Inggrid

Inggrid
Bab 20 - Kabar Baik


__ADS_3

Iin melangkah memasuki rumahnya dengan perasaan yakin, mungkin nasehat dan cercaan Nadi beberapa waktu yang lalu benar. Mungkin Dafa adalah orang yang terbaik di kirim Tuhan untuknya melalui rencana perjodohan Ayah dan kedua orang tua Dafa.


Maka malam ini sudah Iin putuskan untuk memberi jawaban kepada Ayahnya atas permintaannya beberapa waktu yang lalu. Walaupun masih sangat sulit Iin percaya jika hidupnya nyaris seperti novel-novel romansa yang biasa ia baca, atau seperti film FTV yang biasa mbok Jum nonton di waktu luangnya.


"Assalamualaikum"


Iin mengucapkan salam saat membuka pintu rumahnya, tak berselang berapa lama ia mendengar balasan dari dalam rumah. Iin tahu yang menjawab salamnya pastilah Ayahnya yang saat ini tengah menonton bioskop indonesia di salah satu siaran favoritnya Trans tv, mengetahui Ayahnya berada dirumah lekas saja Iin menutup pintu dan melangkah dengan riang menuju ruang keluarga.


Saat Iin sampai di ruang keluarga, seperti dugaannya, Ayahnya tengah menonton salah satu film bollywod yang tengah di tayangkan di Trans tv sambil di temani dengan secangkir kopi panas dan beberapa gorengan.


Iin mencium punggung tangan Ayahnya sebelum berkata "Iin pulang" dan setelah itu ia mulai mendudukan dirinya di samping Ayahnya dan menyandarkan kepalanya di pundak Ayahnya yang kini mengelus kepalanya sayang.


"Tumben pulangnya cepat, tadi izinnya pulang jam 10?" Tanya Rega


"Bosan diluar Yah, makanya Iin cepat-cepat pengen pulang dirumah biar ada yang nemanin Ayah nonton" jawab Iin.


"Ohiya bang Keano dimana Yah?" Tanya Iin mencari keberadaan abangnya.


"Tadi Abangmu izin keluar bentar" jawab Rega yang membuat Iin ber - oh ria.


"Yah?" Panggil Iin


Rega menoleh menatap Iin yang kini sudah menegakan kepalanya kembali dan mengubah posisi duduknya sedikit menyerong menghadap dirinya.


"Iin menerima permintaan Ayah. Iin menerima perjodohan kalian"


.


.


.


Tentu saja malam itu Rega langsung menelpon sahabatnya Raidan, mereka menyambut kabar baik tersebut dengan suka cita. Kinanti bahkan meminta mengadakan pertemuan makan malam keluarga malam ini dirumahnya saking antusiasnya. Ia begitu senang sehingga lupa jika hari sudah sangat larut untuk berkumpul.

__ADS_1


"Ya ampun, akhirnya Mama bakal punya anak perempuan dan itu adalah Iin" seru Kinanti senang.


"Papa juga senang bentar lagi bakal punya anak perempuan" sahut Raidan setelah memutuskan sambungan telponnya dengan Rega.


"Pokoknya besok malam kita makan malam dirumah untuk membahas masalah pernikahan mereka secepatnya. Mama bakal masak banyak besok malam saking semangatnya" kata Kinanti girang.


"Tentu, Papa akan temani mama belanja besok" kata Raidan mengajukan diri menemani istrinya belanja untuk keperluan jamuan makan malam mereka besok.


Dipta yang sedari tadi berada di tengah-tengah kedua orang tuanya yang sedang heboh hanya bisa menggeleng, ia lalu melanjutkan bacaannya yang tertunda. Namun, ia harus mengurungkan niatnya ketika Dafa datang dan bertanya mengenai alasan dari kehebohan orang tuanya.


"Ipta, Mama sama Papa kenapa? Suara mereka kedengaran sampai di luar" tanya Dafa yang memang setiap malam minggu akan pulang kerumah orang tuanya.


