Isekai Overpower Triplets : The Saint, The Hero, The Sage - All Reincarnator

Isekai Overpower Triplets : The Saint, The Hero, The Sage - All Reincarnator
Chapter 14


__ADS_3

Dua minggu kemudian, Leon, Cathy dan Rose sudah kembali berada di kelas, alasannya adalah Oscar dan Mabel kembali beberapa hari setelah ledakan dan mengatakan pasukan musuh mundur di karenakan komandan mereka mati kena ledakan. Mendengar berita itu, walau ruangan lantai 70 terasa dingin, Leon, Cathy dan Rose berkeringat deras. Akhir nya mereka kembali ke kota dan Altea ikut bersama mereka setelah meninggal kan dua ksatria bertubuh setengah kuda terbuat dari besi di lantai 70. Di kelas mereka, semua teman sekelas bercerita tentang keajaiban di malam peperangan, mereka menyebutnya pertolongan dari dewi, Leon, Cathy dan Rose hanya menyengir mendengar nya. Agnes sensei masuk ke dalam kelas dan meminta semua siswa keluar menuju auditorium.


“Hei, kenapa kita di bawa ke auditorium ?” Tanya Leon kepada Freddy di sebelahnya.


“Aku juga tidak tahu, tidak ada pemberitahuan sebelum nya.” Jawab Freddy.


“Mungkin mau di marahi kali...” Tambah Laurie.


“Ah masa sih, kita baru balik perang.” Tambah Vlad.


“Ayah ku juga tidak bilang apa apa, jadi aku tidak tahu.” Tambah Fran.


“Yah jalani saja kan....siapa tahu mau di beri hadiah hehe.” Tambah Julia.


“Rose, kenapa kamu diam saja ?” Tanya Cathy.


“Ah tidak onee chan, aku kepikiran dan penasaran siapa Memphis itu, aku mau hidup tenang secepatnya hehe.” Jawab Rose.


“Dan wanita itu siapa ya, yang membunuh Lazar...” Tambah Cathy.


“Kalau saja waktu itu aku sempat melemparkan pisau...” Tambah Paul.


“Mana bisa gerakan nya cepat sekali. Oh ya ngomong ngomong mana Rex ?” Tanya Sarah.


“Kamar, tadi ku jemput katanya menyusul.” Jawab Gerard.


“Halah dia mengurung diri lagi....” Balas Paul.


Semuanya berjalan mengikuti Agnes menuju auditorium. Begitu sampai, semuanya termasuk Leon, Cathy dan Rose terdiam karena mereka di minta naik ke atas podium dan di tonton oleh siswa siswa dari dua akademi yang memandang mereka dengan pandangan aneh. Setelah semuanya naik, Rodrick selaku kepala akademi berdiri di depan meja podium dan mulai berpidato,


“Hari ini, kita semua berkumpul di sini untuk memberikan penghargaan kepada para siswa yang ikut serta pada peperangan kemarin dan kembali dengan selamat, jasa mereka sangat besar di peperangan kemarin dan menggerakkan hati paduka raja untuk memberikan hadiah bagi mereka, bagi yang namanya di sebutkan silahkan maju ke depan.”


Para siswa siswi dari dua akademi lain kaget, mereka tidak tahu perang terjadi dekat dengan mereka dan ada beberapa tanggapan di antara mereka. Ada yang kagum dan bersyukur, ada yang iri dan kesal, ada yang tidak perduli dan santai saja. Satu persatu yang di panggil berurutan maju ke depan dan di berikan sebuah mendali dan piagam atas prestasi nya. Yang tersisa tinggal kelompok Leon, Cathy, Rose, Paul, Sarah dan Rex yang tidak hadir. Rodrick kembali ke balik meja podium dan meneruskan bicaranya,


“Sekarang penghargaan khusus akan di berikan oleh raja sendiri yang hadir di sini kepada enam orang yang melindungi harta negara dan membongkar identitas musuh, silahkan maju kedepan bagi yang di panggil. Leon, Cathy, Rose, Paul, Sarah dan Rex. Silahkan paduka yang mulia.”


Seorang yang berpakaian jubah kerajaan dan terlihat sangat berwibawa masuk di dampingi dua orang pengawal dan seorang putri yang seperti nya putri kerajaan. Leon, Cathy, Rose, Paul, Sarah berdiri di depan meja podium di hadapan raja yang berada di belakang meja podium. Ketika raja maju ke podium, ke enam nya berlutut di hadapan raja.


