
Iin bersyukur ayahnya tidak mendesaknya memberi jawaban masalah perjodohannya dengan anak teman seperjuangannya yang sampai saat ini belum ia ketahui namanya.
Ah, mengapa ia harus peduli dengan namanya?
Apakah sekarang ia mulai penasaran?
Iin menggeleng kuat seraya menghilangkan pikiran tersebut. Iin tidak peduli, saat ini ia hanya butuh menenangkan diri dikaferesto Bang Farhan yang nampak begitu ramai. Dari tempat duduknya yang berada di pojok dekat jendela, Iin jelas dapat melihat semua orang baik di dalam kaferesto maupun di luar kaferesto. Tempat yang saat ini ia tempati merupakan tempat favoritnya bersama kedua sahabatnya.
Ah, Iin lupa memberitahukan bahwa ia memiliki dua sahabat pria yang mana salah satu dari sahabatnya telah berhasil membuat Iin jatuh cinta dan memendamnya selama hampir 5 tahun. Sahabat pertamanya bernama Agus Dirgantara, sahabatnya ini berprofesi sebagai polisi dengan pangkat Briptu (Brigadir Polisi Satu). Agus inilah sahabat Iin yang berhasil mencuri hatinya, sayang Agus sama sekali tidak pernah peka dengan perasaannya.
Sedangkan sahabat keduanya bernama Satria Prasetya, sahabat keduanya ini berprofesi sama dengan Agus, ia juga seorang Abdi Negara namun seragamnya berbeda dangan seragam milik Agus. Jika seragam Agus dominan berwarna coklat, maka seragan Satria berwarnah hijau bercorak loreng. Sesuai dengan tebakan kalian, sahabatnya Satria adalah seorang prajurit TNI - AD berpangkat Bintara. Perasaannya dengan Satria hanya sebatas sahabat, sedangkan perasaan Satria pada Iin hanya sebatas kakak dan adik.
Ponsel Iin bergetar dan tak berselang berapa lama lagu Bts - Boy with luv pun mengalun. Iin melirik ponselnya yang berada di atas meja, layarnya menyala dan tertampil dengan jelas foto seorang prajurit tampan berkulit sedikit kecoklatan dengan pakaian kebanggaannya tampil pada layar ponselnya. Iin lantas segera menyambar ponselnya dan mengangkat panggilan dari Satria. Padahal baru saja Iin menyebutkan nama dan profesinya, orang yang Iin bicarakan langsung menelponnya.
"Panjang umur emang loh Sat" kata Iin sebelum mengucap salam setelah mengangkat telpon sahabatnya.
"Assalamualaikum bapak sersan mayor, aku rindu"
"Waalaikum salam Iin-nya kami Oppa-oppa di batalion, Oppamu di sini juga rindu" balas Satria tak lupa terkekeh di ujung sana
"Iyuh, jyjykque Sat dengarnya" kata Iin geli
"Yeh, giliran produk lokal yang bilang dirinya Oppa langsung geli. Kalau produk luar Negeri seperti Korea manggil diri mereka Oppa langsung salting, lu aneh deh In" balas Satria
"Yaiyalah geli Sat, harusnya manggil abang kek, mas kek, Aa kek, Daeng kek, kakak kek atau apalah asal bukan Oppa. lu mah kalah sama Oppa-oppa korea" kata Iin
"Yah jelas kalahlah In, mereka perawatan kulit sampai Oplas. Lah kami? Boro-boro mau perawatan kulit, masih bisa nafas hari ini aja udah syukur banget" kata Satria.
"Lo kok bilang gitu sih Sat? Gue sedih tau nggak dengarnya" kata Iin sendu
"Eh, eh, stop! Jangan nangis, gue tahu lo lagi di restorannya bang Farhan. Jadi jangan nangis yah, banyak lihatin kamu nanti" cegah Satria
Iin menyeka air matanya yang tiba-tiba mengalir, ia terkejut dengan perkataan Satria yang mengetahui keberadaannya sekarang ini.
"Loh tau dari mana" tanya Iin yang tidak menutupi keterkejutannya.
"Yah taulah, gue di belakang loh sekarang!" Jawab Satria yang berhasil membuat Iin berbalik dan memekik heboh.
__ADS_1
.
.
.
Malam ini Iin di antar oleh sahabatnya Satria yang tengah mengambil cuti sehari. Sepanjang perjalanan keduanya terus mengobrol banyak hal hingga mereka tak sadar telah sampai di depan rumah Iin.
Keduanya turun dari mobil dan melangkah masuk kerumah minimalis berlantai dua milik keluarga Ragaskara. Rumah keluarga Ragaskara bercat hijau muda, halaman depan cukup luas dan terdapat satu pohon mangga harum manis dan berbagai macam bunga yang terawat dan tertata sangat rapi.
