
Akhirnya sampai juga ke jam istirahat makan siang, Agnes sensei langsung berjalan keluar kelas dengan sempoyongan dan memegang kepalanya sebab tidak ada satu pun muridnya yang menyimak pelajaran nya, dia sendiri juga tidak konstentrasi mengajak, pandangannya selalu mengarah kepada empat orang di belakang kelasnya. Teman sekelas Leon, Cathy dan Rose yang berjumlah 15 orang langsung mengajak Sylvia keluar dengan sedikit memaksa meninggalkan ketiganya di kelas.
“Akhirnya....terima kasih teman teman...” Ujar ketiganya di kepala mereka sambil menghela nafas lega.
“Ngapain sih ojo tenka itu pindah ke sekolah ini.....” Teriak Cathy melampiaskan amarahnya di kepalanya.
“Apa sih yang dia cari, apa yang dia bilang kemarin memang nya serius....kamu jangan diam saja onii chan..” Teriak Rose sewot di kepalanya.
“Memang aku harus bagaimana lagi, aku malu, aku tidak terbiasa menghadapi wanita, kecuali kalian berdua.” Ujar Leon dengan wajah merah.
“Ah benar juga, aku pernah dengan kalau Shadoukira hanya mmebunuh target laki laki hehe.” Balas Rose.
“Tolong jangan bawa bawa masa lalu ya....kemarin itu benar benar ciuman pertamaku dari masa lalu sampai sekarang, aku malu.” Ujar Leon.
“Hehe maaf onii chan.....aku juga sama kok tenang saja.” Tambah Rose.
“Huh, makanya kita jagain dia Rose..” Tambah Cathy.
“Benar juga...setuju onee chan...” Balas Rose.
Tiba tiba Laurie dan Jeremy datang masuk ke kelas dengan tergesa gesa dan nafas memburu.
“Leon...san....Cathy san....Rose...san...tolong.” Ujar Jeremy terbata bata.
“Di cafetaria....Sylvia ojo tenka.....tolong.” Ujar Laurie yang juga terbata bata.
Melihat dua teman nya seperti sedang panik sampai tidak bisa bicara, Leon, Cathy dan Rose berdiri, mereka langsung menghampiri keduanya. Setelah keduanya tenang, mereka bercerita kalau di cafetaria, Sylvia sedang di ganggu oleh seorang anak noble dari kota lain yang kemarin waktu penyerahan hadiah, dia tidak mau hadir karena benci dengan kelas mereka. Jeremy dan Laurie menarik tangan ketiganya dan membawa mereka keluar kelas menuju cafetaria. Di dalam banyak orang yang berkerumun, mereka membawa Leon, Cathy dan Rose menerobos kerumunan, ternyata benar, di dalam Sylvia sedang tersudut di dinding dan di depan nya ada lima orang anak bangsawan yang sepertinya senior di sekolah sedang menyudutkan nya dengan meletakkan siku di atas kepala Sylvia yang tersender di dinding, mereka juga melihat Freddy, Paul, Rex dan Gerard terkapar di tanah. Sedangkan yang lain berusaha menolong Sylvia tapi di tahan oleh empat orang anak bangsawan senior lainnya.
“Oi oi oi...kamu sombong sekali rupanya, seharusnya kamu bersukur, aku, Dearyl S Cromwell, anak dari viscount Cromwell sudah mau bicara dengan mu dan mengajak mu main main.” Teriak Dearyl dengan sombong nya dan tersenyum bengis.
“Kamu tidak sadar aku ini siapa ? berani sekali kamu menyudutkan ku seperti ini.” Teriak Sylvia.
“Haaa...memang siapa kamu. Hanya perempuan yang harusnya jadi budak ku, noble rendahan dari desa.” Balas Dearyl sambil mengangkat tangan nya ingin menjamah Sylvia.
Leon langsung berada di samping nya dan menangkap tangan nya, Cathy dan Rose juga langsung menghajar ke empat lainnya sampai pingsan.
“Yo...ada perlu apa dengan dia ?” Tanya Leon sambil menunjuk Sylvia.
“Leon sama.....” Ujar Sylvia.
“Haaah satu lagi, berani berani nya kamu menghentikan ku, hey kalian, hajar dia.....hey....” Teriak Dearyl.
“Sayang sekali, teman teman mu sudah tiarap di belakang.” Ujar Cathy di belakang Dearyl.
