyum ramah pada Yuka, dan tanpa diduga nyonya Lee langsung memeluk Yuka erat.


            “Kau pasti Im Yuka, selamat malam sayang, maaf mengganggu waktumu malam-malam dan terkesan mendadak seperti ini.” ucap nyonya Lee ramah. Yuka tersenyum malu-malu dan mempersilahkan kedua orangtua Haejun untuk masuk. Di dalam nyonya Im sudah menyiapkan tiga gelas teh hangat dan juga makanan kecil khas rumahan yang baru saja dibuat olehnya pagi tadi.


            “Selamat datang, silahkan masuk tuan dan nyonya Lee. Perkenalkan, saya adalah ibunya Yuka, Im Nana.”


            Nyonya Lee dan nyonya Im saling berpelukan satu sama lain seperti sepasang kawan lama yang sudah lama tidak berjumpa, padahal kenyataanya mereka baru saja bertemu malam ini.


            “Selamat malam, maaf karena kami datang malam-malam seperti ini dan mungkin terkesan mendadak. Putra kami, Lee Haejun, sejak tiga hari yang lalu terus merengek-rengek dan meminta kami untuk datang ke rumah kekasihnya, anak itu jika memiliki keinginan memang susah sekali untuk dibantah.” cerita nyonya Lee dengan santai. Wajah Yuka tampak bersemu merah karena ia membayangkan bagaimana rupa sang kekasih ketika membujuk eomma dan appanya untuk datang ke rumah kekasihnya, ia merasa seperti sedang dilamar, meskipun pada kenyataanya Haejun hanya mengatakan jika ini hanya makan malam biasa.


            “Anak muda memang memiliki jiwa yang menggebu-gebu, Yuka pun juga begitu, sejak tadi ia tak berhenti berhias di kamarnya untuk menyambut kedatangan anda. Kurasa mereka berdua memang harus segera dinikahkan.”


            “Eomma..”


            Yuka merengek pelan pada ibunya dengan wajah salah tingkah yang lucu. Sedangkan kedua orangtua yang melihatnya langsung tertawa keras karena tingkah menggemaskan Yuka.


            “Tenanglah nak, kau terlihat sangat gugup.” goda tuan Lee jahil. Yuka tampak tersenyum malu dengan tingkahnya yang malam ini memang sedikit aneh menurutnya. Padahal biasanya ia selalu memiliki kepercayaan diri yang tinggi, tapi entah mengapa kepercayaan dirinya hari ini sedang menghilang entah kemana.


            “Jadi sudah berapa lama kalian saling menjalin hubungan?”


            Yuka tampak malu-malu saat mendengar pertanyaan dari nyonya Lee, namun akhirnya ia memberanikan diri untuk menjawabnya.


            “Sekitar satu tahun, dan sebenarnya hubungan kami tidak diperkenankan di markas.” ucap Yuka takut-takut sambil melirik tuan Lee. Pria paruh baya itu langsung tertawa keras saat mendengar jawaban Yuka yang terdengar tidak yakin dan juga takut-takut, padahal ia tidak akan memarahi gadis itu


            “Apa kau takut padaku? Tenanglah nak, aku tidak akan memarahimu, cinta adalah sesuatu yang wajar dan tidak bisa dilarang, meskipun kalian dibatasi oleh sebuah peraturan, tapi bagaimanapun juga cinta tetaplah cinta, kalian tidak bisa memaksakannya dan juga tidak bisa menahannya. Cinta adalah sesuatu yang alami.” ucap tuan Lee bijak. Yuka menganggukan kepalanya mengerti dengan wajah yang terlihat sedikit lebih lega. Ia pikir tuan Lee akan menentang hubungannya dengan Haejun dan akan memisahkan mereka. Ternyata tuan Lee sama sekali tidak marah dan justru memaklumi hubungan yang terjalin dintara dirinya dan Haejun.


            “Sepertinya Haejun juga sangat mencintaimu. Selama ini ia tidak pernah bersikap menggebu-gebu saat sedang membicarakan seorang gadis, dan kau adalah gadis pertama yang diajukan Haejun pada kami.”


            “Oh, benarkah? Kukira Haejun oppa selama ini memiliki banyak kekasih karena ia adalah pria yang tampan dan juga memiliki pesona yang tidak bisa ditolak oleh gadis manapun. Bahkan terkadang aku merasa kesal dengan gadis-gadis di markas yang dengan terang-terangan menggoda Haejun oppa.”


