Inggrid

Inggrid
Bab 14 - Bakso


__ADS_3

Gengaman tangan Iin lepas setelah berhasil menyeret Dafa menjauh dari keramaian. Saat ini keduanya berada di dekat parkiran dimana tempat itu paling aman dan paling sepi untuk berdiskusi berdua secara pribadi.


"Ngapain kamu sampai ke kantor saya segala, emang nggak kerja?" Tanya Iin yang mulai tak mampu mengontol emosinya.


Rasa kesal dan marah yang sempat teralihkan karena pekerjaan kini kembali mencul dan mulai naik hingga keubun-ubun Iin. Jujur Iin sangat kesal dengan Dafa yang seharian ini mengklaim dirinya sebagai calon suami Iin, padahal mereka tahu, bahwa keduanya baru saja berkenalan kemarin malam dan boleh dikata mereka tidak seakrab itu untuk saling melempar candaan berbau serius seperti ini.


"Lagi. Ngapain ngaku-ngaku calon suami saya, situ tahukan kita berdua bahkan belum menerima perjodohan itu. Perkenalan dan pertemuan kita saja baru semalam, situ waras ngaku-ngaku sebagai calon suami saya?" Cerca Iin berang.


Dafa sama sekali tidak berniat memotong atau menyela omelan Iin padanya, karena pada dasarnya ia memang yang bersalah disini. Dafa hanya memilih diam hingga luapan kemarahan Iin mereda, ia juga tak ingin terbawa suasana dan tersulut emosi karena Dafa ingin menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin.


Saat Iin telah selesai mencercanya, Dafa pun mentapa Iin dan berkata "udah semua?" Tanya Dafa


"Belum, saya masih belum selesai mencerca dan memarahi kamu"


"Yaudah kalau gitu pending dulu ya, saya lapar dan dari tadi siang saya belum makan" kata Dafa mulai menarik pergelangan tangan Iin menuju mobilnya.


"Mana ada marah-marah bisa di tunda-tunda. Marah yah marah, nggak usah pakai alasan lapar segala supaya lari dari cercaan saya. Dan lagi, kalau kamu mau makan, sana makan sendiri. Nggak usah nyeret saya ikut serta" gerutu Iin.


"Udah ikut aja, biar nanti kamu puas marah-marahin saya setelah makan. Marah-marah juga kan butuh tenaga"


Skat mad


.

__ADS_1


.


.


Sepanjang perjalanan Iin lebih banyak diam, ia masih marah dan juga kesal dengan Dafa. Alhasil sepanjang perjalanan Iin hanya menatap jendela mobil yang tertutup sambil memandang suasana di jalan raya yang lumayan macet karena saat ini jam pulang kerja.


Suara klakson baik mobil maupun motor sore menjelang malam ini saling bersahut-sahutan mengisi keheningan yang terjadi di dalam mobil Dafa.


Saat ini Dafa juga memilih diam dikarenakan Iin mengacuhkannya sepanjang perjalanan, berulang kali Dafa membuka obrolan dengan Iin namun nampaknya Iin masih marah dengannya karena sampai saat ini ia belum memberi Iin kejelasan atas pengakuannya yang mengklaim dirinya sendiri sebagai calon suami Iin.


Dafa hanya perlu membuat Iin sedikit lebih tenang, sebelum ia menjelaskan masalah pengakuannya yang spontan keluar begitu saja dari mulutnya saat di hadapan sahabat Iin. Pikiran Dafa buyar saat tak berselang berapa lama kumandan adzan magrib menggema. Dafa memutar mobilnya memasuki pekarangan mesjid terdekat.


"Sholat magrib dulu yuk" ajak Dafa yang kini mulai melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil.


.


.


.


Setelah menunaikan ibadah sholat magrib, hati Iin terasa begitu tenang. Amarah yang ia rasakan kini mulai lenyap bagaikan embun di pagi hari. Memang benar adanya, ketika seseorang dalam keadaan marah besar maka obat penawarnya adalah dengan berwuduh. Saat ini Iin melangkah keluar dari mesjid, ia mulai memasang kembali sepatunya dan melangkah menuju mobil Dafa dimana Dafa sudah menunggunya sambil bersandar di mobilnya.


Untuk sesaat Iin tertengun dan terpesona dengan ketampanan Dafa yang bertambah berkali lipat saat wajah pria itu masih basah dengan air wuduh. Iin yang menyadari dirinya terpesona dengan ketampanan seorang Radafian Jasaka Aditama segera menggeleng dan mengenyahkan pikirannya.

__ADS_1


Iin telah berada di depan mobil Dafa, Dafa yang menyadari kehadiran Iin lantas mendongak dan sempat tertengun sesaat saat melihat wajah alami nan cantik milik Iin yang nampak masih ada sisa-sisa air wuduhnya.


Dafa mengeleng lantas berkata "udah?"


Iin mengangguk sebagai tanda bahwa ia telah selesai.


Dafa mengangguk mengerti, ia lantas menarik pergelangan tangan Iin menuju kesebuah penjual bakso gerobak yang tidak jauh dari parkiran yang ada di halaman mesjid.


"Saya sudah sangat lapar, nggak masalahkan kalau kita makan bakso?"


Iin mengerjap beberapa saat sebelum membeo dengan suara sedikit terbata "Ba-bakso?"


.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


30 Agustus 2019


__ADS_2