
Seharusnya lobi perusahaan Ragaskara Crop sudah sepi sejak 20 menit yang lalu. Namun karena keberadaan sosok Rafadian Jasaka Aditama yang duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di lobi, menarik perhatian para kaum Hawa yang memilih tinggal dan menatap dengan penuh kekaguman akan sosoknya.
Dafa yang ditatap demikian bersikap biasa saja, ia sudah biasa mendapat tatapan kagum ataupun memuja dari para kaum Hawa yang tak sengaja bertemu atau berpapasan dengannya. Jujur saja, Dafa tak ingin menyombongkan diri, tapi memang seperti inilah kenyataannya. Ia akan selalu menjadi pusat perhatian kaum wanita yang mengagumi pria berwajah tampan.
Saat ini Dafa sama sekali tidak mengubris suasana di sekitarnya, ia saat ini tengah sibuk bermain dengan ponsel sambil menunggu kedatangan Iin. Keberadaannya disini tentu saja ingin menjelaskan kepada Iin alasan mengapa ia mengaku sebagai calon suami gadis itu. Padahal mereka berdua sama-sama belum menerima perjodohan yang telah di rencanakan orang tua mereka.
Jujur saja, Dafa tidak tahu ada apa dengan dirinya, ia tak tahu mengapa ia dengan spontan mengaku kepada sahabat Iin bahwa ia adalah calon suami Iin. Entahlah, saat melihat beberapa karyawan di butik sahabat Iin, saat itu pula perasaan asing menyerangnya dan dengan spontan ia mulai mengklaim Iin sebagai calon istrinya di hadapan semua orang yang berada di butik pagi tadi.
Dafa tidak rahu, entah mengapa merasa tidak suka jika ada pria lain yang mengagumi ataupun memuja Iin. Dafa juga tak tahu, mengapa ia bersikap seperti ini padahal mereka berdua belum terikat apapun. Mungkinkah Dafa mulai menyukai Iin?
Memikirkan hal itu Dafa lantas menggeleng, mengapa ia bisa berpikir mulai menyukai Iin? Pertemuan dan perkenalan mereka sangat singkat dan masih mampu di hitung jari, lantas bagaimana bisa ia semudah itu memiliki rasa kepada Iin, bukankah itu hal yang mustahil?
Walaupun Dafa terus menguatkan dirinya bahwa apa yang ia pikirkan adalah kemustahilan, namun hatinya menjerit dan meronta seakan mengatakan ia terlalu berpikiran dangkal jika berpikir demikian. Karena nyatanya, ia bisa saja jatuh cinta pada Iin dengan sangat mudah, hanya saja Dafa masih berusaha keras untuk menyangkal kenyataan itu.
.
.
__ADS_1
.
Saat Iin sampai di lobi perusahaan Ragaskara Crop, ia di kejutkan oleh sekumpulan karyawan yang nampak masih betah tinggal berlama-lama di lobi. Iin tidak tahu apa yang membuat mereka masih saja berkumpul, padahal biasanya mereka akan menjadi orang yang tepat waktu untuk masalah pulang. Hanya ada beberapa alasan yang biasanya membuat beberapa karyawan kantor di tempatnya bekerja tetap tinggal di lobi; pertama karena adanya pengumuman atau penyampaian penting, kedua karena hujan turun begitu deras sehingga membuat mereka yang tidak membawa payung ataupun mantel hujan menunggu hingga hujan reda, ketiga karena menunggu jemputan dan keempat di lobi perusahaan mereka kedatangan artis atau aktor terkenal yang membuat mereka nyaris meneteskan liur saking terpesonanya.
Alasan pertama Iin rasa tidak mungkin, jika memang ada pengumuman ataupun penyampaian hal yang penting, Arza akan lebih dulu memberi tahunya. Alasan kedua pun mustahil, sebab di luar langit sore masih sangat cerah dan tak ada tanda-tanda jika akan turun hujan. Dan Alasan ketiga mungkin saja, mungkin juga tidak, tapi alasan keempat nampaknya lebih cocok saat salah satu karyawan yang tinggal di lobi sedari tadi memekik heboh dengan menyebut nama salah satu aktor korea tampan yang menjadi daftar aktor tampan korea favorit Iin.
"Ya Allah, beruntungnya gue ketemu Jo Im Sung Kw di lobi perusahaan"
"Mimpi apa gue semalam?"
Dan bla bla bla bla ~~
Seketika sebuah ide melintas dalam kepala Iin, ia ingin membuat dirinya dan Dafa seri. Dengan langkah percaya diri dan perubahan raut wajah yang berubah drastis, Iin melangkah membelah kerumunan dan berteriak.
"Sayang... udah lama nunggunya?" Tanya Iin menghampiri Dafa yang mendongak menatapnya.
Iin tersenyum manis pada Dafa, Dafa jelas tidak mengerti dengan apa yang Iin lakukan. Jujur saja sebenarnya Iin hanya ingin bermain-main dengan para karyawan di perusahaan keluarganya.
__ADS_1
"Anggap saja kita sekarang seri. Satu sama" kata Iin menarik Dafa berdiri dan melangkah keluar dari lobi yang mana membuat beberapa karyawan perusahaan yang sedari tadi menatap Dafa dengan tatapan kagum dan memuja histeris.
"Huwwaa, Jong Im Sung Kw punyanya mbak Iin"
"Gue ngiri!"
.
.
.
.
.
TBC
__ADS_1
30 Agustus 2019