Isekai Overpower Triplets : The Saint, The Hero, The Sage - All Reincarnator

Isekai Overpower Triplets : The Saint, The Hero, The Sage - All Reincarnator
Chapter 34


__ADS_3

Mereka melanjutkan perjalanan melintasi hutan, Mark dan saudara saudaranya menjadi ceria, mereka berjalan sambil di ajari cara menggunakan sihir baru mereka. Ria menoleh dan melihat Leon, Cathy, Rose berjalan dengan tertunduk lemas. Sylvia juga menoleh setelah nya,


“Mereka kenapa nee san ?” Tanya Sylvia.


“Biasa, sudah tahu begitu sampai ke kerajaan Xifonus, mereka akan sibuk, belum apa apa sudah lemas duluan, dari dulu selalu begitu, mereka kayaknya tidak mau kerja, hehe.” Jawab Ria.


“Oh begitu hahaha...lucu juga ya....tapi memang sih, selama ini yang bekerja mereka.” Balas Sylvia.


“Itu dia...makanya aku senang di dekat mereka...” Tambah Ria.


Tak lama kemudian mereka berhasil keluar dari hutan, mereka sudah masuk ke wilayah kekaisaran Lenox. Mereka melihat ada sebuah desa kecil berada tidak jauh dari hutan mereka keluar.


“Ada desa di depan, karena sudah sore sebaiknya kita mampir ke sana.” Ujar Marvel.


“Setuju, besok kita lanjutkan ke perbatasan.” Tambah Ria.


“Yaaaaa...kami setuju....” Ujar Leon, Cathy dan Rose lemas.


“Kalian masih lemas saja ?” Tanya Ria.


“Pikiran ku penuh....” Jawab Leon.


“Sama.....memikirkan kerja yang banyak.” Tambah Cathy.


“Dan pikiran mereka mengalir pada ku, jadi aku ikut ikutan...” Tambah Rose.


“Kalian ini....ayo ceria, kita selesaikan semuanya, setelah itu baru kita tenang kan, kalau kita tidak selesaikan, mau memangnya hidup tenang kita terganggu ?” Tanya Ria sambil merangkul ketiganya.


Leon, Cathy dan Rose saling menoleh dan melihat satu sama lain, akhirnya mereka mulai bersemangat kembali.


“Berangkat....” Ujar ketiganya sambil menuntun lima anak kembar bersama mereka.


“Nah semngat lagi ?” Tanya Sylvia.


“Gampang bikin mereka semangat asal tahu trik nya hehehe.” Jawab Ria.


Mereka langsung berjalan menuju desa yang ada di depan mereka. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai di gerbang desa dan masuk ke dalam. Di dalam, mereka melihat penduduk kebanyakan hanyalah orang tua dan anak anak, tidak ada yang lain, tidak ada anak muda, wanita muda dan paruh baya. Wajah penduduk terlihat suram, sepertinya mereka sudah tidak punya semangat untuk hidup. Leon, Cathy, Rose dan lainnya berjalan memasuki desa dan mencari tempat untuk bisa menginap malam itu. Setelah hampir sampai alun alun desa, mereka melihat ada sebuah penginapan dan restoran di depan mereka. Leon, Cathy dan Rose langsung memimpin yang lain masuk ke dalam.


“Permisi...” Sapa Leon.


“Selamat datang....” Seorang kakek yang sedang duduk di restorannya yang sepi membalas menyapa Leon.


Kakek itu berdiri dan menghampiri Leon dan lainnya yang masih berdiri di depan pintu.


“Kalian mau menginap atau mau makan ?” Tanya kakek itu.


“Kami mau menginap dan makan malam di sini, bisa jisan ?” Tanya Leon.


“Bisa bisa, kalian duduk saja dulu, nanti istri ku akan membuatkan makanan, sementara aku akan menyiapkan kamar kalian di atas.”


Akhirnya mereka langsung masuk ke restoran dan duduk di dalam. Tidak ada siapa siapa di restoran itu, selain dua orang ksatria kekaisaran yang sedang terlungkup di meja dalam keadaan mabuk. Tak lama kemudian, seorang nenek membawakan makanan untuk mereka. Kelima anak kembar itu langsung makan dengan lahap dan mereka sedikit berisik.


“Berisik....” Teriak salah satu prajurit yang mabuk itu.


