
Tak terasa pernikahan keduanya telah memasuki usia tiga bulan, seperti biasa, Iin akan menyiapkan sarapan pagi untuk Dafa sebelum suaminya berangkat bekerja.
Pagi ini Iin kembali berkutat dan bertempur dengan panci dan wajan, wajahnya yang masih polos tanpa make up terlihat cantik dan nampak segar padahal ia bahkan belum membersihkan tubuhnya. Rambut panjangnya bahkan hanya ia ikat asal, namun hal itu sama sekali tak menurunkan kadar kecantikan alami milik wanita berusia 25 tahun itu.
Iin mematikan kompornya, pagi ini ia membuat sarapan sederhana mengingat ia bangun lumayan terlambat dari hari biasanya. Maklum saja akhir - akhir ini Iin sibuk mengikuti berbagai kegiatan ibu - ibu kompleks perumahan mereka, hal itu ia lakukan hanya untuk sekedar membunuh rasa jenuh dan bosannya tinggal dirumah.
Selain melakukan kegiatan rutin yang dilakukan ibu - ibu kompleks perumahan, Iin juga kadang menghabiskan waktunya mengunjungi rumah mertuanya. Kadang mereka akan mengobrol banyak hal seperti layaknya anak dan ibu kandung yang suka membahas masalah kewanitaan seperti belanja, baju, make up dan sebagainya. Kadang pula mereka akan menghabiskan waktu memasak dan mengeksperimenkan masakan - masakan atau kue - kue baru yang kekinia.
Jika Iin tak mengunjungi Kinan, biasanya hari - hari Iin ia habiskan bermain kerumah Ayahnya atau mengunjungi butik sahabatnya Nadi atau juga bermain di Wedding Organizer milik Anaya dan Irfan. Kedua sahabatnya itu sama sekali tidak keberatan dengan keberadaan Iin yang kadang menganggu pekerjaan mereka, mereka malah senang dan juga maklum pasalnya Iin dulu adalah seorang wanita karir. Berhenti bekerja demi mengurus suami dan keluarga jelas bukanlah hal mudah.
Jika dulu ia terbiasa disibukan dengan segala aktivitas bekerja di depan komputer dan menyusun jadwal sepupunya Arza, kini ia harus berdiam diri dirumah dan berusaha mengalihkan tenaganya dan menyibukan diri ke hal yang bermanfaat agar Iin tidak mati kebosanan. Sebab jujur saja Iin belum bisa membiasakan dirinya untuk berdiam diri saja.
"Sarapan pagi ini apa dek?" Tanya Dafa yang baru saja datang menghampiri Iin tak lupa memberi kecupan selamat pagi di kening Iin yang kini sudah menjadi kebiasaan baru Dafa semenjak mereka menikah.
Ah, semenjak menikah dengan Dafa, banyak hal yang berubah dalam kehidupan mereka berdua. Banyak kebiasaan - kebiasaan kecil yang nampak manis yang mereka lakukan dan salah satunya seperti yang baru saja suami tampannya lakukan.
"Adek nggak masak banyak mas, cuma nasi biasa, capcay, ayam goreng, sambal pete dan bakwan jagung" jawab Iin menata masakan yang baru saja ia angkat dari wajan di atas meja makan.
"Mas duduk gih" pinta Iin yang langsung di patuhi oleh Dafa
Setelah suaminya duduk, Iin lantas dengan cekatan mengisi piring kosong Dafa dengan dua centong nasi hangat, ia tak lupa mengambil semua lauk kesukaan Dafa dan mengisi penuh piring suaminya.
"Habiskan yah mas, adek tinggal kebelakang bentar" kata Iin meninggalkan Dafa yang kini melahap makanannya dengan begitu lahap.
Tentu saja lahap, selain makanan Kinan, makan Iin patut diancungi jempol. Dafa tidak akan menunda - nunda menghabiskan masakan istrinya yang begitu enak, kadang kala ketika pekerjaan Dafa sangat padat, ia bisa meminta Iin membuatkannya bekal kalau - kalau Dafa terlalu malas keluar dari ruang kerjanya hanya untuk sekedar makan siang karena banyaknya pasien yang harus ia tangani.
.
.
.
Iin memijit kepalanya yang terasa sakit. Entah mengapa sejak dua jam yang lalu, kepalanya seakan dihantam sebuah palu tak kasat mata dan memberinya efek sakit yang luar biasa. Perasaan, pagi tadi Iin baik - baik saja. Tapi mengapa saat ini kepalanya terasa sangat berat?
__ADS_1
Saat Iin hendak bangun dari sofa yang berada diruang keluarga, tiba - tiba pandangannya berkunang - kunang, dan alhasil Iin kembali menjatuhkan dirinya di atas sofa karena merasa tubuhnya seakan sangat lemas. Ia nyaris saja jatuh karena penglihatannya yang tiba - tiba mengabur.
Iin menyandarkan kepalanya pada sofa, ia memejamkan matanya seraya berusaha menghalau rasa sakit yang ia rasakan. Awalnya Iin berpikir, mungkin dengan memejamkan matanya sejenak dan mengistirahatkan tubuhnya sebentar, rasa sakit kepalanya akan segera hilang.
Sayang sakit kepala yang Iin rasakan semakin menyakitkan, pandangannya bahkan kini mulai berputar - putar seakan kesadarannya akan direnggut secara paksa detik itu juga.
