
Leon dan Rose terus menelusuri lantai demi lantai untuk turun ke lantai 70, tempat tujuan akhir mereka. Mereka berjalan perlahan, karena Cathy yang masih belum sadarkan diri.
“Lantai berapa ini Rose ?” Tanya Leon.
“68 onii chan...dua lantai lagi....” Jawab Rose.
Mereka bertemu dengan sekelompok ghoul yang langsung menyerang mereka. Dengan mudah Leon dan Rose mengalahkan mereka.
“Huuuh...coba onee chan tidak pingsan....bakal cepet nih....lama juga membersihkan lantai satu persatu begini.” Keluh Rose.
“Yah mau gimana lagi, dungeon ini kelemahan nya nee san...” Balas Leon.
“Nih ya onii chan....aku kasih tahu, kalau di manga, hero seharusnya di kerubungi cewe dan membuat harem, ini hero malah takut cewe. Sedangkan saint harusnya main main sama mayat hidup, hantu dan sejenis nya, ini saint malah pingsan ketemu hantu. Kita bener ga sih ini ?” Tanya Rose.
“Ga tau ah.....” Jawab Leon.
Keduanya terus berjalan maju tanpa berhenti walau perlahan. Akhirnya mereka sampai di lantai paling bawah yaitu lantai 70. Leon dan Rose berdiri di depan gerbang nya,
“Ugh.....dimana aku ?” Tanya Cathy yang baru bangun.
“Sudah bangun onee chan ?” Tanya Rose.
“Sudah kuat jalan nee san ?” Tanya Leon.
“Huh....kita masih di dalam istana tadi....gendong terus....” Ujar Cathy yang makin mendekap leher Leon.
“Ya ya....” Balas Leon.
“Sudah yu...masuk..buka onii chan.” Ajak Rose.
Leon mendorong pintu nya, ketiganya masuk ke dalam ruangan. Ruangan di dalam berbentuk seperti di dalam gua dengan danau besar di depan mereka. Di tengah tengah danau itu ada sebuah pulau kecil yang di atas nya ada sebuah gazebo yang melindungi batu segel di dalam nya, tapi sayang, batu segel nya sudah hancur.
“Kita terlambat...” Ujar Leon.
“Tidak Leon, perhatikan, batu segel itu sudah hancur lama, jauh sebelum kita datang. Lihat bekas nya...” Balas Cathy sambil menunjuk ke tengah danau.
Di tengah danau ada reruntuhan yang sepertinya sebuah bangunan yang berbentuk seperti kuil, di lihat dari hancurnya sepertinya kuil itu hancur karena pertarungan yang cukup sengit.
“Hmm waktu di Skytower kan ada Altea yang menjaganya, kok di sini tidak ada ya ?” Tanya Rose.
Kemudian mereka melihat sekeliling sekaligus mencari lingkaran sihir untuk teleportasi. Cathy turun dari punggung Leon dan mulai bekeliling, setelah memutari danau, tiba tiba,
“Leon, Rose sini......” Teriak Cathy.
Leon dan Rose langsung menghampiri tempat Cathy berdiri di pinggir danau. Cathy menunjuk ke dalam danau, mereka melihat ada seekor serigala besar yang berwarna putih dengan ekor seperti api tapi berwarna putih, di kening nya ada tanda huruf X dengan bulu hitam yang berbeda warna dengan keseluruhan bulu nya. Serigala itu mengambang di dalam danau dan di tubuh nya ada seperti ada lapisan es tipis menyelimuti nya. Leon mencoba memasukkan jari nya ke dalam danau dan dia langsung menariknya kembali karena sangat dingin.
“Wow...dingin sekali air ini.....” Ujar Leon sambil memegang jari nya.
“Hmm mau coba di angkat ?” Tanya Cathy.
“Pas...aku tahu sihir yang tepat untuk mengangkat nya hohoho...” Ujar Rose.
__ADS_1
Tanpa bicara lagi, dia langsung mengarahkan tongkat nya ke tubuh serigala putih besar itu.
“Levitation.” Teriak nya.
