
Iin baru saja dipindahkan diruang rawat inap kelas VIP , saat ini Dafa tengah mengurus segala keperluan administrasi dan menitipkan Iin bersama dengan Dipta yang hari ini izin tidak masuk sekolah karena seharian dirumah sakit menemani Abangnya.
Saat Dipta memainkan ponselnya untuk membuka grup WhatsApp kelasnya seraya mengecek atau menanyakan apakah ada tugas dari guru yang bersangkutan hari ini pada teman - teman sekelasnya, pintu disamping Dipta terbuka dengan kasar sehingga membuat Dipta terlonjak kaget dan menatap kesal kearah pintu dimana Kinan dengan raut wajah khawatir berhamburan memasuki ruang rawat kakak iparnya dengan begitu berisik.
Dibelakang Mamanya, Raidan dan Rega menyusul dengan raut yang tidak beda jauh dengan Mamanya. Hanya saja kedua pria paruh baya itu masih mampu bersikap tenang mengingat saat ini mereka berada dirumah sakit yang menuntut para penjenguk untuk tidak berisik.
"Abangmu mana?" Tanya Raidan pada putra bungsunya
"Lagi ngurus administrasi" jawab Dipta seadanya
"Mbakmu sakit apa Ipta?" Tanya Rega yang kini telah berdiri disamping ranjang Iin
"Kata dokter Fikri, mbak Iin kecapekan dan kurang darah. Makanya mbak Iin pingsan dan tidak sadarkan diri Yah" jawab Dipta.
.
.
.
Dafa hanya mampu menunduk dalam di sofa yang ada dalam ruang rawat inap istrinya. Saat ini Dafa baru saja menyelesaikan pekerjaannya, siapa yang menyangka ketika ia baru saja menginjakan kakinya diruang rawat istrinya, Mamanya mencercanya dengan berbagaimacam omelan dan kemarahan karena kelalaiannya sebagai suami yang tak mampu menjaga istrinya dengan baik.
__ADS_1
"Ini alasan Mama kenapa dulu menentang kamu jadi Dokter bang, kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan kamu sampai lupa sekarang kamu udah punya tanggung jawab lain selain pekerjaan!" Cerca Kinan.
"Udah yah, Ma. Mas Dafa nggak salah kok, Iin yang terlalu memaksa diri cari kesibukan karena bosan dirumah" kata Iin membela Dafa.
"Kenapa malah nyalahin diri sendiri, ini kesalahan Dafa karena terlalu sibuk bekerja. Makanya Mama udah bilang, kalian berdua tinggal dirumah aja. Mama minta kalian tinggal dirumah biar Iin ada temannya, sekarang apa? Kalau Iin kenapa - kenapa lagi pas kamu sibuk kerja siapa yang mau tolong Iin, untung Dipta kerumah kalian, kalau enggak bagaimana?" Omel Kinan panjang lebar.
"Iya. Iya. Disini Dafa yang salah. Sekarang Mama, Papa, Ayah dan Dipta pulang aja. Biar Dafa yang jaga Iin, sekarang sudah waktunya Iin minum obat dan istirahat" kata Dafa mengalah.
"Ini emang kesalahan abang!" Seru Kinan masih dalam mode marahnya.
"Udah Ma, udah. Sekarang kita pulang, biar abang yang jaga Iin" kata Raidan membawa Kinan keluar dari ruang rawat menantunya.
"Ayah titip Dedek yah Daf" kata Rega menepuk pundak menantunya sebelum mengecup kening putrinya seraya berpamitan. "Besok Ayah datang jenguk lagi bareng Keano, Dedek harus istirahat yang banyak, jangan nyusahin suami kamu, kasihan. Udah kerjaan padat, datang - datang dimarahin mertuamu" nasehat Rega yang langsung di angguki Iin.
"Waalaikum salam"
Raidan, Kinan dan Rega telah pergi meninggalkan ruang rawat Iin. Sekarang hanya tinggal Iin, Dafa dan Dipta yang berada diruangan.
"Kamu nggak pulang Ipta?" Tanya Dafa pada adik bungsunya yang masih betah di dalam ruang rawat inap istrinya.
"Ini mau pulang" balas Dipta membereskan buku - buku pelajarannya yang berserakan diatas meja.
__ADS_1
"Makasih yah udah bawa Mbakmu kemari, kalau nggak ada kamu, abang pasti bakal nyalahin diri abang karena nggak becus dan nggak tanggung jawab sama istri sendiri" kata Dafa
"Udahlah bang, gue kan adik lo, sudah sepatutnyalah tolong abangnya yang kesusahan. Udah yah, Dipta capek. Mbak Iin.. Dipta pamit pulang, moga mbak cepat sembuh" pamit Dipta yang diangguki oleh Iin.
Sepeninggalan Dipta, Dafa mulai menghampiri Iin yang terbaring diatas tempat tidurnya. Dafa menarik kursi yang berada di samping tempat tidur Iin, Dafa mendudukan dirinya dan meraih dan menggengam tangan mungil istrinya penuh sayang. Dafa meremas jemari Iin perlahan, ia lantas menatap Iin dengan tatapan penuh rasa penyesalan dan bersalah.
"Maaf!"
Hanya satu kata, namun entah mengapa Iin dapat merasakan Dafa begitu menyesal dan menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Iin. Entah mengapa Iin merasa hatinya menghangat, ia mengangguk dan tersenyum lemah sebagai jawaban bahwa ia menerima permintaan maaf suaminya.
.
.
.
.
.
TBC
__ADS_1
15 Oktober 2019