Isekai Overpower Triplets : The Saint, The Hero, The Sage - All Reincarnator

Isekai Overpower Triplets : The Saint, The Hero, The Sage - All Reincarnator
Chapter 19


__ADS_3

Di perjalanan, setelah setengah hari berjalan menelusuri jalan di padang luas yang indah dan hijau.


“Bosaaaaaan......” Teriak Rose tiba tiba.


“Ah...bikin kaget saja.” Balas Leon.


“Ini baru setengah hari, masih seminggu lagi kita dijalan, masa sudah bosan.” Tambah Cathy.


“Hahaha memang Rose ya seperti itu....” Tambah Ria.


“Huuuu kenapa tidak naik mobil saja sih ?” Tanya Rose.


“Eh maksudnya kendaraan yang waktu itu pergi ke benteng ? mau dong.” Jawab Sylvia.


“Hehehe....tuh, ojo tenka setuju...gimana..gimana....” Ujar Rose sambil merogoh tas nya mengambil beberapa mobil mainan.


“Tidak boleh...simpan.” Teriak Leon, Cathy dan Ria.


“Yaaaaaah......” Ujar Rose sambil bersungut sungut menyimpan kembali mobil mobil mainan nya di tas.


Tiba tiba bayangan besar menutupi mereka membuat mereka merasakan gelap sesaat. Leon, Cathy dan Rose melihat keluar dan melihat kawanan monster terbang dengan bentuk seperti naga kecil melintasi mereka. Sepertinya mereka menuju ke arah kota Lindwurm.


“Kawanan wyvern, mereka menuju kota Lindwurm.” Ujar Ria.


“Nah kesempatan nih....” Ujar Cathy mengeluarkan sniper riffle nya.


Dia membuka pintu dan bergelayutan menggunakan satu tangan di pintu dan melompat ke atas atap. Leon mengikutinya dan Rose melayang keluar, keduanya naik ke atap dan duduk di sebelah Cathy yang sudah tiarap membidik dengan sniper riffle nya. “Dor....” Cathy menembak, seekor wyvern jatuh, kemudian Cathy membidik sebelah nya dan “Dor...” Seekor wyvern jatuh lagi. Melihat dua kawanan nya jatuh, yang lainnya berbalik dan mengarah ke kereta mereka. Leon dan Rose berdiri mereka mengeluarkan shotgun dan dua buah pistol magnum nya.


“Sudah lama sekali aku ingin menggunakan shotgun seperti ini....” Ujar Leon sambil menembaki wayvern yang sudah mendekat dan berjatuhan akibat tembakan nya.


“Hehehe...yahuuuu...jadi koboi.” Ujar Rose sambil menembakkan kedua pistol nya dengan macam macam elemen.


Ria tidak mau kalah, dia juga naik ke atas membawa smg mp5 nya dan langsung menembaki sisanya. Setelah semua wyvern jatuh, Ria minta pada pengemudi kereta untuk berhenti sejenak dan menunggu. Leon, Cathy, Rose dan Ria melompat turun menghampiri bangkai bangkai wyvern yang dekat untuk mengambil kristal sihirnya. Sementara di kereta yang berada di depan,


“Mereka itu......senjata apa ya itu ?” Tanya Freddy.


“Ga tau dan ga mau tahu...” Jawab Laurie yang hanya melihat sesaat lalu duduk kembali dengan tenang.


“Enak banget ya, musuh terbang langsung tewas semua.” Gumam Fran.


“Tapi kayaknya pakai sihir deh.....sayang aku tidak bisa sihir yang seperti itu.” Ujar Sarah.


“Senjata sihir, pasti itu senjata sihir....” Tambah Paul.


Setelah Leon, Cathy, Rose dan Ria kembali ke kereta, Slyvia melihat mereka dengan mata berbinar binar.


“Boleh minta satu senjata seperti itu ?” Tanya nya langsung.


Karena sudah terlanjur terlihat oleh Sylvia, akhirnya Rose memberikan sebuah smg uzi kepada Sylvia dan mengajari cara pakainya, tapi ke empat nya berpesan pada Sylvia kalau dia harus merahasiakan senjata senjata itu karena sangat berbahaya dan pakai dalam keadaan terdesak seperti barusan. Mereka melanjutkan perjalanan sampai sudah menjelang malam, para ksatria yang mengawal mereka mendirikan kemah kemah untuk semuanya dan membuat api unggun. Ria dan Cathy menyiapkanb makan malam, sementara Rose mengajari Sylvia menembak di saksikan oleh Leon dan teman teman lainnya. Setelah itu Leon juga di ajak latih tanding oleh teman teman nya di tepi hutan. Malam itu, mereka makan bersama mengelilingi api unggun. Leon, Cathy dan Rose melihat sekeliling, mereka tidak melihat Altea di mana mana, ketiganya berdiri setelah makan dan masuk ke dalam hutan. Mereka menemukan Altea sedang duduk di tepi batu di pinggir sungai, dari matanya keluar sinar yang menjadi layar hologram di depan nya. Ketiganya menghampirinya dan berdiri di belakang nya, mereka melihat gambar di layar,


“Hei...itu, bukankah para pahlawan itu ya ?” Tanya Leon.


