Inggrid

Inggrid
Bab 6 - Dr. Radafian Jasaka Aditama, SpA


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Iin lebih banyak diam di karnakan sang pemilik mobil yang ia tumpangi bahkan tidak mengajaknya mengobrol karna terlalu fokus menatap jalanan di depannya. Mungkin jika Iin sudah mengenal lama Dafa, ia akan memutar radio untuk menghilangkan kebosanannya. Sayangnya mereka baru saja bertemu dan Iin tak ingin memberi kesan pertama yang buruk karna kelancangannya.


Kerap kali Iin menguap, suasana di dalam mobil begitu hening dan dingin tiba - tiba saja membuat Iin merasa sangat bosan dan berakhir mengantuk. Jujur saja Iin merasa sangat canggung, ia tak tahu ingin memulai obrolan dari mana? Terlebih seperti kebanyakan orang, Iin merasa malu di pertemuan pertama keduanya.


Saat makan malam berlangsung, mereka berdua tidak banyak mengobrol. Boleh dikata obrolan yang lebih di dominasi dilakukan oleh para orang tua, sedangkan abangnya Keano sibuk mengobrol dengan Dafa yang ternyata juga merupakan alumni SMA Negeri 1 Harapan, keduanya baru sadar bahwa mereka dulu adalah kakak kelas dan adik kelas. Keano adalah kakak kelas Dafa, sedangkan Dafa adalah adik kelas Keano. Jika di lihat pertemuan keduanya, dunia berasa hanya selebar daun kelor saja.


Memikirkan hal yang baru saja berlalu membuat Iin merasa senang dan juga merasa sedih secara bersamaan. Iin senang karna malam ini adalah malam pertama kalinya ia melihat ayahnya kembali tertawa lepas setalah 11 tahun mendiang ibunya meninggal dunia, dan Iin juga merasa sedih karna waktu berjalan begitu cepat padahal ia tidak mengobrol begitu banyak.


Bosan dengan suasana yang begitu hening dan dingin yang mencekam, Iin memilih menyandarkan kepalanya pada kursi penumpang. Kepalanya ia putar menghadap jendela.


Dari balik jendela, Iin dapat melihat banyaknya orang yang berlalu lalang, kendaraan yang hilir mudik, hingga pemandangan lampu lampu hias yang kerlap kerlip ketika malam hari di alun-alun kota. Pemandangan malam hari di ibukota dua kali lebih cantik dari pada pemandangan di pagi hari. Untuk sejenak, rasa bosan Iin hilang hanya karna memandang pemandangan ibukota sepanjang perjalanan.


.


.


.


Iin tidak sadar jika saat ini mobil milik Dafa telah berhenti di halaman parkiran Rumah Sakit Umum Medika. Saat Iin menoleh ke kursi kemudi, ia tak menemukan sosok Dafa disana.


Saat panik mencari sosok Dafa, sebuah ketukan dari arah jendela pintu di sampingnya membuat Iin spontan menoleh. Iin menghela nafas lega saat menemukan sosok Dafa berada di luar mobil dan menunggunya, ia segera turun dari mobilnya.

__ADS_1


Iin pikir Dafa meninggalkannya dan lebih parahnya menguncinya di dalam mobil, tapi ternyata pikiran buruknya sama sekali tidak terjadi karena nyatanya Dafa dengan sabar menunggunya diluar walaupun Iin tahu udara dimalam hari cukup dingin.


Iin segera keluar setelah melepas sabuk pengamannya, ia lalu menutup pintu mobil Dafa. Saat Iin sudah berada di luar, Dafa melangkah lebih dulu memasuki rumah sakit yang masih nampak ramai padahal sebentar lagi jam besuk akan di tutup. Iin mengikuti langkah Dafa dari belakang, jarak antara keduanya sekitar 1 meter dan itu membuat banyak orang berpikir jika keduanya hanya tidak sengaja bertemu di tengah jalan dan bukan orang yang datang bersama.