Tubuh serigala besar itu langsung terangkat keluar dari danau bersamaan dengan beberapa puing kuil yang dekat dengan nya. Rose menjatuhkan nya di tepi danau bersamaan dengan puing puing nya. Setelah itu ketiganya mendekati serigala besar itu, Leon jongkok dan memeriksanya, ternyata di tubuh nya ada bekas sabetan pedang dan tusukan pedang yang besar.
“Dengan luka seperti ini, dia tidak mungkin selamat....” Ujar Leon yang melihat bekas luka yang sudah membeku.
“Hmm biar ku coba...entah kenapa aku merasa dia masih hidup....awas Leon....” Cathy mengangkat tangannya.
“Extra heal.”
Sebuah sinar kuning kehijauan langsung menyelimuti tubuh serigala besar itu dan membuat nya melayang di udara. Kemudian tubuh serigala itu seperti berada di dalam bola cahaya kuning kehijauan. Ketiganya melihat, lukanya berangsur angsur sembuh. Bulunya yang lebat mulai tergerai, lapisan es yang menyelimuti tubuh nya rontok dan serigala itu bernafas kembali. Setelah bola cahaya semakin mengecil, tubuh serigala itu perlahan turun kembali ke tanah.
“Dia masih hidup, kalau tidak sihirku tidak akan bekerja.” Ujar Cathy.
“Sekarang pertanyaan nya, dia jahat tidak ya....” Ujar Rose.
“Tch...kenapa kamu baru bilang hal sepenting itu sekarang.” Balas Leon sambil mengambil pedang nodachi emas nya.
“Grrrrrr......” Serigala itu mulai menggeram dalam keadaan masih tidur.
“Siap siap semuanya....” Ujar Leon.
Serigala itu membuka mata dan langsung berdiri, ternyata dia serigala yang indah dan sangat besar, saking besarnya mungkin bisa untuk di tunggangi, karena besar nya jauh melebihi kuda. Serigala itu menoleh dan melihat ketiganya yang sedang bersiaga, tiba tiba matanya yang garang menjadi bulat dan lucu. Serigala itu maju berjalan dan duduk di depan Cathy. Kemudian dia merebahkan kepalanya sampai ke tanah.
“Selamat datang kembali Hinako sama.....” Ujar serigala itu.
Serigala itu mengangkat kepala nya dan menjulurkan nya melihat Cathy dari jarak dekat.
“Bukan Hinako sama, tapi kenapa hawa keberadaan nya sama dengan Hinako sama...dan lainnya juga sama dengan Yuuta sama dan Fumie sama.” Gumam serigala itu.
“Nah kan, Altea juga waktu ketemu kita bilang begitu, khusus nya kamu Rose yang sama hawa keberadaan nya dengan sage Fumie.” Ujar Cathy.
“Altea ? kalian kenal Altea ? Siapa kalian ?” Tanya serigala itu.
Akhirnya ketiganya menceritakan pertemuan mereka dengan Altea di Skytower. Mereka juga menceritakan siapa mereka kepada Serigala besar itu. Serigala itu mendengar kan dengan seksama sambil duduk di depan mereka. Setelah itu dia langsung berdiri,
“Aku mengerti, bisa kalian ikut aku ?” Tanya serigala itu.
“Ok...silahkan pimpin jalan.” Jawab Leon.
Serigala besar itu berjalan menuju tepi danau, dia melihat ke dalam danau dan duduk kembali di depan danau.
“Auuuuuuuu....” Serigala itu melolong keras.
Tiba tiba air danau terbelah, dari dalam nya keluar sebuah kotak yang bentuk nya sangat mirip dengan lift. Pintu nya terbuka dan serigala itu meminta ketiganya masuk ke dalam. Kemudian dia mengecilkan tubuh nya dan ikut masuk ke dalam. Kotak itu benar benar lift dengan dinding tembus pandang. Hanya ada dua panel di sisi kanan dan kiri, yaitu naik di kanan dan turun di kiri. Serigala itu menekan tombol yang berada di kiri dengan tangan nya. Lift turun masuk ke dalam danau, ketiganya bisa melihat perjalanan mereka turun karena lift itu tembus pandang. Setelah sampai, lift langsung terbuka dan ketiganya keluar.
