
Leon membelah udara dari atas ke bawah menuju demon raksasa, dia memakai sihir penambah tenaganya sehingga seluruh tubuh nya di selimuti sinar kuning. Demon rakasasa itu melompat sedikit mundur untuk menghindari pedang Leon yang akhirnya menghantam tanah. Debu, batu dan tanah berhamburan ketika pedang Leon mendarat, demon raksasa itu langsung melangkah dan meninju dengan kedua tangan kanan nya. Leon yang tidak sempat menghindar terkena pukulan itu dengan telak. Tapi Leon tidak terluka sama sekali, dia hanya mundur beberapa langkah dan sedikit kaget, karena demon raksasa itu bisa bergerak cepat dengan tubuh besar nya,
“Hehe bagus...sepertinya aku harus serius....” Ujar Leon.
Dia menopang pedang nya di tengkuk nya dan tangan nya mengejek demon raksasa itu untuk maju menyerang nya.
“Graaaaaaah....” Merasa berhasil memukul Leon, demon itu meraung kencang dan berlari maju menyerang Leon.
Leon berdiri tegak, dia menaikkan nodachinya di depan wajah nya dan memegang nya dengan kedua tangan nya. Matanya terpejam,
“Luminus sword.”
Mata pedang nya langsung mengeluarkan cahaya yang sangat terang dan menyilaukan sekitarnya. Demon itu langsung berhenti, dia menutupi mata besar nya yang hanya satu itu dengan kedua tangan kiri nya untuk menghalangi cahaya. Ketika dia menyingkirkan tangan nya, Leon sudah berada di depan nya dan mengayunkan pedang nya. Dalam keadaan terdesak, demon raksasa itu menangki ayunan pedang Leon dengan kedua tangan nya, tapi pedang Leon yang tajam dan sarat sihir penambah kekuatan langsung menebas putus kedua tangan nya.
“Gaaaaaaah........” Demon raksasa itu berteriak kesakitan dan mundur.
Leon tidak berhenti, dia melompat dan memutar tubuh nya dengan kencang di udara, persis di depan tubuh demon raksasa itu.
“Hurricane sword dance.”
Putaran tubuh Leon menjelma menjadi sebuah tornado mini yang sangat tajam. Tubuh demon raksasa yang tidak sempat mengelak itu tercincang dan terpotong potong menyisakan kepalanya akibat terkena telak jurus pedang Leon. Cahaya perlahan menghilang, semua orang yang menonton dari dalam gedung akademi sudah bisa melihat kembali jalan nya pertarungan, tapi mereka tidak melihat apa apa, hanya melihat banyak nya potongan tubuh dan genangan darah. Leon sudah pergi dari sana membawa kepala demon raksasa itu. Vince dan teman teman sekelas Leon mulai bangkit berdiri dan saling menolong satu sama lain.
***
Sementara itu, Cathy dan Rose yang menunggangi naga tulang peliharaan Rose masih mengikuti demon yang terbang membawa Sylvia. Rose mempercepat kecepatan terbang naga nya dan naga sudah berada di belakang demon yang sepertinya agak keberatan membawa Sylvia terbang.
“Rose, lewati atas nya.......” Cathy mulai berdiri di atas punggung naga tulang.
“Ok nee san......” Ujar Rose yang menepuk nepuk leher naga tulang itu.
“Pinjam pistol mu.....” Tambah Cathy yang berdiri.
Rose langsung membuka tas dimensi di pinggang nya dan mengeluarkan satu pistol magnum milik nya. Naga langsung terbang melewati demon, Cathy membidik dari atas dan menembak kedua sayap demon supaya dia jatuh.
“Aaaah.....” Demon itu berteriak karena sayap nya koyak terkena tembakan Cathy.
Demon itu jatuh bersama Sylvia yang berteriak minta tolong karena jatuh ke bawah. Cathy melompat turun, dia mengambil gada replikanya dan melepas mata gadanya. Dia melemparkannya melewati Sylvia dan menangkap tubuh Sylvia dengan rantai nya. Cathy menarik nya ke atas selagi jatuh dan dia langsung menangkap tubuh Sylvia. Cathy mengangkat tangan nya dan tubuh keduanya di selimuti pelindung. “Boom.” Keduanya jatuh ke tanah tapi mereka sama sekali tidak terluka karena di selimuti pelindung. Demon berbentuk gargoyle yang sayap nya sudah hancur berdiri di depan Cathy dan Sylvia. Dia langsung maju menyerang keduanya dengan cakarnya. Cathy mendorong Sylvia supaya menjauh, kemudian menangkis cakar itu dengan gada nya. Tubuh Cathy amblas ke dalam tanah membuat tanah menjadi cekung karena benturan gada dan cakar demon itu. Tapi Cathy sama sekali tidak terluka, dia malah tersenyum lebar.
