
Disinilah saat ini Dafa dan Iin berada, di meja pojok restoran padang yang merupakan tempat pertemuanya dengan Ayana dan Irfan yang akan menangani pernikahan mereka. Saat ini dihadapan keduanya bukan lagi Ayana dan Irfan, melainkan Widiya dan Zaka yang merupakan bagian kelam dan pahit dari masalalu seorang Dafa.
"Bisa nggak kalian bicara sekarang, gue nggak punya banyak waktu" kata Dafa ketus
Iin mengusap lengan Dafa agar emosi pria yang duduk disampingnya itu mereda. Iin tahu Dafa sangat kesal dengan dua orang yang berada dihadapan mereka. Sudah 30 menit mereka saling berhadapan tapi tak ada satupun dari mereka yang mulai berbicara, sedangkan Dafa yang merasa waktunya terbuang sia-sia mulai meledak.
Iin memang belum pernah melihat Dafa marah atau bersikap sangat dingin seperti ini, ia memang sedikit terkejut dengan sikap Dafa namun Iin berusaha memaklumi bahwa Dafa saat ini berusahan melawan egonya ketika berhadapan dengan Widiya dan Zaka.
"Kalau kalian nggak mau bicara, lebih baik gue dan calon istri gue balik. Percuma tau nggak ladenin kalian, buang-buang waktu aja" kata Dafa mulai berang dan beranjak bangun dari duduknya dan menarik Iin ikut bangun dan hendak pergi dengannya.
Saat Dafa hendak melangkah pergi meninggalkan meja tersebut, Widiya beranjak bangun dan kembali menahan mereka.
"Daf tunggu!" Tahan Widiya.
"Gue minta maaf kalau lo merasa waktu lo dan calon istri lo terbuang sia-sia, tapi sumpah demi Tuhan Daf, gue ataupun Zaka nggak ada niat buat lo nunggu pengakuan dan penyesalan kami" kata Widiya
"Gue mohon sekali aja, lo dan calon istri lo duduk ya. Kita selesaikan ini dengan baik-baik" pinta Widiya.
__ADS_1
Iin tak berkata apapun langsung menarik Dafa kembali duduk, Dafa menoleh tidak percaya menatap Iin yang lebih memilih mendengarkan permintaan Widiya di banding dengan keinginannya yang ingin membawa Iin segera pergi dari hadapan kedua orang yang tak ingin Dafa temui.
"Bukankah semalam kamu mengatakan ingin membuka diri dan berusaha berdamai dengan masa lalu? Hari ini Tuhan mengijabah doamu, Tuhan mempertemukan kalian semata-mata ingin masalah diantara kalian selesai dengan baik-baik walaupun mungkin akan sangat sulit untuk membuat hubungan kalian seperti semula.
Dafa, jangan kekanakan. Hadapi mereka dengan kepala terangkat, disini merekalah yang salah bukan kamu. Jadi jangan terus menghindar, ingat ada saya yang selalu menemani dan mengahadapi penjelasan mereka bersama-sama" bisik Iin yang menghangatkan hati Dafa.
"Dafa gue dan Zaka minta maaf atas kejadian 5 tahun yang lalu. Maaf karena tidak jujur saat itu gue dan Zaka tengah menjalin hubungan serius, sebelum lo datang lamar gue, Zaka adalah orang pertama yang datang sebelum lo. Sayang orang tua gue nolak Zaka karena saat itu Zaka belum memiliki pekerjaan tetap, tapi saat lo datang melamar orang tua gue langsung nerima lo karena lo sudah terjamin memiliki masa depan terlebih lagi lo dari keluarga yang berada.
Awalnya gue ingin jujur sama lo waktu itu, sayang orang tua gue ngancem buat usir gue dari rumah jika berani beri tahu lo alasan mereka menerima lamaran lo hanya untuk mencari suntikan dana buat perusahaan bokap yang hampir bangkrut.
Saat itu gue memilih tetap jujur pada lo dan lari bersama Zaka, gue ikhlas di usir dari rumah demi mengatakan yang sejujurnya bahwa bokap dan nyokap hanya ingin memanfaatkan lo lewat pernikahaan ini. Jujur aja Daf, gue sayang lo sebagai sahabat gue. Maka dari itu gue bahkan rela menghancurkan rencana kotor orang tua gue, membatalkan pernikahan kita dan pergi bersama cinta gue karena gue nggak ingin lo terluka" jelas Widiya mulai terisak.
"Gue minta maaf Dafa, gue bersalah" isak Widiya semakin kencang.
Zaka berusaha menekangkan istrinya dengan membawa Widiya dalam dekapannya dan memberinya usapan lembut di punggung rapuh wanita itu.
"Disini bukan hanya Widiya yang salah, tapi gue juga salah nggak jujur dari awal mengenai perasaan gue pada Widiya" Zaka menjeda sesaat karena merasakan suaranya mencekat. "Gue minta maaf, atas kesalahan gue dan Widiya Dafa. Kami nggak bermaksud buat lukai lo terlalu dalam. Maaf kami baru bisa mengakui dan menyesali perbuatan kami, selama bertahun-tahun kami terus berusaha mencari keberadaan lo, tapi nampaknya kedua orang tua lo juga masih belum memaafkan kesalahan kami sampai menyembunyikan keberadaan lo
__ADS_1
Jujur selama 5 tahun kami selalu dibayangi rasa bersalah terhadap lo, selama 5 tahun pula kami memohon pada Tuhan agar di pertemuakan dengan lo buat nebus kesalahan kami.
Gue dan Widiya mengaku bersalah, kami minta maaf. Terserah lo mau maafin kami atau enggak, setidaknya kami udah berusaha menjelaskan semuanya dan mengakui penyesalan kami pada lo. Jujur gue merasa amat lega setelah mengakui kesalahan yang gue perbuat selama bertahun-tahun" kata Zaka.
Dafa termenung sejenak dan memikirkan perkataan Zaka dan Widiya, ia lalu menoleh menatap Iin yang balik balas menatapnya. Gadis di sampingnya memberinya sebuah senyum manis yang membuat Dafa berpikir, mungkin sekaranglah saatnya untuk memaafkan mereka.
"Gue memaafkan kalian, tapi untuk melupakan masa lalu dan kesalahan yang kalian perbuat, aku masih belum bisa melupakan hal itu sepenuhnya"
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC
6 September 2019