Inggrid

Inggrid
Bab 21 - Secepat itu?


__ADS_3

Hari ini hari minggu, dan karena hari minggu, Iin memilih tetap tidur dan bercumbu dengan kasurnya yang nyaman dan tak peduli jika matahari semakin beranjak naik. Karena semalam menemani Ayah dan Abangnya begadang, alhasil jatah tidur Iin berkurang. Ditambah pekerjaan dari senin hingga jumat yang menumpuk dan menguras banyak tenaga membuat Iin selalu melampiaskan rasa lelahnya di atas kasur setiap hari minggu.


Hari minggu adalah waktu Iin untuk istirahat, Rega dan Keano sangat hafal dengan kebiasaan Iin yang akan bangun ketika hari sudah menjelang siang. Mereka tidak pernah akan mengganggu waktu Iin beristirahat di hari minggu, sebab mereka paham pekerjaan Iin dan memikirkannya saja sudah sangat melelahkan ditambah lagi harus mengurus bayi besarnya Arza di perusahaan sangat membuat Ayah dan Abangnya paham betul bagaimana lelahnya Iin.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Rega melangkah kedepan rumahnya saat mendengar sebuah salam, saat ia membuka pintu wajah ponakan dan cucunya lebih dulu memasuki penglihatannya.


"Loh Arza" kata Fahri terkejut


"Iya ini Arza loh Ayah, siapa lagi kalau bukan anak Ayah yang datang"


"Masuk, masuk" kata Rega mempersilakan Arza dan keluarga kecilnya masuk kerumah.


"Sini dong Arfanya sama kakek" kata Rega mengambil alih putra pertama Arza dan Faya


"Akek, akek"


"Iya sayang, ini kakek" kata Rega mengendong Arfa dengan semangat.


"Ente.. ente"


"Tante Iin belum bangun sayang, hari minggu itu tante bangun telat" jelas Rega pada Arfa yang menatapnya bingung.


"Seriusan yah, Dedek belum bangun?" Tanya Arza.


"Serius bang, itu juga gara-gara Abang noh makanya Iin bangun telat" seloroh Keano yang baru datang dari dapur dan membawa nampan yang berisi minuman dan makanan ke ruang keluarga.


"Loh kok Abang si No?" Protes Arza


"Lah siapa lagi coba? Memang Mas kan yang sibuknya luar biasa sampai Iin juga harus terseret ikut kesibukan Mas" kata Faya menjadi kubu pembela.


"Tks, kamu juga ikut-ikutan nuduh aku Yang?" Tanya Arza tidak percaya.

__ADS_1


"Aku nggak nuduh tuh, emang kenyataannya gitukan?" Kata Faya acuh.


"Tapi nanti Iin bakal berhenti kerja, jadi sekarang kamu cepat cari gih sekertaris baru buat urusin jadwal kamu nanti" kata Rega


"Loh Dedek kenapa mau berhenti kerja Yah? Kok nggak bilang sebelumnya sama Arza?" Tanya Arza terkejut dengan apa yang Rega katakan.


"Soalnya Dedek bakal nikah tuh bang, nah Dedek pernah bilang kalau udah mau nikah bakal berhenti kerja biar bisa ngurus rumah tangga" jawab Keano yang kini mulai bermain dengan Arfa yang terus bercoloteh ria di pangkuan Rega dengan bahasa bayinya.


"A-apa? Dedek mau nikah?"


.


.


.


Malam ini Kinanti sibuk mondar mandir dari dapur ke meja makan, dari meja makan ke dapur lagi. Kegiatannya itu terus berulang hingga meja makan di rumah kediamannya penuh dengan makanan.


Malam ini keluarga Rega akan datang membahas lebih lanjut masalah perjodohan Dafa dan Iin, karena begitu semangat membahas masa depan Dafa dan Iin, ia langsung turun tangan memasak bahkan menyiapkan semua makanan di meja malam ini tanpa bantuan para ART-nya.


"Yee.. ini malah kurang banyak Ipta" jawab Kinanti


"Kurang banyak apanya, meja aja udah penuh tuh" kata Dipta tidak percaya dengan perkataan Mamanya yang mengatakan makanan di meja makan kurang banyak.


"Udah ah nggak usah protes kamu. Pergi aja sana temani Abangmu di ruang keluarga, jangan ganggu Mama yang lagi kerja" usir Kinanti yang membuat Dipta melangkah mendekati Dafa dengan wajah cemberut.


"Abang, apakah Mama tidak berlebihan memasak sebanyak itu?" Tanya Dipta setelah berhasil menjatuhkan pantatnya di sofa embuk yang ada di ruang keluarga.


"Biarkan saja dek, itu berarti Mama lagi dalam suasana hati yang baik" nasehat Dafa.


"Tapikan itu sama aja pemborosan bang, yakin semua makanan itu bakal habis?" Tanya Dipta lagi dengan nada kesal.


"Kamu kira makanan itu cuman untuk keluarga kita aja?" Tanya Dafa balik.


"Keluarga om Rega juga bakal makan malam disini dek, wajarlah Mama masak banyak biar nggak malu. Taulah Mama orangnya gimana? Biarin aja Mama senang, emang kamu nggak senang liat Mama senang?" Tanya Dafa lagi.

__ADS_1


"Ya senanglah bang, cuma sayang aja sama makanannya kalau nggak habis" balas Dipta.


"Udah, kamu nggak usah mikirin itu. Sekarang Abang tanya kamu suka nggak kalau Abang nikah dengan Iin?" Tanya Dafa


"Tergantung" balas Dipta "Tergantung apakah Abang bahagia atau tidak. Dipta sih selama Abang bahagia, Dipta juga bakal bahagia" jawab Dipta yang langsung membuat Dafa memeluknya sayang.


"Uh, adek gue kok bijak banget sih kata-katanya. Perasaan dulu masih ingusan deh" kata Dafa


"Enak aja, Dipta udah kelas 3 SMP ya bang!" Protes Dipta.


"Emang Abang nikahnya kapan?" Tanya Dipta


"Tiga bulan dari sekarang" Itu tentu saja bukan Dafa yang menjawab, melainkan Raidan yang kini bergabung dengan kedua putranya.


"Ti-tiga bulan da-ri sekarang?" Beo Dafa terbata.


"Iya"


"Serius? Secepat itu?" tanya Dafa tidak percaya


"Lebih cepat lebih baik Dafa" jawab Raidan jumawa.


.


.


.


.


.


TBC


5 September 2019

__ADS_1


__ADS_2