“Enam orang siswa pemberani, silahkan berdiri, kalian sudah menunjukkan bakat dan kehebatan kalian kepada semua yang ada di sini, atas nama kerajaan Oreano, aku raja Lexius Von Oreano mengucapkan rasa terima kasih ku yang sebesar besarnya kepada kalian ber enam, untuk itu aku memberikan penghargaan khusus kepada kalian berenam, silahkan putri Sylvia von Oreano memberikan penghargaan nya.” Ujar Raja Lexius.


Putri kerajaan bernama Sylvia von Oreano maju ke depan bersama dua ajudan di belakang yang membawa nampan berisi gulungan kertas dan mendali. Karena Rex tidak hadir, penerimaan hadiah di wakilkan oleh Paul yang berdiri di paling ujung di sebelah Sarah. Sylvia langsung memberikan dua gulungan dan mengalungkan mendali di leher Paul, kemudian dia memberikan satu kepada Paul yang merupakan milik Rex. Setelah itu satu persatu di berikan gulungan dan di kalungkan mendali, sampai pada giliran Leon. Sylvia memberikan gulungan nya dan karena dia tidak sampai untuk mengalungkan mendali nya sebab Leon lebih tinggi darinya, Leon menunduk, Sylvia mengalungkan mendali nya dan dengan kedua tangan nya dia mendongakkan wajah Leon yang menunduk supaya melihat pada dirinya, kemudian dia langsung mencium Leon di bibirnya.


“Heeeeei.....” Teriak Cathy dan Rose secara reflek. Keduanya langsung bergerak dan tidak lagi memperhatikan barisan. Paul dan Sarah gemetar melihatnya, mereka takut Cathy dan Rose berbuat tidak sopan kepada tuan putri.


Sylvia melepaskan ciuman nya karena di tarik oleh Cathy dan Rose yang memisahkan Leon dengan Sylvia. Leon menjadi bingung dan wajah nya menjadi sangat merah.


“Maaf ya, tapi aku suka kamu...sampai ketemu di ibukota.” Ujar Sylvia sambil berjalan kembali ke tempat semula.


“Tidak boleh....” Teriak Cathy dan Rose marah.


Para murid dari dua akademi yang melihat kejadian itu langsung bergosip, ada yang senang melihatnya, ada yang iri dan ada yang biasa saja. Karena seisi auditoriun menjadi berisik, Rodrick langsung berteriak,


“Diam semuanya, jangan tidak sopan di hadapan baginda raja.” Teriak nya.


Semua murid langsung diam dan suasana kembali hening, sementara Cathy dan Rose berdiri di depan Leon yang diam saja dan bingung. Agnes menunduk dan naik ke atas podium untuk berbisik kepada putri Sylvia, sepertinya Agnes menceritakan situasi ketiganya. Putri Sylvia tersenyum dan tertawa kecil, kemudian dia maju ke meja podium,


“Dengan ini aku mendeklarasikan diriku menjadi tunangan Leon kun.” Teriak nya.


“Tidak boleeeeeeeeh.....” Teriak Cathy dan Rose bersamaan dengan suara menggema.

__ADS_1


“Sylvia sama...aku mohon jangan buat mereka marah.” Ujar Agnes.


“Hehe maaf aku bercanda...tapi aku serius kok.” Balas Sylvia.


“Sylvia, kamu keterlaluan, mundur....” Ujar raja Lexius sedikit membentak.


“Maaf otosama.....” Sylvia menunduk dan mundur karena di bentak raja.


“Leon kun, Cathy kun, Rose kun, maafkan anak ku, dia hanya bercanda, secara pribadi aku minta maaf.” Raja menunduk di depan ketiganya.


Semua menjadi gempar, raja yang merupakan orang nomor 1 di kerajaan menunduk meminta maaf kepada siswa siswi yang mereka anggap aneh dan kampungan. Sementara itu, 15 teman sekelas ketiganya berdiri di sudut dengan kaki gemetar sambil menahan tawa, sebab sekali mereka tertawa urusannya nyawa. Leon, Cathy dan Rose lega mendengar nya dan menerima maaf raja dengan lapang dada.


“Sekarang, kalian ber enam akan pindah ke ibukota dan bersekolah di sana, dokumen yang di berikan kepada kalian adalah bukti nya.” Tambah Raja.


Bagi mereka yang masih sekolah, pindah ke akademi ibukota adalah mimpi dan kehormatan yang sangat besar, apalagi sampai di berikan oleh raja sendiri. Tapi bagi Leon, Cathy dan Rose,


“Kami menolak....” Ujar ketiganya sambil menjatuhkan gulungan kertasnya.


