Isekai Overpower Triplets : The Saint, The Hero, The Sage - All Reincarnator

Isekai Overpower Triplets : The Saint, The Hero, The Sage - All Reincarnator
Chapter 6


__ADS_3

Beberapa hari setelah nya, Leon, Cathy dan Rose tinggal bersama dengan Ria di rumah yang tidak jauh dari akademi. Mereka menolak untuk tinggal di dorm karena tidak mau meninggalkan Ria sendirian. Selain itu, mereka tidak biasa terpisah karena dari kecil sudah bersama. Hari itu adalah hari pertama mereka masuk ke akademi,


“Nee san, kita pergi dulu...” Teriak ketiga nya sambil membuka pintu.


“Iyaa...selamat bersenang senang.” Jawab Ria dari dalam.


Ketiga nya keluar, Leon mengenakan seragam dengan blazer putih dengan list hitam, kemeja hitam di dalam nya yang terlihat ketat karena tubuh nya yang kekar dan celana panjang putih dengan sepatu pantovel untuk sekolah. Dia tidak memakai dasi karena merasa sesak. Cathy memakai seragam yang sama dan juga tidak memakai pita karena kemeja nya saja sulit untuk menutup akibat dada nya yang cukup besar. Perbedaan seragam mereka hanya celana di ganti oleh rok putih. Hanya Rose yang benar benar rapih dan hanya dia yang memakai pita merah nya di ikat kupu kupu. Ketiga berjalan menuju akademi melalui jalan ramai. Karena mereka di anggap murid pindahan, mereka tidak langsung masuk ke kelas mereka, tapi ke ruang kepala sekolah dulu. Di dalam Rodrick sudah menunggu,


“Kalian datang...baiklah Agnes sensei silahkan ajak mereka ke kelas.” Ujar Rodrick.


“Baik, ayo Leon, Cathy, Rose ikuti saya.” Ajak Agnes sensei sambil tersenyum.


“Baik sensei.” Jawab ketiganya.


Ketika mereka sudah berbalik dan ingin keluar, tiba tiba Rodrick berdiri dan belari, dia merangkul ketiganya dari belakang dan berbisik.


“Jangan sekali kali melepas penyamaran ya....” Bisik nya sambil menunjuk gelang yang di pakai Leon.


“Heee..sensei tahu...?” Bisik ketiganya.


“Haha tentu saja, yang punya job seperti itu yang memiliki ciri ciri khas sama.” Balas Rodrick berbisik.


Rodrick mendorong ketiganya dan melambaikan tangan nya. Ketiganya membalas melambai sambil tersenyum dan keluar dari ruangan, setelah pintu tertutup,


“Sudah di mulai ya.....” Ujar nya sambil berbalik dan berjalan ke mejanya.


***


Leon, Cathy, Rose mengikuti Agnes menuju kelas mereka. Agnes menoleh dan melihat ketiganya sambil tersenyum.


“Enak ya kembar tiga....” Ujar nya.


“Iya sensei...” Jawab ketiganya kompak.


“Ingat ya, jangan terlalu mencolok, teman teman sekelas kalian baik baik, hanya saja...sedikit aneh, harap maklum ya.” Ujar Agnes.


“Sedikit aneh ?” Tanya ketiganya bingung.


“Nanti kalian akan tahu...” Jawab Agnes sambil berbalik.


Mereka berjalan menelusuri lorong melewati kelas kelas lain, penyamaran mereka hanya merubah warna rambut dan mata mereka, jadi wajah mereka tetap, ketika melewati kelas kelas lain, ketiganya menjadi pusat perhatian, wajar saja, karena Leon terlihat tampan dan jantan, sedangkan Cathy terlihat seperti wanita kalem yang cantik dan seksi. Rose sudah seperti idol yang mirip seperti boneka berjalan. Tapi semua murid kelas lain masuk kembali ke kelas mereka karena melihat mereka berhenti di kelas yang mereka anggap kelas anak buangan dan orang aneh.


“Huh...lagi lagi manusia aneh.” Ujar seorang murid.


“Sayang sekali ganteng dan cantik tapi terbelakang hahaha.” Tambah seorang murid perempuan.


Hujatan demi hujatan yang seperti nya di sengaja supaya mereka mendengarnya, di lontarkan oleh para murid kelas lain sambil tertawa mengejek. Leon, Cathy dan Rose yang memang tidak mengerti kalau itu adalah ledekan dan hujatan, malah malu malu kucing, membuat yang meledek menjadi sebal dan kesal bukan kepalang.Wajar saja, di kehidupan masa lalu, mereka tidak pernah menyentuh sekolah, apalagi berinteraksi dengan teman sebaya, jadi bisa di maklumi kalau mereka tidak mengerti. Agnes masuk lebih dulu ke dalam,


“Duh kok jadi grogi ya....baru kali ini nih merasa seperti ini.” Ujar Leon.


