Inggrid

Inggrid
Bab 4 - Radafian Jasaka Aditama


__ADS_3

Iin merutuki dirinya, mengapa ia dengan bodohnya masih menunggu balasan pesan yang dikirimnya kepada sahabatnya dua hari yang lalu?


Katakanlah Iin sudah gila menunggu ketidakpastian dari sahabatnya Agus, ia memang sudah sebucin ini pada sahabatnya sehingga mengabaikan fakta jika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Jika sahabatnya Nadira Anjani Pratiwi, atau biasa Iin panggil Nadi, mungkin akan memutuskan berhenti mengganggu pria yang ditaksirnya jika tahu cintanya tak terbalas.


Saat Iin menceritakan masalah perjodohan dan cintanya yang bertepuk sebelah tangan, Nadi sempat mengomelinya panjang lebar dan akhirnya memberinya kata-kata mutiara yang membuatnya tidak percaya bahwa kata-kata itu keluar dari mulut seorang Nadi yang dikenalnya selama bertahun - tahun sebagai gadis yang paling jutek.


Iin masih sangat mengingat dengan jelas kata-kata Nadi saat ia menelpon sahabat seperjuangannya di bangku kuliahnya itu, saat Iin tengah melakukan sesi curhat, Nadi berkata padanya;


"Keputusan tersulit yang harus kamu buat adalah ketika kamu lelah bertahan, tetapi kamu terlalu cinta untuk melepaskan. Sadarilah kapan seharusnya kamu bertahan dan kapan seharusnya kamu melepaskan. Sadarilah bahwa kamu sangat berharga!


Iin, ada saatnya kamu harus melepaskan seseorang, bukan karna kamu sudah tidak mencintainya, tapi demi menjaga hati kita sendiri agar tidak terluka lagi oleh sikap yang sama dan karna orang yang sama.


Iin, mungkin melepaskan adalah sesuatu hal yang menyakitkan, tetapi bertahan dengan orang yang hatinya tidak tau untuk siapa itu lebih menyakitkan


Berhentilah bertahan untuk sesuatu yang tidak pantas kamu pertahankan. Mungkin kamu akan berat dan terluka melepaskannya. Namun percayalah, ada yang lebih baik sebagai penyembuh yang akan datang "


Sepanjang ia bersahabat dengan Nadi, ini adalah kalimat terpanjang yang ia dengar dari seorang Nadi. Jujur perkataannya sangat menohok hati dan sudah cukup membuatnya tertengun dan merasa sakit hati akan fakta itu. Sudut hati Iin tersentil dan menolak menyetujui perkataan Nadi, namun sudut hati lain dan pikirannya amat sangat setuju dengan perkataan Nadi.


Berkat kalimat cercaan, omelan dan kata-kata mutiara Nadi, kilas balik perjuangannya selama 4 tahun ia habiskan untuk mengejar cintanya berputar dalam benaknya. Ada perasaan sakit dan tak rela saat mengetahui akhir perjuangannya mengejar Agus berakhir menyakitkan seperti ini.


Hal yang paling menyakitkan dan baru ia sadari adalah rasa sakit yang paling menyakitkan yang ia rasakan ternyata karena dirinya sendiri, ia yang memberi dirinya harapan untuk terus berjuang selama jalur kuning belum melengkung. Pada akhinya, ia jatuh dengan sangat sakit akibat harapannya sendiri.


Iin menggelengkan kepalanya, ia sudah terlalu pusing dengan memaksakan otaknya berpikir lebih. Tapi setelah memikirkan semuanya, hari ini pun ia sadar, mungkin ada baiknya belajar untuk melepaskan yang tidak pasti dan memulai memikirkan dan mempertimbangkan permintaan Ayahnya yang sudah ada didepan mata.


.


.


.


Iin memang belum memiliki jawaban atas permintaan Ayahnya untuk menerima perjodohan yang telah Ayahnya rencanakan jauh-jauh hari, bahkan sebelum ia lahir dengan sahabat sekaligus teman seperjuangannya Raidan Jaksa Aditama.


Nama sahabat Ayahnya itu jelas tidak asing. Raidan Jaksa Aditama adalah pengusahan terkenal pemilik perusahaan Aditama Crop, ia sering muncul di berbagai majalah bisnis bahkan Tv. Iin juga pernah suatu hari mengajukan jadwal pertemuan antara Arza dengan pak Raidan, sayang saat itu Iin tidak bisa ikut dalam pertemuan karna sedang sakit.


Mungkin untuk pertemuan pengajuan kerjasama antara perusahaan Ragaskara dan perusahaan Aditama yang seharusnya ikut ia hadiri mampu ia hindari walaupun saat itu ia sangat ingin bertemu dengan sosok pengusahan terkenal seperti pak Radian. Tapi untuk malam ini nampaknya Iin tak mampu menghindar dengan berbagaimacam alasan. Sebab Ayahnya dan abangnya sudah mewanti - wanti dan memaksanya ikut hadir dalam jamuan makan malam antra dua keluarga.

__ADS_1


Dan disinilah Iin berada, di sebuah restoran jepang berbintang lima bersama dengan Ayah dan Abangnya. Mereka baru saja datang dan saat ini tengah di pandu oleh pelayan yang menuntun mereka menuju ruangan privat yang berada di lantai dua.


Mungkin jika ini adalah pertemuan biasa dengan rekan kerja bosnya, Iin pasti akan sangat senang apa lagi saat mengetahui tempat makan mereka merupakan restoran jepang. Sayang Iin lebih banyak di landa khawatir dan cemas walaupun pertemuan makan malam ini hanya dalam rangka silaturahmi sekaligus reuni untuk Ayahnya dan sahabat Ayahnya.


