Ignite

Ignite
The Whistle (Fifteen)


__ADS_3

Byurr!!


            Yuka membuka matanya panik ketika seseorang mengguyurnya dengan seember air dari atas kepalanya. Yuka kemudian mencoba menggerakan tubuhnya yang kaku, namun seluruh tubuhnya saat ini sedang diikat pada sebuah kursi dan mulutnya juga sedang disumpal dengan bergulung-gulung kain.


            “Dia sudah sadar.”


            Apa yang terjadi padaku....


            Yuka menatap nyalang pada pemandangan disekitarnya yang dipenuhi kardus-kardus cargo berukuran raksasa. Lalu disamping kanan dan kirinya ia dapat melihat pria-pria dengan tubuh kekar serta tato-tato yang mengerikan tengah menjaganya dengan sangat ketat.


            “Huuppffftt.”


            Yuka mencoba berteriak pada para pria itu agar membuka sumpalan di mulutnya, tapi mereka hanya tertawa sambil menampar keras pipi Yuka hingga Yuka merasakan rasa panas yang menjalar disekitar pipi kanannya.


Plakk!!


            “Diamlah! Dasar intel sialan!”


            “Huupppfftt...”


Dugg dugg dugg


            Yuka berteriak-teriak sambil bergerak dengan brutal di atas kursi agar para pria itu tidak macam-macam dengannya dan segera melepaskannya, tapi gerakannya itu justru membuatnya tak stabil dan terjerembam di atas lantai dengan posisi menelungkup.


            “Hahaha.. rasakan! Dasar intel keras kepala. Bos, apa bos ingin mengintrogasinya sebelum bos besar datang?”


            Tiba-tiba Yuka mendengar suara siulan dan juga suara ketukan sepatu yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya. Langkah kaki pria itu begitu pelan, namun sarat akan ketegasan dan ancaman, membuat Yuka sedikit was-was. Sembari berjalan pria itu terus bersiul dengan santai dan pada akhirnya pria itu berhenti tepat di depannya dengan posisi sepatu yang berada tepat di depan wajahnya. Perlahan-lahan pria itu menunduk dan berjongkok di depan Yuka sambil terus bersiul dengan irama yang sama seperti yang pernah Yuka dengar sebelum ia tertangkap oleh gerombolan mafia itu.


            Siulan ini....


            Jadi mereka telah mengincarku dan Haejun oppa..


Srakk


            Pria itu menjambak rambut Yuka dan menatap iris coklat itu tajam hingga tanpa sadar Yuka telah melebarkan pupil matanya terkejut.


            “Apa kau masih mengingatku, manis?”


15 Jam Sebelumnya~


            Yuka turun dari kamarnya sambil mengendap-endap di belakang suaminya yang sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon. Dari raut wajahnya Yuka menyimpulkan jika Haejun sepertinya sedang berbicara serius dengan seseorang. Apalagi Haejun berbicara dengan dahi berkerut dan mata tajam seperti elang yang siap memangsa buruannya, sudah pasti saat ini Haejun sedang memiliki masalah serius dengan seseorang atau sebuah kasus yang menantinya untuk dipecahkan.


            “Apa kau yakin?”


            “............”


            “Jadi gudang kosong itu sebenarnya selalu digunakan selama ini?”


            “............”


            “Untuk menyembunyikan barang-barang ilegal yang akan dikirim ke luar negeri? Tapi apa kau sudah memastikannya sendiri di dalam?”


            “............”


            “Kalau begitu aku akan ke sana, dan aku juga akan menyelidiki yang lain. Kerja bagus, kau bisa pulang sekarang.”


            Haejun mematikan ponselnya, dan Yuka cepat-cepat bersembunyi di balik pilar. Namun sialnya ternyata sejak tadi Haejun telah menyadari kedatangannya, hingga sebelum Yuka sempat bersembunyi, Haejun sudah lebih dulu menarik tangannya dan mencengkeramnya dengan kuat.


            “Siapa yang mengajarimu untuk berlaku tidak sopan seperti itu sayang? Apa eommonim tidak pernah mengajarimu cara bersopan santun yang benar, hmm?”


            Yuka meringis kecil sambil menahan sakit pada pergelangan tangannya yang dicengkeram Haejun.

