
Inggrid Ragaskara atau biasa di sapa Iin baru saja pulang ke rumahnya tetap pukul 10 malam. Profesinya yang sebagai seorang sekertaris Direktur kadang kala membuat jam pulang Iin tak menentu.
Iin bisa saja pulang tepat waktu seperti rekan-rekan atau karyawan-karyawati di perusahaan tempatnya bekerja. Namun Iin bukanlah seorang gadis yang akan meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja. Ia adalah gadis yang selalu memegang amanah dan tanggung jawabnya, ia benci menunda-nunda pekerjaan selama masih mampu ia kerjakan. Terlebih lagi ia dituntut untuk selalu siap sedia mendampingi Bosnya yang merupakan sepupunya sendiri.
Arzanu Adinata adalah Direktur muda yang merupakan sepupu sekaligus bos dari Iin. Arza tidak pernah meminta Iin menemaninya lembur, ia selalu meminta adik sepupunya pulang apabila pekerjaannya telah selesai. Sayang Iin merupakan tipe gadis yang akan tetap berpegang teguh pada prinsip profesionalnya, ia akan selalu menemani dan membantunya apabila ia harus lembur hingga larut malam.
"Bang Arza nggak pengen mampir dulu?" Tanya Iin saat baru saja turun dari mobil sepupunnya yang saat ini mengantarnya pulang di karnakan malam sangat larut dan sangat berbahaya bagi Iin pulang sendiri menaiki taksi online ataupun ojol.
"Nggak usah dedek, abang langsung pulang aja. Kasihan mbakmu nunggu dirumah" jawab Arza menolak secara halus tawaran adik sepupunya.
Iin mengangguk dan berkata "Yaudah kalau gitu. Iin masuk yah bang, titip salam sama mbak Faya" kata Iin
"Siap bu komandan!" Balas Arza yang langsung membuat Iin memutar bola matanya malas.
" Dadah bang, Assalamualaikum" pamit Iin melambaikan tangan sebelum berbalik dan melangkah membuka gerbang rumahnya.
"Waalaikum salam" jawab Arza yang perlahan melajukan mobilnya setelah Iin masuk ke dalam rumahnya.
Sepeninggalan Arza, Iin bergegas mengunci gerbang rumahnya. Setelah memastikan gerbang terkunci dengan benar, Iin pun melangkah menuju pintu dan tak lupa membunyikan bel rumah.
Ting dong..
Ting dong..
Ting dong..
Iin menunggu, hingga pintu di hadapannya perlahan terbuka dan menampakan wajah kusut dari saudara Iin, Keano Bagaskara.
Keano Ragaskara atau biasa di sapa Keano menguap lebar di hadapan Iin, Iin yang melihat betapa masih mengantuk abangnya yang selisih 3 tahun darinya lantas mengambil inisiatif memutar badan tegap abangnya dan mendorongnya masuk kedalam rumah setelah mengunci pintu.
"Ya Allah dek, salam dulu kek baru dorong-dorong abang" gerutu Keano kesal.
"Assalamualaikum abang, makasih yah udah di bukain pintu" balas Iin cepat seraya menghindari omelan Keano yang akan panjang, sepanjang jalan kenangan.
"Waalaikum salam" jawab Keano
"Nah, Iin udah beri salam. Kalau gitu Iin naik dulu yah bang" pamit Iin.
__ADS_1
Sayang Keano tak mengisinkan Iin naik ke kamarnya yang berada di lantai dua, sebab Keano menarik kerah belakang kemejanya.
"Abang!" Teriak Iin kesal karna tercekik.
"Mau kemana dek?" Tanya Keano setelah melepas tarikannya pada kerah belakang kemeja Iin.
"Ya mau naiklah bang, Iin capek dan butuh istirahat" jawab Iin memelas.
"Yee, kalau itu abang tahu" balas Keano yang membuat Iin gemas ingin mencubit abangnya.
"Nah itu tau, ngapain nanya kalau abang udah tahu?" Tanya Iin balik
"Udah nggak usah ngomel, sana keruang kerja ayah. Ayah udah nungguin kamu dari tadi" perintah Keano.
"Ayah? Ayah udah pulang dari seminarnya?" Tanya Iin dengan mata yang seketika berbinar cerah.
"Iya, Ayah pulang siang tadi. Udah deh dek nggak usah banyak tanya, sana keruang kerja ayah. Abang pengen lanjutin tidur, besok abang kebagian kena sift --" belum selesai kalimat Keano, Iin lebih dulu meninggalkan Keano yang masih berada di tengah ruang keluarga.