"Nggak tahu bang, tadi Papa dapat telpon dari om Rega dan setelahnya mereka heboh sendiri" jawab Dipta.


Dafa hanya mengangguk mengerti, ia lalu menaruh kantong keresek yang di bawanya di atas meja.


"Nih, Abang beli cilok pedas sama somaynya saus kacang Kang Ujang yang jualan di perepatan depan" kata Dafa yang langsung membuat Dipta berbinar dan melempar buku bacaannya asal.


"Wah, makasih Abangku sayang. Kebetulan Dipta pengen makan cilok pedas Kang Ujang tapi malas banget keluar" kata Dipta yang mulai melahap cilok pedasnya.


"Iya sama-sama, Abang mau naik dulu ganti baju" balas Dafa


Saat Dafa hendak melangkah menaiki satu persatu anak tangga, tiba-tiba Kinanti yang baru saja sadar anak sulungnya baru saja pulang memanggilnya dengan begitu semangat.


"Dafaaaa... sini, sini" panggil Kinanti semangat 45


Dafa yang sangat lelah malam ini, apalagi ia baru saja bertemu dengan dua orang yang pernah dekat dengannya di masa lalu tapi berakhir renggan di masa sekarang karena penghianatan keduanya, sudah cukup merusak suasana hati Dafa. Sekarang mamanya memanggilnya dengan semangat, entah apa lagi sekarang?


Dafa mengurungkan niatnya melangkah naik kelantai dua rumah kedua orang tuanya, ia lantas menghampiri Kinanti dan Raidan dengan wajah lelah.


"Ada apa sih Ma? Tau nggak kalau Dafa lagi capek banget"


"Hush, capeknya di hilangin dulu. Mama cuma mau kasih tau kamu kabar baik" jawab Kinanti.

__ADS_1


"Kabar baik apa? Kalau kabar baiknya tentang bisnis Papa yang makin meroket, Dafa nggak minat" kata Dafa


"Heh, Daf ingat yah, jika bukan karena bisnis Papa, kamu nggak bakal jadi dokter seperti sekarang" sahut Raidan sewot.


"Ishh, Papa nggak usah marah-marah. Kapan Mama kasih tau Dafa kabar baiknya?" Tanya Kinanti menengahi.


"Dafa tuh ngeselin" rajuk Raidan yang membuat Dafa memutar bola matanya malas dengan tingkah papanya yang begitu kekanakan dan sangat manja ketika di rumah.


Tentu saja sikap dan perilaku Raidan sangat bertolak belakang dengan sikap dan perilaku yang biasa ia tunjukan di hadapan rekan kerja dan para karyawannya. Walaupun demikian, Dafa yang merupakan anaknya menaruh rasa bangga pada Papanya yang bisa menjadi tegas dan berwibawa di hadapan banyak orang, namun penuh kasih sayang dan hangat pada keluarganya. Karena sikap dan perilaku Ayahnya itulah yang membuat Dafa menjadikan Ayahnya panutan.


"Mama mau kasih tahu kabar baik apa sih? Kalau Mama nggak ngasih tahu sekarang, Dafa mau istirahat" tegas Dafa.


"Eits, tunggu. Ini baru mau Mama bilangin" kata Kinanti menahan Dafa lagi.


"Tadi Rega nelpon, ia memberikan kabar baik yang mengembirakan. Nah kabar baiknya itu.. Iin sudah menerima perjodohan yang kami rencanakan, sama seperti kamu yang juga menerima perjodohan ini" kata Kinanti senang.


Tentu saja Dafa sangat terkejut dengan apa yang Mamanya sampaikan, ia tak menyangka jika Iin akan menerima perjodohan ini. Dan tentu saja mendengar kabar tersebut membuat suasana hati Dafa yang sempat buruk menjadi senang dan bersemangat.


Iin menerima perjodohan yang sudah lama orang tua mereka rencanakan memang kabar baik dan mengembirakan untuknya.


.


.


.


.


.


TBC


4 September 2019

__ADS_1


__ADS_2