            “Tapi kau sudah melihat sendiri bagaimana sifat Haejun yang dingin dan cuek, dia bukan tipe pria yang bisa dengan mudah mencintai seorang gadis. Jadi eommonim yakin jika Lee Haejun sangat mencintaimu.”


            “Maaf aku terlambat.”


            Tiba-tiba pria yang sejak tadi mereka tunggu-tunggu datang juga. Yuka terlihat lebih antusias saat Haejun datang dan ia langsung melambaikan tangannya pelan agar Haejun segera masuk ke dalam dan bergabung bersama keluarganya yang sedang bercengkerama satu sama lain.


            “Karena sudah lengkap, lebih baik kita langsung saja pada acara inti. Mari kita makan malam bersama.”


            Nyonya


Im langsung mempersilahkan tamu-tamunya untuk masuk ke ruang makan karena ia telah memasak berbagai macam hidangan lezat untuk tamu istimewa.


            Sementara para orangtua sedang berjalan menuju ruang makan, Yuka dan Haejun masih berada di ruang tamu sambil berbisik-bisik pelan satu sama lain.


            “Apa saja yang sudah mereka katakan sebelum aku datang?”


            “Mereka bercerita tentang banyak hal. Oppa, bagaimana dengan misimu kemarin, apa kau sudah menyelesaikannya?”


            “Entahlah, tapi sepertinya aku akan pergi ke Amerika untuk tiga hari ke depan karena aku mendapatkan tugas untuk mengawal presiden, jadi... kita akan berpisah lagi.” ucap Haejun lesu. Yuka mengelus punggung tangan Haejun lembut dan berusaha untuk menguatkan Haejun agar ia tidak terlalu sedih dengan pekerjaannya yang memang sangat padat itu. Bahkan meskipun mereka berada dalam satu kantor, intensitas bertemu mereka sangat jarang karena Haejun memang selalu sibuk untuk mengerjakan misi di luar kota dan luar negeri, sedangkan ia lebih sering menangani kasus ringan yang berada di sekitar Seoul. Tapi meskipun begitu mereka selalu menyempatkan diri untuk berkomunikasi satu sama lain agar hubungan mereka tidak renggang.


            “Oppa tenanglah, kita akan membicarakan masalah ini lebih lanjut bersama eomma, eommonim, dan abeoji.”


            “Tapi... ah lupakan saja. Ayo kita ke dalam.”

__ADS_1


-00-


            Setelah acara makan malam usai, kedua orangtua Haejun dan juga orangtua Yuka saling bercengkerama satu sama lain sambil menceritakan cerita-cerita lucu terkait masa kecil anaknya yang menggemaskan. Dalam sekejap saja ruang tamu itu sudah menjadi ruang penuh aib yang sangat memalukan bagi Yuka maupun Haejun. Bahkan Yuka sendiri merasa tidak sanggup untuk mendengarkan cerita eommanya tentang dirinya di masa lalu yang sangat menggelikan. Rasanya ia ingin berlari menjauh keluar dari ruangan itu dan menyembunyikan diri di dalam kamarnya yang nyaman.


            “Ehem, bisakah aku meminta perhatian kalian sebentar.”


            Tiba-tiba Haejun berdeham nyaring dan membuat seluruh mata tertuju padanya. Yuka yang melihat Haejun sedang memasang wajah serius langsung berubah was-was seketika, karena eksperesi wajah Haejun yang terkesan sedang bersungguh-sungguh ingin menyampaikan sesuatu.


            “Ada apa nak, kau terlihat serius sekali.” Tanya ibunya penasaran.


            “Jadi begini, eomma, appa, eommonim, hari ini aku ingin melamar Yuka. Dan sebelumnya aku ingin meminta maaf karena terlalu mendadak dan terburu-buru, tapi menurutku ini adalah satu-satunya jalan terbaik bagi kami karena aku ingin segera mengikat Yuka.”


            Nyonya Im tampak terkejut dengan lamaran mendadak Haejun yang tidak pernah ia sangka akan secepat ini. Meskipun sudah sejak lama Haejun mengatakan pada nyonya Im tentang kesungguhan niatnya untuk mempersunting Yuka, tapi ia tidak menyangka jika hal itu akan terjadi secepat ini. Bahkan bisa dibilang sangat mendadak. Ia sendiri tidak yakin jika Yuka pun akan siap dengan lamaran Haejun yang tak terduga itu.


