
Mobil Dafa memasuki kawasan parkiran sebuah restoran yang menjadi tempat makan siang sekaligus tempat pertemuan mereka dengan salah satu karyawan A&I Wedding Organizer milik sahabat dekatnya yang merupakan teman seangkatan Iin waktu SMA.
A&I Wedding Organizer merupakan perusahaan jasa yang akan membantu segala persiapan pernikahan Dafa dan Iin, WO yang Iin pilih merupakan WO milik sahabat dekatnya Ayana dan suaminya Irfan. WO mereka sudah sangat terkenal, bahkan banyak yang memuji hasil dari WO mereka. Karena sejak lama Iin menginginkan pernikahannya di tangani oleh teman dekatnya Ayana, Ia langsung menghubungi temannya tersebut mengenai rencana pernikahannya yang akan di adakan dua bulan kedepan.
Iin memasuki restoran padang pilihan karyawan A&I Wedding Organizer disusul Dafa dibelakangnya. Saat Iin mencari sosok karyawan temannya tersebut, Iin malah di kejutkan dengan keberadaan Ayana dan Irfan yang berada di meja paling pojok yang ada di restoran.
"Loh, Ayana!" Pekik Iin girang menghampiri sahabat dekatnya selain Nadi
Ayana yang merasa dirinya di panggil lantas mendongak mendapati Iin yang sudah berdiri di dekatnya.
"Astaga Iin" pekik Ayana tidak kalah hebohnya.
Ayana dan Iin lantas berpelukan menyalurkan rasa rindu yang selama ini terpendam. Ayana yang merupakan owner A&I Wedding Organizer selalu saja di sibukan dengan banyaknya job pernikahan yang datang di perusahaannya, sedangkan Iin selalu disibukan dengan pekerjaannya sebagai sekertaris direktur perusahaan keluarganya. Kesibukan mereka inilah yang membuat keduanya sulit bertemu, berbeda dengan Nadi, Nadi yang merupakan seorang desainer terkenal dan pemilik butik LoveNad kadang lebih banyak memiliki waktu luang sehingga ia selalu mengunjungi sahabatnya Iin ataupun Anaya.
Suara deheman dari suami Anaya, Irfan menyadarkan keduanya dari suasana melepas rindu. Iin melepas pelukannya walaupun sedikit tidak rela.
"Lo jahat banget sih Fan, kita baru aja ketemu loh" kata Iin ketus.
"Lah kalau kalian lepas rindu mulu dengan berpelukan terus, kapan selesainya ini pertemuan?" Tanya Irfan balik yang juga merupakan teman seangkatan Iin waktu SMA.
__ADS_1
"Loh, bukannya karyawan kalian yang bakal ketemu gue dan Dafa untuk bahas konsep pernikahan?" Tanya Iin bingung dengan keberadaan sahabat dan suaminya.
"Karyawan kami harus ngehandel job pernikahan lain, khusus pernikahan kalian kami yang bakal tangani. Itu pun karena Anaya bersikeras ingin langsung turun tangan di pernikahan sahabatnya" jelas Irfan.
"Huwaaa.. Anaya gue terharu" kata Iin lalu kembali memeluk sahabatnya.
Irfan hanya mampu memutar bola matanya malas tak lupa memukul pundak Dafa pelan dan berkata "Sabar ya bro, mereka kalau udah ketemu bakal panjang ceritanya" kata Irfan yang membuat Dafa tersenyum maklum.
.
.
.
Saat ini Iin dan Dafa hendak meninggalkan restoran, namun tiba-tiba saja langkah Dafa terhenti dengan tubuh menegang saat seseorang yang Iin kenali sebagai mantan calon istri Dafa di masa lalu memanggil pria di hadapannya kini.
Widiya mempercepat langkahnya ingin menghampiri Dafa, Dafa lantas berbalik cepat ingin menghindari pertemuan ataupun obrolan antara dirinya dan mantan calon istrinya tersebut. Sayang niat Dafa ingin menghindari Widiya dan Zaka yang menyusul istrinya harus tertahan saat Iin mencekal pergelangan tangannya dan menatap Dafa dengan tatapan lembut.
"Sampai kapan mau menghindar terus?" Tanya Iin
__ADS_1
"Kamu harus hadapi mereka, jangan terus menghindar seakan-akan kamu yang memiliki salah pada mereka berdua, padahal kenyataannya merekalah yang sangat bersalah atas kejadian yang membuatmu hancur dimasa lalu" kata Iin menyadarkan Dafa bahwa apa yang Iin katakan memang adalah sesuatu yang benar adanya.
Dafa adalah korban disini, lantas mengapa ia harus menghindar dan lari dari mereka berdua yang memiliki kesalahan besar padanya. Walaupun memang mereka memiliki kesalahan padanya, Dafa masih belum siap bertemu dengan mereka berdua. Bertemu dengan Widiya dan Zaka, sama saja membuka kembali luka dimasa lalunya. Tapi ketakutan dan kekhawatiran Dafa seketika lenyap saat Iin dengan lembut berkata dengan nada yakin yang entah mengapa mampu menghilangkan rasa takut dan khawatir yang melanda dan menyerang hatinya.
"Kamu jangan takut, saya akan selalu berada disampingmu. Hadapi mereka dan selesaikan masalah kalian" perkataan Iin seakan sebuah hipnotis yang membuat Dafa dengan refleks mengangguk. Perkataan Iin jugalah yang membuat Dafa berani berhadapan dengan Widiya dan Zaka karena Dafa sadar saat ini ia tidak lagi sendiri karena ada Iin yang menemaninya.
.
.
.
.
.
TBC
6 September 2019
__ADS_1