
Di perjalanan, Sylvia diam saja tidak bicara apa apa, sepertinya dia masih terpukul dengan kejadian yang di alami nya. Marvel yang melihatnya langsung menghampiri nya dan duduk di sebelah nya.
“Kenapa diam saja Sylvia ojo ?” Tanya Marvel.
“Papa ku....tahu tidak ya mengenai masalah ini.....perdana menteri ingin membunuh ku.” Jawab Sylvia.
“Tidak usah di pikirkan, yang penting sekarang kamu selamat dulu.” Balas Marvel.
“Tapi..aku khawatir dengan papa ku.....” Ujar Sylvia.
“Lihat mereka.....” Marvel menunjuk Leon yang sedang mengemudi, lalu Ria, Cathy dan Rose yang sedang bermain main dengan Mark dan kelima saudaranya.
Sylvia melihat mereka semua yang berwajah ceria dan seperti tidak punya masalah, walau begitu mereka tetap berjuang.
“Mereka sudah lama sekali tidak pulang, Ria sudah 13 tahun tidak pulang ke kerajaan nya padahal dia putri kerajaan, Leon, Cathy dan Rose malah dari bayi tidak pernah pulang ke kerajaan nya, kelima anak kembar itu malah tidak punya tempat di mana mana. Jadi kita semua di sini sama Sylvia ojo....kamu mengerti kan ? kita hanya bisa maju ke depan tanpa menoleh ke belakang.” Marvel menjelaskan maksudnya.
Sylvia menitikkan air mata melihat semuanya, dia juga merasakan kalau nasibnya sama seperti mereka sekarang. Dia menoleh dan melihat Marvel di sebelah nya yang sedang tersenyum melihat ke depan. Dia juga melihat Marvel yang tidak kembali ke kerajaan nya, walau dia putra mahkota. Setelah melihat semua dan mengerti, akhirnya Sylvia bertekad untuk tidak menjadi beban dan berjuang bersama dengan yang lainnya. Wajah nya sudah tidak sedih lagi dan dia menghapus air matanya.
“Terima kasih Marvel sama.....” Ujar Sylvia.
“Hei jangan pakai ‘sama’....di sini kita semua tidak ada putri atau putra kerajaan, semua nya sama, semua teman hehe.” Balas Marvel sambil tersenyum.
“Baiklah aku mengerti Marvel san.....” Balas Sylvia sambil tersenyum.
Akhirnya Sylvia berdiri dan mulai bergabung dengan yang lainnya. Marvel tersenyum melihat nya, tapi senyum nya langsung menghilang karena dia sudah mendengar mengenai ramalan perang besar. Bis terus berjalan menjauh dari kota untuk masuk ke pegunungan, rute yang mereka ambil tidak langsung menuju perbatasan kekaisaran Lenox, melainkan memutar menuju Astarte dan masuk dari perbatasan kerajaan Astarte ke kekaisaran Lenox.
***
Sementara di sebuah rumah bangsawan yang berada di ibukota Oreano, perdana menteri Gregor masuk ke dalam sebuah ruangan, setelah masuk dia mengunci pintu nya. Ruangan itu kosong, tidak ada perabotan satu pun di dalam nya, di dinding hanya ada sebuah cermin besar. Gregor berdiri di depan cermin itu, dia mengangkat tangan nya untuk menyentuh cermin. Tiba tiba cermin menyala dan menampilkan seorang pria sedang duduk santai di singgasana sambil menopang dagunya. Ketika melihat nya, Gregor langsung berlutut dan menunduk,
“Jadi gimana laporan nya ?” Tanya pria yang duduk di singgasana itu dengan sombong nya.
“Maafkan aku yang mulia raja Edmund Ingresia, sepertinya mereka lolos, sebab belum ada laporan dari orang orang saya.” Jawab Gregor sambil berlutut.
“Bukan itu kan yang kutanyakan, mereka sudah tidak bisa apa apa selain kabur, yang aku tanyakan, bagaimana Sylvia ojo, sudah di bunuh ?” Tanya Edmund.
“Putri menghilang dari istana dan ibukota, sepertinya dia sudah tidak mungkin kembali lagi yang mulia.” Jawab Gregor.
“Hmm....tetap waspada, kita harus mengantisipasi nya, langsung saja jalan kan rencana kita, limpahkan semua tuduhan kepada putri seperti di kerajaan Astarte.” Balas Edmund.
“Baik yang mulia, akan saya jalankan....” Balas Gregor.
“Tapi tak ku sangka, adik ku ternyata masih hidup...” Gumam Edmund.
“Aku bisa memastikan nya yang mulia, dia benar benar masih hidup dan hidup tenang di sini.” Balas Gregor.