            “Nak, apa kau yakin dengan keputusanmu, pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan tidak bisa dipermainkan. Jika kau sudah mengikat satu gadis untuk menjadi pendampingmu, maka kau harus setia dengannya dan tidak bisa melirik wanita lain lagi. Apa kau sudah benar-benar siap untuk terikat komitmen dengan Yuka.”


            “Aku yakin eomma, appa, eommonim, aku sangat mencintai Yuka. Aku berjanji akan selalu melindungi Yuka dan tidak akan membiarkan ia tersakiti karena aku akan melakukannya dengan seluruh nyawa yang kupunya. Apakah eommonim akan mengijinkanku untuk menikahi Yuka?” tanya Haejun bersungguh-sungguh. Yuka


terlihat begitu syok dengan tindakan Haejun hari ini yang tak pernah disangka-sangkanya itu. Ia pikir Haejun tidak akan pernah serius dengannya dan hanya sekedar menyukainya karena ia adalah satu-satunya wanita di devisi lima. Apalagi selama ini hubungannya dan Haejun tidak pernah dipublikasikan pada siapapun, membuatnya merasa menjadi kekasih simpanan dari seorang kapten Lee yang disegani. Namun siapa sangka jika Haejun selama ini benar-benar mencintainya dan tidak pernah menganggap hubungan mereka hanya sebatas hubungan main-main. Justru Haejun sekarang ingin membawa hubungan itu ke arah yang lebih serius dari sebelumnya agar Yuka yakin dengan kesungguhannya untuk menjadikan Yuka satu-satunya wanita yang akan mengisi hari-harinya.


            “Kalau eommonim terserah pada Yuka, jika Yuka setuju maka eommonim juga akan setuju karena pada akhirnya kalian sendiri yang akan menjalani kehidupan rumah tangga kalian. Jadi bagaimana Yuka, apa kau menerima lamaran dari Haejun?”


            Haejun terlihat begitu was-was ketika menunggu jawaban dari Yuka. Padahal beberapa saat yang lalu ia sangat yakin jika Yuka pasti akan menerimanya, tapi entahlah... sepertinya keyakinan itu telah menguap di udara.


            “Yya, aku bersedia.” jawab Yuka gugup bercampur malu. Kedua orangtua Haejun langsung memeluk anaknya dengan bahagia karena akhirnya sang putra mendapatkan calon wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya hingga tua nanti.


            “Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan kalian? Appa rasa semakin cepat semakin baik.”


            “Bagaimana jika dua minggu lagi, eomma rasanya sudah tidak sabar untuk melihat putra eomma


berdiri di altar dengan stelan jas yang gagah.”


            “Tapi apakah itu tidak terkesan terlalu cepat dan terburu-buru, bagaimana jika bulan depan?”


            Nyonya Lee langsung menggeleng cepat dan jelas tidak setuju dengan usulan nyonya Im. Menurutnya pernikahan Yuka dan putranya harus segera dilangsungkan karena ia takut jika pernikahan itu akan tertunda semakin lama dengan kesibukan pekerjaan Haejun yang tidak ada habisnya itu.


            “Lebih baik minggu depan daripada harus menuggu bulan depan.” ucap nyonya Lee tidak mau dibantah. Nyonya Im terlihat sedikit kesal dengan sikap nyonya Lee yang terkesan terburu-buru dan juga memaksa. Lagipula pelaku utama dalam pernikahan itu sejak tadi hanya bungkam dan tampak tidak berminat untuk mengeluarkan pendapat.


            “Bagaimana jika kita tanyakan saja pada mereka, bukankah pada akhirnya mereka sendiri yang akan menjalani pernikahan itu? Kita sebagai orangtua hanya bisa mendukung pilihan mereka dan menghormati keputusan mereka.” ucap tuan Lee menengahi. Kedua wanita paruh baya itu mengangguk setuju sambil menatap Yuka dan Haejun bergantian untuk menunggu jawaban dari mereka.


            “Jadi sebenarnya aku sudah memiliki rencana sendiri untuk pernikahanku. Aku ingin melangsungkan pernikahan esok pagi sebelum pukul sembilan karena pesawatku akan take off pukul sepuluh.”


