Inggrid

Inggrid
Bab 19 - Calon Suami


__ADS_3

Seperti yang Dafa katakan, tidak jauh dari meja kasir ada pasangan yang nampak seperti suami istri saling menggoda dengan begitu mesra. Kemesraan yang mereka umbar di depan umum dan ramai seperti caferesto milik bang Farhan membuat mereka para kaum jomlo yang ada di Caferesto itu merasa iri setengah mati, dan Iin termasuk salah satu dari banyaknya orang iri yang menyaksikan kemesraan mereka.


Sayang rasa iri yang ada dalam hati Iin perlahan menghilang saat mengingat gelar 'mantan' yang diberikan oleh Dafa kepada kedua orang itu. Iin masih di landa kebingungan, namun sedikit demi sedikit paham bahwa hubungan Dafa dan kedua mantannya yang mengantri di depan meja kasir bersamanya sedang tidak baik.


Saat Iin sudah berada di depan meja kasir, Farhan yang berada disana menegur Iin dengan sebuah sapaan yang membuat pasangan didepannya yang mungkin seusia dengan Dafa menoleh kearahnya dan terkejut saat melihat Iin datang ke kasir bersama Dafa.


Raut wajah yang tadi lembut berubah tegang dan kaku, kulit wajah mereka mulai pucat pasi. Gerak gerik yang mereka tunjukan nampak gelisah dan tidak nyaman dengan keberadaan Iin dan Dafa, sudah cukup jelas membuat Iin yakin bahwa praduganya benar jika Dafa dan mantan calon istri dan mantan sahabatnya memiliki masalah di masa lalu mereka.


"Loh, tumben Dedek datang pas malam minggu" tegur sapa Farhan yang mengawasi pegawainya.


"Lah, emang Iin nggak boleh datang pas malam minggu bang?" Tanya Iin balik


"Siapa bilang nggak boleh?" Tanya Maudi Larasanti istri Farhan yang juga merupakan sahabat Keano.


"Bang Farhan tuh mbak!" Adu Iin


"Abang.. adek abang lo ini, masa nggak di ijinin datang? Kalau Keano tau Abang larang Dedek datang pas malam minggu, kelar idup Abang kena tembak Keano" tegur Maudi atau biasa Iin panggil mbak Audi


"Yee.. Abang juga punya pistol dek, buktinya aja pistol abang berhasil buat perut adek buncit" kelekar Farhan berhasil mendapat kekehan geli dari pegawai dan beberapa pelanggan yang mengantri di kasir.


"Abang Farhan ih nyebelin!"


"Nyebelin-nyebelin gini kan kamu tetap cinta dek" balas Farhan jumawa.


Iin dan Maudi memutar bola matanya jengah, tingkat kelebayan dan kenarsisan seorang Farhan tengah berada di tingkat teratas. Mereka berdua yang masih waras dan berpikir dengan akal sehat lebih memilih mengalah dengan tingkah absurd Farhan.


"Udah deh, mual Iin lama-lama dekat bang Farhan. Iin mau bayar nih, buru-buru pengen pulang"

__ADS_1


"Eh tunggu dulu, Dedek belum boleh pulang sebelum jawab pertanyaan mbak" tahan Maudi.


"Mbak mau tanya apa?" Tanya Iin


"Itu.." tunjuk Maudi dengan dagunya dimana entah sejak kapan tangan Iin sudah bertautan dengan tangan Dafa yang nampak menggengam tangannya erat.


Iin melirik Dafa yang nampak bersikap biasa aja, padahal dalam hatinya bergemuru hebat saat di depannya masih ada dua orang yang meninggalkan luka mendalam di masa lalunya. Iin menghela nafas pelan, Dafa sudah meminta bantuannya sebelum ia berdiri mengantri dekat meja kasir. Mungkin tidak ada salahnya jika Iin membantu pria itu, terlebih lagi dua orang yang berada di barisan depan yang menyandang gelar 'mantan' yang di berikan Dafa padanya nampak sangat penasaran di lihat sejak tadi keduanya tak kunjung menoleh kedepan menghadap antrian.


"Oh, ini calon suami Iin. Dr. Radafian Jasaka Aditama, SpA" jawab Iin tak lupa melepas tautan tangan mereka dan mulai merangkul lengan Dafa dan bergelayut dengan manja.


Nampak pasangan di hadapannya yang menyandang gelar 'mantan' Dafa sangat terkejut dengan pengakuan Iin. Sebenarnya bukan hanya mereka berdua yang terkejut, tapi Farhan dan Maudi juga sama terkejutnya.


.


.


.


Itu adalah kalimat pertama yang Dafa ucapkan setelah mereka berhasil keluar dari Caferesto milik bang Farhan yang semakin beranjak tengah malam, semakin ramai saja pengunjung yang datang.


"Untuk?" Tanya Iin di sela-sela langkah mereka menuju parkiran.


"Bantuan kamu" jawabnya


"Sama-sama" balas Iin pendek.


"Saya nggak nyangka kamu bakal mengaku bahwa saya calon suami kamu. Padahal kamu sempat marah saat saya ngaku itu di depan sahabat kamu"

__ADS_1


"Itu karena kamu mengaku tanpa seijin saya, lagian nggak usah bahas itu lagi" kata Iin yang langsung membuat Dafa bungkam


Iin yang menyadari kesalahannya lantas berhenti melangkah, dan hal itu membuat Dafa yang berjalan disisinya pun ikut berhenti melangkah dan menatap Iin bingung.


"Kamu kenapa? Ada yang ketinggalan?" Tanya Dafa


Iin menggeleng.


"Saya minta maaf, mungkin perkataan saya menyakitimu" kata Iin merasa bersalah.


"Lagian saya akui kamu calon suami saya karena bukankah memang begitu kenyataannya? Kamu udah nerima perjodohan itu, itu berarti kamu udah jadi calon suami saya" jelas Iin yang membuat Dafa tertengun.


Dan untuk pertama kalinya semenjak insiden penghianatan itu, jantung Dafa kembali berdetak kencang karena seorang Inggrid Ragaskara.


.


.


.


.


.


TBC


4 September 2019

__ADS_1


__ADS_2