Rodrick dan Agnes langsung mendekati ketiganya dan membujuk mereka sampai mulut keduanya berbusa. Semua teman sekelasnya juga ikut membujuk mereka. Akhirnya mereka mengatakan alasan nya kenapa mereka menolak,


“Kami mau tetap di sini bersama Ria nee san.” Ujar ketiganya kompak.


Mendengar alasan mereka, Rodrick, Agnes dan semua teman teman nya malah semakin nafsu membujuk ketiganya, tapi raja tersenyum melihat mereka dan kemudian tertawa,


“Hahahahaha....tidak masalah, aku suka kalian, silahkan kalian bersekolah di sini, aku menyetujui nya, jadi hadiah kalian akan aku ganti emas, bagaimana ?” Tanya raja Lexius.


“Terima kasih baginda raja...” Leon, Cathy dan Rose menunduk.


Rodrick, Agnes dan semua teman teman nya merasa lega, mereka terduduk lemas di belakang Leon, Cathy dan Rose. Akhirnya upacara pemberian hadiah selesai dan raja meninggalkan podium bersama putri Sylvia yang tersenyum penuh arti melihat Leon.


***


Beberapa hari setelah upacara pemberian hadiah, Leon, Cathy, Rose dan semua teman sekelas nya, termasuk Paul, Sarah dan Rex yang juga menolak pindah ke akademi ibukota dengan alasan tidak bisa jauh dari keluarga walaupun bohong, sudah berkumpul di kelas untuk memulai pelajaran. Sebenarnya mereka mau bersama Leon, Cathy dan Rose, juga karena takut di bully di ibukota. Semuanya duduk dengan tenang karena bel masuk sudah berbunyi. Agnes sensei masuk ke dalam kelas,


Seorang siswi putri dengan rambut pirang dan panjang dengan ujung nya seperti bor di kanan dan kiri masuk ke dalam, paras nya cantik dan sangat bersahaja. Tapi Cathy dan Rose meradang melihat nya, wajah Leon langsung menjadi merah dan dia menutup mulutnya. Sedangkan teman sekelas mereka, terbengong dengan mulut menganga melihat siswi yang datang itu.


“Perkenalkan namaku Sylvia, job ku magic swordman, senjataku rapier, salam kenal semuanya, mohon kerja sama nya.”


“Haaaaaaah...Sylvia ojo tenka.” Teriak seluruh teman sekelas.


“Oh disini aku bukan ojo tenka, aku sama seperti semuanya hanya siswi akademi biasa. Sekali lagi mohon kerjasamanya.” Sylvia menunduk.


Seluruh kelas langsung ribut, mereka semua menoleh kebelakang melihat reaksi Cathy dan Rose yang terlihat geram akibat insiden waktu penerimaan hadiah. Karena semua di kelas sudah tahu siapa ketiganya, mereka sedikit waspada. Agnes sensei yang sudah pusing di tambah mendengar suara riuh di kelas, menggebrak meja,


“Sudah sudah diam semuanya, Sylvia ojo tenka ah maaf, Sylvia, silahkan duduk di tempat yang kamu suka.” Ujar Agnes sambil menggelengkan kepalanya karena sudah terlalu pusing.


Sylvia langsung mencari Leon, sementara itu, Cathy dan Rose langsung berpindah duduk di sebelah kanan dan kiri Leon. Sylvia tertawa kecil dan berjalan menuju kursi paling belakang, Julia yang duduk di sebelah Cathy menyingkir dan Sylvia duduk di sebelah Cathy.


“Salam kenal Cathy san, hehehe.” Ujar Sylvia sambil tersenyum.


“Grrr....salam kenal.” Balas Cathy menggeram.


“Halo Leon kun....” Ujar Sylvia yang melihat Leon di balik Cathy.


“Ha..halo...Sylvia ojo tenka.....eh...Sylvia sama....eh...Sylvia san.” Balas Leon.


“Onii chan.....pindah.” Rose berdiri.


“I..iya...Rose...” Leon bergeser pindah kepaling ujung dekat jendela.

__ADS_1


“Aku Rose....grrrr....” Rose duduk di tempat Leon dan di sebelah Cathy sambil menggeram.


“Salam kenal Rose san, hehehe kalian lucu...kita pasti bisa berteman.” Ujar Sylvia.


“Siapa yang mau berteman dengan kucing garong....” Balas Cathy dan Rose bersamaan.


Agnes menggelengkan kepalanya dan memegang keningnya, sepertinya dia sudah sangat pusing dan pasrah dengan apa yang akan terjadi. Sementara itu, Freddy, Fran, Gerard, Paul dan Sarah berbisik karena mereka duduk satu deret.