“Ya sudah, biarkan saja, prioritaskan dulu rencana utama, kita harus secepatnya mengambil alih kerajaan Oreano, mengerti ?” Perintah Edmund dengan sombong nya.
“Baik yang mulia, saya permisi dulu.” Ujar Gregor.
Cermin pun kembali menjadi seperti semula dan Gregor keluar dari ruangan untuk menjalankan tugas nya. Sementara itu, di singgasana kerajaan Ingresia.
“Valeria.....kamu masih hidup rupanya....kalian...” Tangan Edmund terangkat memanggil dua orang di samping nya.
Seorang ksatria berpakaian zirah hitam dan besar, bersama dengan seorang penyihir yang memakai topeng maju ke depan.
“Cari adik ku Valeria dan bunuh dia.....jangan sampai gagal.” Perintah nya kepada kedua orang yang berdiri di depan nya.
Ksatria hitam dan penyihir bertopeng itu tidak menjawab, mereka menunduk di hadapan Edmund dan berbalik untuk keluar dari singgasana.
“Kali ini kamu tidak akan lolos lagi, Valeria adik ku tercinta hahahahaha....” Ujar Edmund sambil tertawa dan menutup wajah nya dengan tangan.
***
Bis yang di kendarai Leon akhirnya sampai di kaki pegunungan. Normal nya untuk menaiki pegunungan adalah menggunakan kereta kuda atau berjalan kaki, tapi karena mereka terburu buru, Leon langsung naik menggunakan bis.
“Pegangan ya semua, jalan bakal penuh guncangan....” Teriak Leon.
Semuanya langsung berpegangan dengan kursi mereka. Cathy, Rose, Ria dan Altea terlihat tenang saja, tapi kelima anak kembar dan Sylvia saling berpelukan, Marvel juga berpengangan erat dengan tiang yang ada di dalam bis. Leon terus mengemudikan bis nya dengan perlahan dan stabil. Kalau melihat keluar melalui jendela di sebelah kanan, maka akan langsung melihat ke jurang.
“Hmm terjal juga ya....” Ujar Leon.
“Tenang saja onii chan, bis ini bukan bis biasa hehehe.” Balas Rose.
“Ya ya aku percaya....” Balas Leon.
“Ngomong ngomong di kerajaan Astarte ada apa ? kalau ada desa atau kota apa kita tidak mau mampir dulu ?” Tanya Cathy.
“Kalau desa masih bisa, tapi kalau kota resiko nya besar.” Jawab Ria.
“Aku keluar, banyak monster mengincar kita....” Ujar Altea.
Kemudian dia membuka pintu dan melompat ke atas atap. Tak lama kemudian terdengar suara tembakan beruntun, banyak serigala putih jatuh masuk ke jurang, selain serigala ada juga makhluk seperti manusia berbulu lebat seperti kera yang besar ikut jatuh ke dalam jurang. Selain itu juga ada beberapa monster terbang seperti wyvern, giant moth, horned bee yang jatuh ke dalam jurang. Akhirnya setelah beberapa saat, suara tembakan beruntun berehenti, tapi Altea mengatakan dia akan tetap di atas untuk berjaga. Karena naik bis, mereka sudah hampir sampai di pertengahan gunung. Disana ada spot khusus untuk yang melakukan perjalanan naik ke gunung beristirahat. Leon memarkir bis nya di sana, mereka semua turun untuk menghirup udara pegunungan yang segar.
“Haaaah....serasa di hokkaido....” Ujar Rose.
__ADS_1
“Hokkaido ?” Tanya Sylvia.
“Ah...bukan apa apa....” Jawab Rose.
“Dasar, kamu tuh ya, suka keceplosan begitu, lama lama kita ketahuan nih berasal dari dunia lain.” Ujar Cathy di kepala nya.
“Hehehe maaf Onee chan....” Balas Rose.
Leon menuju ke pinggir hutan, dia melihat jalan setapak mengarah masuk ke dalam hutan, tapi tidak bis di masuki kendaraan. Leon mencoba masuk ke dalam hutan melalui jalan itu. Cathy dan Rose yang melihat Leon masuk ke dalam hutan, mengikuti nya. Di penghujung jalan, ternyata Leon kembali berada di luar hutan tapi di depan nya ada sebuah istana yang sangat besar dan berwarna hitam.
“Hmmm......istana apa ini ? kok berada di tengah gunung ?” Pikir Leon sambil mengamati istana itu.
Cathy dan Rose juga keluar dari jalan dan tertegun melihat istana yang sangat besar di depan mereka dan berwarna hitam legam.
“Leon, ini istana apa ?” Tanya Cathy sambil melihat istana nya.
“Kok kayak istana dracula ya......” Tambag Rose.
“Jangan bercanda Rose.....” Ujar Cathy yang mulai menggandeng Leon.