“Nah akhirnya.......ada musuh sepadan hehehe......”
Cathy memutar tubuh nya dan menedang lurus ke samping mengenai perut demon yang terpental ke belakang dan muntah. Tapi Cathy tidak berhenti, dia mengejar nya dan mengeluarkan gada satunya dari tas. Dia melemparkan kepala gada satunya dan rantai nya melilit leher demon itu. Cathy menarik nya dan demon itu langsung menuju ke arah nya yang sudah siap mengangkat gada satunya lagi yang sudah di selimuti cahaya putih karena di beri sihir holy.
“Skull smash.”
Cathy langsung memukul gadanya yang menyala itu ke kepala demon yang menuju arahnya dengan kencang. Demon itu jatuh ke tanah kepala duluan dan kepalanya masuk ke dalam tanah. Demon itu langsung tidak bergerak lagi, tubuh nya perlahan kembali menjadi manusia lagi seperti semula. Cathy menarik kepalanya dari dalam tanah dan melihat wajah nya yang sudah separuh hancur. Sylvia mendekati Cathy dan Rose turun melayang dari naganya kemudian mendarat persis berdiri di sebelah Cathy.
“Ah...dia Elrond Karlsten senpai. Anak dari count Aaron Karlsten. Dia pernah menghadap ayah ku untuk melamar ku, tapi aku menolak nya. Berarti dalang pengepungan tadi dia.” Ujar Sylvia.
“Hmm...dia bisa menjadi demon, berarti dia ada hubungan nya dengan sekte dan Memphis.” Balas Cathy.
“Kira kira dia bukan ya yang menyerang kita tadi pagi waktu di kelas ?” Tanya Rose.
“Ada kemungkinan, berarti akademi sudah di masuki sekte itu dan mau mencelakai mu Sylvia sama.” Jawab Cathy.
__ADS_1
“Aku akan minta Vince senpai untuk menyelidiki ini dari dalam, karena dia student council di akademi.” Balas Sylvia.
“Lalu sekarang mau diapakan dia ? dia sudah mati....ayahnya mengamuk ga nih ?” Tanya Rose.
“Pasti...sebaiknya kita serahkan ke penjaga yang sedang menuju ke sini.” Tunjuk Sylvia ke jalan.
Beberapa penjaga kota terlihat sedang menuju ke tempat mereka. Ketika sampai dan melihat Sylvia, mereka langsung berlutut. Sylvia menjelaskan apa yang terjadi dan mereka langsung membawa jenazah Elrond.
“Kita harus kembali, Leon sama menghadapi raksasa tadi sendiria....semoga dia tidak apa apa.” Ujar Sylvia khawatir.
Bukan nya ikut khawatir, Cathy dan Rose tertawa mendengar ucapan Sylvia. Mereka langsung menepuk pundak Sylvia.
“Tenang saja Sylvia sama.....dia senang kok.” Ujar Cathy sambil tersenyum di sebelah Sylvia.
“Hehehe tadi sih aku melihat dia tersenyum, seakan akan menemukan mainan baru. Jangan khawatirkan onii chan Sylvia sama.” Tambah Rose yang juga tersenyum.
Akhirnya mereka berjalan kembali menuju akademi bersamaan. Karena kebetulan mereka mendarat di distrik pasar, ketiganya sekalian melihat lihat barang dagangan di pasar dan membeli makanan untuk di makan sambil jalan. Tiba tiba,
“Cathy....Rose.....” Seseorang berteriak di belakang memanggil mereka.
Cathy dan Rose menoleh, mereka melihat Ria sedang bersama Altea sedang bejalan jalan di distrik pasar. Cathy dan Rose melambai kan tangan mereka. Ria dan Altea langsung menghampiri mereka.
