Inggrid

Inggrid
Bab 22 - Alasan


__ADS_3

Rumah besar kediaman Aditama nampak sangat ramai malam ini. Hal itu dikarenakan dengan kedatangan keluarga Rega sahabat mereka yang mengikut sertakan ponakan, menantu ponakan dan cucunya dalam acara makan malam mereka.


Tentu saja awalnya Rega hanya akan datang bersama Keano dan Iin, tapi ponakannya Arza yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri itu bersikukuh ingin ikut dengan keluarga kecilnya. Alhasil ruang makan keluarga Aditama kini sangat ramai dengan berbagai obrolan hingga mereka melupakan sejenak tujuan di adakannya acara makan malam di keluarga Aditama yang seharusnya membahas kelanjutan dari perjodohan Dafa dan Iin.


"Ante.. ante In" Arfa terus saja memanggil nama Iin yang duduk bersebrangan dengannya, bayi yang baru berusia 1 tahun lebih itu terus saja mengangkat kedua tangannya seakan ingin di ambil oleh Iin.


Memang sejak mbak Faya melahirkan Arfa, Iin selalu mengunjungi rumah Abangnya Arza untuk menemani Faya di kala bosan atau membantu mbaknya itu menjaga Arfa ketika Arza dan Faya harus menghadiri acara kolega dari perusahaannya.


Kedekatan Arfa dan Iin jangan diragukan lagi, bahkan orang sempat berpikir jika Arfa itu adalah anak Iin bukan anak Arza dan Faya. Iin bangun dari duduknya, ia melangkah memutari meja makan menuju tempat Faya yang kini menggendong Arfa sambil mengobrol masalah resep masakan yang Kinan masak malam ini yang mana masakannya sangat enak.


"Anak tante mau di ambil ya nak, dari tadi manggil terus?" Tanya Iin yang langsung membuat Arfa tertawa girang dengan bahasa bayinya.


"Yaudah, sini tante gendong. Biarin Maminya cerita sama tante Kinan masalah resep masakan, kita berdua keruang keluarga aja buat nonton" kata Iin yang sekali lagi di sambut tawa girang dari Arfa.


Faya menatap Iin dan berkata "Hehehe maaf ya Dedek, Mbak serius penasaran dengan resep tante Kinan yang buat Yayang Arza nambah terus dari tadi. Siapa tau tante Kinan bagi resep biar Mbak praktekin dirumah"


"Idih, biasa aja kali Mbak. Kayak sama siapa aja" balas Iin.


"Nggak usah ah tante bagi resep, kalau Faya mau datang kerumah tante buat belajar dan praktek masaknya bareng-bareng. Lagian bentar lagi kita bakal jadi keluarga, Iin kan bakal nikah sama anak sulung tante" kata Kinanti sambil menatap Iin dengan raut wajah senang.

__ADS_1


Iin menatap Kinanti sesaat, disana tidak ada kebohongan yang dipancarkan tatapannya, yang Iin lihat adalah sebuah ketulusan dan kejujuran dari kata-kata yang Kinanti ucapkan. Saat itulah Iin sadar, keluarga Aditama memang sangat senang menerimanya untuk menjadi salah satu bagian dari keluarga mereka. Mengetahui hal itu Iin langsung melempar senyum lebar nan tulus yang mana berhasil menampakan kedua lesung pipi Iin yang bertengger indah di kedua pipinya.


"Ohiya Iin ngobrol-ngobrol bareng Dafa gih di ruang keluarga, sembari kalian mengobrol, kami disini akan membahas masalah pernikahan kalian" pinta Kinanti yang langsung di patuhi Iin.


Iin melangkah menuju ruang keluarga yang berada di kediaman keluarga Aditama, disana sudah ada Dafa yang tengah duduk temenung sendirian. Iin mendudukan dirinya tidak jauh dari tempat duduk Dafa, ia memangku Arfa yang bercoloteh ria dengan bahasa bayinya.


Dafa yang menyadari ada seseorang yang duduk di sampingnya lantas menoleh dan mendapati Iin bersama ponakannya sedang menatap Dafa sejak tadi.