            “Apa!! Kau gila oppa. Kau pikir pernikahan ini hanya sandiwara panggung yang bisa dimainkan sesuka hati, ini pernikahan oppa, sesuatu yang sakral dan harus dipersiapkan dengan sepenuh hati.” ucap Yuka sengit dan penuh peringatan. Haejun melipat kedua tangannya di depan dada dan mulai memunculkan sikap arogannya yang tak ingin dibantah. Jelas sekali jika ia tidak akan mengubah keputusannya untuk menikah dengan Yuka. Apapun yang terjadi ia harus segera menikah dengan Yuka esok pagi.


            “Aku tidak sedang bercanda ataupun main-main Yuka, aku benar-benar ingin menikahimu esok pagi di gereja kathedral tempat dimana kau berdoa setiap hari pada Tuhan. Aku ingin segera mengikatmu agar kau tidak bisa dimiliki oleh pria lain selain diriku.”


            “Tapi oppa...”


            “Tidak ada tapi-tapian, kau dan aku akan menikah besok pagi pukul delapan.”


            Ketiga orangtua itu hanya mampu memandang Haejun dan Yuka dengan bibir terkatup rapat. Mereka sepertinya masih terkejut dengan keputusan Haejun yang justru terdengar lebih gila dari permintaan yang diajukan oleh nyonya Lee. Tapi di satu sisi mereka memaklumi keinginan Haejun karena selama ini hubungan mereka lebih


seperti hubungan gelap yang rapuh. Dan keputusan Haejun kali ini semata-mata karena ia ingin memperjelas hubungannya dengan Yuka meskipun hubungan tersebut akan tetap tak kasat mata di hadapan publik. Namun setidaknya mereka memiliki hubungan dengan Tuhan yang akan mereka perjuangkan bersama-sama.


Flashback end


            Yuka masih tertawa-tawa geli ketika ia mengingat hari pernikahannya yang aneh, namun lucu. Saat itu bahkan ia terpaksa diseret oleh Haejun untuk datang ke gereja karena ia terlalu lama berdandan hingga waktu hampir menunjukan pukul sembilan. Ahh.. ia benar-benar merindukan masa-masa itu.


            “Sayang, apa yang sedang kau tertawakan? Apa aku terlihat aneh?”


            “Bukan oppa, aku hanya sedang mengingat masa lalu kita. Dulu kenapa kau begitu tidak sabar, bahkan kita tidak sempat berfoto saat itu karena kau langsung pergi menuju bandara. Masa lalu kita memang menggelikan.”


            “Tapi kurasa sebuah foto tidaklah penting, asalkan kita bersama dan hidup bahagia,


maka semuanya akan berjalan lebih indah daripada foto. Yah... walaupun bagi seorang wanita hal-hal romantis seperti itu memang perlu, tapi menurutku kau harus lebih realistis, sebuah mobil jauh lebih berharga daripada selembar foto yang tidak memiliki nilai materi.” jawab Haejun ringan.


            “Aku tidak setuju! Oppa pikir aku wanita yang gila harta seperti itu? Ternyata oppa cukup picik karena menilaiku sebagai wanitap penggila harta, padahal aku sangat tulus mencintai oppa. Tidak selamanya harta dapat memiliki segalanya.”


            Tiba-tiba saja Yuka merasa marah dan sangat kesal dengan jawaban Haejun. Padahal niat awal pria itu hanya ingin menggoda Yuka, tapi tak disangka jika niatnya itu justru memancing kemarahan Yuka dan membuat mood wanita itu kembali buruk.


            “Sayang, aku tidak sungguhuh-sungguh, aku hanya bercanda. Menurutku harta yang paling berharga dalah cinta yang tulus darimu, jadi tolong maafkan aku.”


            “Ck. Oppa berisik, aku lelah. Selamat malam.”


Klik


“Yuka, Yuka.... Im Yuka! Aishh, menyebalkan. Pasti ia sedang PMS. Besok aku harus membujuknya dengan sebuah cincin berlian yang mahal agar ia tidak terus menerus merajuk dan mengabaikanku. Pada akhirnya pria itu memilih untuk memejamkan mata sambil memikirkan seribu satu cara untuk meluluhkan hati Yuka saat ia pulang


nanti ke Korea. Namun tiba-tiba pikirannya kembali teringat akan kata-kata presiden Park yang memperingatkannya agar ia lebih berhati-hati. Dan salah satu pesannya yang sedikit mencurigakan adalah.. mengenai keluarganya.

__ADS_1


            Lindungilah keluargamu, banyak orang-orang jahat di luar sana yang ingin mencari titik kelemahanmu. Enzo membutuhkanmu.


__ADS_2