__ADS_1


            “Oppa... sakit.” rengek Yuka manja pada suaminya. Haejun tetap mencengkeram tangan Yuka lembut dan menarik isterinya agar duduk di atas sofa bersamanya.


            “Sakit? Kalau kau tahu itu sakit, lain kali jangan pernah menguping pembicaraan orang lain.” ucap Haejun sinis. Yuka mendengus kesal sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada ketika Haejun telah melepaskan cekalan tangannya.


            “Lagipula jika oppa jujur padaku, aku tidak akan menguping seperti seorang maniak. Aku tahu jika oppa sebenarnya belum berkata jujur padaku, oppa masih menyembunyikan sesuatu dariku.”


            Haejun menghela nafas jengah sambil menatap manik isterinya intens. Bagaimana mungkin ia akan berkata jujur pada isterinya jika isterinya masih memiliki tingkat keingintahuan tinggi yang sewaktu-waktu dapat membahayakan keselamatanya. Masih teringat jelas di kepalanya bagaimana sikap isterinya tiga tahun yang lalu saat ia berkata jujur jika ia sedang menangani masalah korupsi yang terjadi pada pemerintahan president Jang Hyujung. Saat itu Yuka juga merengek-rengek ingin tahu, dan setelah ia memberitahunya, Yuka nekat ikut menyelidiki kasus itu hingga ia hampir saja terbunuh oleh sniper yang disewa Jang Hyunjung. Dan sekarang ia tidak mau kejadian itu terulang kembali. Ia hanya ingin melindungi isterinya, dan ia hanya ingin melihat keluarganya hidup damai, tidak lebih!


            “Tidak ada apapun yang kusembunyikan darimu Yuka, jadi berhentilah untuk mencurigaiku. Ayo kita ke rumah eommonim, sudah lama kita tidak mengunjungi Enzo, ia pasti sangat merindukan orangtuanya.”


            Yuka terdiam di tempat dan tidak berjalan mengikuti Haejun. Ia tahu jika sebenarnya Haejun sedang menyembunyikan sesuatu darinya, tapi pria itu dengan sengaja mengalihkan perhatiannya pada Enzo. Ia harus melakukan sesuatu.


            “Oppa... Bagaimana jika sebelum ke rumah eomma kita bersenang-senang terlebihdahulu, hmm?” tanya Yuka manja sambil bergelayut di leher Haejun. Haejun menggeram kesal melihat tingkah isterinya yang kekanakan, sedangkan ia harus segera bergegas untuk mengecek gudang logistik yang berada di pelabuhan Jungpyo untuk


membuktikan ucapan anak buahnya. Ia sedikit mencurigai anak buahnya yang terlihat mencurigakan pagi ini.


            “Sayang, ada apa denganmu hari ini? Aku sedang tidak ingin bermain-main, masih ada banyak hal yang harus kukerjakan. Presiden menungguku.”


            “Presiden, presiden, dan presiden! Apakah tidak ada orang lain yang ingin kau temui selain presiden. Semakin lama aku semakin jengah dengan rutinitasmu itu oppa. Bahkan kau jarang memimpin penyelidikan tim kita lagi setelah kau mendapatkan mandat dari presiden. Sebenarnya apa yang kau lakukan selama ini bersama presiden? Apa kalian pergi berkencan?” teriak Yuka kesal sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Haejun menggelengkan kepalanya pelan ketika melihat tingkah kekanakan isterinya yang sangat menyebalkan pagi ini. Padahal beberapa hari yang lalu isterinya masih baik-baik saja, tapi entah kenapa hari ini isterinya


terlihat begitu menyebalkan dan mengganggu. Kelakuan isterinya pagi ini tiba-tiba mengingatkannya pada sikap Yuka empat tahun yang lalu saat ia sedang mengandung Enzo.


            “Kau tidak sedang mengandung bukan? Sikapmu hari ini mengingatkanku pada kehamilanmu empat tahun yang lalu.” ucap Haejun penuh selidik. Yuka memukul kepala Haejun dengan bantal dan kembali bersikap cemberut di depan Haejun.


            “Tentu saja tidak, hari ini bahkan aku sedang datang bulan. Oppa, aku hanya mengkhawatirkanmu. Aku takut oppa celaka ketika sedang menjalankan tugas, karena aku tahu jika oppa sedang menjalankan misi khusus dari presiden Park Boyoung. Ayolah oppa, mengakulah padaku. Kau tidak ingin isterimu yang cantik ini terus menerus dilanda kecemasan bukan?”