“Loh...pemandangan ini.....” Ujar Cathy.
“Osaka......berarti kita ada di.....” Tambah Leon.
__ADS_1
“Istana Osaka hahahaha......pemandangan yang membuat kangen.” Tambah Rose.
Kemudian mereka melihat ada sebuah kursi goyang di tengah dan ada yang duduk di atas nya. Sepertinya dia sedang melihat pemandangan keluar. Ketiganya mendekati kursi goyang di tengah dan melihat yang duduk adalah kerangka seorang wanita yang memakai pakaian serba putih. Di tangan nya dia memegang sebuah surat yang di masukkan ke dalam amplop.
“Ambilah surat itu....” Ujar serigala itu dari depan lift.
Dengan perlahan, Leon memindahkan tangan kerangka itu dan mengambil surat nya, kemudian dia meletakkan lagi tangan nya. Leon menoleh melihat Cathy dan Rose yang mengangguk, Leon membuka amplop nya secara perlahan dan melihat ada selembar surat di dalam nya dan sebuah foto. Di dalam foto itu terlihat tiga orang remaja, seorang laki laki dan dua orang perempuan yang sedang berpose mengenakan pakaian hero, saint dan sage. Wajah ketiganya terlihat tertawa, tapi mata mereka terlihat sedih. Leon membuka surat yang di lipat itu dan membacanya, ternyata tulisan nya adalah tulisan kanji jepang yang isinya sebagai berikut,
[Dear Hero, Saint dan Sage penerus kami,
Namaku Kaname Hinako, saat aku menulis surat ini, usia ku sudah 200 tahun lebih, aku sudah jadi nenek hahaha, di dunia ini aku di kenal sebagai saint Hinako dan salah satu dari tiga pahlawan yang mengurung dewa kejahatan Amadeus, ketika kami di panggil ke sini 200 tahun silam, kami tidak siap dan kami takut, tapi kami berbeda dengan kalian, kalian di lahirkan di dunia ini, itu bagus, seandainya kalian bisa membaca surat ini, berarti kalian berasal dari tempat kami berasal, yaitu jepang. Seandainya benar, mohon jaga ingatan kalian, kami tidak bisa pulang dan terdampar di dunia ini selamanya, kami sangat rindu untuk pulang ke dunia kami. Untuk Cathy, saint berikutnya, aku sengaja membuat istana ini menjadi seperti ini karena aku mendapat penglihatan dari dewi kalau saint yang akan datang takut hantu tapi kekuatan nya sangat luar biasa, aku harap aku bisa membantu mu mengalahkan ketakutan mu dan satu lagi, jagalah Kuon, dia adalah seekor serigala Fenrir yang menjadi familiar ku yang akan ku wariskan pada mu. Selamat tinggal dan berjuanglah, Hero Leon, Saint Cathy dan Sage Rose.....Salam sayang dari ku untuk kalian, Kaname Hinako.]
Setelah membaca surat nya ketiga nya melihat kerangka yang duduk di kursi goyang dan mereka melihat pemandangan osaka di depan mereka. Ketiganya memandangi kerangka Hinako sambil menitikkan air mata, mereka sangat merasakan penderitaan Hinako yang dari remaja terdampar di dunia ini dan tidak bisa kembali ke dunia nya walau misi nya sudah selesai, dia hanya bisa memandangi pemandangan yang dia rindukan di akhir hidup nya. Ketiganya bersujud di depan kerangka Hinako dan mengatupkan tangan mereka, ketiganya memejamkan mata dan mendoakan kerangka Hinako. Serigala besar itu berjalan dan dia duduk di hadapan kerangka Hinako.
“Terima kasih sudah mendoakan Hinako sama. Leon sama, Cathy sama, Rose sama....” Ujar serigala yang bernama Kuon itu.