Rose juga maju dan menggandeng lengan Leon. Karena melihat dua saudari nya sudah datang,
“Mau masuk ?” Tanya Leon.
“Siapa takut...” Jawab Rose.
“Aku yang takut....kalau ada hantunya gimana.....” Balas Cathy.
“Dah tenang nee san, ada aku....” Balas Leon.
“I..iya...tapi tolong ya, kalau ada yang aneh langsung keluar.” Ujar Cathy.
“Tenang onee chan.....aman.....ada diriku hehe.” Balas Rose.
“Kamu tidak enak di peluk.....” Balas Cathy.
“Ih...kok gitu....” Balas Rose.
Akhirnya Leon membuka gerbang nya dan ketiganya masuk berjalan menuju pintu masuk ke dalam istana. Ketika sampai di depan pintu, mereka melihat sebuah lingkaran sihir persis seperti yang mereka lihat sewaktu mereka berada di Skytower.
“Hmm ini lingkaran sihir teleportasi, berarti istana ini dungeon.” Gumam Rose.
“Sudah yu, masuk ke dalam....siap ya....” Ujar Leon yang sudah memegang pintu nya.
Leon mendorong pintu nya, tapi begitu pintu terbuka, mereka melihat ada pusaran hitam. Ketiganya langsung terserap pusaran hitam itu.
“Waaaaaaaaa.....” Teriak ketiganya ketika masuk ke dalam.
Cathy tiba di sebuah ruangan yang memiliki pintu dari kayu dan ada jeruji di atanya seperti di dalam penjara. Dia langsung menoleh ke kanan dan kiri, yang dia lihat hanya ruangan yang gelap.
“Leon....Rose.....dimana kalian....Leon......Rose.....”
Cathy berdiri gemetar sambil memegang sebuah gadanya dengan dua tangan. Dia berusaha untuk melangkahkan kaki ke depan.
“Leoooon....Roseeee.....jangan bercanda.....aku takut nih......” Teriak Cathy.
“Oh tidak....aku sendirian....bagaimana ini......siapa saja tolong....” Pikir nya dalam hati.
Akhirnya dia melangkah pelan pelan menuju pintu. Ketika tangan nya yang gemetar ingin memegang gagang pintu, dia mendengar suara rantai yang di seret di lorong yang ada di depan pintu dan suara itu semakin mendekat ke arah nya.
“A..apa....itu.....aduuuh.....kok kayak film horror nih.......” Pikir nya.
Cathy memaksakan diri membuka pintunya dan mengintip keluar, ternyata di luar adalah sebuah lorong yang gelap dan tidak berujung.
“Light ball.”
Sebuah bola cahaya keluar dari tangan nya dan terbang di atas kepalanya untuk menerangi jalan. Cathy memberanikan diri keluar dan ketika menoleh ada sebuah baju zirah berdiri di belakang nya.
“Aaah....oh...bikin kaget saja...”
Tapi kemudian baju zirah itu mengangkat pedang nya dan menyerang Cathy. Karena reflek, Cathy langsung memukul baju zirah itu dan baju zirah itu rontok jatuh ke tanah menimbulkan bunyi menggema. Cathy mengarahkan bola sinar nya dengan membungkuk sedikit. Dia melihat tidak ada orang yang berada di dalam baju zirah itu. Otak nya langsung otomatis memproses, baju zirah bergerak > kosong > poltergeist > hantu. Cathy langsung jatuh terduduk, seluruh tubuh dan kaki nya gemetar.
“Han...han...hantuuuu.....to..tolong.....Leooooon.....Roseeeee......siapa sajaaaa.....” Teriak nya.
“Nee san....” Teriak Leon dari kejauhan.
“Onee chaaan....” Teriak Rose dari kejauhan.
Cathy menoleh ke belakang nya, dia mendengar suara Leon dan Rose di kejauhan. Tapi ternyata di belakang nya ada sebuah tengkorak yang memakai baju zirah berdiri dan membawa rantai. Cathy sudah tidak bisa berteriak, dia hanya pasrah saja dan memejamkan mata karena sudah sangat takut. “Prakk.” Terdengar suara keras di belakang nya,
“Kamu tidak apa apa nee san ?” Tanya Leon sambil jongkok di belakang nya.
“Le...Leon....benar ini kamu.....benar kan ini kamu.....” Ujar Cathy yang masih memejamkan mata.
Leon langsung mendekap Cathy yang gemetar dan Cathy langsung tahu kalau yang mendekap nya adalah Leon yang asli.
__ADS_1
“Waaaaaaaah......waaaaaaah....aku takut sekali.....waaaaaah...aku mau keluar....” Cathy langsung berbalik dan menangis tersedu sedu di pelukan Leon.