            Haejun tiba-tiba berbalik dan menatap Yuka intens. Dengan wajah penuh kesungguhan ia menggenggam tangan Yuka dan mengecup kening isterinya lembut.


            “Sayang, apa kau percaya padaku? Aku tidak akan melakukan hal-hal bodoh dengan mencelakakan diriku sendiri, jadi aku akan baik-baik saja. Justru aku mengkhawatirkan keselamatan kalian, kau, eommonim, dan Enzo. Kalian adalah harta yang paling berharga untukku. Aku tidak mau orang-orang jahat itu mengendus keberadaan kalian dan mengetahui titik lemahku. Kumohon, percayalah padaku dan berhentilah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang kulakukan, karena itu akan membahayakan nyawamu. Sejak berada di altar aku sudah berjanji


dan bersumpah pada Tuhan untuk melindungimu, jadi aku benar-benar ingin mewujudkan janji itu dengan menghindarkanmu dari segala bahaya yang mengincarmu. Apa kau mempercayaiku dan berjanji akan menurutiku?”


            “Kenapa oppa memiliki janji yang sangat sulit seperti itu? Pekerjaan kita, pekerjaanku adalah pekerjaan yang penuh bahaya dan ancaman. Rasanya akan sangat sulit untuk memenuhi janji seperti itu.”


Cup


            Haejun mengecup bibir isterinya sekilas dan kembali menatap Yuka intens untuk meyakinkan wanita itu jika janjinya tidak akan pernah sulit untuk dilakukan, asalkan Yuka benar-benar akan mematuhi perintahnya.


            “Tidak ada janji yang sulit untuk ditepati jika kau menurut padaku, jadi maukah kau menuruti perintahku, hmm?”


            Yuka mengangguk pelan sambil menghembuskan nafasnya pasrah. Lagipula apapun yang terjadi ia tetap tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk mencegah suaminya melakukan misi sendiri. Pada akhrinya hal yang bisa ia lakukan adalah menurut dan mengangguk, suatu hal yang sebenarnya sangat dibenci oleh Yuka.


            “Good girl.”


            “Baiklah, aku akan menurut. Tapi oppa harus berhati-hati dan jangan membuatku khawatir di luar sana.”


            “Pasti, aku pasti akan baik-baik saja.”


            Haejun kemudian menutup tatapan intens mereka dengan sebuah ciuman lembut yang tidak terlalu menggebu-gebu, namun mampu menyalurkan rasa cinta mereka satu sama lain.


-00-


            “Daah daddy.”


            Yuka dan Enzo saling melambaikan tangan satu sama lain ketika mobil Haejun pelahan-lahan pergi meninggalkan halaman rumah nyonya Im yang luas. Ibu dan anak itu kemudian saling berpandangan satu sama lain untuk merencanakan kegiatan apa yang akan mereka lakukan hari ini selama pria yang paling mereka sayangi sedang pergi bertugas bersama dengan misi-misi rahasianya yang membosankan.


            “Jadi, apa yang ingin Enzo lakukan hari ini bersama mommy?”


            “Bermain lego, memasak kue, tidur siang bersama, dan...”


            Anak kecil itu tampak berpikir sejenak sambil membayangkan berbagai macam kegiatan yang ingin ia lakukan bersama sang ibu yang biasanya selalu sibuk itu.

__ADS_1


            “Bagaimana jika kita bermain lego terlebihdahulu sambil merencanakan kegiatan yang akan kita lakukan hari ini. Apa Enzo ingin membuat bangunan kantor bersama mommy?”


           Sang anak berseru girang dan langsung menggandeng ibunya ke dalam rumah dan tampak tak ingin melepaskan tangannya yang saling tertaut dengan ibunya. Melihat hal itu Yuka merasa cukup iba dan juga miris terhadap nasib anaknya yang menjadi kekurangan kasih sayangnya karena ia memutuskan untuk berkarir. Tapi ia sudah bertekad jika ini akan berakhir, segera setelah ia menuntaskan ambisinya, ia akan mengundurkan diri dari markas dan memilih menjadi ibu rumah tangga untuk membesarkan Enzo dan mungkin anak-anaknya yang lain.