Dearyl menoleh dan melihat semua teman nya sudah terlungkup di tanah dan di tumpuk oleh Rose yang menginjak nya. Wajah nya langsung berubah menjadi geram dan dia melancarkan pukulan nya kepada Leon dengan tangan satunya. Leon dengan santai mengelak dan menarik tangan Dearyl yang sedang dia pegang, dengan satu tangan dia melemparkan Dearyl sampai membentur dinding.
“Kurang ajar....kamu benar benar membuatku marah, asal kamu tahu ya, aku level 150 swordman, aku hajar kamu.....” Dearyl bangkit dan mencabut pedang nya.
Leon menarik Sylvia dan memberikan nya pada Cathy dan Rose di belakang nya. Dearyl berlari maju dan langsung menusuk perut Leon yang membiarkan perutnya di tusuk.
“Leon sama....” Teriak Sylvia sambil berusaha maju.
“Santai, lihat tuh...” Ujar Cathy mencegah dengan memegang pundak Sylvia yang ingin maju.
“Serangan seperti itu sih tidak masalah buat onii chan...” Tambah Rose yang juga memegang pundak Sylvia di sebelah nya.
__ADS_1
Sylvia menoleh, Dearyl susah payah menusuk perut Leon dengan pedang nya. Leon dengan santai menjepit pedang nya dengan dua jarinya dan dengan telunjuk tangan satunya, dia membelah pedang itu dan pedang itu patah.
“Haaa...pedang tumpul begini mau menyerang ku.” Ujar nya sambil melemparkan mata pedang nya di depan Dearyl yang jatuh terduduk.
“Awas kamu...aku serius....” Dearyl memasukkan sebuah pil ke dalam mulut dan menggigit nya.
Dearyl mengerang hebat, tubuh nya bergetar, kepalanya mulai mengeluarkan tanduk besar dan kulitnya menghitam, dari punggung nya keluar dua buah sayap naga yang lebar berwarna hitam. Seragam nya sobek karena tubuh nya membesar dan tangan nya menjadi sangat kekar. Melihat Dearyl berubah, Leon mulai serius, Cathy dan Rose langsung berdiri di samping Leon. Teman teman sekelas ketiganya, berlarian dan berdiri di belakang ketiganya sambil melindungi Sylvia.
“Hati hati nee san, Rose....” Ujar Leon.
“Ya...” Balas keduanya kompak.
“Hahahahaha....lihat kekuatan ku, kalian tidak akan bisa melawan ku...aku tidak terkalahkan hahahah...”
Belum selesai Dearyl tertawa, tinju Leon sudah mendarat di wajah nya dan membuat nya terpental. Karena ketiganya tidak membawa tas dimensi mereka, ketiganya bertarung dengan tangan kosong dan jurus beladiri mereka. Dearyl yang tepental jatuh langsung berdiri sambil mengusap mulutnya yang mengeluarkan darah akibat tinju Leon. Dearyl langsung maju menyerang dengan kedua cakarnya sambil terbang melayang ke arah Leon. Tanpa jeda sedikitpun, Leon menangkap kedua lengan nya.
“Nee san...sikat.” Teriak Leon.
Cathy langsung maju dan menendang perut Leon dari bawah ke atas sehingga membuat tubuh Dearyl terpental ke atas dengan kedua tangan masih di pegang oleh Leon.
“Rosee...hajar.” Teriak Cathy.
Rose melompat dan dengan kedua kepalan tangan yang di satukan dia memukul punggung Dearyl yang sedang terpental ke atas. Tubuh Dearyl langsung menuju tanah dengan cepat dan sebelum jatuh, Leon melepas kedua tangan nya sehingga Dearyl menghantam tanah dengan kencang.
“Ahak.....” Ujar Dearyl sambil memuntahkan darah.
Leon langsung menginjak punggung nya dan merobek kedua sayap nya supaya dia tidak bisa terbang lagi.
“Gyaaaah....” Teriak Dearyl yang kesakitan saat sayap nya di cabut.
“Freeze.” Teriak nya.
Tubuh Dearyl membeku di dalam bongkahan es dan menyisakan kepalanya di luar. Leon mendirikan bongkahan es itu dan membuat nya berdiri dengan kepala di atas.
“Ti..tidak mungkin...ini kekuatan penuh ku....” Ujar Dearyl.
