
Iin baru saja keluar dari rumah sakit, Mamanya bersikeras menyuruh anak dan menantunya untuk sementara tinggal di kediaman Aditama. Tentu saja awalnya Dafa menolak dengan alasan jarak antara rumah kedua orang tuanya sangat jauh dari tempatnya bekerja. Namun keputusan Mamanya adalah hal yang mutlak, ia bahkan tak menerima ataupun mendengarkan bantahan Dafa. Alasan yang Mamanya berikan cukup kuat untuk membuat Dafa tak mampu berkutit ataupun berkelit, saat ini istrinya memang butuh istirahat yang cukup dirumah dan dengan mereka tinggal di rumah kedua orang tuanya, tentu saja Iin akan dirawat Mamanya disaat ia harus bekerja. Alasan yang Mamanya berikan jelas membuat Dafa mau tak mau menerima saran Mamanya, semua itu ia lakukan demi istrinya.
Terhitung, sudah dua hari mereka tinggal di kediaman orang tua Dafa. Hari ini adalah hari sabtu, hari sabtu merupakan hari libur untuk seorang Dafa. Karena hari ini Dafa libur, ia berniat akan menghabiskan waktunya berdua dengan istirnya. Namun niat dan keinginan Dafa harus pupus saat siang ini istrinya kedatangan tamu yang merupakan para sahabatnya.
Agus, Nadi dan Ayana beserta suaminya Irfan datang ke kediaman orang tua Dafa untuk menjenguk Iin karena tak sempat datang saat Iin dirawat dirumah sakit. Mereka saling mengobrol dan bercengkrama membicarakan banyak hal, sesekali Dafa ikut nimbrung dalam obrolan mereka.
Siang ini suasana hati Dafa buruk. Sejak kedatangan para sahabat istrinya, pandangannya tidak pernah lepas dari intraksi Iin dan Agus. Sebelum mereka menikah, Iin pernah meminta mereka untuk saling terbuka. Dafa tentu saja menyetujui hal itu, ia pun menceritakan masalalunya begitupun dengan Iin yang menceritakan tentang masalalunya dimana ia pernah memiliki perasaan lebih kepada sahabatnya Agus.
Dafa terus menatap Iin dan Agus bergantian, tanpa Dafa sadari pancaran matanya sangat jelas menunjukan ketidak sukaannya saat melihat intraksi Iin dan juga Agus yang nampak sangat akrab. Melihat betapa akrab dan nyamannya mereka, hati Dafa entah mengapa terasa begitu sakit. Dafa menunduk, ia mulai membandingkan intraksinya bersama dengan Iin dan juga intraksi Agus dan istrinya saat ini.
Disaat Dafa sibuk dengan pemikirannya, ada sepasang mata yang sedari tadi mengamatinya. Sosok itu adalah Irfan, ia sedari tadi mengamati Dafa yang menatap Agus dengan tatapan tidak suka, mungkin tanpa Dafa sadari ia mengeluarkan aura permusuhan pada sosok Agus saat melakukan intraksi dengan Iin.
Irfan tahu. Ia sangat tau apa yang dirasakan Dafa. Irfan juga pernah mengalami hal tersebut itu dulu, bahkan sekarang pun ia masih merasakan hal tersebut jika istrinya Anaya berintraksi dengan pria lain. Namun Irfan tak menyangka, suami sahabat istrinya yang selalu menampilkan raut wajah datar dan dingin juga mampu merasakan perasaan cemburu. 'Mungkinkah Dafa sudah memiliki perasaan dengan Iin? Karena seingat Irfan pernikahan mereka terjadi karena perjodohan orang tua mereka. Jika praduga Irfan benar, maka wajar saja Dafa merasa cemburu dengan Agus yang pernah mengisi hati Iin walaupun saat itu hanya Iin yang memiliki perasaan lebih pada Agus'.
.
.
.
Sang mentari baru saja terbenam, ia meninggalkan jejak goresan merah dan jingga di langit senja. Tugasnya telah usai, sekarang sang mentari akan kembali keperaduannya, karena sebentar lagi malam akan menyapa dan sang rembulan berpagar bintang akan mengambil alih tugasnya.
