
Dafa pikir kedua orang tuanya dan juga om Rega setidaknya menyelenggarakan acara pertunangan terlebih dahulu, sayang pikirannya melenceng jauh ketika para orang tua sudah memutuskan pernikahan mereka yang akan di selenggarakan dua bulan dari sekarang.
Tentu saja waktu dua bulan terbilang sangat cepat, padahal kemarin malam Papanya mengatakan pernikahan mereka tiga bulan dari sekarang. Entah apa yang terjadi sehingga waktu tiga bulan di majukan menjadi dua bulan, mungkin karena Mamanya yang begitu bersemangat dan senang ingin melihatnya cepat-cepat menikah.
Hari ini adalah hari pertama Dafa menjemput Iin makan siang sembari bertemu dengan salah satu karyawan WO yang akan menghandel pernikahan mereka. Hari ini pula Dafa betul-betul sudah resmi menyandang status calon suami Iin yang sesungguhnya.
Hari ini walaupun sibuk, Dafa menyempatkan waktunya untuk membantu Iin membahas mengenai pernikahan mereka. Ia tak mau membuat Iin kerepotan sendiri. Walaupun pernikahan mereka hasil dari perjodohan kedua orang tua, Dafa tak mau ketinggalan merasakan moment-moment berharga mengurus segala kesibukan mengenai pernikahan mereka.
Dafa juga ingin ikut andil dalam rencana pernikahan mereka yang mulai dari konsep pernikahan, pakaian, gedung, katering, dan masih banyak hal lagi yang mungkin amat sangat memusingkan nantinya. Tapi Dafa akan berusaha menikmati semua itu karena ini adalah pernikahannya, pernikahan yang akan hanya ada sekali dalam hidupnya.
.
.
.
Iin memasuki ruangan Arza, disana bosnya itu nampak sibuk dengan tumpukan berkas yang harus ia tanda tangani.
"Pak Abizar Ragaskara kapan pulang sih Inggrid, saya capek nih harus ngehandel kerjaannya juga" keluh Arza menanyakan kapan Ayahnya pulang.
"Besok pak Abi udah pulang pak Arza" jawab Iin
"Pak Arza nggak makan siang ini udah jam istirahat lo?" Tanya Iin mengingatkan Arza
"Pesankan makanan aja seperti biasa Inggrid, saya malas keluar ruangan kalau pekerjaan saya masih numpuk begini" jawab Arza
"Yaudah, saya pesanin makanannya" kata Iin mulai memesan makanan di tempat langganannya.
"20 menit lagi makanan pak Arza datang, kalau begitu saya izin keluar ya pak mau ngurus pernikahan" pamit Iin.
"Pokoknya abang nggak mau tahu, kamu nggak boleh Resing sebelum abang dapat sekertaris baru" kata Arza meninggalkan bahasa formalnya.
__ADS_1
"Iya iya abangku sayang" balas Iin lalu menutup pintu ruangan Arza.
Iin kembali kemeja kerjanya, ia mengemas barangnya kedalam tas selempangnya. Setelah itu ia pun mulai melangkah meninggalkan meja kerjanya yang sudah rapi, dan mulai mengecek ponselnya. Disana ada satu notif Wa dari nomor baru yang tak Iin ketahui. Dengan rasa penasaran yang besar, Iin pun membuka pesan tersebut dan membacanya.
+6285340×××××
Assalamualaikum Iin, ini dengan Dafa. Saya udah lagi di jalan jemput kamu, maaf kalau buat kamu menunggu. Saya masih kejebak macet soalnya.
Membaca pesan dari Dafa, Iin langsung menyimpan nomor ponsel calon suaminya tersebut di kontaknya. Iin memberi nama Dafa di kontaknya dengan nama 'Dr. Dafa'. Setelah menyimpan nomor ponsel Dafa, Iin pun membalas pesan yang dikirim oleh Dafa.
Anda
Nggak papa, saya tunggu kok. Hati-hati mengemudinya.
.
.
.
"Cari siapa?" Tanya Iin ketika tepat di hadapan Dafa
"Saya cari kamu" jawabnya
"Maaf ya, buat kamu nunggu" kata Dafa tidak enak hati.
"Nggak papa" balas Iin tak lupa dengan senyum guna meyakinkan Dafa bahwa ia serius tidak keberatan menunggu Dafa.
"Kita pergi sekarang?" Tanya Dafa yang langsung di angguki oleh Iin.
Dafa membimbing Iin menuju mobilnya yang ia parkir dekat lobi. Pergerakan keduanya di amati banyak karyawan perusahaan yang hendak keluar ataupun masuk ke gedung perusahaan.
__ADS_1
Dafa sama sekali tidak peduli dengan sekitarnya, sama halnya dengan Iin yang sama sekali tidak mengambil pusing dengan tatapan para karyawan dan karyawati yang menatap keduanya penasaran.
Saat keduanya tiba di mobil Dafa, Dafa dengan gantelnya membukakan pintu untuk Iin. Perbuatan kecilnya itu jelas membuat Iin tersanjung, Iin dengan segera masuk kedalam mobil dan memasang sabuk pengamannya. Setelah Dafa duduk di kursi kemudi dan mulai menyalakan mesin mobilnya, tak berselang berapa lama mobil Dafa pun melaju pelan membela jalan raya yang lumayan padat dikarenakan jam masih menunjukan waktu makan siang.
"Kerjaan kamu hari ini gimana?" Tanya Iin memecah keheningan yang terjadi di antara mereka.
"Alhamdulillah, sibuk seperti biasa. Apalagi saat ini cuaca nggak menentu, banyak anak-anak yang datang periksa karena demam dan flu" jawab Dafa
"Pekerjaan kamu gimana?" Tanya Dafa balik.
"Hari ini saya nggak terlalu sibuk kok" jawab Iin jujur
"Ohiya, saya udah penasaran dari kemarin, kenapa kamu ambil spesialis anak?" Tanya Iin
"Karena saya suka sama anak-anak" jawab Dafa yang begitu mengejutkan untuk Iin.
Bagaimana Iin tidak terkejut, wajah Dafa selalu menampilkan raut wajah datar dan dingin. Walaupun Iin akui pria disampingnya itu tetap saja tampan, bahkan banyak wanita di luar sana yang mengagumi pria dingin seperti Dafa. Hanya saja Iin tidak percaya jika Dafa bisa bersikap ramah dan hangat pada anak-anak padahal menurut pengamatannya beberapa hari yang lalu, Dafa seakan membentengi dirinya dari keramaian. Dafa bahkan bersikap acuh pada sekelilingnya, ia seakan-akan berada di dunia berbeda.
Semalam Iin sudah mengetahui alasan mengapa Dafa seperti itu, ia hanya berharap kedepannya Dafa bisa berdamai dengan masa lalunya. Sebab Iin akan selalu menemaninya, berjuang bersama meraih kebahagiaan yang sama-sama mereka impikan.
.
.
.
.
.
TBC
__ADS_1
6 September 2019