“Kita harus memperingatkan Sylvia ojo tenka jangan bercanda dengan mereka.” Ujar Freddy berbisik.


“Setuju, ajak yang lain juga.” Tambah Gerard.


“Ya, nanti pulang sekolah kita rapat.” Tambah Fran.


“Aduh ada ada saja sih, kalau sampai dia kenapa kenapa bisa bisa sekelas di hukum mati.” Tambah Sarah.


“Yare yare...ampun....” Tambah Paul.


Sementara di depan mereka, Julia yang mau tidak mau pindah kesana di ikuti oleh Laurie, Vlad, Otto, Celeste dan Jeremy yang duduk sederet merasa risih juga sedikit tidak nyaman. Evan, Maria dan Rex cuek saja walau kaki mereka sedikit gemetar dan terus melirik kalau kalau ada sesuatu yang terjadi.


***


Sementara di ruang kepala sekolah, Rodrick duduk di mejanya dengan kedua tangan berada di kepalanya yang tertunduk.


“Aku cape....benar benar cape...Sylvia ojo tenka...dia serius rupanya. Semoga mereka bisa membantu ku....lagipula kenapa anak anak itu tidak menahan diri sih, mana ada yang bisa sampai lantai 70 selain pahlawan dalam legenda, haduuuuh.” Ujar Rodrick dalam hati nya.


“Knock...knock...” Pintu ruangan nya di ketuk, Rodrick mempersilahkan mereka masuk ke dalam. Jared dan Ria datang mengunjungi Rodrick yang terlihat lemas.


“Ada apa Rodrick, jarang jarang kamu memanggil ku ke sini ?” Tanya Jared.


Rodrick tidak menjawab, dia hanya memberikan secarik kertas kepada Jared yang kemudian mengambil nya. Jared membacanya dan langsung memberikan nya pada Ria yang duduk di sampingnya,


“Eh apa ini guildmaster ?” Tanya Ria.


“Baca saja, kamu akan mengerti...” Jawab Jared.


Ria langsung membacanya dan setelah itu wajah nya langsung berubah dan mulut nya seperti ingin berteriak,


“Apa ? Leon mau di jadikan kepala ksatria dan tunangan Sylvia ojo tenka....” Teriak Ria kaget.


“Ini masalah serius, kita sudah tahu identitas mereka siapa.” Ujar Jared.


“Itu yang membuatku pusing, salah langkah sedikit bisa hancur kerajaan ini.” Balas Rodrick.


“Um...maksudnya berkaitan dengan job mereka ?” Tanya Ria.


“Benar, kamu tentu tahu kan masalah nya.” Jawab Jared.


“Tapi Leon nya mau tidak, kalau dia mau sih aku ok ok saja....” Balas Ria.


Langsung Rodrick dan Jared mengatakan resiko nya kalau sampai raja tahu apa job mereka dan warna rambut juga mata mereka yang sebenarnya,


“Kamu tentunya mengerti kan Ria atau Valeria Gertude Ingresia ojo tenka, ini masalah serius.” Ujar Jared.


Ria langsung terdiam, bukan hanya di kerajaan Ingresia, tapi juga di lima kerajaan lain yang memegang batu segel termasuk Oreano, ramalan itu sama, jika anak laki laki yang lahir berambut hitam dan bermata silver di kalangan noble, maka dia akan menjadi raja dan menyatukan semua kerajaan berperang melawan dewa kejahatan yang akan terlepas dari segel nya sebagai raja tunggal.


“Itulah sebabnya aku pusing...paling aman kalau mereka pindah ke kerajaan Xifonus, kerajaan paling barat di benua ini dan tidak memiliki batu segel. Tapi kalau memindahkan mereka secara tiba tiba, keluarga kerajaan pasti mencurigai kita.” Ujar Rodrick.


“Saat ini kita jangan bergerak dulu, lihat dulu situasinya, yang penting Ria, tolong beritahu mereka supaya tidak terjebak bujuk rayu Sylvia ojo tenka.” Ujar Jared.

__ADS_1


“Aku mengerti, nanti di rumah aku bicarakan hal ini.” Ujar Ria.


Akhirnya ketiganya terus berdiskusi mencari solusi terbaik untuk masalah ini. Sementara di kelas, Leon masih menoleh ke luar jendela dan tidak mau menghadap ke arah Sylvia karena wajah nya merah, sementara Cathy dan Rose meradang juga geram mendegarkan celoteh Sylvia yang terus berbicara kepada keduanya.


__ADS_2