Inggrid

Inggrid
Bab 8 - Orang pertama


__ADS_3

Iin sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Dafa katakan, ia mendengar Dafa bergumam "Cantik!". Hanya saja Iin tidak mengerti kepada siapa kata pujian itu dilontarkan. Iin menatap sekitarnya, diruangan ini hanya ada mereka berdua. Tidak mungkin bukan Dafa mengatakan cantik kepada dinding, mungkinkah Dafa bergumam cantik pada suster ngesot? Ayolah rumah sakit tidak akan pernah lepas dengan cerita horor dan film horor indonesia yang lumayan terkenal di masanya, suster ngesot. Seketika bulu kuduk Iin meremang, ia lalu memeluk dirinya sendiri dan mengusap lengannya dan tak lupa menatap sekitarnya dengan takut-takut.


"Kamu muji hantu yang ada disini?" Tanya Iin masih melirik takut-takut ruangan Dafa.


"Hantu?" Tanya Dafa tidak mengerti.


"Tadi kamu bilang cantik, kamu muji siapa kalau bukan hantu?" balas Iin


Dafa jelas terkejut dengan pertanyaan Iin, ia tak habis pikir Iin mengira ia tengah memuji mahluk tak kasat mata. Padahal Dafa jelas - jelas memuji dirinya, terlebih lagi hanya ada mereka berdua disini. Dafa tidak sebodoh itu akan memuji dinding, hantu atau hal - hal aneh jika yang ia puji adalah benda hidup dengan kecantikan yang nyata tengah ada di hadapannya.


Apakah Iin sedang mengujinya?


Lagian pujiannya keluar dengan spontan dari mulutnya tanpa ia sadari. Jika Dirga sahabatnya melihat berkata demikian dan mendengar pujiannya, Dafa yakin jika sahabatnya itu akan tertawa dan terus meledeknya. Bagaimana tidak? Ia sudah sangat lama memuji seorang wanita selain mamanya dan istri sahabatnya, Faya.


Dafa menggeleng seraya mengenyahkan pikirannya, ia lalu menatap Iin yang masih nampak ketakutan namun entah mengapa malah terlihat lucu dan menggemaskan dimata Dafa. Sebenarnya Dafa sangat ingin mengatakan bahwa kalimat pujian itu untuk Iin, bukan untuk hantu yang seperti dalam pikiran ataupun halusinasi Iin. Tapi Dafa tak ingin menyuarakannya, ia terlalu malu dan gengsi mengakui hal itu. Maka dari itu ia membiarkan Iin dengan pemikirannya.


Beruntungnya ponsel Dafa berdering, dan dengan cepat Dafa mengambil ponselnya di saku jas dokternya. Nomor baru tak di kenal tertera di sana, awalnya Dafa ragu mengangkat panggilan tersebut. Namun karena ponselnya terus berdering, Dafa berpikir mungkin panggilan telpon itu sangat penting dan akhirnya Dafa pun mengangkat telpon tersebut.


"Ha~lo, Assalamualaikum"


"Waalaikum salam, akhirnya kamu angkat telpon Om juga" balas pria disebrang sana


"Maaf, ini dengan siapa yah?" Tanya Dafa

__ADS_1


"Ini Om Rega, Ayahnya Iin" jawab Rega


"Maaf Om, Dafa nggak tahu. Ada apa yah Om, cari Iin yah?" Tanya Dafa.


"Iya" jawab Rega


"Iin masih sama Dafa Om, Dafa dapat pangilan rapat penting jadi Iin nungguin Dafa hingga selesai rapat. Ini baru mau pulang kok Om" jelas Dafa tidak enak hati


"Maaf ya Om, saya bawa Iin pulang larut malam" kata Dafa menyesal.


"Lah nggak papa Dafa, malah Om bersyukur Iin sama kamu. Kalau Iin udah pulang kasihan dia pasti tidur di luar, soalnya kunci rumah ada sama Om. Dan kayaknya Om bakal pulang dini hari. Om minta tolong nggak apa-apakan kalau Om nitip Iin nginap di rumah kamu, kalau Iin nginap di hotel Om nggak ijinin, bahaya soalnya" kata Rega menjelaskan permasalahannya.


Mendengar penjelasan Rega, akhirnya ia paham dimana sikap ceroboh Iin berasal. Ternyata sikap itu menurun dari Ayahnya.


Mencerna ulang permintaan Rega, seketika kedua bola mata Dafa membulat. Tunggu. Barusan Ayah Iin menitipkan putrinya menginap dirumahnya, kan?


Menginap?


Apakah Rega masih waras? Bagaimana bisa ia menitipkan anak gadisnya pada pria yang baru ia kenal beberapa jam. Walaupun ia adalah putra dari sahabatnya, apakah semudah itu Rega mempercayainya dan menitipkan putrinya padanya. Memikirkan hal itu, Dafa sungguh tidak bisa percaya dan habis pikir, Rega tak mengizinkan Iin tidur di hotel dengan alasan bahaya, lantas dirinya apa?


Dafa jelas lebih berbahaya dari pada bahaya versi Om Rega ketika Iin tidur di hotel, apakah Rega tidak menyadari hal itu. Jika memang ia, Dafa tak mampu untuk tidak berkutip.


.

__ADS_1


.


.


Mobil Dafa membelah dinginnya angin malam. Suasana di jalan raya cukup lenggan sehingga mobil Dafa melaju dengan cepat. Tak butuh waktu 30 menit lamanya hingga akhirnya mobil Dafa memasuki kompleks perumahan mandiri yang sangat asri, tak berselang berapa mobil Dafa pun berhenti dan ia pun mematikan mesin mobilnya saat mobinya berhasil parkir dibagasi mobil rumahnya.


Dafa menoleh kesamping dimana Iin masih tertidur dengan lelap sepanjang perjalanan. Bahkan saat Dafa mengangkat tubuh mungil itu memasuki rumah minimalis berlantai dua miliknya, Iin sama sekali tidak merasa terganggu. Malahan Iin mengalungkan kedua tangannya di leher Dafa, kepalanya ia benamkan pada dada bidang Dafa seraya mencari kehangatan. Tubuh Dafa menegang sesaat karna pergerakan kecil dari Iin, ada sensai seperti tersengat aliran listrik saat Iin tak sengaja menyentuh kulit leher belakangnya yang membuat Dafa harus menahan nafas.


Setelah berhasil mengendalikan diri dan kewarasannya, Dafa melanjutkan langkahnya memasuki rumahnya lebih dalam setelah mengunci pintu rumah.Ia lalu memasuki kamar tamu yang berada di lantai satu yang tak pernah terjamah oleh siapapun.


Dafa membaringkan tubuh mungil Iin di atas ranjang Queen size yang ada dikamar tamu, dan setelah itu ia menyelimuti Iin. Dafa menatap lama wajah damai dalam lelap milik Iin, perlahan ia pun mulai memikirkan bahwa Iin adalah orang pertama yang ia izinkan menginap dirumahnya selain keluarga dan kerabaatnya.


.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


26 Agustus 2019


__ADS_2