Inggrid

Inggrid
Bab 35 - Pengakuan (END)


__ADS_3

"Iin sudah nggak punya rasa dengan Agus, sebelum Iin menerima perjodohan kita, Iin meminta bertemu dengan Agus untuk memantapkan perasaan Iin sekaligus mendengar langsung dari Agus mengenai hubungan kami -- Iin menghela nafas berat -- kalau Iin cerita ini, entah mengapa rasanya sakit saat tahu cinta pertamaku bertepuk sebelah tangan. Tapi apa boleh buat, Iin akan tetap cerita demi mas agar kedepannya mas nggak salah paham dan cemburu lagi karena kedekatan Iin dengan Agus" lanjut Iin


"Mas nggak cemburu!" Bantah Dafa atas tuduhan Iin. Ia tetap bersikap keras kepala dan tetap bersikeras membantah tuduhan istirinya walaupun faktanya ia memang tengah dilanda cemburu seperti perkataan Iin.


Iin hanya terkekeh, ia tahu, suaminya itu tak ingin mengaku karena gengsi.


"Jadi, ceritanya lanjut atau nggak?" Tanya Iin


"Harus lanjut dek, mas pengen tahu perasaan Agus ke kamu!" Tegas Dafa


Seketika senyum miring terbit di wajah cantik Iin, pikiran picik pun muncul mengenai cara agar suaminya mengaku bahwa ia cemburu dan menurunkan gengsinya. Mungkin Iin akan memanfaatkan situasi saat ini. Kalian mungkin berpikir jika Iin keterlaluan, tapi jika kalian berada di posisi Iin yang begitu ingin mendengar pengakuan suaminya bahwa ia cemburu, kalian pasti juga akan melakukan hal yang sama seperti yang akan Iin lakukan.


"Iin akan lanjut ceritanya, jika mas mengaku kalau mas memang cemburu" tukas Iin yang langsung membuat Dafa murung.


Disatu sisi Dafa begitu penasaran dengan perasaan Agus pada Istrinya, disisi lain egonya menolak mengakui kecemburuannya karena gengsinya yang terlalu besar.


"Intinya mas nggak cemburu!"

__ADS_1


"Ya sudah, Iin nggak akan lanjut cerita" Balas Iin tenang.


"Ok, ok. Mas memang cemburu. Puas?" Tanya Dafa yang pada akhirnya kalah dengan rasa penasarannya yang jauh lebih besar. Tak masalah mengalah dan menurunkan gengsinya, karena jujur saja Dafa sangat ingin tahu hubungan Agus dan Iin, apakah Agus juga memiliki rasa dengan Iin atau sebaliknya.


Mendengar pengakuan Dafa, Iin tersenyum dalam hatinya. Suaminya terlalu mudah memakan umpannya, walaupun demikian, Iin jelas sangat senang mendengar pengakuan Dafa yang memperkuat pemikiran dan praduga Iin kalau memang perasaannya saat ini jelas terbalas. Mereka berdua saling memiliki perasaan yang sama namun terlalu gengsi untuk mengungkap perasaan masing - masing. Jika saja Iin tak mendesak , mungkin Dafa akan menyimpan perasaan cemburunya sendiri.


"Hari itu, Agus datang bersama dengan pacarnya Eka di restoran milik bang Farhan langganan kami. Malam itu kami bertiga mengalami perdebatan panjang dimana pacar Agus curiga kami menjalin hubungan lebih atau Iin yang punya perasaan lebih. Malam itu Iin jelas terkejut dengan kecemburuan Eka, insting wanita begitu kuat dan Iin takut Eka mengetahui bahwa memang Iin punya perasaan lebih pada Agus namun selama ini Agus tidak pernah menganggap Iin lebih dari sahabat.


Mengetahui bahwa Agus hanya menganggap Iin hanya sebatas sahabat jelas sakit. Malam itu Iin mulai mempertimbangkan permintaan Ayah, Iin mulai merenung dan berpikir. Hati Iin memaksa untuk bertahan dan berjuang dengan perasaan Iin terhadap Agus hingga Agus sadar dengan perasaan Iin karena jujur saja, Iin selalu berharap menikah dan mengabiskan masa tua Iin dengan cinta pertama Iin. Namun pikiran Iin memaksa Iin untuk melepaskan dan mengikhlaskan perasaan Iin demi keinginan dan kebahagiaan ayah.


Pada akhirnya Iin memilih melepaskan perasaan Iin pada Agus. Awalnya Iin menerima pejodohan, bahkan pernikahan kita karena ingin membahagiakan Ayah, tapi sekarang ada alasan lain kenapa Iin menerima semua itu" Iin menjeda seraya mengambil nafas


Dafa mengerjap matanya beberapa kali, ia memastikan bahwa apa yang ia lihat ataupun apa yang ia dengan tidak salah. Dafa takut apa yang ia lihat atapun dengar hanyalah halusinasi belaka. Dafa takut berharap, karena ia sangat tau bagaimana rasanya harus kembali merasakan sakit dan kecewa. Namun semua pemikirannya terpatahkan saat Iin kembali mengungkapkan perasaannya seraya meyakinkan Dafa bahwa apa yang ia katakan adalah kenyataan terlebih lagi Iin serius dengan perkataan dan pengakuannya.


"Iin suka dan cinta sama mas!"


Seumur - umur dalam hidupnya, Iin tidak pernah membayangkan dirinya mengungkap perasaannya lebih dulu pada lawan jenisnya. Namun untuk Dafa, semua jelas berbeda. Iin bahkan tak merasa malu dan takut akan ditolak. Ia bahkan tak tahu dari mana keberanian itu datang saat ia mengungkap perasaannya. Yang pasti saat ini Iin merasa lega telah mengutarakan perasaan yang sempat ia pendam.

__ADS_1


"Mas juga suka dan cinta Dedek!" Balas Dafa yang membuat Iin sedikit terkejut.


Awalnya Iin berpikir akan mendapat balasan dari Dafa beberapa hari atau beberapa bulan kedepan mengingat betapa tingginya gengsi seorang Radafian Jasaka Aditama. Namun siapa yang menyangka ia mendapat balasan secepat ini? Tentu saja Iin sangat senang, bahkan saking senangnya, ia tak sadar telah mengecup bibi tipis suaminya.


Sadar akan perlakuan spontannya, Iin menarik diri. Namun Dafa lebih cepat menahan tubuhnya dan kembali menariknya hingga tak ada jarak antara keduanya.


"Jangan kabur. Dedek yang lebih dulu mengundang mas!" Kata Dafa serak


.


.


.


.


.

__ADS_1


END


1 November 2019


__ADS_2