Rose juga jongkok di sebelah Cathy yang masih menangis tersedu sedu. Dia mengelus ngelus punggung Cathy untuk menenangkan nya. Setelah Cathy sudah tenang,
“Onee chan....yang tadi onee chan bunuh itu bukan hantu, tapi monster, namanya living armor, lalu tengkorak ini namanya skeleton soldier. Aku tadi tanya Altea pakai smartphone dan menurut Altea istana ini dungeon yang di ciptakan oleh saint Hinako untuk menjaga batu segel milik kerajaan Astarte.” Ujar Rose.
“Maaf ya...aku saint tidak berguna....takut hantu.....akan ku hantam saint sinting yang bikin dungeon seperti ini, kalau sampai ketemu.” Ujar Cathy.
“Hahaha ayo nee san, kita jalan, kuat berdiri ga ?” Tanya Leon.
“Ga kuat....gendong....” Jawab Cathy.
Leon langsung berbalik menyediakan punggung nya, pedang nya di masukkan ke tas dimensi nya. Cathy menaruh gadanya di tas dimensinya dan merayap naik ke punggung Leon.
“Oh iya, dungeon ini juga sampai lantai 70, tapi bukan naik ke atas, melainkan ke bawah...” Ujar Rose.
“Terserah....aku mau keluar.....” Ujar Cathy.
“Um....maaf nee san itu tidak mungkin, karena kita ada di lantai 59 sekarang, kalau mau keluar harus lawan boss dulu atau sekalian sampai ke 70.” Balas Leon.
“Jadi portal itu membawa kita ke lantai 59 ?” Tanya Cathy.
Leon dan Rose mengangguk bersamaan, Cathy yang ada di punggung Leon langsung memeluk Leon.
“Ya sudah, mau gimana lagi, harus lanjut kan....” Ujar Cathy.
“Sabar ya nee san, kita maju....” Ujar Leon.
Leon dan Rose langsung berlari menuju ujung lorong, setelah melewati jalan berkelok kelok dan membunuh beberapa monster yang berupa baju zirah dan tengkorak, mereka sampai di tangga turun ke bawah. Leon dan Rose langsung turun ke bawah dan mereka bertemu dengan gerbang besar. Leon membuka gerbang nya, kemudian mereka masuk ke dalam.
“Kosong....” Ujar Cathy.
“Hati hati onii chan....ada yang datang....” Ujar Rose.
“Ya...aku tahu.....” Balas Leon.
Ternyata di atas mereka ada sebuah bayangan wanita yang menyeramkan melayang, lama kelamaan wujudnya menjadi nyata menjadi seekor monster bernama banshee.
“Uaaaaaaaaaah.....” Banshee itu mengeluarkan gelombang suaranya ke arah Leon, Cathy dan Rose.
Leon dan Rose langsung melompat menghindar, gelombang suara itu menghantam lantai dan menghancurkan nya.
“Um...Rose dia monster kan ? bukan hantu ?” Tanya Cathy.
“Bukaaaan onee chan.....dia monster.......hajar....” Teriak Rose.
Cathy yang berada di punggung Leon mengangkat tangan nya. Sebuah lingkaran sihir berwarna putih keluar dari tangan nya,
“Turn undead.”
Sebuah cahaya terang dari atas berbentuk pilar, turun menghantam banshee itu. Tubuh banshee itu mulai memudar,
“Aaaaaaaaaaaah....” Teriak banshee karena kesakitan.
Akhirnya tubuh banshee besar itu menghilang dan hanya meninggalkan sebuah kristal yang jatuh bersamaan dengan sebuah palu besar berwarna perak campur emas.
“Yesss....berhasil...” Teriak Rose girang.
Leon langsung maju mengambil kristal dan palu nya. Kemudian dia menunjukkan palu nya kepada Cathy.
“Lihat nee san, palu ini bisa kamu pakai.....nee san ? oi nee san ?” Tanya Leon.
“Dia pingsan onii chan.....” Ujar Rose.
“Hah...kok bisa ?” Tanya Leon.
“Pasti tadi waktu banshee tadi menghilang dia sadar kalau itu bukan monster melainkan hantu hehehe.” Jawab Rose.
“Oh begitu ya...lucu juga nee san...hehe...” Tambah Leon.
“Tapi onii chan ada masalah nih....” Balas Rose mulai serius.
“Kenapa lagi ?” Tanya Leon.
“Lingkaran sihir yang untuk teleportasi keluar di mana ya ? tidak ada.” Jawab Rose.
“Nah loh....ini masalah...berarti tidak ada pilihan lain kan...” Balas Leon.
“Ya....harus ke lantai 70....” Ujar Rose.
“Tapi nee san pingsan gini.....” Balas Leon.
“Apa boleh buat...” Balas Rose.
Akhirnya mereka berjalan menuruni tangga karena tidak punya pilihan lain selain menuju lantai 70.
__ADS_1