
Iin memang sangat terkejut dengan ajakan makan bakso di pekarangan mesjid oleh Dafa, keterkejutannya itulah yang membuat Iin linglung dalam beberapa saat hingga ia tak menyadari Dafa telah berhasil menariknya hingga keduanya telah berdiri di depan sebuah gerobak bakso yang lumayan ramai pembeli.
"Nggak masalahkan kalau kita makan bakso?" Tanya Dafa lagi yang berhasil menyentak Iin dari lamunannya.
"Hah?"
Iin meringis saat Dafa menatapnya dengan tatapan dalam, ia ketahuan sedari tadi melamun hingga tidak mendengar pertanyaan Dafa dengan begitu jelas. Menyadari kesalahannya Iin lantas segera meminta maaf.
"Maaf, saya tadi melamun" aku Iin
Dafa mengangguk paham dan mengulang kembali pertanyaannya "tadi saya bertanya, tidak masalah bukan jika kita makan bakso?" Tanya Dafa dengan penuh kesabaran.
Iin berpikir sejenak, ia lalu menjawab dengan balik bertanya pada Dafa "kamu yakin mau makan disini?"
Dafa mengernyitkan keningnya bingung, ia menanyai Iin dengan kesediaannya makan disini, tapi mengapa gadis itu malah menanyainya balik mengenai kesediaan dirinya makan disini. Iin yang sadar dengan kebingungan Dafa pun lantas menjelaskan maksud dari pertanyaannya "saya tidak masalah makan disini, tapi saya ragu dengan kamu, kamu yakin makan disini? Melihat kamu yang lahir dari keluarga konglomerat sangat sulit untuk membuat saya percaya jika kamu mau makan bakso di tempat seperti ini" jelas Iin.
Dafa akhirnya paham dengan maksud pertanyaan dari Iin yang ternyata mengandung nada kekhawatiran dan peduli padanya, Dafa lantas terkekeh dan berkata "Bukan berarti saya terlahir dari keluarga konglomerat maka selamanya saya akan makan di tempat-tempat yang mewah. Saya juga manusia biasa yang jujur saja lebih suka makan di warung pinggir jalan, alasannya kadang kala makan yang di jual di pinggir jalan lebih enak dari pada di restoran-restoran mewah. Lagian, makan di restoran mewah kadang kala tidak dapat membuat saya kenyang dan satu hal lagi, saya pecinta makanan Indonesia apalagi masakan rumahan" jelas Dafa.
"Jadi tidak masalah bukan kalau malam ini kita makan bakso?" Tanya Dafa untuk ketiga kalinya yang langsung mendapat anggukan dari Iin.
.
.
.
Iin menambah sambal dan kecap kedalam baksonya, setelah itu ia mengaduknya sebelum mecicipi kuahnya. Saat Iin masih merasa baksonya kurang pedas, ia kembali menambah sambal dalam mangkok baksonya.
Dafa yang melihat itu merasakan ngeri sendiri, bagaimana bisa gadis bertubuh mungil seperti Iin bahkan belum merasakan pedasnya sambal yang telah bercampur dengan kuah baksonya. Terlebih lagi saat ini kuah baksonya telah berubah sangat merah.
"Yakin masih mau nambah sambalnya?" Tanya Dafa pada Iin
"Iya"
"Kuat makannya?" Tanya Dafa lagi melirik Iin dengan khawatir.
"Saya suka makan pedas" jawab Iin
__ADS_1
"Tapi nggak sebanyak itu juga kan?" Tanya Dafa merilik mangkuk bakso Iin lagi.
"Mungkin karena biasa yah, makanya kalau makan tanpa sambal itu rasanya kurang mantap" jawab Iin menyuap bakso kedalam mulutnya.
"Jangan keseringan, makan terlalu banyak sambal itu nggak baik" kata Dafa memperingati.
Sekeras apapun Dafa memperingatinya, Iin pasti akan mengulangnya kembali. Baginya makan tanpa ada yang pedas-pedas itu kurang menatang. Perkataan Dafa malam ini hanya Iin anggap angin lalu, karena saat ini ia makan baksonya dengan lahap dan khidmat.
Setelah baksonya habis, Iin harus menunggu Dafa yang masih memakan baksonya yang kedua. Iya pria itu ternyata sangat menyukai bakso, saking sukanya ia sampai nambah dan ini adalah mangkok keduanya.
Saat Dafa menikmati baksonya, Iin mengecek ponselnya dan menemukan banyak notifikasi WhatsApp. Notifikasi itu kebanyakan dari grup yang di penuhi para teman dan sahabatnya yang masih penasaran dengan gosip yang Nadi sebar, selebihnya hanya beberapa pesan dari Ayahnya dan juga Satria.