"Wah, cat rumah lo berubah yah In. Perasaan kemarin warna cream deh" kata Satria
Iin yang mendengar itu lantas terkekeh dan berkata "Kenapa, berasa di batalion yah?" Tanya Iin menggoda Satria yang begitu mencintai propesinya saat ini.
Satria terkekeh dan menjawab dengan anggukan dan menjawab "Kok tahu? Bapak kamu dukun yah?" Tanya Satria yang tidak sadar jika saat ini Rega berada di ambang pintu karena posisi Satria yang memunggungi ayah Iin.
"Enak aja Ayah di katain dukun" timpal Rega yang membuat Satria terkejut.
Satria lantas berbalik menghadap Regs, ia mengusap tengkuknya yang tidak gatal. "Eh, Ayah" kata Satria sedikit meringis
"Satria tadi cuma bercanda Yah, nggak serius kok, suwer" lanjut satria tak lupa mengangkat kedua jarinya membentuk V.
.
.
.
Satria sudah pulang sejak tiga jam yang lalu. Saat ini kediaman Ragaskara mulai sedikit gelap, hanya ada beberapa lampu yang masih menyala. Disalah satu kamar yang berada di lantai dua, nampak seorang gadis berusia 25 tahun bergerak gelisah dalam tidurnya dan tak berselang berapa lama ia terbangun.
Iin terbangun dari tidurnya karena merasa haus, ia lantas mendudukan dirinya di tempat tidurnya seraya mengumpulkan nyawanya yang masih berserakan di alam bawa sadarnya.
Saat kesadarannya telah terkumpul, Iin turun dari tempat tidur berjalan membuka pintu kamarnya dan bergegas turun di lantai satu dimana Ayah dan Abangnya tengah asik menonton pertandingan ****** bola.
"Ayah" panggil Iin yang membuat Rega lantas menoleh kebelakang.
"Loh Dedek kok bagun? Ini masih baru jam 12 malam loh Dek?" Tanya Rega heran dengan keberadaan Iin selarut ini
__ADS_1
"Suara Ayah sama Abang ganggu Dedek tidur?" Tanya Rega lagi dengan nada tidak enak hati
Iin menggeleng dan menjawab "Iin haus Yah, makanya turun ambil minum"
Rega mengangguk dan berkata "kirain karna suara Abangmu yang kencang, makanya kamu bangun"
"Enak aja, suara Ayah tuh yang seperti toa" balas Keano tidak terima dengan perkataan ayahnya.
"Ejek Ayah dosa loh Bang" kata Iin mengingatkan
Keano buru-buru beristiqfar dan meminta maaf pada Ayahnya, Rega yang sebenarnya sudah memaafkan putra sulungnya pura-pura merajuk. Iin yang melihat hal itu menggeleng sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur. Saat ia berada di dapur, ia mengambil gelas dan membuka kulkas dan menuangkan air dingin dari gelas bersih yang di ambilnya. Setelah itu Iin menaruh kembali botol air minum kedalam kuklas lalu mulai meminum air dingin guna menghilangkan dahaganya.
Setelah hausnya telah sepenuhnya hilang, Iin melangkah cepat menuju kamarnya tanpa peduli dengan Ayah dan Abangnya saling berteriak ketika terjadi pencetakan gol dari pertandingan yang mereka nonton. Saat ini Iin hanya ingin bergegas mengambil ponselnya dan mengirim chat untuk sahabatnya Agus, karena tepat hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Saat Iin tiba di kamarnya, Ia langsung menyambar ponselnya. Iin mengaktifkan data dan bergegas masuk kedalam aplikasi WhatsApp dan mulai mengetik chat untuk Agus.
Iin Ragaskara
Yaumul milad Agus 🎉 Barakallahu fii umrik 😇, semoga selalu di karunia kesehatan dan umur yang panjang, semoga selalu di lancarkan rejekinya serta segala urusannya, semoga semakin di sayang Bunda, Ayah, Mas Irfan , Raifa, Satria, Iin dan semua orang, semoga menjadi polisi yang amanah dan bertanggung jawab, dan semoga doa-doa mu yang belum terijabah segera di kabulkan 'Aamiin' 🙏🙏
Setelah mengetik kalimat panjang itu, Iin langsung mengirimnya. Saat berhasil terkirim, di bawa chat yang ia kirim masih centang dua berwarna abu-abu. Tak berselang berapa lama, centang dua tersebut berubah menjadi warna biru pertanda sahabatnya Agus sudah membaca chatnya.
Lama Iin menunggu, tidak ada tanda-tanda bahwa Agus akan membalas chatnya. Iin yang tadi melihat status obrolan Agus yang masih tertulis 'Online' kini telah berubah menjadi 'Terakhir dilihat hari ini pukul 00.17'.
Melihat sahabatnya Agus hanya membaca chatnya, hati Iin berasa diremas dengan tangan tak kasat mata. Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya, Iin meremas piama tidurnya tepat pada dadanya.
"Mengapa, mengapa selalu sesakit ini?"
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC
17 Agustus 2019