            “Mommy, tolong ambilkan kotak lego milik Enzo yang disimpan di dalam lemari mainan di dalam kamar Enzo.” ucap Enzo sambil menarik-narik ujung kemeja Yuka karena sejak tadi wanita itu terus melamun dan tidak menghiraukan rengekannya yang cukup berisik.


            “Baiklah baiklah, mommy akan mengambilkannya. Tapi ngomong-ngomong, apa Enzo sering bermain lego bersama halmeoni?”


            Anak itu menggelengkan kepalanya acuh sambil membongkar kotak permainannya yang lain. Yuka sendiri melihat itu langsung mengerutkan dahinya was-was karena sepertinya hari ini ia akan dibuat repot dengan puluhan mainan milik Enzo yang berserakan di dalam kamarnya.


            “Halmeoni tidak bisa bermain lego, halmeoni payah.”


            Yuka terkikik geli dengan jawaban Enzo yang terdengar apa adanya itu.


            “Jika halmeoni tidak bisa memainkannya, kenapa Enzo tidak mengajarinya? Bukankah jika Enzo mengajarinya, Enzo bisa bermain lego bersama halmeoni sepanjang waktu?” tanya Yuka lembut sambil mengelus puncak kepala anaknya pelan


            “Sebenarnya Enzo ingin bermain lego bersama mommy dan daddy, tapi halmeoni selalu mengatakan pada Enzo jika mommy dan daddy sedang sibuk menangkap penjahat, apa halmeoni benar?”


            Lagi-lagi Yuka merasa terenyuh dengan penuturan putranya. Ia tidak menyangka jika hari ini akan menjadi hari penuh emosi sepanjang masa karena Enzo terus membuatnya seperti seorang ibu yang paling tidak bertanggungjawab di dunia. Padahal sepertinya ia baru empat hari tidak bertemu dengan Enzo. Tapi untuk anak


sekecil Enzo, empat hari pastilah terasa lama, mengingat semua anak-anak seusianya selalu menghabiskan waktu mereka selama dua puluh empat jam bersama orangtua mereka masing-masing.


            “Mommy dan daddy memang sedang menangkap penjahat yang berkeliaran di luar sana agar mereka tidak berbuat macam-macam pada Enzo.”


            “Jadi mommy dan daddy adalah superhero?”


            “Emm... bisa dibilang seperti itu. Apa Enzo suka jika mommy dan daddy menjadi superhero?”


            Enzo mengangguk bersemangat sambil menunjukan robot superhero kesukaannya, iron man, pada Yuka.


            “Enzo senang jika mommy dan daddy seperti iron man yang selalu melawan kejahatan di luar sana. Tapi Enzo juga ingin bermain bersama mommy dan daddy, Enzo juga ingin pergi ke sekolah bersama mommy dan menghabiskan waktu di rumah bersama daddy. Apa Enzo bisa melakukannya?”


            “Tentu saja bisa. Hari ini daddymu akan segera pulang, dan selagi menunggu daddy pulang bagaimana jika kita memasak makanan kesukaan daddy dan juga kue brownies untuk daddy. Kita buat kejutan yang meriah sebelum daddy pulang, apa Enzo mau?”


            Enzo mengangguk antusias dan segera menarik tangan Yuka menuju dapur, meninggalkan seluruh mainannya yang berserakan di dalam kamarnya. Untung saja sang halmeoni belum kembali, jika sang halmeoni kembali dan menemukan kamar cucunya sudah dalam keadaan berantakan, mungkin Yuka dan Enzo harus bersiap-siap dengan penutup telinga mereka masing-masing.


-00-


            Haejun memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari gudang penyimpanan yang berada di pelabuhan Jungpyo. Menurut anak buahnya mafia-mafia yang diselidikinya, selama ini mereka telah menyimpan barang-barang yang akan mereka selundupkan di salah satu gudang di pelabuhan Jungpyo. Tapi ketika Haejun datang, gudang itu


terlihat kosong dan nyaris rubuh karena dimakan usia. Tidak ada tanda-tanda apapun disekitar gudang, dan Haejun merasa jika gudang itu benar-benar kosong karena tidak ada satu penjagapun yang berada di sekitar gudang.