“Kok ada di pasar ? bukankah harusnya kalian ada di akademi ya ?” Tanya Ria.
“Ada kejadian nee san.” Ujar Rose.
Cathy dan Rose menceritakan apa yang terjadi di akademi selagi makan siang kepada Ria dan Altea. Ria langsung menghampiri Sylvia dan bertanya apa dia tidak apa apa. Sylvia menjawa tidak apa apa karena dia di lindungi oleh Cathy dan Rose.
“Cathy sama, Rose sama.....ada yang memperhatikan kita, mau ku bereskan ?” Tanya Altea.
“Affirmative....” Jawab Altea yang langsung menghilang.
Karena sudah dekat alun alun, ke empat nya berjalan menuju air mancur besar yang berada di tengah kota. Mereka duduk di tepinya sambil menunggu Altea yang sedang menangkap orang yang memperhatikan mereka. Tak lama kemudian, mereka melihat Altea sedang menyeret seseorang,
“Hey...lepaskan....lepaskan kataku.....” Teriak seorang pria gemuk yang di seret oleh Altea.
“Halah dia lagi.....” Ujar Cathy dan Rose ketika melihat orang yang di seret oleh Altea.
Altea melemparkan orang itu tepan di depan kaki ke empat nya dan dia berjaga di belakang nya.
“Eh Wendell san ?” Tanya Sylvia.
“Oh kenal dengan orang ini Sylvia sama ?” Tanya Cathy.
“Ah dia salah satu kenalan ku waktu kecil....tapi bukan teman sih, sebab beda umur nya sedikit jauh.” Jawab Sylvia.
“Sylvia ojo tenka....tolong beritahu kepada mereka siapa aku.” Ujar Wendell yang berusaha merangkak dan meraih tangan Sylvia.
Tapi Sylvia menghindar dan Altea maju menginjak punggung Wendell sampai dia tidak bisa bergerak. Cathy berdiri dan jongkok di depan nya,
“Lalu, apa mau mu mengikuti kami ?” Tanya Cathy.
“Tolong jangan bicara seenak nya dengan ku, dasar rakyat.....uaaaaah.”
__ADS_1
Belum selesai Wendell bicara punggung nya di tekan Altea karena menurut Altea Wendell kurang ajar pada Cathy.
“Hei hei....kalau di tanya jawab, apa mau mu mengikuti kami ?” Tanya Cathy lagi.
“A..aku hanya melihat Sylvia ojo tenka di bewa terbang demon dan kemudian ada naga, aku mengikuti nya karena khawatir....aku tidak bohong.....” Jawab Wendell yang menoleh melihat wajah Altea yang tanpa ekspresi.
“Hmm begitu ya.....sayang nya kamu bohong....” Cathy yang tahu Wendell berbohong dari ekspresi nya, memberi kode pada Altea.
“Uaaaah....” Altea kembali menginjak dengan kencang punggung Wendell sampai matanya terbuka lebar. Akhirnya dia bercerita kalau dia menunggu demon itu membawa Sylvia kepada nya kemudian dia di tugasi untuk membawanya Sylvia keluar kota.
“Siapa yang menyuruh mu ?” Tanya Cathy lagi.
“Mem.....”
Belum selesai Wendell bicara, keningnya sudah tertancap panah dan dia langsung mati. Rose langsung menarik Sylvia menunduk di bawah air mancur, sementara Ria langsung berjaga. Altea langsung melihat sekeliling mencari dari arah mana panah datang. Cathy melihat panah yang menancap di kening Wendell.
“Panah yang sama dengan panah yang tadi pagi......berarti yang memanah orang yang sama....” Ujar Cathy sambil melihat sekeliling.
“Aku tidak menemukan sasaran, haruskan aku mencari pemanah itu, Cathy sama, Rose sama ? Tanya Altea.
“Tidak usah, terlalu berbahaya....kita harus pergi dari sini dan kembali ke akademi. Tetap waspada. Rose tolong jaga Sylvia.” Ujar Cathy.
“Siap onee chan.....” Balas Rose.
“Ayo jalan, aku ikut ke akademi menemani.....” Ajak Ria.
