Inggrid

Inggrid
Bab 17 - Sahabat


__ADS_3

Anda


Satria gue harus gimana 😢


Pesan yang Iin kirim kepada sahabatnya Satria masih centeng satu berwarna abu-abu pertanda pesan Wa-nya berhasil terkirim namun belum dibaca oleh pak loreng.


Iin melirik status Wa sahabatnya itu sesaat, tak berselang berapa lama ia menghela nafas berat. Disana tertulis sangat jelas 'Aktif kemarin pukul 09.15'. Iin tahu saat ini Satria tengah bertugas, sahabatnya itu akan membalas pesan Iin atau tidak langsung menelponnya jika ia memegang ponselnya.


Selain Nadi, Iin juga menceritakan masalah perjodohannya pada Satria. Satria adalah sahabat Iin yang selalu ada untuknya, ia akan selalu mendengar keluh kesah Iin dan akan langsung memberinya solusi. Selain itu, Satria juga tahu jika Iin sudah sangat lama menyukai Agus.


Sahabatnya itu mengetahuinya karena ia adalah orang yang sangat peka, walaupun Satria mengetahui perasaan yang dimiliki Iin pada sahabat mereka Agus. Satria sama sekali tidak ingin membocorkan hal itu kepada Agus yang sama sekali tidak peka, Satria dengan pemikiran dewasa dan bijaknya berkata 'Itu urusan kalian, aku hanya akan menjadi kubu netral di antara kalian'


Ah, mengingat Satria membuat Iin tiba-tiba saja merindukan sahabatnya itu. Iin pernah berpikir, jika saja ia jatuh cinta dengan Satria, mungkin ia tidak akan memendam dan menunggu selama ini hingga ia menyadari perasaannya. Sayangnya hati Iin berlabu pada sosok Agus yang bahkan sampai saat ini masih belum menyadari perasaannya sama sekali. Memikirkan hal itu membuat Iin sedih, selalu saja menyakitkan saat menyadari perasaannya tak pernah mendapat penerimaan atau penolakan. Perasaan yang di gantung itu bahkan semenyakitkan seperti ini.


.


.


.


Seperti dugaan Iin, Satria membalas pesan Wa-nya dini hari. Saat ini Iin memang terbangun karena haus, saat mengambil air yang selalu ia sediakan di nakas, Iin sekalian mengecek ponselnya dan di layar ponselnya menampilkan satu notifikasi Wa dari sahabatnya.


Satria


Masalah Agus dan perjodohanmu lagi?


Seharusnya Iin tidak perlu terkejut dengan tebakan Satria yang memang langsung mengenai sasaran, sayangnya Iin belum terbiasa dengan kepekaan Satria yang maha dewa seperti itu.


Anda


Kok tahu?


Satria


*is typing...


Saat melihat sahabatnya mulai mengetik balasan pesannya lagi, dari situlah Iin tersadar sepenuhnya dari rasa ngantuk. Satria saat ini sedang online. Bagaimana bisa sahabatnya itu melawan ngantuk di jam seperti ini hanya karena dirinya?


Satria


Gue setahu itu tentang lo

__ADS_1


Satria


Lagian apa susahnya sih Iin? Lo jujur aja sama si Agus, Agus mah nggak bakal peka kalau lo nggak jujur.


Anda


Gue takut


Satria


Maksud lo takut Agus berubah karena perasaan lo dan persahabatan kita hancur, gitu?


Anda


Nah itu lo tau


Satria


Itu resikonya, nggak usah takut. Kalian udah sama-sama dewasa, selesaikan baik-baik aja dan ohiya, calon suami lo gue rasa orang yang baik.


Anda


Satria


Ralat In, Bukan tapi belum. Udahlah terima aja tuh perjodohan kalian. Ayah nggak bakal sembarang milih orang buat lo.