            Dengan langkah pasti, Haejun segera berjalan mendekati area gudang sambil mengintai suasana disekitar gudang yang kosong. Meskipun hatinya sangat yakin jika gudang itu kosong, tapi tetap saja ia harus mengetatkan penjagaan untuk dirinya sendiri karena ia masih belum mau mati sia-sia ditengah menjalankan tugas. Apalagi ia masih memiliki seorang isteri cantik dan seorang putra tampan yang menggemaskan. Ia belum siap posisinya digantikan dengan pria lain di luar sana!


Krieett


            Haejun mendorong pintu besi yang menjulang di depannya pelan ketika ia tidak menemukan adanya gembok yang mengunci pintu itu. Aura mencekam tiba-tiba langsung melingkupinya ketika ia masuk ke dalam gudang itu, tapi ia dengan berani tetap memantapkan langkahnya untuk masuk semakin dalam ke gudang itu karena ia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri jika gudang itu benar-benar kosong atau memang ada sesuatu di dalam sana yang tidak ia ketahui selama ini.


            Semakin dalam Haejun masuk ke dalam gudang itu, Haejun semakin merasakan udara disekitarnya kian menipis. Bagian dalam gudang itu begitu pengap dan panas karena tidak ada satupun fentilasi yang dibiarkan terbuka untuk menyalurkan udara segar agar gudang itu terasa lebih sejuk. Namun sejauh Haejun melangkah, Haejun belum menemukan sesuatu yang mencurigakan selain tumpukan kardus dan juga tumpukan sampah tidak penting yang benar-benar membuatnya gusar karena penyelidikannya kali ini benar-benar sia-sia. Ia kemudian memutuskan untuk menghubungi anak buahnya yang bertugas untuk menyelidiki lokasi gudang tersebut karena ternyata anak buahnya itu telah salah memberikan informasi. Alih-alih ia dapat menemukan titik terang dari rencana busuk yang dijalankan oleh para mafia, tapi ia justru dibuat berputar putar di dalam gudang kosong yang pengap.


            “Halo, apa kau sedang bermain-main denganku Han Jaeshin ssi?” desis Haejun marah ketika akhirnya pria yang menyesatkannya menjawab panggilan teleponnya. Pria di seberang sana terdengar begitu gugup ketika akan menjawab pertanyaan Haejun yang sarat akan kemarahan itu,


            “Mm maafkan saya kapten, saya tidak bermaksud menyesatkan anda, tapi saya merasa melihat beberapa orang asing masuk ke dalam gudang itu kemarin malam. Lalu satu jam kemudian mereka keluar dengan dua buah mobil kontainer berlogo Han company.”


            Haejun mengerutkan dahinya curiga. Jelas-jelas selama ini Han company tidak pernah melakukan kecurangan apapun karena Han company merupakan perusahaan milik pamannya, adik dari ibunya, sehingga ia sangat tahu bagaimana sistem kerja perusahaan itu. Apalagi ia turut memiliki saham di perusahaan itu sebesar tiga


puluh persen, membuatnya sangat tahu bagaimana seluk beluk Han company. Namun selama ini tak banyak orang yang tahu jika Han company merupakan perusahaan milik keluarga ibunya karena ia dan ayahnya memang merahasiakan hal itu. Mereka hanya tidak ingin mencampuradukan pekerjaan mereka dengan urusan kantor yang


jelas-jelas sudah ditangani oleh pamannya.


            “Begitukah? Untuk apa mobil kontainer milik Han company berada di pelabuhan Jungpyo, bukankah Han company selama ini bergerak dibidang arsitektur? Apa kau pikir mereka sedang menyelundupkan bahan baku pembangunan gedung-gedung bertingkat di pinggir pelabuhan?” tanya Haejun penuh selidik. Sang anak buah langsung berseru cepat mengiyakan pertanyaan Haejun dengan berbagai alasan yang terdengar meyakinkan, namun jelas terdengar berbohong di telinga Haejun karena Haejun sudah mengetahuinya. Setelah sang anak buah selesai mengutarakan semua kebohongannya, Haejun segera menutup panggilan telepon itu dan bergegas untuk keluar dari gudang itu karena sekarang ia memiliki tugas yang lebih penting dari sekedar mencari sang sindikat mafia, yaitu mencari sang pengkhianat yang selama ini bersembunyi di dalam markasnya.

__ADS_1


__ADS_2