Leon, Cathy dan Rose menoleh melihat kedua prajurit yang mulai mengangkat kepala nya.


“Hei baasan...minuman....” Teriak keduanya.


“Anoo..kalian sudah terlalu banyak minum....” Ujar baasan penjaga restoran.


“Cepat bawakan baasan, atau aku hancurkan tempat ini....” Balas seorang prajurit lagi.


“I..iya sebentar.” Ujar baasan yang sedang membawakan minuman untuk Leon dan lainnya.


Karena tidak senang Leon, Cathy, Rose dan lainnya di layani duluan, kedua ksatria mabuk itu berdiri dan langsung melempar baasan dengan gelas mereka. Seorang dari keduanya, mengambil minuman milik Altea yang memang tidak minum dan langsung meminum nya tanpa ada sisa, gelanya langsung dia lemparkan kepada baasan yang sedang terjatuh. Ketika seorang prajurit mendekati baasan untuk memukul nya, Leon menangkap tangan nya dan langsung melemparnya menghantam semua meja di dalam.


“Kurang ajar....” Teriak prajurit sebelah nya sambil mencabut pedang.


Belum sempat dia berbuat apa apa, Cathy sudah mendendang nya dari belakang dan membuatnya tersungkur ke depan menghantam pembatas dapur. Leon langsung menarik kedua prajurit itu dan melemparkannya ke jalan.


“Oh tidak...” Ujar jisan yang baru turun dari atas dan melihat dua prajurit terkapar di jalan.

__ADS_1


“Maaf jisan, terpaksa....mereka membuat keributan ketika kita sedang makan.” Balas Leon sambil menoleh melihat jisan di belakang nya.


“Bukan itu, kalian semuanya cepat ikut aku. Cepat.....” Teriak jisan.


Akhirnya semuanya berdiri dan mengikuti jisan masuk ke dalam dapur, kemudian jisan membuka sebuah pintu di lantai dan mengajak mereka masuk turun ke bawah. Leon, Cathy dan Rose menjadi penasaran, ada apa sebenarnya, kenapa jisan terlihat sangat takut seperti itu.


“Jisan, kita mau kemana ? apa yang sebenarnya terjadi ?” Tanya Leon.


“Nanti ku ceritakan, sekarang kita ke sana dulu...” Tunjuk jisan ke dalam lorong.


Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah ruangan besar seperti bangsal yang sangat besar di bawah tanah. Leon, Cathy, Rose, Ria dan lainnya melihat banyak sekali pemuda dan pemudi di dalam, banyak juga petualang yang sedang meringkuk di sudut.


“Light ball....”


Sebuah bola cahaya hinggap di kepala Cathy menerangi semuanya. Ternyata semua yang ada di bawah tanah itu adalah budak, mereka semua memakai kalung. Leon langsung memegang pundak jisan,


“Ada apa sebenarnya jisan, bisa ceritakan kepada kami ?” Tanya Leon sambil menghentikan langkah jisan.


“Aku ceritakan...”


Jisan bercerita kalau para penduduk muda di desa dan para orang tua anak anak yang mereka asuh di tangkap oleh para prajurit kekaisaran, tujuan nya untuk di jadikan budak dan gladiator. Mereka juga mengincar para petualang untuk tujuan yang sama. Cara mereka adalah mencari masalah, seperti dua orang prajurit tadi. Kalau ada petualang yang bereaksi pada sikap mereka apalagi sampai menghajar mereka seperti yang di lakukan Leon dan Cathy tadi, mereka akan menangkap petualang itu untuk di jadi kan budak atau gladiator karena dianggap bersalah menentang petugas keamanan, walau mereka menjatuhkan hukuman tanpa pengadilan. Itulah yang selama ini terjadi di desa ini dan para budak yang berhasil meloloskan diri, di tampung oleh jisan di penginapan nya.


“Mereka yang berbuat seperti itu siapa ? kekaisaran ?” Tanya Leon.


“Para noble, mereka berlomba lomba mendapatkan gladiator terbaik untuk memenangkan hati kaisar dan naik jabatan, selain itu, mereka juga menjual budak ke kerajaan lain dan melecehkan budak perempuan. Mereka juga mendidik anak anak menjadi pembunuh bayaran dan tentara bayaran.” Jawab jisan.