__ADS_1
Saat ini di kediaman Aditama, hanya ada Dafa dan Iin. Sahabat - sahabat Iin telah pulang beberapa jam yang lalu. Mereka kini hanya berdua, sebab orang tua Dafa tengah menghadiri undangan salah satu koleganya, sedangkan Dipta saat ini keluar bermalam minggu bersama teman - temannya.
Sejak tadi baik Dafa maupun Iin hanya saling diam diruang keluarga kediaman orang tua mereka. Dafa sibuk dengan pemikirannya masalah perbandingan sikap Iin terhadapnya dan sikap Iin terhadap sahabatnya Agus, sedangkan Iin saat ini sibuk menonton On the spot di Trans7.
Saat Tv menayangkan iklan, Iin menoleh menatap suaminya yang sedari tadi diam. Iin sadar ada yang berubah dari sikap Dafa saat sahabat - sahabatnya datang menjenguknya. Setelah mereka semua pulang, Dafa lebih banyak diam dan termenung. Hal itu jelas membuat Iin khawatir. Karena merasa cemas dan Khawatir, Iin memberanikan diri untuk bertanya.
"Mas?"
Dafa tersentak dari lamunannya, ia lantas menoleh menatap istrinya yang baru saja memanggilnya.
"Mas kenapa? Mas ada masalah atau ada sesuatu yang mengganggu pikiran mas?" Tanya Iin
Awalnya Dafa ragu bertanya, namun jika ia terus membenarkan segala praduga dan pikiran buruknya tanpa mendengar jawaban sebenarnya dari Iin, Dafa tidak yakin jika kedepannya semuanya akan berjalan dengan baik. Ia begitu terganggu dengan kehadirana Agus hari ini. Karena kedatangannya ia mulai membanding - bandingkan diri mereka berdua, Dafa bahkan mulai mempertanyakan perasaan Iin saat ini. Apakah mungkin Iin masih memiliki perasaan dengan sahabatnya itu? Mungkinkah karena Iin masih memiliki perasaan dengan sahabatnya, ia belum siap menyempurnakan pernikahan mereka?
"Apakah Dedek masih punya perasaan dengan Agus?" Tanya Dafa menyuarakan satu dari banyaknya pertanyaan yang ada dalam pikirannya.
"Mengapa mas bertanya seperti itu?" Tanya Iin balik
"Entahlah, mungkin mas hanya penasaran!" Jawab Dafa berbohong
"Yakin cuma sekedar penasaran?" Tanya Iin memastikan
__ADS_1
"Apa yang Dedek harapkan dari Mas?" Tanya Dafa menatap Iin dengan tatapan dalam
"Iin ingin setidaknya Mas merasa cemburu" jawab Iin jujur
Mendengar hal itu Dafa tertengun, 'apakah benar saat ini ia cemburu?' Batin Dafa bertanya - tanya.
Dafa tak tahu, perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Namun jujur saja saat melihat intraksi Iin dan Agus siang tadi, Dafa merasa marah, dan juga merasa terluka saat melihat betapa akrabnya mereka berdua saat bercengkrama. Jika dibanding dengan dirinya, jelas Dafa kalah dengan Agus yang sudah mengenal istrinya sejak lama.
Saat Dafa termenung dan berpikir mengenai perkataan istrinya, Iin terus mengamati raut wajah suaminya. Seketika Iin tersenyum lebar, kedua matanya bahkan melengkung seperti bulan sabit. Tak perlu mendengar jawaban dari Dafa bahwa ia memang cemburu dengan Agus, hanya dengan melihat perubahan raut wajah Dafa, Iin tahu jika suaminya memang sedang cemburu.
Mengetahui suaminya cemburu, entah mengapa Iin merasa lega. Ternyata selama ini bukan hanya dirinya yang telah jatuh cinta pada suaminya, tapi suaminya pun ternyata juga mulai mencintai dirinya. Iin berpikir demikian bukan tanpa alasan. Bukankah cemburu tandanya cinta? Jika pikirannya benar adanya, itu berarti perasaan dan cinta Iin saat ini tidak lagi bertepuk sebelah tangan seperti perasaan dan cintanya pada Agus dulu. Sebab saat ini perasaannya jelas dibalas oleh suaminya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC
31 Oktober 2019