Adapun beberapa yang beranggap bahwa Dafa dan Iin adalah kakak adik, dimana Iin mungkin saja tengah berbuat salah sehingga Dafa marah padanya dan akhirnya mereka membuat jarak.


Iin tidak peduli dengan tatapan banyak orang, ia hanya fokus mengikuti langkah Dafa yang berada di depan. Walaupun saat ini aroma obat-obatan dan antiseptik begitu tajam di penciuman Iin hingga berhasil membuat Iin pusing.


Di tengah perjalanan ponsel Iin berbunyi, ada beberapa notifikasi WhatsApp yang masuk. Penasaran dengan orang yang mengiriminya pesan Wa, Iin lantas segera membuka ponselnya dan melihat siapa-siapa yang mengechatnya. Namun saat ia memasuki aplikasi WhatsApp, saat itu juga Iin merasa menyesal sempat mengaktifkan datanya. Sebab saat ini, ia begitu kesal dengan seseorang yang baru saja mengiriminya pesan.


Agus Dirgantara


Makasih In, loh memang yang terbaik 😘


Agus Dirgantara


Iin sadar, apa yang dikatakan Agus lewat pesan yang ia kirim hanyalah kebohongan belaka. Jika memang ia sibuk menghabiskan waktu bersama Felkarea Mansur, mengapa tidak membalas pesannya pada saat ia membaca pesan darinya?


Iin tahu Agus pasti punya alasan lain kenapa ia tidak membalas pesannya waktu itu. Iin sadar ia tidak berhak marah pada Agus karna statusnya disini hanyalah seorang sahabat. Entah mereka memang mereka sahabat atau hanya dirinya yang menganggap bahwa mereka bersahabat, Iin sama sekali tidak peduli. Saat ini ia tak ingin membalas ataupun bertemu dengan Agus. Sebab ia sudah terlanjur kecewa dan sakit hati dengan sahabatnya itu.


Saat Iin dengan kesal menaruh kembali ponselnya ke dalam tasnya tanpa melihat sekitar. Seketika kening Iin menabrak sesuatu yang keras, Iin mengaduh dan mengusap keningnya yang terasa sakit dan berdenyut. Saat Iin hendak mencerca dengan penuh kemarahan, kata -- 'Kalau jalan lihat-lihat dong!'-- yang ingin ia lontarkan tertahan di tengorokannya saat sadar saat ini ia tengah menabrak dada bidang Dafa yang cukup keras.

__ADS_1


"Kalau jalan, jangan main ponsel. Untung kamu nambrak saya, kening kamu masih aman. Coba kalau nabrak tembok, beruntung kalau keningnya hanya benjol, tapi kalau kamu pingsan atau tulang kepala kamu retak. Siapa yang mau tanggung jawab?" Tanya Dafa menyadarkan kesalahan dan kecerobohan Iin.


Iin meringis tidak enak dan sebelum mendapat omelan panjang, Iin lebih dulu meminta maaf.


Dafa hanya mampu menghembuskan nafas berat, ia lalu berbalik dan berkata "Saya maafkan, tapi jangan ulangi lagi. Saat ini kamu tanggung jawab saya, om Fahri menitipkanmu sama saya dan saya harus menjagamu agar tetap selamat sampai rumah" kata Dafa yang entah mengapa mampu meredam amarah Iin yang sempat mencuak di permukaan karna balasan pesan dari Agus.


"Ini ruangan kerja saya, ayo masuk" kata Dafa membuyarkan lamunan Iin.


Sebelum masuk ke dalam ruangan Dafa, Iin sempat melirik pintu dimana disana ada sebuah papan yang bertuliskan Dr. Radafian Jasaka Aditama, SpA. Saat membaca gelar di belakang nama Dafa, mata Iin membulat.


SpA jelas kepanjangan dari Spesialis Anak. Hal yang membuat Iin terkejut dan tidak habis pikir itu adalah, bagaimana bisa orang yang nampak dingin seperti Dafa mengambil spesialis anak?


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC


21 Agustus 2019


__ADS_2