“Ting...ting...ting...” Sebuah lonceng kecil yang ada di ruangan berbunyi, yang membunyikan nya adalah baasan berarti para prajurit sudah datang mengepung penginapan. Leon, Cathy, Rose berbicara di kepala mereka.


“Ini kayak waktu masih di jepang dan aku sangat tidak suka.....” Ujar Leon.


“Tempat mu ya....” Balas Cathy.


“Ya, praktiknya mirip mirip, hanya saja mereka pakai prajurit, kalau disana pakai geng.” Balas Leon.


“Jadi mau gimana ?” Tanya Rose lagi.


“Hancurkan.....aku tidak mau lihat ada yang seperti di jepang ada di sini.....jangan sampai ada anak anak yang bernasib sama dengan ku.” Ujar Leon geram.


“Yuuuuk.....” Ujar keduanya sambil tersenyum lebar.


“Heheh yuuuk....” Balas Leon yang merangkul mereka.


“Jisan, ada jalan keluar lain dari sini ?” Tanya Leon.


“Ada, tapi keluar ke desa...lewat jalan sana.” Jawab jisan.


“Baiklah, kita keluar, Ria nee san, Sylvia, Marvel san, Mark dan lainnya, tunggu di sini.” Ujar Leon.


Altea langsung menjadi tas punggung dan menempel pada punggung Rose.  Ketiga melangkah keluar dari jalan yang menuju keluar desa.


“Tunggu kalian mau kemana ?” Tanya Ria.


“Main main hehehe.....Ria nee san duluan saja ke Xifonus, kita mau kerja.” Ujar ketiganya sambil tersenyum.


“Haha dasar...ya sudah, tapi pasti nyusul ya....” Teriak Ria melambaikan tangan.


“Sip...” Jawab ketiganya mengacungkan jempol sambil terus berjalan menuju keluar.


Leon, Cathy dan Rose berlari menelusuri lorong, kemudian mereka melihat tangga naik ke atas yang di tutup oleh sesuatu di atas. Leon melompat dan memukul ke atas, sebuah batu besar yang menutupi lubang terpental. Ketiganya keluar melompat dan masuk kembali ke desa dari pagar. Mereka langsung menuju penginapan, di dalam mereka melihat baasan sudah tergeletak tak berdaya dan di pukuli oleh beberapa prajurit.


“Hoi....” Teriak ketiganya.


Semua prajurit di dalam menoleh. Seorang yang sepertinya komandan sebab dia berpenampilan seperti centurion (komandan romawi), mendekati ketiganya.


“Kalian yang menyerang petugas.....berani sekali kalian muncul menentang kami, kami prajurit kekaisaran.....”


Komandan terpental karena di tinju oleh Leon. Melihat komandannya terpental, para prajurit langsung bersiap menyerang ke tiganya. Leon, Cathy dan Rose berpura pura melarikan diri ke alun alun, para prajurit terpancing mereka dan langsung mengepung alun alun.


“Ok Rose...silahkan.” Ujar Leon.


“Hehehe sip....”

__ADS_1


Rose mengangkat tangan nya dan sebuah lingkaran sihir besar keluar, naga tulang yang sangat besar keluar dari lingkaran sihir, tapi kali ini, tidak hanya satu melainkan tiga.


“Groaaaaaaar....” Ketiga naga tulang itu meraung keras menggetarkan alun alun.


Tidak sedikit prajurit yang lari tunggang langgang melihat nya, sisa nya yang tidak bisa lari terduduk pasrah dengan celana basah. Leon mendekati salah satu prajurit,


“Hey...siapa yang menyuruh kalian ?” Tanya Leon.


“Lo..lord Derotidus....di..dia tuan tanah desa ini, ru..rumah nya di kota Proma...”


“Hoo begitu, ok ikut kami.” Leon mengangkatnya dan menaikkan nya ke naga tulang.


Kemudian ketiganya terbang menggunakan naga masing masing. Prajurit yang berpakaian seperti prajurit romawi itu menangis ketika naga tulang mulai terbang, tapi dia menunjukkan lokasi kota Proma yang ternyata tidak jauh dari desa itu. Ketika sampai, Leon, Cathy dan Rose mendarat jauh di luar gerbang, kemudian Leon melemparkan prajurit itu. Setelah naga tulang menghilang, Rose mengambil tiga buah borgol yang bisa di lepaskan oleh diri sendiri dan memeberikan nya pada Leon juga Cathy. Kemudian ketiganya memborgol diri mereka sendiri dan membangunkan prajurit yang ketakutan.