Satria


Gue off yah, gue harus kembali jaga. Assalamualaikum


Melihat pesan terakhir Satria sebelum status onlinenya berubah 'Terakhir dilihat pukul 02.32' membuat Iin memikirkan perkataan Nadi dan perkataan Satria yang mungkin ada benarnya.


Tapi sebelum Iin mundur dan melepaskan perasaannya pada Agus, ia harus memastikan sesuatu lebih dulu agar ia yakin bahwa melepaskan adalah jalan terbaik yang seharusnya ia ambil sejak lama.


.


.


.


Sore menjelang malam di hari sabtu Iin mengajak Agus bertemu di caferesto milik bang Farhan yang merupakan sahabat bang Keano. Caferesto milik bang Farhan merupakan tempat favorit mereka bertiga. Tempatnya sangat nyaman sehingga setiap hari caferesto milik sahabat Abangnya itu selalu ramai apalagi malam minggu seperti ini.

__ADS_1


Iin sudah berada di sana sejak 30 menit yang lalu, saat ini ia masih menunggu kedatangan sahabatnya Agus yang mengatakan akan segera kemari.


Tak berselang berapa lama, Iin melihat sosok Agus yang melangkah menghampirinya. Namun kedatangannya tidak sendirian, melainkan ada sosok gadis cantik yang menemaninya.


Menatap gadis cantik yang sangat feminim yang datang bersama Agus. Seketika Iin mulai mengukur dirinya serta penampilannya malam ini yang begitu santai dengan riasan yang natural. Iin meringis dalam hati, ia jelas tak secantik dan seksi dengan gadis yang datang bersama dengan sahabatnya Agus yang merupakan pacar dari sahabatnya itu.


"In sory, gue telat. Eka pengen ikut makanya gue ngaret lumayan lama"


"Nggak papa, santai aja Gus. Duduk gih, pesan makanan dan minuman buat kalian. Gue udah pesan duluan soalnya" balas Iin yang membuat Agus masih merasa tidak enak hati.


Agus dan Eka pun duduk di hadapan Iin, Iin terus mengamati setiap pergerakan keduanya hingga suara ketus Eka membuyarkan lamunan Iin.


"Lo ngapain ajak pacar gue keluar di malam minggu?" Tanya Eka dengan nada suara tidak suka.


Salah satu sudut bibir Iin tertarik keatas dan menampilkan sebuah senyum miring. Ini adalah salah satu hal yang tidak Iin sukai dari pacar Agus, entah bagaimana bisa sahabatnya bisa dengan sabar menghadapi sikap buruk Eka yang seperti ini setiap hari.


"Kamu kenapa sih Ka, emang apa salahnya kalau Iin ajak aku keluar makan malam bersama? Aku kan sudah bilang kita hanya sahabat, nggak lebih" jawab Agus.


Seharusnya Iin sudah kuat mendengar ini berulang kali, tapi setiap kali Agus menegaskan hal itu berulang, berulang kali pula ia harus merasakan sakit dari perkataan Agus yang bagaikan sebilu pisau tak kasat mata yang langsung menusuk hatinya.


Sering kali aku mendengar hal ini, tetapi mengapa rasanya masih saja tetap sakit?


Iin sadar, Agus tidak pernah menatapnya lebih dari sahabat dan mungkin sekarang saatnya ia melepaskan perasaannya dengan ikhlas demi menjaga hatinya untuk tidak terluka oleh sikap yang sama dan orang yang sama.


Tak perlu menunggu kepastian, nada ucapan Agus yang begitu serius sudah sangat jelas menjawab keraguan dalam hati Iin. Sekarang tidak ada lagi alasan untuk bertahan, selamanya perasaannya tak akan pernah terlihat di mata dan hati Agus, selamanya Agus hanya akan menganggap mereka adalah Sahabat.


"Agus benar, kami hanya sahabat. Tidak lebih dari hanya sekedar sahabat"


.


.


.


.


.


TBC


3 September 2019

__ADS_1


__ADS_2