Cathy berdiri dan dia langsung memeluk Kuon sambil menangis tersedu sedu, Rose juga memeluk Kuon di sebelah Cathy dan Leon memeluk semuanya karena badan nya yang besar. Kuon terlihat senang dan sedih secara bersamaan, sebab penantian nya sudah berakhir dan sekarang dia bisa pergi dari istana untuk ikut bersama Cathy. Setelah semuanya tenang kembali,
“Kuon, ijinkan aku membawa kerangka ini ke permukaan, aku ingin memakamkan kerangka Hinako.” Ujar Cathy.
“Baik Cathy sama.....” Balas Kuon sambil menunduk.
Akhirnya ketiganya berkeliling di dalam ruangan itu, di dalam hanya ada sebuah rak buku, sebuah meja dan kursi. Rose langsung membongkar rak buku dan meja nya untuk membuatkan sebuah peti mati untuk menaruh kerangka Hinako di bantu oleh Leon dan Cathy. Setelah peti mati itu jadi, dengan perlahan Leon memindahkan kerangka Hinako ke dalam peti.
“Ok sudah siap, sekarang bagaimana kita keluar dari sini.” Ujar Leon.
“Kita naik lift untuk kembali ke atas Leon sama....” Ujar Kuon.
“Baik, ayo kita pergi....” Ajak Leon kepada Cathy dan Rose.
Keduanya mengangguk. Leon langsung mengangkat peti mati nya dan mendirikan nya di dalam lift. Setelah semua masuk ke dalam, Kuon menekan tombol naik dan mereka langsung naik menuju istana. Setelah sampai di atas, Leon kembali menggotong peti mati nya di bantu oleh Kuon yang menopang belakang nya. Setelah sampai di luar, Rose langsung melubangi tanah dengan sihir tanah nya dan Leon menaruh petinya. Mereka memetik bunga di halaman istana untuk di taburkan di atas peti mati Hinako. Setelah selesai menaburkan bunga, Rose menutup kembali lubang nya, kemudian dia mengambil sebuah batu besar dan membentuk nya menjadi nisan besar yang indah. Leon menulis dengan jari nya di nisan itu, tulisan nya,
“Di sini terbaring Saint Kaname Hinako, pahlawan yang menyelamatkan dunia dan menetap di dunia yang sudah di selamatkan.”
Setelah itu, ketiganya kembali mengatupkan tangan dan melangkah pergi bersama Kuon. Sebelum masuk kembali ke dalam hutan, ke empat nya berbalik dan memberi penghormatan pada istana besar dan berwarna hitam itu.
“Baiklah Cathy sama, aku sekarang akan masuk ke dalam bayangan mu, panggil aku kapan saja. Terima kasih karena sudah memakamkan Hinako sama.”
“Tunggu dulu Kuon, tolong ceritakan kenapa batu segel nya bisa hancur....” Ujar Cathy.
Kuon menceritakan, kalau dia di tugasi oleh Hinako untuk menjaga batu segel semenjak Hinako menutup diri di ruangan itu. Sekitar 2 tahun lalu, seorang ksatria berbadan besar dengan mengenakan zirah lengkap berwarna hitam dan helm bertanduk datang ke istana. Dia bertarung dengan Kuon menggunakan pedang besarnya dan berhasil mengalahkan Kuon. Akhirnya ketika hampir memejamkan mata dan sudah berada di dalam danau, Kuon melihat ksatria itu menghancurkan batu segel hanya dengan sekali ayunan pedang nya dan pergi begitu saja meninggalkan dirinya yang berada di dalam danau.
“Ksatria berzirah hitam dengan helm bertanduk katamu Kuon ?” Tanya Leon sambil mengepalkan tangan nya.
“Benar Leon sama, tapi aku tidak bisa melihat wajah nya karena seluruhnya tertutup helm nya.” Jawab Kuon.
“Aku tahu siapa dia......” Balas Rose sambil meremas tongkat nya.
“Aku juga tahu......” Tambah Cathy yang mengepalkan tangan nya.
Setelah itu, Kuon masuk ke dalam bayangan Cathy dan mereka berjalan masuk ke dalam hutan dengan hati yang kacau, karena mereka tahu yang menghancurkan batu segel 2 tahun lalu adalah ayah mereka, Roland Heindrich. Ketiga nya berjalan sambil saling merangkul dan berpelukan.
__ADS_1