
Pagi ini Iin bangun kesiang dan akhirnya ia terlambat ke kantornya. Arza yang merupakan bos sekaligus sepupunya itu jelas merasakan ada yang aneh dengan Iin. Selama ini Iin tidak pernah terlambat datang ke kantor, boleh di katakan ia merupaka karyawati teladan yang selalu datang tepat waktu. Namun melihatnya datang terlambat hari ini jelas membuat Arza merasa curiga, ada sesuatu yang jelas tidak beres dengan Iin.
Pagi ini raut wajah Iin tak seceria biasanya, ia lebih banyak diam dan berusaha mengerjakan pekerjaannya walaupun Arza tahu jika fokus dan konsentrasi Iin tertuju pada tempat lain dan bukan pada layar monitor komputernya. Jika kalian penasaran bagaimana ia mengetahuinya, tentu saja karna sejak satu jam yang lalu Arza berdiri di samping meja Iin dan mengamati sepupunya itu kini sedang termenung seakan banyak pikiran.
Arza menghela nafas berat dan berkata "Iin" panggil Arza
"Iin!" Ulang Arza untuk yang kedua kalinya.
Sayang, walaupun raga Iin berada pada tempatnya. Namun jiwanya telah berkelana entah kemana. Sadar karna Iin masih tidak merespon panggilannya, akhirnya Arza tidak memiliki pilihan lain selain berteriak.
"Innnnggggrrriiiddddd!" Teriak Arza kencang, sekencang - kencangnya.
Iin yang sempat termenung lantas tersentak terkejut. Lamunannya buyar seketika berkat teriakan maha dasyat dari Arza. Iin menoleh kesamping dan menatap Arza dengan perasaan bersalah.
"Bapak sudah lama disitu?" Tanya Iin tidak enak.
"Dari sejam yang lalu Iin!" Jawab Arza ketus
Iin meringis dan bergumam kata maaf. Arza jelas tak mampu berbuat apa-apa selain menghela nafas berat dan mengangguk seraya menerima permintaan maaf dari Iin.
"Kalau ada masalah yang mengganggu pikiranmu, tidak ada salahnya membagi cerita dengan abang. Jangan di pendam sendiri dek" kata Arza mulai Informal pada Iin
"Abang bilang gini itu demi kebaikan Dedek, jangan di pendam sendiri. Kalau Dedek butuh saran dan masukan tidak ada salahnya cerita dengan abang, mungkin abang bisa bantu mencari solusi atau memberi saran" jeda Arza "Kalaupun Dedek belum siap cerita, nggak masalah. Nggak usah di paksakan. Abang tidak memaksa dedek untuk cerita, abang hanya menyarankan demi kebaikan Dedek sendiri. Kalau Dedek mau cerita, abang akan dengan senang hati untuk mendengar, kalau Dedek tidak ingin cerita, itu hak Dedek" lanjut Arza tak lupa tersenyum dan menepuk bahu Iin.
"Karna hari ini jadwal abang kosong dan semua pekerjaan abang udah selesai, Dedek pulang lebih awal yah" pinta Arza
"Tenangi diri dan pikiran, kalau perlu Dedek istirahat yang banyak. Hari ini abang berasa kehilangan Dedek yang ceria, semoga besok Dedek kembali menjadi Dedek yang ceria, yah" kata Arza penuh harap.
Iin tak menyangka, perubahannya hari ini akan berdampak pada semangat kerja abangnya. Terlebih lagi karnanya Arza menjadi khawatir dengan perubahannya yang tiba-tiba dan terasa asing untuk orang sekitarnya.
Jujur saja Iin tak tahu mengapai ia menjadi murung dan tidak bersemangat seperti ini, mungkinkah karna permintaan ayahnya yang memintanya untuk menerima perjodohan yang akan ayahnya lakukan dengan teman seperjuangannya atau karna masalah perasaannya pada sahabat ataukah karna keduanya?
__ADS_1
Iin tidak tahu apa yang membuatnya menjadi seperti ini. Memikirkan masalah permintaan ayahnya dan masalah perasaannya membuat Iin bimbang untuk memilih. Semuanya terasa sangat sulit dan berat.
.
.
.
Seperti perintah Arza, Iin pulang 30 menit lebih cepat dari jam pulang kerja. Hal itu jelas membuat beberapa karyawan - karyawati merasa Iri dengan kepulangan Iin yang 30 menit lebih awal dari jam pulang mereka.
"Huwwaa gue iri dengan bu Iin yang bisa pulang lebih awal" ucap seorang gadis berambut sepingang bernama Farinka dari devisi pemasaran.
"Nggak usah ngemimpi bisa pulang lebih awal seperti bu Iin, kerjaan lo aja masih banyak. Dan gue pastiin lo auto mode lembur" balas rekan sesama devisinya.
"Doa lo jahat banget sih, Dul" sungut Farinka.
"Yeh emang kenyataan kan kalau kerjaan lo masih banyak. Lagian lo nggak bisa nyaingi bu Iin kalau masalah kerjaan, bu Iin itu selalu kerja tepat waktu. Mottonya sih 'Selagi masih mampu di kerjakan sekarang, kenapa harus menunda?', dan lihat hasil dari kerja kerasnya, bu Iin cepat pulang tanpa harus terbayang-bayang dengan kerjaan" balas Abdul
"Yee pak Zaki finah nih, siapa yang ngegibahin bu Iin" kata Abdul tidak terima
"Lah tadikan kalian cerita mbak Iin di belakang dia, itu bukan ngegibahin namanya?" Tanya Zaki balik
"Itu bukan gibah pak, dari tadi Abdul ceramah terus" jawab Farinka bergegas pergi meninggalkan kedua pria yang menatap punggung Farinka yang menuju kubikelnya.
"Seriusan Dul, lo benar - benar ceramah?" Tanya Zaki tidak percaya.
"Bisa di bilang seperti itu pak" kata Abdul sedikit meringis.
Zaki hanya menggeleng lantas menepuk bahu Abdul dan bekata "Bakal berat yah, Farinka kayaknya ngambek tuh" kata Zaki menunjuk Farinka yang nampak kesal mengerjakan pekerjaannya dengan dagunya.
"Dari dulu hingga sekarang masih berat pak, dianya nggak pernah peka" balas Abdul
__ADS_1
"Kalau gitu semangat!" Kata Zaki menyemangati Abdul dan berlalu menuju ruang kerjanya.
"Sampai sekarang pun saya masih semangat berjuang, sayang orang yang saya perjuangkan hanya melihat bapak" gumam Abdul lirih.
.
.
.
Iin tak sepenuhnya pulang kerumah. Ditengah perjalanan pulang kerumahnya, tiba-tiba Iin meminta supir taksi berhenti tepat di depan restoran langganannya yang merupakan milik Farhan Aditmaja sahabat abangnya Keano.
Iin turun dari taksi setelah membayar ongkos taksi sesui dengan argometer. Setelah itu Iin melangkah masuk menuju restoran bang Farhan. Biasanya jika Iin dilanda bosan, atau sedang banyak masalah ia akan menghabiskan waktu di restoran bang Farhan.
Karna hari ini Iin pulang tepat pukul setengah lima, mungkin tidak akan ada salahnya menghabiskan waktu sejam di restoran bang Farhan di temani dengan bakso lava, ayam geprek, bakso mercon, mie pangsit palleko dan semua makanan yang pedas-pedas.
Saat ini Iin hanya butuh makan makanan pedas untuk mengalihkan rasa bimbang akan pilihan yang akan ia ambil untuk sementara.
.
.
.
.
.
TBC
16 Agustus 2019
__ADS_1