My Dad ❤
Lagi dimana? Kata Arza kamu udah pulang.
Iin mengetik balasan pesan Ayahnya yang nampak mulai menkhawatirkannya. Iin mendengus kesal dengan sikap Ayahnya, seharusnya Ayahnya juga mengkhawatirkannya saat ia menitipkan dirinya bermalam di rumah pak Dokter di hadapannya kini saat itu.
Anda
Setelah mengirim balasan pesan untuk Ayahnya, saat itu pula Dafa menyelesaikan makannya.
"Udah?" Tanya Iin
"Baksonya enak, berasa pengennya nambah lagi tapi sayangnya perut udah penuh nih" balas Dafa mengelus perutnya yang sedikit membuncit.
"Karena kamu udah makan, sekarang kasih tau saya alasan mengapa kamu mengaku 'calon suami' saya di depan Nadi?" Desak Iin.
Dafa menghela nafas pelan dan berkata "saya kira kamu sudah lupa" balas Dafa "Jujur aja saya nggak tau kenapa tiba-tiba saja saya dengan spontan mengaku 'calon suami' kamu di hadapan sahabatmu. Saya saja kaget dengan apa yang saya katakan waktu itu" jawab Dafa jujur
"Saya ingin menjelaskannya saat mengantarmu ke kantor, tapi saya bingung mau memberi alasan apa atas pengakuan saya. Makanya saya memilih diam dan butuh waktu berjam-jam untuk mengumpulkan keberanian dan memilah kata yang tepat untuk tidak menyakiti perasaanmu" tambah Dafa yang membuat Iin terkejut.
Iin menghela nafas gusar "Tau nggak pengakuanmu itu sekarang udah tersebar di grup yang berisi teman - teman dekat dan sahabatku, Nadi menyebarkan gosip kalau sebentar lagi saya akan menikah karena pengakuanmu. Sekarang saya harus gimana coba ngejelasinnya?" Tanya Iin frustasi.
"Saya akan menjelaskan pada sahabatmu itu bahwa saya hanya sedang mengerjainya" balas Dafa tenang.
"Tks, Nadi tidak akan percaya sekalipun kamu berkata jujur ditambah dengan ekspresi muka datarmu itu" kata Iin sinis.
__ADS_1
"Seharusnya kamu jelaskan pagi tadi, bukan sekarang atau besok-besok. Gosip tentang kamu dan saya udah tersebar, saya bingung mau jawab apa sama teman-teman saya" tambah Iin berang.
"Maaf, sungguh pengakuan saya kala itu keluar dengan spontan" kata Dafa membela diri.
"Sudahlah, saya capek. Saya mau pulang"
"Saya antar" kata Dafa tegas lalu beranjak dari kursi kayu panjang yang di dudukinya.
Iin tak banyak bicara dan memilih bangun dari duduknya dan mengikuti langkah Dafa yang kini tengah membayar bakso mereka. Setelah membayar bakso mereka, Dafa melangkah lebih dulu dan di ekori Iin dari belakang. Saat Iin menunduk menatap jalan setapak pekarangan mesjid, tiba-tiba saja ia membentur sesuatu yang keras. Mengalami hal yang sama untuk beberapa waktu yang lalu, Iin merasa Dejavu
Saat Iin mendongak, ia terkejut saat sadar bahwa benda keras yang dengan indah bercumbu dengan keningnya adalah punggung Dafa. Iin tak tahu mengapa Dafa tiba-tiba berhenti. Saat Iin ingin menanyai hal tersebut, pria itu lebih dulu berbalik dan membuat Iin nyaris terjungkal kebelakang karena terkejut.
"Kamu kenapa?" Tanya Iin khawatir.
"Tidak bisakah kita menerima perjodohan itu saja?" Tanya Dafa dengan raut wajah datar, namun jika boleh jujur saat ini ia teramat sangat gugup.
"Hah?"
"Dafa kamu itu kenapa sih?" Tanya Iin bingung.
Sungguh saja Iin masih marah dengan pengakuan Dafa yang mengklaim dirinya sebagai 'calon suami' -nya, ia juga teramat lelah dan sangat butuh istirahat saat ini untuk mengistirahatkan fisik dan pikirannya. Lalu sekarang Dafa dengan anehnya tiba-tiba bertanya mengapa mereka tidak menerima perjodohan yang Ayahnya dan orang tua Dafa rencanakan! tentu saja saat ini Iin masih mempertimbangkannya dan belum menemukan jawaban.
"Saya rasa, saya akan menerima perjodohan ini jika itu kamu" aku Dafa yang membuat Iin amat sangat terkejut.
.
.
.
.
.
TBC
1 September 2019
__ADS_1