
Gugup?
Tak usah di tanya, sedari tadi Dafa di landa rasa gugup hingga ia terus saja mondar mandir di hadapan Dipta yang mulai bosan melihat abangnya berlalu lalang dihadapannya.
Seperti kebanyakan mempelai pengantin pria yang gugup saat akan melaksanakan Ijab kabulnya sebentar lagi, rasa takut dan cemas tentu saja mendominasi mereka saat ini. Saat hari pernikahannya dulu, Dafa tidak merasakan rasa gugup seperti yang ia rasakan saat ini. Sebab rasa gugupnya hilang di gantikan rasa marah dan kecewa atas pengkhianatan Widiya dan Zaka. Tapi hari ini berbeda, ia akan kembali melaksanakan pernikahan, dan semoga kejadian 5 tahun yang lalu tidak kembali terulang.
Dafa meremas jemarinya yang mengeluarkan keringat dingin, sebentar lagi rombongan keluarga besarnya akan berangkat menuju rumah Iin dimana acara ijab kabul di selenggarakan disana dan setelah ijab kabul mereka akan langsung menuju hotel tempat resepsi pernikahan mereka.
Dafa sangat gugup luar biasa, ia cemas dan takut apabila saat mengucapkan kalimat ijab ia melakukan kesalahan. Dipta yang sudah muak melihat Dafa mondar mandir dihadapannya lantas menegur abangnya, sumpah sejak 30 menit yang lalu mengamati abangnya yang mondar mandir membuat kesabaran Dipta terkuras habis karena emosi.
"Bang bisa diam nggak?" Tanya Dipta "Ipta capek liat abang mondar mandir terus, bikin puyeng tau nggak?!" Tambah Dipta yang sama sekali tidak menyembunyikan nada kesal pada kalimatnya.
"Abang nggak bisa diam dek, abang gugup karna mau ijab kabul" keluh Dafa.
"Ngapain gugup segala? Abang cuma perlu nenangin diri, toh abang udah hafal kan apa yang Papa ajarin semalam?" Tanya Dipta yang langsung di balas anggukan oleh Dafa.
"Nah itu udah hafal, sekarang abang duduk diam. Perbanyak baca doa biar hatinya tenang, ijab kabul dan resepsi pernikahannya lancar" omel Dipta.
Dafa tidak tahu sejak kapan adiknya bersikap dewasa dan sebijak itu, tapi Dafa menyadari bahwa omelan adiknya itu adalah sesuatu benar.
.
.
__ADS_1
.
Iin meremas ujung kebaya putih yang membalut tubuhnya, ia begitu gugup dan cemas di dalam kamarnya ditemani oleh dua sahabatnya, Nadi dan juga Anaya.
Saat ini Satria tak mampu datang di hari bahagia Iin, hal itu dikarenakan Satria baru saja di pindah tugaskan ke Palu. Sahabatnya itu hanya mengirim pesan permohonan maaf tak lupa memberi doa padanya semoga menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahma.
Sedangkan untuk Agus, sahabatnya itu juga tidak bisa datang di acara Akad nikah Iin yang sebentar lagi berlangsung. Itu dikarenakan Agus sedang mendapat piket bertugas pagi, ia berjanji akan datang ketika resepsi pernikahannya yang akan di selenggarakan di hotel yang tidak jauh dari rumahnya malam nanti.
"Muka lo kok tengang amat sih In?" Tanya Anaya mengoda sahabatnya yang tengah dilanda rasa gugup hebat karena sebentar lagi ia akan resmi melepas masa lajangnya.
"Gue gugup Nay, emang lo pas nikah sama Irfan nggak gugup apa?" Tanya Iin balik.
"Lah, guguplah" jawab Anaya "tapi pas Irfan selesai ijab kabul dengan satu tarikan nafas, gue langsung ngerasa lega sekaligus terharu" tambah Anaya mengenang masa-masa akad nikahnya dulu.
Dari kamarnya, Iin melihat Dafa yang begitu tampan dengan balutan setelan jas berwarna putih yang senada dengan kebayanya mulai menjabat tangan Ayahnya.
Rega mulai mengucapkan kalimat Ijab dan langsung di jawab Dafa dengan kalimat kabul dengan satu tarikan nafas. Untuk sesaat, Iin menahan nafasnya tanpa sebab. Setelah Dafa mengucapkan kalimat kabul dengan lancar, seperti yang Anaya katakan ia merasa lega juga terharu secara bersamaan.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Inggrid Ragaskara binti Rega Ragaskara dengan mas kawin tersebut di bayar tunai" ucap Dafa dengan satu kali tarikan nafas
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sah!"
__ADS_1
Mendengar para saksi mengatakan 'Sah' seketika itu juga air mata Iin kian mengalir. Hari ini ia telah melepas masa lajangnya, hari ini pula ia telah resmi menjadi istri seorang Radafian Jasaka Aditama.
Setelah kata 'SAH' di kumandangkan para saksi, maka saat itu juga Iin sadar bahwa tidak ada lagi kesempatan untuknya memperjuangkan perasaannya pada Agus, karena saat ini ia sepenuhnya telah menjadi milik Dafa secara hukum dan agama.
"Cie, yang udah SAH!" Goda Nadi yang membuyarkan lamunan Iin.
"Uhuk.. uhuk, udah Sah nih yekk!" Goda Anaya yang juga tak ingin ketinggalan mengoda Iin yang kini kedua pipinya semakin merona merah.
"Apa sih?"
.
.
.
.
.
TBC
13 September 2019
__ADS_1