
Kenyataannya tidak ada yang terjadi diantara keduanya. Baik Iin ataupun Dafa bahkan terlalu lelah untuk memikirkan ataupun melakukan kegiatan malam pertama seperti kebanyakan pasangan suami istri lakukan.
Tenaga mereka terkuras habis selama resepsi pernikahan. Bangun duduk salam, bangun duduk salam adalah hal yang selama resepsi mereka lakukan. Bersalaman dan melempar senyum merekah sudah membuat keduanya kelelahan, tidak ada yang dapat mereka lakukan selain hanya tidur berdua di atas ranjang yang sama tanpa melakukan kegiatan tambahan.
Saat ini Dafa dan Iin baru saja menyelesaikan sholat subuh yang pertama kali mereka lakukan secara berjamaah. Setelah keduanya selesai berdua, Iin mulai menyalami Dafa dan tak lupa mencium punggung tangan pria yang telah sah menjadi suaminya.
Entah mengapa Dafa merasa hatinya menghangat hanya karena Iin menyalami dan mencium punggung tangannya. Jujur saja Dafa menyukai perasaan hangat yang kini ia rasakan, walaupun sangat sulit bagi Dafa menyangkal kalau ia masih belum terbiasa.
"Dek" panggil Dafa saat Iin mulai melipat mukenanya.
"Iya mas"
"Kamu tidak keberatan kan jika kita langsung pulang kerumah kita, bukan rumah Ayah ataupun rumah Papa Mama?" Tanya Dafa hati-hati.
Iin mengangguk dan menjawab "Iin ikut sama mas Dafa maunya dimana. Mas Dafa kan suami Iin, jadi Iin otomatis ikut kemauan mas" jawab Iin
"Walaupun demikian mas juga harus dengar pendapatmu dek" balas Dafa
"Ohiya, mas mau minta maaf. Semalam mas lancang buka ponselnya kamu" kata Dafa
Iin yang mendengar hal itu cukup terkejut karena tidak tahu jika semalam Dafa membuka ponselnya.
__ADS_1
"Kamu marah?" Tanya Dafa menatap Iin dalam.
Iin menggeleng.
"Iin nggak marah mas, sudah sepatutnya mas Dafa tahu privasi Iin" jawab Iin yang langsung membuat Dafa lega.
"Mmm.. mas" panggil Iin dengan nada sedikit ragu.
"Kenapa dek?" Tanya Dafa
"Iin mau bahas masalah kewajiban Iin dan hak mas Dafa" cicitnya
"Bisa nggak mas Dafa bersabar sampai Iin siap?" Tanya Iin dengan suara semakin pelan.
Dafa jelas mengerti maksud Iin. Sejujurnya Dafa juga tak ingin memaksa Iin untuk memenuhi kebutuhan batinnya, walaupun jujur Dafa juga tidak tahan melihat Iin yang merupakan wanita yang telah berstatus istrinya berkeliaran dengan pakaian pendek.
"Iya, mas akan tunggu sampai kamu siap" jawab Dafa yang langsung membuat Iin mendongak dengan mata berbinar.
"Makasih mas" kata Iin menubrukan dirinya memeluk Dafa erat.
Setelah menyusun pakaian Dafa dan pakaiannya kembali ke koper mereka, Iin mulai mendudukan dirinya disofa sambil menunggu Dafa selesai mandi dan berganti pakaian sebelum mereka berdua turun dan bergabung dengan keluarga mereka yang kini pasti telah menunggu keduanya untuk sarapan bersama.
__ADS_1
Pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar hotel pun terbuka, Iin yang sedari tadi asik menonton siaran Tv lantas menoleh kebelakang dan mendapati Dafa baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai dan rambut basah.
Untuk sesaat Iin tertengun akan ketampanan suaminya yang nampak berkali - kali lipat dari biasanya, menyadari bahwa dirinya sedari tadi mengamati suaminya, Iin lantas mengerjap dan mengalihkan pandangannya kesegala arah agar tidak ketahuan oleh Dafa.
"Ayo dek, yang lain udah nunggu" ajak Dafa yang langsung membuat Iin bangun dari duduknya dan mematikan Tv sebelum melangkah menyusul di belakang Dafa.
Tak perlu menunggu waktu yang lama untuk pasangan pengantin baru itu tiba di lantai dasar hotel dimana restorannya berada, nampak dari kejauhan baik keluarga Aditama dan keluarga Ragaskara telah berkumpul dan saling bercengkrama di sela-sela sarapan mereka.
Alaska yang memang posisi duduknya menghadap pintu masuk restoran lantas bersiul dan berkata "Cie abang, pagi - pagi sudah keramas" goda Alaska cengengesan.
Sontak perkataan Alaska mengundang tatapan penasaran dari keluarga besar mereka, kini semua mata tertuju pada pasangan pengantin baru yang baru saja turun dan bergabung dengan yang lainnya.
"Tks, apa sih Ka" balas Dafa
Keluarga yang lain malah semakin gencar mengoda pasangan pengantin baru yang baru saja sadar bahwa mereka berdua sama - sama keramas pagi ini, hal itulah yang membuat semua keluarganya salah paham.
Sedari tadi Iin hanya menunduk malu menyembunyikan rona merah yang ada di pipinya, keluarga - keluarganya terus saja mengoda mereka padahal semalam mereka bahkan tidak melakukan apapun. Tapi tetap saja Iin merasa malu.
TBC
7 Oktober 2019
__ADS_1