Sebelum Leon, Cathy dan Rose bertanya dan bicara, tiba tiba sebuah anak panah melesat dan menembus mata Dearyl sampai ke belakang kepalanya. Leon, Cathy dan Rose langsung menoleh kebelakang, arah anak panah itu melesat. Mereka melihat ke atap, ternyata demon wanita yang sama dengan demon wanita yang mereka temui di menara itu sedang menempel di langit langit dengan crossbow masih di tangan nya.
“Hei...tunggu....” Teriak Leon.
Dengan kecepatan kilat, demon wanita itu merayap ke arah jendela dan lompat keluar. Leon, Cathy dan Rose mengejarnya ke jendela dan melihat keluar, demon wanita itu sudah tidak ada.
“Sial...dia kabur lagi...” Ujar Cathy.
“Siapa sih dia, kita belum sempat tanya apa apa kepada senpai itu...” Ujar Rose.
“Tapi nama keluarganya Cromwell dan ayahnya viscount, mungkin bisa di selidiki.” Ujar Leon.
“Kita harus bilang pada Rodrick sensei.” Tambah Cathy.
“Anoo....”
Ketiganya langsung menoleh dan melihat Sylvia dengan wajah merah berdiri di depan ketiganya, sementara teman teman mereka melihat nya dengan wajah bermacam macam dan sulit di jelaskan satu persatu. Cathy dan Rose langsung berdiri di depan Leon yang juga langsung memalingkan wajahnya.
“Terima kasih kalian bertiga, kalian benar benar hebat. Aku benar benar mengucapkan terima kasih dari hati ku.” Ujar Sylvia menunduk.
__ADS_1
“Iya sama sama...” Jawab ketiganya bersamaan.
“Fran, tolong beritahu ayah mu soal kejadian di sini.” Ujar Leon.
“Tidak perlu, sudah ada yang memberi tahu ku...”
Rodrick sudah berada di depan cafetaria bersama sensei sensei lain termasuk Agnes sensei. Rodrick dan sensei sensei lain termasuk Agnes langsung memeriksa Dearyl yang sudah meninggal di dalam bongkahan es akibat kepalanya di panah. Rodrick melihat Leon, Cathy dan Rose tidak membawa senjata dan panah bukan lah senjata mereka. Sylvia menceritakan kejadian nya pada Rodrick dan sensei lain, dengan Leon, Cathy, Rose dan seluruh teman sekelas sebagai saksi nya. Setelah itu beberapa sensei keluar untuk memanggil petugas keamanan supaya membawa bongkahan es itu keluar. Rodrick juga mengumukan kalau para murid boleh pulang ke rumah, kecuali semua yang ada di kelas khusus. Kerumunan langsung bubar, semua murid keluar dari cafetaria dan di arahkan sensei untuk segera pulang. Setelah semua sensei berdiskusi dengan Rodrick dan petugas membawa bongkahan es keluar, Rodrick meminta ke 19 anak di kelas khusus duduk di meja yang sudah di susun untuk semuanya.
“Coba ceritakan dari awal semuanya.” Ujar Rodrick.
Fran dan lainnya langsung bercerita kalau awalnya Dearyl langsung mendekati Sylvia walau sudah di peringati oleh teman nya yang di luar dari kelompok nya kalau Sylvia itu putri kerajaan. Mendengar peringatan itu, Dearyl malah sengaja mendekati sampai akhirnya menyudutkan Sylvia, semua teman sekelas berusaha menolong tapi semua nya kalah oleh kelompok Dearyl. Baru ketika Leon, Cathy dan Rose datang, semua bisa di atasi. Kemudian Dearyl di bunuh oleh seorang demon wanita yang bergelantngan di langit langit tanpa ada yang menyadari nya.
“Ok, berarti musuh memang mengincar Sylvia ojo tenka dan mereka bisa masuk dengan mudah ke dalam akademi yang memiliki sihir pelindung, mereka pasti orang dalam karena tidak mungkin ada demon bisa masuk ke sini, ada kemungkinan beberapa murid terlibat juga.” Gumam Rodrick.
“Apa sudah ada yang di curigai sensei ?” Tanya Cathy.
“Ada enam orang dan semuanya adalah noble dari luar kota. Yang kemarin kalian tangkap juga dari kalangan noble. Aku harus melaporkan ini ke baginda raja, kamu mengerti kan artinya Sylvia ojo tenka ?” Tanya Rodrick.
