Inggrid

Inggrid
Bab 31 - Harapan


__ADS_3

Siang harinya, Dafa dan Iin memilih langsung menuju rumah milik Dafa yang berada di kompleks perumahan Indah yang kini juga akan menjadi rumah Iin. Setelah melakukan perdebatan yang lumayan panjang dan memakan waktu yang lama atas keputusan keduanya yang langsung memilih mandiri setelah menikah, akhirnya perdebatan antara Ayah, Papa dan Mama yang tidak setuju dengan keputusan mereka di menangkan oleh Dafa dengan bantuan beberapa kalimat dari Iin yang mampu meyakinkan orang tua mereka.


Kini Iin kembali menginjakan kakinya di rumah minimalis berlantai dua yang tak pernah ada dalam bayanganya akan menjadi rumahnya juga. Awalnya Iin hanya berpikir ia hanya akan menginjak dan berteduh di rumah tersebut sekali, siapa yang menyangka takdir membawanya untuk tetap berteduh selamanya dirumah tersebut dengan seorang pria tampan yang kini sibuk menurunkan koper-koper mereka dari bagasi mobil.


"Mau adek bantu nggak mas?" Tanya Iin yang merasa tidak enak hati melihat suaminya kelelahan mengangkat koper - koper mereka sendirian.


"Nggak usah dek, pekerjaan berat seperti ini itu tugas laki - laki" jawab Dafa tak lupa memberi seulas senyum menenangkan untuk Iin yang terus memperhatikannya dengan raut wajah khawatir.


"Kalau mas nggak kuat nggak usah di paksakan, kasihan masnya" kata Iin lagi dengan nada yang sama.


"Nggak papa dek, sekarang adek masuk aja. Biar mas yang angkat semua" usir Dafa halus tak lupa mendorong tubuh mungil istrinya pelan memasuki rumah agar tidak mengganggu pekerjaannya.

__ADS_1


Jujur saja keberadaan Iin di dekatnya kadang membuat konsentrasi Dafa pecah ketika diperhatikan begitu lamat oleh wanita yang kini telah menyandang status sebagai istrinya. Entah mengapa Dafa merasa malu di perhatikan oleh istrinya sendiri.


Karena kelelahan, Dafa tertidur disofa ruang keluarga yang berhubungan dengan ruang makan dan dapur. Iin yang baru saja selesai membereskan dan menyusun pakaian mereka di lemari pakaian terkejut dengan keberadaan Dafa yang nampak begitu lelap dalam tidurnya.


Iin melangkah mendekat menghampiri Dafa yang posisi tidurnya nampak tidak nyaman, Iin mengangkat dan menaruh kaki suaminya yang menjuntai di atas sofa. Setelah itu Iin kembali kekamar mereka mengambil sebuah selimut untuk menyelimuti Dafa sebelum Ia membuat makan malam untuk mereka berdua.


Iin turun dengan membawa selimut, ia lalu menyelimuti Dafa tak lupa mengusap kepala suaminya dengan lembut. Untuk beberapa saat Iin bertahan mengusap kepala Dafa penuh sayang, ia mengamati raut wajah lelah Dafa lamat - lamat.


Iin akui, bahkan disaat tidur pun seorang Radafian Jasaka Aditama masih saja nampak tampan. Pantas saja banyak perawat, bidan maupun rekan - rekan kerja sesama dokternya yang masih berstatus lajang yang mengidolakannya patah hati saat mengetahui idola mereka menikah secara tiba - tiba. Padahal tidak ada angin ataupun hujan, Dafa tiba - tiba saja menyebar undangan begitu saja dan membuat seluruh rekan yang bekerja dirumah sakit bersamanya sontak terkejut.


Iin membuyarkan lamunannya, ia lantas segera berdiri setelah puas mengamati dan merekam wajah tampan suaminya. Iin harus segera menyiapkan makan malam, jika ia terus mengamati wajah Dafa yang sama sekali tidak membosankan untuk Iin tatap dalam jangka waktu lama, lantas bagaimana mereka makan nantinya?

__ADS_1


Aroma masakan Iin mulai menguar diudara, Dafa yang masih terpejam lantas terbangun oleh aroma lezat yang seketika mengusir kantuknya. Dafa terbangun dari tidurnya, ia lalu mendudukan dirinya di atas sofa tak lupa menoleh kearah dapur dimana wanita cantik dengan rambut yang di ikat asal sedang berkutat dengan masakan yang dimasaknya.


Untuk sesaat Dafa tertengun dengan pemandangan baru dihadapannya. Ini memang pemandangan baru dalam kehidupan Dafa, namun entah mengapa Dafa menyukai hal baru di hadapannya kini. Mungkin dulu Dafa tidak begitu menyukai suara bising dan keributan, ia juga lebih memilih menyendiri dan menutup diri dari keramaian. Namun kini nampaknya semuanya mulai berubah semenjak Iin masuk dalam kehidupannya.


Dafa mulai menyukai suara berisik dan bising yang di hasilkan Iin dari balik dapur, Dafa juga mulai menyukai waktu - waktu kebersamaan mereka dan mulai membuka diri dengan banyak orang. Dafa sadar dirinya perlahan berubah menjadi lebih baik, dan semua itu berkat bidadari tak bersayap yang kini memberinya seulas senyum hangat ketika menyadarinya telah terbangun.


Dafa tidak menyesal dengan perjodohan mereka, ia tidak menyesal akan pernikahan mereka yang didasarkan oleh perjodohan kedua orang tua mereka. Dafa malah merasa sebaliknya, ia merasa senang menjalani kehidupan baru bersama wanita pilihan kedua orang tuanya.


Dafa hanya berharap cinta segera datang menghampiri mereka, karena jujur, Dafa tak ingin kehilangan wanita yang membuatnya berdamai dengan masa lalu, juga wanita yang merubah hidupnya perlahan. Mungkin terlalu singkat dan cepat Dafa mengatakan hal ini. Tapi Dafa tak ingin membohongi dirinya sendiri jika ia berharap bisa bersama Iin selamanya dalam hidupnya. Apakah Dafa egois?


TBC

__ADS_1


11 Oktober 2019


__ADS_2