“Hei...tangkap kami, bawa kami ke dalam....langsung ke rumah noble yang kamu sebut tadi.” Ujar Leon.


“Hah....aku membawa kalian masuk ke dalam ?” Tanya prajurit itu ketakutan.


“Yup, cepat....kita tidak mau berlama lama..bilang saja di suruh komandan mu kek atau apa kek, cari alasan.” Jawab Cathy.


“Ta..tapi...langsung ke kediaman lord Derotidus ?” Tanya prajurit itu lagi.


“Iya dong, kalau ke penjara berarti kota ini rata sama tanah, paham kan hehe.” Jawab Rose.


“Ba..baik...a..ayo jalan....” Ujar prajurit itu.


Akhirnya mereka berjalan dan prajurit itu bertindak sebagai orang yang menangkap mereka, walau keringatnya bercucuran dan kaki nya gemetar. Di depan gerbang, prajurit itu langsung menejelaskan kepada penjaga, kalau dia di minta membawa ketiganya ke rumah lord Derotidus.


“Tapi tumben, biasanya komandan yang mengantak, kenapa malah kamu ?” Tanya penjaga.


“Komandan sedang menangkap buronan lain, aku di suruh oleh nya mengantar mereka sebelum mereka lari.” Jawab prajurit itu.


Penjaga mengamati ketiganya yang sengaja memasang tutup kepala supaya di anggap sebagai tahanan.


“Petualang lagi....ujung ujung nya mati di arena....baiklah, langsung saja bawa kesana.”


“Makasih...ayo jalan (maaf).” Balas prajurit itu yang berpura pura mendorong ketiganya.


“Grrrrr....” Ketiganya menggeram.


“Hiii maaf....kan aku sudah bilang maaf...” Bisik prajurit sangat perlahan.


Sepanjang perjalanan menuju kediaman lord Derotidus, Leon, Cathy dan Rose bercakap cakap di kepala mereka.


“Jadi rencana nya kita tekan noble ini supaya membawa kita ke arena sebagai gladiator dan mengamuk di sana ?” Tanya Cathy.


“Hohohoh....aku sudah tidak sabar...” Tambah Rose.


“Ya, kita harus menemui kaisar, minta dia hapus perbudakan, kalau perlu kita hancurkan arena nya. Setelah kemarin melawan papa mama kita, aku merasa yakin kita bisa menghancurkan kekaisaran ini.” Ujar Leon.


“Hehehe onii chan nafsu....” Balas


Ketika mereka hampir sampai ke kediaman lord, Cathy bertanya seperti apa noble itu dan seperti apa kaisar di negeri ini oleh prajurit di belakang.


“Um....noble yang akan kita temui ini, orang nya sombong, dia benar benar berambisi mau mempersunting empress muda Julia Aurellius Lenox dan menguasai negeri ini.”


“Sebentar....empress muda ? berarti kaisar negeri ini wanita ?” Tanya Leon.


“Benar, masih muda, baru berumur 17 tahun.....” Ujar prajurit itu.


Otak Leon langsung memproses, empress muda > umur 17 tahun > wanita berkuasa > kelakuan nya sama seperti yakuza > ojouchan yakuza penindas bawahan nya. Trauma di kehidupan masa lalu nya langsung muncul.


“Oh tidak......” Wajah Leon langsung pucat.


“Ahhhh penyakitnya muncul....” Gumam Cathy dan Rose sambil menggelengkan kepalanya.


“Penyakit ?” Tanya prajurit itu.


“Jangan ikut campur....” Teriak Cathy dan Rose bersamaan.


Kemudian keduanya mulai mendorong Leon yang jalan nya menjadi pelan dan mengatakan keduanya akan melindungi Leon. Akhirnya setelah berjalan cukup lama, mereka sampai di sebuah rumah besar dan luas, jarak ke rumah dari pagar cukup jauh. Leon yang gemetar berdiri di tengah di gandeng oleh Cathy dan Rose yang mengapitnya. Mereka bersiap menghadapi noble yang ada di dalam kediaman nya.

__ADS_1


__ADS_2