“Maaf sensei menyela sedikit, supaya bisa masuk pelindung di akademi ini bagaimana kalau ada pelindung nya ?” Tanya Rose.
“Lambang di seragam kalian adalah kunci nya, lihat, para sensei juga pakai dan kalau ada tamu pasti di beri tanda pengenal yang ada lambang akademi ini.” Jawab Rodrick.
“Aku mengerti, aku akan bicara dengan papa, tapi aku tetap mau di akademi ini.” Jawab Sylvia.
“Tapi situasi nya berbahaya, makhluk itu adalah demon dalam legenda, kaki tangan dewa kejahan Amadeus yang tergabung dalam satu sekte, aku yakin baginda raja pasti tidak akan setuju anda di sini.”
“Itu makanya aku yang akan bicara dengan papa, anda mengerti kan Rodrick san, aku ada di sini bukan hanya karena ingin dekat dengan Leon kun.” Ujar Sylvia serius.
“Baiklah, bisa tolong jelaskan di sini ?” Tanya Rodrick.
Sylvia mengatakan, kalau alasan dia berada di kota Lindwurm demi keamanan nya, alasan dia mendekati Leon, Cathy dan Rose juga karena hal ini, karena raja menilai ketiganya bisa melindungi Sylvia. Ibukota sekarang sedang dalam keadaan darurat, para noble berontak, melakukan konspirasi di belakang raja. Targetnya ingin menggulingkan raja dan menggantikan nya, tapi selama Sylvia masih hidup, maka mereka tidak bisa berbuat apa apa. Leon, Cathy dan Rose langsung berdiskusi diam diam di kepalanya,
“Hmm berarti sama ya posisi nya dengan Ria nee san.” Ujar Leon.
“Lagi lagi ojo tenka yang lari, sama persis seperti Ria nee san.” Tambah Cathy.
“Tapi ini aneh, kalau memang sasaran nya adalah Sylvia ojo tenka, harusnya demon wanita tadi bisa menghabisi dia dengan mudah dan diam diam, bukan malah membunuh senpai itu.” Tambah Rose.
“Kamu benar Rose, pasti ada agenda lain yang kita belum tahu selain mengincar Sylvia ojo tenka.” Tambah Cathy.
“Saat ini kita belum tahu, info nya terlalu minim, petunjuk kita hanya sekte Black templar dan Memphis.” Tambah Leon.
“Aku malah merasa sarang mereka ada di akademi ini, coba saja pikir, kemarin kita bertemu mereka di menara saat perbatasan di serang, sekarang kita bertemu mereka lagi sejak Sylvia pindah ke sini hari ini. Kota yang paling dekat dengan menara adalah kota Lindwurm ini dan desa kemarin juga aneh, masa seluruh penduduk adalah demon dan tidak ada yang mengetahui nya.” Ujar Cathy sambil berpikir.
“Dan tempat persembunyian terbaik adalah tempat ramai dan semua memakai pakaian yang sama. Akademi ini memang tempat persembunyian yang terbaik, apalagi sensei tadi bilang tidak sembarangan orang bisa masuk pelindung yang melindungi akademi ini, jelas mereka ada di akademi ini, sebab hanya modal seragam yang sangat mudah di peroleh dan lambang di seragam, bisa bebas keluar masuk sesuka hati dengan mudah, tanpa di curigai.” Tambah Leon sambil berpikir.
“Kita coba tanya saja sama sensei siapa yang sudah di curigai oleh nya, mungkin kita bisa mengawali penyelidikan dari sana...” Tambah Rose.
“Ya, nanti kita bicara pribadi dengan sensei, kita tidak bisa percaya siapapun saat ini, termasuk teman sekelas kita.” Tambah Leon.
“Benar, saat ini semua adalah musuh termasuk para sensei, saat ini aku hanya bisa percaya kalian yang bisa berkomunikasi dengan ku di kepala ku ini.” Tambah Cathy.
“Onee chan benar.....nanti pulang sekolah kita ketemu sensei kan ?” Tanya Rose.
“Ya...nanti sepulang sekolah.” Jawab Leon dan Cathy.
__ADS_1
Ketiganya terus berdiskusi dan menganalisa keadaan, sementara Rodrick masih mendengarkan cerita Sylvia tentang situasi di ibukota dan alasan kenapa raja meminta Leon, Cathy dan Rose bersekolah di akademi ibukota.