"Saya sudah penasaran sejak kemarin mengenai alasan mengapa kamu nerima perjodohan ini?" Tanya Iin


Dafa tidak menjawab pertanyaan Iin dengan cepat, ia malah mengambil Arfa di pangkuan Iin dan memindahkannya duduk di pangkuannya.


"Jujur saya tak ingin menceritakannya, sebab jika saya menceritakannya itu berarti saya kembali membuka luka lama yang sepenuhnya belum rapat, tapi karena saya rasa saya harus menceritakan masa lalu saja dengan jujur padamu, tidak ada salahnya membuka diri lebih awal dengan calon istri sendiri, bukan?" tanya Dafa yang di angguki oleh Iin


"Karena saya belum tahu banyak tentang kamu, mungkin apa yang kamu ceritakan saat ini benar. Mungkin dengan menceritakan masa lalumu, saya sedikit tahu tentang kamu" kata Iin yang diangguki Dafa.


"Dulunya kami bersahabat, saya yang merasa nyaman dengan Widiya dan tiba-tiba melamarnya padahal saat itu saya masih Koas. Saat itu saya tak tahu jika Widya menyukai Zaka, begitupun Zaka yang sudah lama mencintai Widya dalam diam. Keluarga Widiya jelas menyambut baik lamaran saya, kala itu Widiya juga tak mengatakan apa-apa. Hingga satu hari, di hari bahagia kami, Zaka mengungkapkan perasaannya yang membuat Widiya menangis segugukan hari itu. Keesokan harinya, tepatnya di hari pernikahan kami, ia kabur bersama dengan Zaka. Hari itu saya hancur, hancur sehancur-hancurnya karena di khianati mereka. Seandainya sejak awal mereka berkata jujur, saya tidak harus melangkah sejauh itu dimana pada akhirnya saya jatuh dalam kubangan rasa sakit dari pengkhianatan mereka" Dafa menjeda sesaat.


"Karena perbuatan mereka, saya tidak pernah menjalin hubungan serius dengan para wanita yang berkencan dengan saya. Saya juga menutup diri dan begitu pemilih apabila ingin berteman karena pengkhianatan mereka masih membekas. Semakin hari saya semakin menyibukan diri dengan pekerjaan dan semakin menutup diri, saya memilih tinggal sendiri dengan alasan ingin mandiri itu hanyalah alasan agar tidak ada yang melihat saya rapuh ketika mengingat masa lalu itu. Tapi semenjak hari dimana kamu menginap dirumahku, ada perasaan asing yang menyelusup dalam hatiku. Saya tidak tahu perasaan apa itu, tapi saya merasa damai ketika kamu berada dirumahku yang biasanya sepi dan dingin. Sejak saat itu saya mulai berpikir untuk berdamai dengan masa lalu dan mulai membuka diri berkatmu, tapi melihat mereka malam itu, rasanya masih berat untuk memaafkan perbuatan mereka dan berdamai dengan kesalahan yang mereka buat" Dafa menghela nafas pelan

__ADS_1


"Saya menerima perjodohan ini karena saya percaya pilihan kedua orang tuaku yang terbaik untuk masa depanku, saya tidak mau lagi egois dengan pilihan saya, dan saya tidak mau lagi kejadian itu terulang. Saya menerima perjodohan ini bukan karena hal itu, saya menerima perjodohan ini karena orang yang di jodohkan denganku itu kamu" lanjut Dafa memberikan jawaban dari pertanyaan yang Iin ajukan.


"Lalu bagaimana denganmu, bagaimana bisa pada akhirnya kamu menerima perjodohan ini?" Tanya Dafa yang saat ini menepuk-nepuk pantat Arfa pelan karena ponakannya itu mulai terlelap tidur dalam dekapan Dafa.


"Sama seperti kamu, saya juga percaya, pilihan Ayah adalah yang terbaik untuk saya" jawab Iin tersenyum lebar dan menampikan lesung pipinya yang selalu berhasil membuat Dafa tertengun dan merasakan debaran jantungnya yang kini kembali berdetak kencang hanya karena sosok gadis mungil nan cantik di hadapannya. Dafa rasa, besok ia harus memeriksa jantungnya pada rekannya. Ia merasa ada yang salah dengan jantung.


.


.


.


.


.


TBC


6 September 2019

__ADS_1


__ADS_2