Mereka langsung berjalan kembali membiarkan Wendell tergeletak di depan air mancur. Cathy, Rose, Ria dan Altea berjalan mengelilingi Sylvia sambil memperhatikan sekeliling jika ada hal yang mencurigakan, Cathy dan Rose menceritakan semuanya kepada Leon di kepala mereka. Begitu sampai gerbang akademi, Leon sudah menunggu di depan gerbang dan langsung menghampiri mereka. Cathy dan Rose membawa masuk Sylvia ke dalam, Leon masih di depan dulu sebentar untuk bicara dengan Ria dan Altea yang tidak boleh masuk ke dalam akademi, selain itu karena ada pelindung, mereka juga tidak bisa masuk. Leon juga menceritakan semua yang terjadi di akademi hari ini, setelah dia membawa kepala demon raksasa yang sudah berubah menjadi manusia itu ke ruang kepala sekolah, kepala mengidentifikasi nya, ternyata si botak itu bukanlah siswa akademi melainkan seorang petualang yang masih muda, lalu 6 orang sisanya yang di bawa kemudian oleh Vince, juga bukan siswa akademi, mereka hanya memakai seragam nya saja dan mereka sedang di interogasi bagaimana mereka bisa mendapat seragam akademi yang di gunakan untuk masuk ke akademi yang di selubungi pelindung.
“Hmm petualang ya....mungkin tidak guild petualang terlibat dengan hal ini ?” Gumam Ria.
“Belum tahu pasti nee san, harus di selidiki lebih lanjut.” Balas Leon.
“Sayang saat ini aku belum bisa bergerak, gini saja, aku akan menulis surat kepada Oscar dan Mabel, supaya mereka kesini membantu kita menyelidiki guild petualang.”
Lalu Ria juga menceritakan kenapa dia bisa bertemu Cathy dan Rose, juga menceritakan cerita mereka.
“Bisa jadi para petualang itu di sewa oleh demon yang membawa kabur Sylvia tadi, Tapi bukankah harus lewat guild ya nee san kalau mau menyewa petualang ?” Tanya Leon.
“Hmm tidak juga sih, banyak juga petualang yang diam diam menjalankan pekerjaan di luar pekerjaan guild, tapi biasanya kalau ketahuan akan di keluarkan dan kartunya di tarik. Tapi katanya level nya sampai 200 ya, kalau begitu mereka petualang aktif dan biasanya kalau petualang level segitu rank nya sudah B. Rasanya tidak mungkin mereka menerima tugas dari luar selain dari guild.” Ujar Ria sambil berpikir.
“Berarti guild petualang di ibukota mencurigakan....” Tambah Leon yang juga berpikir.
“Aku akan minta bantuan Oscar dan Mabel menyelidikinya, tidak usah khawatir dan terus bersekolah seperti biasa....ingat jangan mencolok.” Balas Ria.
“Wah kalau tidak mencolok rasanya sulit nee san.....” Leon menjelaskan semuanya.
“Haaaa.....ya sudah lah, pokok nya jangan menarik perhatian. Aku tunggu di rumah ya, sudah sana masuk ke dalam.” Balas Ria.
“Ok aku masuk dulu....bye bye nee san, sampai di rumah. Altea tolong jaga nee san ya.” Ujar Leon.
“Baik, Leon sama....” Balas Altea.
Leon berbalik dan lari ke dalam gedung akademi. Ria dan Altea pergi meninggalkan akademi untuk pulang ke rumah. Leon langsung masuk ke dalam kelas. Setelah dia membuka pintu, tiba tiba dia melihat seorang sudah melompat kepadanya.
__ADS_1
“Heeeeei......” Teriak Cathy dan Rose di belakang orang itu.
Ternyata orang itu adalah Sylvia yang langsung melompat memeluk Leon dan mendekapnya. Sylvia mengatakan dia khawatir dengan keadaan Leon dan lain sebagainya. Wajah Leon langsung menjadi merah padam seperti tomat dan menoleh ke samping tidak berani melihat Sylvia. Cathy dan Rose langsung menarik Sylvia dari belakang untuk memisahkan nya dengan Leon. Setelah Sylvia terlepas, keduanya langsung mengawal Leon dengan menggandeng lengan kanan dan kirinya menuju kursi mereka. Pelajaran di mulai kembali setelah sensei masuk, Leon, Cathy dan Rose berdiskusi di kepala mereka karena penembak panah di kelas dan di alun alun yang membunuh Wendell belum di ketahui siapa orang nya.