Inggrid

Inggrid
Bab 10 - Pantas Bahagia


__ADS_3

Iin telah selesai membuat sarapan untuk dirinyanya dan juga untuk Dafa, ia lalu menata omelet nasi goreng yang ia buat di atas meja. Setelah itu ia kembali kedapur untuk mengambil potongan buah, air dan susu hangat. Setelah semuanya siap Iin berbalik dan ingin membangunkan Dafa, namun saat ia berbalik ia terkejut saat menyadari keberadaan Dafa sudah berada di ruang keluarga rumahnya.


"Astaga, kamu mengejutkanku" kata Iin mengelus dadanya


"Sejak kapan kamu disitu?" Tanyanya


"Aku disini sejak subuh tadi" jawab Dafa jujur


Kedua bola mata Iin membulat sempurna, mulutnya mengganga saat mendengar jawaban Dafa yang begitu mengejutkan. Jika Dafa sudah berada disana subuh tadi, bukankah itu berarti Dafa sudah melihat dan mengamatinya sejak tadi. Menyadari hal itu Iin pun lantas sadar dari keterkejutannya dan mulai menunduk dalam.


"Maaf"


Dafa yang mendapat permintaan maaf dari Iin merasa amat bingung, ia tak tahu mengapa Iin meminta maaf padanya padahal Dafa sangat yakin Iin tidak berbuat kesalahan atau melukainya. Lantas kata maaf yang Iin katakan barusan untuk apa?


"Mengapa meminta maaf, apakah kamu melakukan kesalahan?" Tanya Dafa bingung


Iin menggeleng.


"Lalu?"


"Saya minta maaf karna lancang mengunakan dapurmu sampai memakai beberapa bahan makanan yang ada di kulkas untuk membuat sarapan"

__ADS_1


Mendengar jawaban Iin, kali ini ia yang dibuat terkejut dengan kepolosan gadis di depannya.


.


.


.


Masakan Iin patut Dafa ancungi jempol, omelet nasi goreng yang saat ini ia santap lumayan enak. Walaupun masakan Iin belum mampu menyayingi masakan Mamanya, Dafa rasa jika Iin ingin lebih banyak belajar, mungkin masakannya akan menyayingi masakan Kinanti.


"Kamu belajar masak dari mana?" Tanya Dafa di sela-sela sarapan mereka.


Walaupun Dafa sudah tahu bahwa istri Om Rega sudah meninggal, rasanya Dafa mengangkat pertanyaan yang salah pada Iin karna menyinggung almarhumah bundaya. Dengan cepat Dafa menyambar air saat dirasa tengorokannya terasa kering, setelah berhasil meneguk air dan menyisahkan air berisi setengah digelasnya, Dafa segera meminta maaf.


"Maaf"


"Untuk apa?" Tanya Iin mendongak menatap Dafa yang menampilkan raut wajah menyesal.


"Karena pertanyaan saya mengungkit almarhumah bunda kamu" cicit Dafa


Bukannya merasa marah atau tersinggung, Iin malah memberi Dafa sebuah senyuman. Dafa yang melihat itu sempat tertengun beberapa saat sebelum perkataan yang Iin lontarkan membuat kesadarannya pulih sepenuhnya.

__ADS_1


"Tidak perlu meminta maaf" kata Iin menenangkan "Saya malah senang dengan pertanyaan kamu. Dengan kamu bertanya seperti itu, saya akan selalu mengingat bunda dan mengingat apa yang selama beberapa tahun Ayah dan bang Keano ajarkan" tambah Iin tulus.


Untuk kedua kalinya Dafa di buat terkejut dengan apa yang Iin katakan, melihat Iin yang begitu baik, penurut, berbakti dan penuh kasih sayang seperti ini, Dafa kembali memikirkan apakah ia akan menyia-nyiakan perjodohan mereka padahal orang yang akan di jodohkan dengannya seperti ini? Jika memang iya, Dafa sungguh akan menjadi pria yang bodoh menyianyiakan wanita seperti Iin.


Dafa rasa tidak ada salahnya jika mulai mencoba membuka hatinya, membuka dirinya dan mulai berusaha berdamai dengan masa lalu kelamnya. Dengan adanya Iin bersamanya saat ini, Dafa sadar mulai keluar dari zona kesendiriannya. Hari ini Dafa sadar, berduaan atau berbaur dengan banyak orang mungkin tidak terlalu buruk.


Hari ini Dafa akan mencoba keluar dari zona nyamannya, dan berusaha berdamai dengan masalalunya karena ia sadar, ia juga pantas bahagia.


.


.


.


.


.


TBC


28 Agustus 2019

__ADS_1


__ADS_2