“Hehe sama...gandengan ya...” Tambah Cathy yang langsung menggandeng tangan Leon.


“Aku juga....” Rose juga menggandeng tangan Leon.


Agnes membuka pintunya dan mempersilahkan mereka masuk. Dengan bergandengan tangan ketiganya masuk ke dalam. Ternyata benar yang di katakan Agnes, di dalam mereka melihat banyak sekali orang aneh selain Fran, Evan, Gerard dan Jeremy.  Ada seorang murid yang sudah pakai seragam memakai jubah hitam dan menghindari matahari, ada yang membawa kapak besar, ada seorang perempuan yang di kepalanya banyak batang pohon, ada yang berkacamata sangat tebal sampai matanya terlihat sangat besar.


“Ayo, silahkan perkenalkan diri kalian, jangan diam saja.” Ujar Agnes.


“Halo...aku Cathy....”


“Aku Leon....”


“Rose....”


“Siiiing....” Suasana kelas menjadi sunyi. Agnes menggelengkan kepala nya sambil tersenyum kecil, akhirnya dia yang memperkenalkan ketiganya, Leon dengan job sword saint, Cathy dengan job Bishop, Rose dengan job wizard. Tiba tiba seorang siswa pria berambut pirang panjang mengenakan ikat kepala dan memiliki telinga panjang (elf), langsung melompat dan menghunus sebuah tombak kepada Leon. Karena serangan itu terlihat sangat lambat lagipula tidak ada hasrat membunuh, Leon dengan santai menangkap ujung tombak nya dengan kedua jari nya. Siswa itu mencoba menarik kembali tombak nya tapi tidak bisa. Dia menarik tombak nya dengan sekuat tenaga sampai wajah nya menjadi merah, setelah itu dia duduk melepaskan tombak nya dengan nafas terengah engah. Leon yang berpikir hal itu adalah cara menyapa dan mengajak berteman, langsung mengembalikan tombak nya dan menujulurkan tangan nya untuk membantu nya berdiri.


“Halo...aku Leon, kamu siapa....mari berteman.” Ujar Leon yang tiba tiba wajah nya menjadi merah.


Dia langsung menoleh kepada Cathy dan Rose di belakang nya, dia berbicara di kepalanya,

__ADS_1


“Hei...caraku sudah benar belum ?” Tanya Leon.


“Mana aku tahu....udah teruskan saja.” Jawab Cathy.


“Jangan tanya aku onii chan hehehe....” Tambah Rose.


Siswa yang menyerang Leon menjadi tertegun, tapi dia tersenyum dan langsung menjabat tangan Leon yang kemudian menarik nya berdiri.


“Aku Frederick, panggil saja Freddy, job ku lancer, salam kenal, semoga kita bisa berkerjasama.” Ujar Freddy menjabat tangan Leon.


Karena senang salam nya di jawab oleh Freddy, wajah Leon langsung berubah menjadi ceria. Dia langsung menyalami Freddy dengan memegang tangannya dengan kedua tangan nya sambil tersenyum lebar dan menoleh pada kedua saudari nya. Cathy dan Rose di belakang menitikkan air mata dan bertepuk tangan kecil sambil tersenyum lebar. Tapi seluruh kelas menjadi heran dan tertegun,


“Mereka datang dari dusun mana ?” Hampir semua di kelas berpikir demikian termasuk Freddy.


Setelah selesai berjabat tangan dengan Freddy, Leon malah mencabut pedang nodachi tiruan panjang nya dari punggung nya dan sambil tersenyum bangga, dia bertanya kepada teman sekelas,


“Ayo siapa lagi yang mau berteman ?” Tanya nya dengan tersenyum lebar.


Melihat kesuksesan Leon mendapat teman, karena ingin mengikuti jejak nya, Cathy dan Rose maju ke depan, keduanya mengeluarkan gada dan tongkatnya sambil tersenyum lebar. Tentu saja, Fran, Evan, Gerard dan Jeremy yang melihat nya langsung berdiri, karena mereka tahu sekuat apa ketiganya,


“Waaaaa.....Leon san...” Teriak Fran  dan Gerard sambil menghampirinya.


“Cathy san.....Rose san....jangan...” Teriak Evan dan Jeremy.


