Inggrid

Inggrid
Bab 18 - Mantan


__ADS_3

Setelah menegaskan hubungan Iin yang hanya sebatas sahabat dan sudah seperti saudari kandung Agus sendiri, akhirnya Eka percaya dengan hubungan persahabatan kami. Dulu, semenjak ia resmi menyandang status pacar sahabatnya, Eka selalu saja menaruh curiga dan selalu menunjukan sikap tidak suka dan cemburu pada Iin. Ia selalu beralasan bahwa tidak ada namanya persahabatan antara pria dan wanita jika salah satunya tidak memiliki perasaan suka.


Apa yang Eka katakan tidak sepenuhnya salah, Iin menyukai sahabatnya sendiri dalam diam selama ini. Hanya saja Agus tidak pernah memandangnya lebih dari seorang sahabat dan kini akhirnya Iin tersadar, sudah waktunya ia untuk belajar melepaskan perasaannya.


Seharusnya, sejak dulu ia mulai menerapkan kutipan bijak salah satu penulis favoritnya 'Jangan menghukum kesempatan dengan penantian. Karena terkadang melepaskan sesuatu justru memperoleh yang terbaik - Tere Liye'


Iin tak ingin membuang waktunya dengan sia-sia untuk mempertahankan perasaannya, mungkin kutipan kata bijak Tere Liye benar. Tak seharusnya ia menghukum kesempatan dengan sebuah penantian yang berakhir sia-sia. Karena mungkin saja dengan melepaskan perasaannya, akan datang yang terbaik. Dan bisa jadi yang terbaik yang Tuhan kirimkan untuknya adalah Radafian Jasaka Aditama. Lamunan Iin buyar ketika Agus menanyai sikapnya akhir-akhir ini yang ia rasa aneh.


"Lo kenapa nggak balas pesan gue, In?" Tanya Agus


"Eh- pesan yang mana?" Tanya Iin balik dengan suara sedikit terbata


"Balasan gue untuk ucapan dan doa lo pas gue ultah" jawab Agus yang kembali membuat hati Iin terluka ketika mengingat Agus terlambat membalas pesannya dikarenakan menghabiskan waktunya bersama Eka.


Semenjak Agus resmi berpacara dengan wanita yang selama ini ia incar, selama itu pula Agus tidak menyadari bahwa perlahan dengan kehadiran Eka dalam hidupnya, ia mulai menjaga jarak dan perlahan mulai menjauh dengan para sahabat dan teman-teman dekatnya. Hal itu dikarenakan waktunya akan selalu ia habiskan dengan bekerja juga dengan menghabiskan kebersamaan dengan Eka dan Eka, sehingga ia tak memiliki waktu berkumpul dengan sahabat dan teman-teman dekatnya yang lainnya.


"Gue ketiduran sampe lupa balas pesan lo" jawab Iin berbohong


"Makanya nggak usah gila kerja lo, udah tau mudah capek dan sakit tetap aja keras kepala dan maksain diri. Lo pasti ketiduran dan lupa balas pesan gue karena kecapean banget kan?" Todong Agus yang langsung di angguki Iin.


"Ohiya, gue baru ingat. Gosip yang Nadi sebar di grup angkatan itu benar kalau lo udah punya calon suami In?" Tanya Agus yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas dan langsung menanyai Iin untuk mengklarifikasi kebenaran dari gosip yang Nadi sebar.


"Mm.. iya" jawab Iin sedikit ragu.

__ADS_1


"Lo kok nggak bilang sama gue dan Satria sih?" Tanya Agus terselip nada kesal di dalam kalimat tanyanya


"Lo kan sahabat kita dari kecil lo In, kok kita malah taunya dari gosip yang Nadi sebar?" Tambahnya.


"Lo kan sibuk tuh ngabisin waktu dengan pekerjaan dan juga sama Eka" sindir Iin telak yang langsung membuat Eka yang sedari tadi sibuk membuat live di Instagramnya menatap Iin dengan mata melotot tajam dan tidak suka, sedangkan Agus yang mendapat sindiran telak dari Iin merasa tidak enak hati.


"Dan Satria udah lebih dulu tahu. Karena ia bahkan merelakan waktu istirahatnya mendengarkan curhatan dan penjelasanku" tambah Iin yang semakin membuat Agus kesulitan bernafas karena kalimat tajam yang keluar dari bibir mungil nan tipis milik Iin.


Iin sama sekali tidak mempedulikan raut wajah Agus yang kini mulai tak enak di pandang, ia juga sama sekali tidak ingin melirik Eka yang masih sibuk dengan dunianya. Iin lebih memilih melirik jam yang ada di ponselnya, disana tertampil dengan jelas pukul 20.35. Iin harus pulang, ia sudah bosan berlama-lama dihadapan pasangan kekasih di depannya yang sejak tadi telah berhasil membuat dada Iin sesak dan tidak nyaman.


"Btw, gue pamit pulang duluan ya. Tenang aja, makanan kalian biar gue aja yang bayar" kata Iin pamit dan lantas berdiri dari duduknya.


Saat Iin hendak pergi membayar di kasir, tak sengaja ia menabrak seseorang karena begitu terburu-buru ingin meninggalkan Agus dan Eka yang telah memberinya luka sejauh-jauhnya.


"Inggrid?"


Mendengar namanya disebut, Iin yang meminta maaf sambil menunduk lantas mendongak menatap pria bertubuh kekar yang baru saja di tabraknya.


"Loh.. Dafa"


"Kebetulan kamu disini, tolong bantu saya" katanya lalu menarik pergelangan tangan Iin erat dan melangkah menuju meja kasir caferesto milik bang Farhan.


Iin jelas begitu terkejut dengan tindakan dan prilaku Dafa yang dengan lancangnya menariknya paksa dengan raut wajah yang nampak panik. Bahkan sampai saat ini Iin belum mampu mencerna kalimat Dafa dengan baik.

__ADS_1


"Dafa, pelan - pelan" tegur Iin yang mulai ngos-ngosan menyamai langkah Dafa yang cukup lebar.


"Saya nggak bisa pelan-pelan" jawab Dafa


"Saya sangat butuh kamu untuk bantu saya keluar dari Caferesto ini" tambah Dafa yang membuat Iin semakin bingung.


"Mengapa butuh bantuanku?" Tanya Iin akhirnya menyuarakan kebingungannya.


"Karena di depan sana ada mantan calon istri dan mantan sahabatku"


Iin mencerna jawaban Dafa dengan cepat, saking cepatnya ia terkejut tidak percaya. What the f*ck.. mantan calon istri dan mantan sahabat? Untuk pertama kalinya Iin mengumpat berkat para mantan yang Dafa sebutkan malam ini.


.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


3 September 2019


__ADS_2