Keano yang menyadari adiknya pergi begitu saja tanpa mendengar perkataannya hingga selesai hanya bisa mengeram gemas "Wah, Dedek kamu keterlaluan yah. Nggak sopan dedek, ninggalin orang yang belum selesai ngomong, apalagi orang yang lebih tua dari kamu dek!" Teriak Keano gemas
"Wah Iin baru tahu abang udah tua" balas Iin menyindir Keano yang sangat benci di ejek 'Tua'
Iin hanya terkekeh sebelum bergegas mempercepat langkahnya menuju ruangan kerja ayahnya sebelum abangnya mengamuk dan memberinya hukuman.
.
.
.
Saat Ini Iin merasa perasaannya tidak enak hanya karna menatap pintu kayu bercat coklat di hadapannya. Iin sangat tahu ayahnya, ia tidak akan menunggu anak-anaknya selarut ini jika tidak ada hal penting yang akan ia sampaikan atau bicarakan.
Iin menghela nafas berat, ia berusaha mengusir perasaan buruk yang tiba-tiba melandanya. Iin mengetuk pintu di hadapannya dan tak lupa mengucap salam, setelah mendapat jawaban dari ayahnya di balik pintu, Iin pun membuka pintu ruangan kerja ayahnya dan masuk kedalam ruangan kerja ayahnya yang bernuansa abu-abu dan putih.
"Ayah panggil Dedek?" Tanya Iin setelah memasuki ruangan ayahnya.
Jangan heran, semua keluarga Ragaskara ataupun keluarga Adinata memang memanggil Iin dengan panggilan Dedek dikarnakan Iin merupakan yang paling bungsu di banding saudara sepupu lainnya.
__ADS_1
"Iya, ayah manggil dedek" jawab Rega Ragaskara atau biasa di sapa Rega
"Duduk dulu dedek, ayah ingin bicara hal yang sirus dengan dedek" kata Rega menuntun putrinya duduk di sofa yang ada diruangan kerjanya.
"Ayah mau bicara apa?" Tanya Iin to the poin setelah keduanya duduk di sofa.
"Dedek jangan marah yah sama Ayah, Ayah lakukan semua ini demi kebaikan Dedek. Tolong terima dan penuhi permintaan Ayah. Selama ini Ayah nggak pernah nuntut yang aneh - aneh pada Dedek, maka dari itu untuk kali ini saja Dedek nurut yah dengan keinginan Ayah" kata Rega memulai obrolan serius keduanya.
"Memangnya Ayah pengen minta apa sama Iin?" Tanya Iin tidak mengerti dengan arah perbincangan Ayahnya.
"Begini, Ayah sudah menjodohkan Dedek dengan anak teman seperjuangan Ayah" jawab Rega langsung pada inti dari pembahasan mereka.
Seketika raut wajah Iin berubah menjadi terkejut, tubuhnya membatu dan tak mampu berkutik. Bagai disambar petir di tengah malam, Iin tak mampu merespon dengan cepat perkataan ayahnya. Butuh waktu beberapa saat sebelum Iin berkata "Di-dijodohkan?" Tanya Iin memastikan. Mungkin karna terlalu lelah, pendengarannya menjadi bermasalah.
"Iya, Dedek akan Ayah jodohkan dengan anak teman seperjuangan ayah" jawab Fahri dengan sabar karna ia paham putrinya pasti sangat terkejut dengan permintaannya yang begitu mendadak.
"Dedek maukan memenuhi permintaan ayah?" Tanya Rega
Iin menunduk dalam, apa yang harus ia jawab? Saat ini ia begitu terkejut hingga tidak pernah menyangka jika kisah hidupnya nyaris sama dengan novel-novel romansa yang sering ia baca.
Akhir-akhir ini Iin sadar bahwa perasaannya kepada Agus Dirgantara yang merupakan sahabatnya telah menjerumus kepada perasaan lebih dari seorang sahabat. Iin sadar ia telah jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri, disaat ayahnya ingin menjodohkannya dengan anak dari teman seperjuangannya.
Sungguh semua hal yang ia rasakan kini tidak pernah ia bayangkan akan terjadi pada dirinya, lantas apa yang Iin lakukan?
Hatinya memaksa untuk bertahan dan berjuang dengan perasaannya, namun pikirannya memaksanya untuk melepaskan dan mengikhlaskan perasaannya demi memenuhi permintaan dan demi membahagiakan Ayahnya. Lantas pilihan apa yang Iin ambil? Bertahan atau melepaskan?
.
.
.
.
.
TBC
__ADS_1
15 Agustus 2019