Ke empatnya langsung permisi kepada Agnes dan membawa ke tiganya keluar. Leon, Cathy dan Rose bingung karena mereka di dorong keluar, tapi karena yang medorong Fran dan lainnya, mereka pasrah saja. Setelah pintu di tutup, suasana kelas menjadi hening,


“Haaah...kalian semua, tolong hati hati, mereka itu tidak mengerti, selama ini mereka hidup terisolasi dari dunia luar, mereka hanya bertiga, kemampuan sosialisasi mereka nol besar, ajari mereka cara berteman dan bergaul, lalu, tolong jangan buat mereka marah, kalau sampai mereka marah, jangankan sekolah ini, kerajaan ini bisa hancur.” Ujar Agnes menegur seluruh murid di kelas.


“Oh...gitu sensei....” Jawab seluruh murid di kelas yang mulai merinding.


“Aku mengerti sensei, serangan sekuat tenaga ku hanya di hentikan pakai jari...gila.” Tambah Freddy.


“Mereka kembar ya sensei ?” Tanya seorang siswi yang di kepalanya banyak tanaman nya.


“Ya, mereka kembar tiga....oh satu lagi, walau mereka tampan dan cantik cantik, jangan sekali kali mendekati mereka...kalau tidak percaya coba saja.” Tambah Agnes sambil menantang.


“Sip sensei di mengerti.” Jawab seluruh kelas tanpa terkecuali.


“Halo Leon san, namaku Julia, job ku Druid dan sebelah ku Laurie, job nya assasin, salam kenal ya, semoga kita bisa berteman.” Ujar Julia.


“Salam kenal....Leon san.” Sapa Laurie.


“I..iya...salam...kenal.....” Leon merasa risih.


“Leon, tukar....” Ujar Cathy.


“Iya nee san...” Balas Leon.


Leon langsung betukar tempat duduk dengan Cathy,dia duduk diantara Cathy dan Rose.


“Aku Cathy....” Ujar Cathy kepada Julia dan Laurie dengan pandangan dingin dan senyum yang di paksakan.


“Sa..salam kenal Cathy san...” Ujar Julia dan Laurie sambil menunduk.


Tiba tiba siswa pria yang duduk di depan mereka, yang memakai jubah hitam dan menjauh dari matahari, menoleh kebelakang.


“Halo Rose san, aku Vlad, job Vampire...Salam kenal.” Vlad menjulurkan tangannya kepada Rose.


Tapi tangannya langsung di jabat Leon yang langsung meremas tangan nya dengan senyum yang di paksakan.


“Hai, aku Leon...salam kenal.” Ujar nya.


“Aaaah...iya Leon san....salam kenal...bisa tolong lepaskan tangan ku...” Ujar Vlad kesakitan.


“Oh maaf....” Leon langsung melepas kan tangan nya.


Vlad langsung menoleh, tangannya remuk, tapi karena dia vampire dan dari ras oni, tangan nya sembuh dengan cepat. Hal itu tidak luput dari perhatian seluruh kelas,


“Ternyata ini toh yang di maksud sensei, mereka brocon dan siscon akut stadium 4....” Pikir seluruh kelas di dalam kepalanya.

__ADS_1


Tapi kenapa sensei bisa tahu, penyebabnya adalah Rodrick yang mendapat cerita dari Fran, Evan, Gerard dan Jeremy selama perjalanan di ceritakan tentang ketiganya oleh Ria, kira kira mengerti dan menceritakan nya kepada Agnes.


***


Pelajaran akhirnya di mulai, ketiganya mendengarkan penjelasan sensei dengan antusias, mereka di ajari tentang sihir, kemampuan job, cara menggunakan jurus dan lainnya. Tapi ketiga nya berpikir dan akhirnya berdiskusi sendiri,


“Loh semua itu kan sudah kita pelajari ya....” Ujar Leon.


“Iya, tapi lumayan lah seru juga hehe.” Balas Rose.


“Jadi ini toh yang namanya sekolah...menarik juga.”


“Onee chan ga pernah sekolah ya di kehidupan dulu ?” Tanya Rose kepada Cathy.


“Wah gimana ya, aku pake home tutor soalnya, gurunya datang ke rumah.” Jawab Cathy ( yang dia maksud di fasilitas, seorang ilmuwan datang ke kamarnya mengajari dia macam macam ).


“Kalau onii chan ?” Tanya Rose lagi kepada Leon.


“Aku ya...hmm....sama sih, di rumah juga, tapi gurunya banyak....” Jawab Leon (maksudnya adalah, di rumah yakuza, gurunya ya semua yang ada di sana).


“Oh gitu ya, sama aja...” Balas Rose (maksud dia, belajar sendiri di internet otodidak, di markasnya sendiri).


