
Iin menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Saat ini raganya memang berada di atas tempat tidurnya, namun tidak dengan jiwanya yang entah berkelana kemana.
Perkataan Dafa masih tergiang-giang di telinga Iin, kejadian yang beberapa jam lalu terus berputar dalam kepalanya bagaikan sebuah kaset rusak. Iin tak tahu, apa yang Dafa katakan saat itu serius atau sebaliknya. Kejutan yang diberikan Dafa padanya berhasil membuat Iin tidak percaya hingga lupa memperhatikan ekspresi Dafa kala mengatakan itu.
Bagaimana bisa dirinya tidak terkejut? Hanya terhitung dengan hari ini, mereka baru dua hari bertemu dan saling mengenal. Bagaimana bisa Dafa secepat itu memutuskan ia akan menerima rencana perjodohan yang Ayahnya dan kedua orang tua Dafa rencanakan bahkan sebelum mereka lahir. Tidakkah harusnya mereka keberatan dengan perjodohan ini? Terlebih sekarang zaman sudah makin modern, ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya dimana perjodohan masih dianggap hal yang lumrah.
Iin memijit keningnya, kepalanya sudah sangat pusing setelah seharian ia gunakan otaknya untuk terus berpikir dan bekerja sepanjang hari tanpa jeda. Namun sekarang dengan perkataan Dafa yang masih terngiang - ngiang dan teebayang dalam benaknya semakin menambah rasa sakit di kepala Iin.
Saat Iin ingin bertanya alasan mengapa Dafa tiba - tiba ingin menerima perjodohan itu, rasa penasaran dan keingin tahuannya lenyap. Pertanyaan yang hendak ia lontarkan tertahan ditenggorikannya saat suasana atmosfir di perjalanan pulang mereka hanya di isi keheningan serta kecanggungan yang mendominasi.
Iin menghela nafas gusar, mengapa kisah hidupnya jadi seperti ini? Ia sama sekali tidak menyangka jika hidupnya nyaris sama dengan novel-novel romansa yang selalu ia baca.
Sulit bagi Iin menentukan pilihannya disaat hatinya masih berharap sahabat yang sampai saat ini tak saling berkabar dengannya peka dengan perasaannya. Iin masih berharap ada hari dimana Agus menatapnya sebagai gadis yang mencintai dan menyayanginya, bukan sebagai gadis yang menyandang gelar sahabat rasa saudarinya.
.
.
.
Setelah melaksanakan kewajiban sholat subuh dua rakaat, Iin pun mulai berdoa agar segala masalah dan kesulitan yang menghampirinya selalu di mudahkan. Iin juga tak lupa memanjatkan doa untuk kesehatan keluarganya serta memohon pengampunan pada Yang Maha Kuasa.
Setelah memanjatkan doa, Iin beranjak dan mulai membereskan peralatan sholatnya. Baru setelah itu ia akan melaksanakan kewajiban dan tugasnya sebagai anak perempuan berbakti satu-satu dalam keluarganya.
Sejak kecil, Rega sudah mengajari kedua anaknya untuk mandiri. Selain itu dalam keluarga mereka, Rega telah membagi tugas kepada kedua anaknya. Rega selalu mendapat tugas belanja kebutuhan mereka perbulan, Keano mendapat tugas membersihkan pekarangan rumah serta mencuci mobil, sedangkan Iin mendapat tugas mencuci baju dan kadang kala membantu Mbok Jum memasak ataupun membersihkan.
__ADS_1
Pagi ini Iin akan mencuci pakaian Ayah dan Abangnya sebelum berangkat bekerja, karena Iin sulit tidur kembali setelah sholat subu, maka akhirnya ia memilih melakukan tugasnya mencuci pakaian mereka.
Setelah mencuci pakaian Ayah dan Abangnya, Iin lantas langsung membersihkan dirinya. Saat ini matahari dengan malu - malu mulai menampakan dirinya, goresan jingga kekuning-kuningan nampak menghiasi langit pagi yang cerah. Iin turun menuju ruang makan yang langsung berhubungan dengan dapur, di meja makan sudah ada Ayahnya yang mengenakan kemeja biru muda dengan celana bahan kain berwarna hitam.
"Assalamualaikum, selamat pagi Ayah" sapa Iin.
"Wa'alaikum salam, pagi juga Dedek" jawab ayahnya.
Iin menarik kursi yang berada di samping kanan Ayahnya, setelah itu memutar piringnya menghadap keatas dan mulai menyendok nasi goreng yang baru saja mbok Jum angkat dari wajan ke dalam piringnya. Iin menyendok sesuap nasi goreng ke dalam mulutnya, ia sesekali melirik Ayahnya yang nampak serius membaca koran pagi di temani secangkir kopi hitam.
Tak berselang berapa lama, Keano datang dengan muka bantalnya. Rambutnya masih kusut pertanda ia baru saja bangun. Keano menghampiri Ayah dan Iin di meja makan, ia sesekali menguap lebar sambil merentangkan tangannya keatas guna melemaskan otot-ototnya yang kaku.
"Selamaatt.. huawwaam pagii" sapa Keano sambil menguap.
"Nah, kebetulan Keano udah bagun, sekarang Ayah mau ngomong serius sama kalian" kata Rega melipat koran yang ia baca.
Keano mengambil duduk di sisi kiri Ayahnya dan berkata "Ayah mau ngomong apa?" Tanya Keano penasaran.
"Ini tentang Dedek"
"Loh emang Iin kenapa Yah?" Tanya Iin terkejut dengan topik pembahasan yang akan Ayahnya perbincangkan dengan serius.
"Iya, Dedek kenapa Yah?" Tanya Keano
"Semalam Raidan nelfon Ayah, ia bilang Dafa udah nerima perjodohan yang kami rencanakan. Nah, sekarang Dedek bagaimana? Sudah punya jawaban belum?" Tanya Rega yang membuat Iin tersedak nasi karena terkejut dengan apa yang Ayahnya sampaikan.
__ADS_1
"Uhuk uhuk"
Iin menyambar air yang ada di sampingnya, ia meneguknya hingga tandas. Setelah batuknya reda, ia menatap ayahnya "Ayah yakin kalau Dafa udah nerima perjodohan ini?" Tanya Iin memastikan dan langsung mendapat anggukan yakin dari ayahnya.
"Ayah bahkan langsung telpon dia lo Dek. Keano benarkan Yah, waktu Ayah buka pintu buat Keano, Ayah lagi bicara dengan Dafa bukan?" Tanya Keano memastikan
"Iya, Ayah langsung telpon Dafa untuk memastikan setelah Ayah bicara dengan Raidan" jawab Fahri
Iin merenung, kejadian semalam kembali terputar dalam benak Iin. Kejadian yang hanya beberapa menit itu terus berputar dan kalimat yang Dafa lontarkan terus terngiang ditelinganya bak kaset rusak. Iin menggeleng dan mengenyahkan pikirannya saat ia menyadari satu hal..
"Dafa tidak bercanda" gumam Iin lirih
.
.
.
.
.
TBC
2 September 2019
__ADS_1