Iin merangkul lengan Keano dengan sangat erat ketika pelayan membuka pintu ruangan yang telah di pesanan keluarga Aditama. Untuk pertama kalinya Iin merasa sangat gugup, padahal pekerjaannya yang sebagai seorang sekertaris kadang kala membuatnya harus terlihat percaya diri. Namun untuk malam ini Iin rasa, rasa percaya dirinya tiba-tiba hilang saat ini juga.


.


.


.


Saat mereka telah memasuki ruangan privat yang sangat kental bergaya jepang tradisional, seorang pria yang seusia sama dengan Ayahnya menyambut kedatangan mereka bertiga.


Pria yang masih nampak tampan walaupun usianya telah menginjak 40an itu membawa mereka menuju keluarganya yang lebih dulu datang. Di sana dapat Iin lihat seorang wanita cantik dan seorang pemuda yang masih nampak seperti anak SMA.


Tunggu, anak SMA?


Really?


Jangan bilang dia yang akan di jodohkan dengan Iin?!


Istri Radian yang bernama Kinanti Aditama yang sedari tadi melihat reaksi lucu dan mengemaskan Iin yang masih memeluk lengan Keano pun terkekeh.


"Inggrid nggak usah khawatir, Inggrid nggak bakal di jodohin dengan Dipta kok, tapi sama Mas-nya" kata Kinan yang entah mengapa membuat Iin merasa sangat lega.


"Ohiya, perkenalkan nama tante Kinanti Aditama. Panggil tante Kinan aja, tapi kalau Inggrid udah nikah sama anaknya tante kudu manggil mama yah" kata Kinan begitu lembut sampai-sampai membuat Iin sulit berkedip saking tak inginnya melewatkan segala gerakan wanita cantik di hadapannya.


Iin melepas rangkulannya di lengan Keano, ia lantas menyalami tante Kinan dan mencium punggung tangannya sebelum menjawab "Inggrid Bagaskara, tante panggil Iin aja" setelah memperkenalkan diri, Iin berpikir jabat tangan antar mereka akan segera lepas namun nyatanya tante Kinan menariknya dan pada akhirnya ia menubruk tubuh tante Kinan dan tanpa disangka tante Kinan memeluknya erat.


Iin jelas sangat terkejut, namun keterkejutannya tak bertahan berapa lama saat hatinya tersentuh dan merasa nyaman dan hangat dalam dekapan tante Kinan.


"Ternyata Iin lebih cantik dari yang di foto ya, Ma" kata Radian mendekati keduanya.


Kinanti melepas pelukannya dan mengangguk setuju "Kinan bahkan nggak percaya Mas kalau Iin secantik ini. Padahal hari itu Kinan yang foto loh" jawab Kinanti

__ADS_1


"Foto?" Beo Iin bingung dengan apa yang di bahas pasang suami istri yang nampak sangat harmonis tersebut.


"Iin nggak perlu tahu" jawab Kinanti yang membuat Rega, Keano dan suaminya terkekeh geli melihat tingkah kekanakan Kinanti.


"Udah-udah sekarang kita duduk dulu yuk, sambil nunggu Dafa datang. Katanya ia sudah di jalan, maklum ya hari ini ia dapat jadwal operasi soalnya" kata Radian memersilahkan sahabat dan anak sahabatnya duduk.


Setelah mereka semua duduk, Radian baru ingat jika ia belum memperkenalkan putra bungsunya.


"Ohiya, saya lupa memperkenalkan si bungsu. Namanya Radipta Jayaksa Aditama, Dipta ayo salaman sama Om dan bang Keano dan mbak Iin" perintah Radian pada putra bungsunya.


Dipta dengan patuh menuruti perintah Papanya dan menyalami mereka semua. Setelah itu Dipta kembali ke kursinya, kembali membuka buku yang ia baca dan melanjutkan bacaanya di banding ikut mengobrol dengan para orang tua.


"Hehehe maaf yah mas Rega, Keano dan Iin. Dipta emang anaknya dingin dan pendiam dengan orang baru, aslinya dia itu cerewet dan manja banget kalau ada maunya" kata Kinanti memberi penjelasan pada Rega, Keano dan Iin agar ketiganya maklum dengan sikap putra bungsunya. Dipta yang merasa disinggung memutar bola matanya malas, lalu ia kembali melanjutkan bacaannya.


"Nggak papa Kinan, kita maklum kok" balas Rega yang mewakili Keano dan Iin.


Tak berselang berapa lama, obrolan mulai mengalir menganak sungai. Obrolan lebih banyak di dominasi oleh Radian, Kinanti dan Rega, dimana ketiganya mulai bernostalgia dengan kenagan-kenangan masa lalu mereka. Sedangkan Iin dan Keano sibuk mengobrol masalah pekerjaan Keano yang berprofesi sebagai polisi, sama seperti dengan Agus.


Hati Iin berdenyut sakit, mengapa di saat seperti ini ia harus mengingat pria yang selalu memberinya luka dan rasa sakit atas ketidak pekaannya terhadap perasaan Iin. Di saat Iin termenung, suara berat seseorang membuyarkan lamunannya.


"Maaf saya terlambat" kata pria yang baru saja masuk dengan mengenakan kemeja berwarna navi dengan salah satu kancinya telah lepas di bagian kerah, ia memadukan kemejanya dengan celana bahan berwarna hakki.


Semua orang menoleh menatap pria yang baru saja datang, tidak terkecuali dengan Iin yang nyaris meneteskan liurnya akan pemandangan yang membuat Iin tak ingin berkedip.


"Ah, ini dia si sulung. Radafian Jasaka Aditama"


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC


20 Agustus 2019


__ADS_2