Mereka dengan ceria mendengarkan pelajaran yang di sampaikan sensei, sebab mereka baru merasakan sensasi di sekolah. Teman teman mereka yang tadinya tidak semangat mengikuti pelajaran jadi tebawa senang karena melihat ketiganya. Akhirnya tiba istirahat makan siang, semua murid tidak ada yang keluar, mereka mengeluarkan makan mereka masing masing. Leon, Cathy, Rose menjadi bingung, karena mereka tidak membawa makanan. Tapi mereka ingat kata kata Ria semalam dan memberi mereka uang untuk membeli makanan. Akhirnya ketiganya berdiri dan berniat keluar kelas. Tapi seluruh teman teman nya mencegah mereka,


“Maaf, tapi sebaiknya kalian jangan keluar dulu.” Ujar Freddy.


“Kenapa ? kami mau beli makanan...dimana ya tempat nya.” Balas Leon.


“Um...maaf tapi di cafetaria banyak yang tidak senang sama kita, nanti kalian malah di bully.” Ujar Julia.


“Mereka benar Leon san, Cathy san, Rose san, keadaan kita memang seperti ini, kalau kalian tidak keberatan, mau makan bekal ku, kebetulan aku bawa banyak.” Ajak Fran.


“Tidak apa apa....kalian tenang saja.” Ujar Cathy.


Ketiganya akhirnya memaksa keluar dan menutup pintunya kembali, Semua teman sekelas mereka menjadi khawatir. Seluruh nya langsung berdiskusi, akhirnya, Freddy, Laurie, Evan dan Fran pergi keluar, ke empatnya bisa bergerak cepat jadi kalau ada apa apa bisa memberitahu guru. Ketika mereka keluar, suasana lorong sepi, ke empatnya mulai khawatir. Dengan perlahan mereka mendekati cafetaria, ketika hampir sampai, mereka melihat kerumunan murid di depan pintu cafetaria.


“Oh tidak....” Ujar Freddy.


“Cepat Freddy san....” Ajak Fran.


Ke empatnya langsung berlari menerobos kerumunan dan masuk ke dalam cafetaria. Begitu sampai di dalam, ternyata mereka melihat Leon, Cathy dan Rose sedang duduk santai sambil makan dengan lahap, di sekitar mereka banyak siswa siswa laki laki yang terkapar, sepertinya mereka siswa senior. Leon menoleh dan melihat Freddy, Fran, Laurie dan Evan berdiri di depan pintu,


“Hei...sini...” Teriak Leon ceria memanggil ke empat nya.


Ke empatnya langsung masuk ke dalam dan menghampiri Leon, mereka berjalan hati hati supaya tidak menginjak para siswa yang terkapar.


“Um..apa ini Leon ?” Tanya Freddy.


“Oh mereka mau coba coba mengajak nee san dan Rose ke tempat lain, begitu ku cegah mereka malah menyerang ku. Ya begitulah....” Ujar Leon santai sambil makan.


“Lalu yang perempuan ?” Tanya Laurie.


“Huh berani beraninya merangkul lengan Leon, iya ga Rose...” Ujar Cathy sambil menoleh pada Rose.


“Iya tuh, nekat mereka...ada kita lagi di samping onii chan, ya onee chan .” Tambah Rose.


“Haaaaa....dasar brocon dan siscon parah.” Pikir Freddy, Fran, Laurie dan Evan yang sepertinya merasa konyol karena khawatir berlebihan.


Akhirnya mereka duduk bersama Leon, Cathy dan Rose sambil bercanda dan bersenda gurau. Mereka semua duduk di tengah tengah cafetaria, sementara para murid lain makan sambil berdiri mengelilingi mereka tanpa ada satupun yang berani mendekat.


***


Hari pertama berakhir, ke tiganya langsung pulang ke rumah mereka dengan ceria. Di rumah, mereka di sambut oleh Ria yang sepertinya juga baru saja pulang.


“Kami pulang.” Teriak ketiganya.


“Selamat datang di rumah....gimana sekolah nya ? senang ?” Tanya Ria.


“Senang nee san....” Ujar ketiganya.

__ADS_1


Lalu ketiganya menceritakan apa yang terjadi di akademi, dari mereka datang sampai pulang, kejadian di kelas, teman teman mereka di kelas dan kejadian di cafetaria. Mendengar cerita mereka, wajah Ria menjadi pucat dan memaksakan diri untuk tersenyum.


“Duh menyuruh mereka sekolah tindakan yang benar ga ya....” Ujar nya dalam hati sambil mendengarkan ketiganya bercerita.


__ADS_2