Iin yang merasa dirinya tidak sedang baik - baik saja lantas segera merogoh saku dasternya seraya mencari ponselnya untuk menghubungi suaminya. Dengan susah payah dan sekuat tenaga, Iin berhasil mendapat ponselnya dan mulai mencari kontak Dafa.
Iin menelpon Dafa dengan sabar, sesekali salah satu tangannya yang bebas memijik keningnya yang berdenyut sakit. Berulang kali Iin mencoba menghubungi Dafa, namun yang Iin dapatkan hanya sebuah nada sambungan.
Iin lantas kembali mengulang untuk kesekian kalinya menelpon Dafa, namun belum sempat Iin kembali menelpon nomor ponsel suaminya, tubuh Iin limbung di atas sofa dan kesadarannya pun mulai menghilang.
.
.
.
Hal inilah yang mengharuskan Dafa yang seharusnya berada di poli anak dipindahkan secara mendadak bersama rekan dokternya yang lain ke UGD dan juga IGD karena banyaknya korban yang terus berdatangan. Sedangkan baik dokter di IGD maupun UGD saat ini tengah kekurangan tenaga, mereka tak mampu menangani para korban luka - luka yang harus segera ditangani. Alhasil semua dokter yang tidak memiliki kesibukan kini dipindahkan untuk sementara di unit IGD dan UGD.
Dafa baru saja menghempaskan tubuhnya diatas sofa yang berada diruangan kerjanya, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan memejamkan matanya sejenak. Tiga buah operasi yang ia tangani dengan dokter Bayu yang merupakan dokter senior dirumah sakit tempatnya bekerja cukup membuat tenaga Dafa terkuras habis baik pikiran dan juga tubuhnya mulai merasakan sakit dari efek lamanya ia berdiri di depan meja operasi.
Pintu ruangan kerja Dafa tiba - tiba terbuka dengan tidak manusiawi. Suara keras yang dihasilkan pintu yang dibuka secara paksa menyentak dan mengejutkan Dafa yang baru saja mampu bernafas lega setelah seharian bekerja menangani pasien yang mendapat musibah kecelakaan lalu lintas.
Dafa menoleh menatap tajam pelaku kegaduhan, ingin rasanya Dafa memaki dan memarahi sosok yang kini berdiri diambang pintu. Namun Dafa urungkan saat melihat kilatan pancaran mata khawatir dan ketakutan yang adiknya pancarkan. Seketika Dafa merasakan firasat buruk dari kedatangan Dipta yang nampak sangat kacau dan panik.
"Bang, mbak Iin masuk IGD!" Serunya yang membuat Dafa lantas terkejut dan segera bangkit berlari keluar dari ruangannya.
.
.
.
__ADS_1
Dafa mengusap wajahnya kasar didepan koridor IGD yang kini menangani istrinya. Sedari tadi Dafa tak bisa diam, ia terus saja mondar mandir dengan perasaan khawatir, cemas, takut dan bersalah secara bersamaan.
Bagaimana bisa ia tidak tahu istrinya sedang sakit, bagaimana bisa ia begitu lalai dari tanggung jawabnya sehingga kini istrinya berada dibalik pintu yang kini tengah tertutup rapat dengan para dokter dan suster yang akan membantu mengobati dan merawatnya bersamanya didalam.
Kemana saja ia? Kenapa ia hanya memikirkan dirinya sendiri dan pekerjaannya? Selama ini istrinya begitu peduli dan memperhatikan semua tentang dirinya, tapi ia? Apa yang selama ini Dafa lakukan? Istrinya sakit dan membutuhkannya saja ia tak ada disampingnya. Beruntung hari ini Dipta berkunjung kerumah mereka membawa titipan Mama, jika tidak, apa yang akan terjadi dengan istrinya disaat ia masih bekerja dan tidak ada dirumah.
Dafa menghela nafas berat, ini adalah salahnya. Ia ini adalah salahnya. Semua salahnya. Iin sempat menelponnya berulang kali hari ini, namun telpon dari istrinya berakhir tak terjawab olehnya dikarenakan kesibukan Dafa menangani korban kecelakaan bersama rekannya yang lain.
"Abang bisa diam nggak sih, Dipta capek liat abang mondar mandir mulu" tegur Dipta yang saat ini duduk dikursi tunggu yang ada di koridor rumah sakit.
"Abang nggak bisa diam Ipta, abang khawatir dan takut dengan kondisi mbakmu" aku Dafa
"Iya Dipta tau abang khawatir dan juga takut, Dipta juga sama kayak abang. Tapi bang, saat ini mbak Iin hanya butuh doa dari kita, doakan biar mbak Iin cepat sadar dan dalam kondisi baik - baik saja" kata Dipta mengingatkan Dafa
Dafa akhirnya mengalah, ia mulai mendudukan dirinya disamping Dipta. Ia menundukan kepalanya, berdoa dalam hati dan meminta pada Yang Maha Kuasa agar istrinya baik - baik saja. Karena jujur Dafa takut, ia takut terjadi hal buruk dengan Iin. Dafa sangat takut kehilangan Iin, apalagi sampai saat ini, Dafa bahkan belum mampu mengungkapkan kalau ia sudah mencintai istrinya.
"Abang tenang yah, mbak Iin orangnya kuat. Mbak Iin pasti baik - baik aja!" Kata Dipta menenangkan saudaranya yang dua kali lebih kacau darinya.
"Aamiin, semoga Tuhan mengijabah doamu Ipta. Jujur abang akan menyalahkan diri abang kalau mbakmu kenapa - kenapa"
.
.
.
.
.
TBC
14 Oktober 2019
__ADS_1