“Iya...sepertinya itu kisah mereka...bukan, itu ingatan mereka.” Jawab Cathy.


Mereka duduk di belakang Altea dan ikut menonton nya, film di dalam layar itu mengisahkan perjalanan ketiga pahlawan 2000 tahun lalu dari sudut pandang sage Fumie, dari masih di jepang sampai di panggil ke dunia ini. Ketiganya bercakap cakap dalam bahasa jepang dan mencari jalan pulang, sepertinya mereka sudah menyegel dewa kejahatan. Umur mereka jika di lihat mungkin sekitar 20 tahunan. Dari film itu, di ketahui kalau sebelum di panggil ke dunia ini, mereka memiliki karir cukup bagus di jepang, Yuuta seorang atlet baseball nasional, Hinako seorang idol dan Fumie adalah seorang mangaka yang sudah serialisasi berkali kali, saat di panggil, ketiganya masih duduk di kelas 3 sma dan teman sekelas. Leon, Cathy dan Rose yang menonton nya sedikit merasa kasihan pada ketiganya.

__ADS_1


“Mereka.....hidup dalam terang waktu di jepang dan cukup sukses...tidak seperti kita.” Ujar Leon.


“Jujur saja aku tidak mengerti dunia seperti itu, tapi kalau mereka di paksa kesini dan meninggalkan semuanya....di umur yang begitu muda.” Tambah Cathy


“Mereka hanya anak anak biasa yang punya kehidupan disana dan......orang tua.” Tambah Rose.


“Yah kalau aku sih bersyukur mati disana lalu kesini, bertemu nee san dan Rose.” Ujar Leon sambil menengadah ke atas melihat langit yang penuh dengan bintang.


“Setidak nya di sini kita bisa merasakan hidup normal, lahir bersama, besar bersama sampai sekarang.” Ujar Cathy sambil melipat dan mendekap lututnya.


“Benar nee san, itulah yang membuat ku bersyukur, walau mungkin di dunia lama kita bisa saja menjadi musuh.” Balas Leon.


“Hehehe...benar, tapi jangan bawa bawa pekerjaan dan kehidupan lama ah...” Balas Cathy sambil melirik ke sebelah nya yaitu Rose.


“Aku....ingin merasakan punya orang tua....” Celetuk Rose tiba tiba.


Leon dan Cathy yang juga merasakan hal yang sama dengan Rose, saling menoleh, mereka bergeser dan kembali mengapit Rose di tengah.


“Aku juga, tapi, aku lebih senang punya saudara seperti kalian.” Ujar Leon sambil menempelkan pundak nya ke tubuh Rose.


“Bukan cuma kamu kok Rose, aku juga mau, di kehidupan lalu aku tidak tahu siapa orang tua ku, bahkan nama saja aku tidak punya haha.” Tambah Cathy sambil bersender kepada Rose.


“Loh Ichinose Suzuno itu ?” Tanya Rose.


“Itu nama tugas terakhir hehehe.” Jawab Cathy tersenyum.


“Kalau onii chan ? Yukihiro Touya ?” Tanya Rose lagi.


“Bukan nama asli, aku juga tidak punya nama, aku punya nya code name.” Jawab Leon tersenyum.


Rose tersentak, dia menoleh melihat Cathy yang tersenyum sambil nonton dan menoleh Leon yang juga tersenyum sambil nonton. Rose langsung merangkul keduanya, karena dia merasa lebih beruntung, nama Shiratori Akane adalah benar namanya yang di berikan seorang perawat yang mengasuhnya. Rose terus medekap kedua saudaranya sambil tersenyum.


“Hehe iya Rosemary.....” Leon dan Cathy mendekap Rose di tengah.


Tiba tiba layar menghilang,  Altea sudah selesai dan dia berdiri, kemudian menoleh, dia melihat ketiganya sedang duduk di belakang nya sambil saling merangkul dan tersenyum.


“Apa yang anda lakukan di sini Leon sama, Cathy sama, Rose sama ?” Tanyanya dengan wajah datar tanpa ekpresi.


“Hehehe nonton...” Jawab ketiganya bersamaan.


***


Seminggu kemudian, karena sempat di kepung bandit dan goblin, mereka tiba sehari lebih lama dari jadwal. Dari kejauhan gerbang ibukota sudah terlihat, ternyata ibukota adalah kota yang sangat besar seperti kota besar di eropa abad pertengahan yang sudah menggunakan batu bata merah sebagai bahan mendirikan bangunan dan jalan menggunakan batu yang di susun rapi. Dari kejauhan terlihat cukup banyak bangunan bangunan yang cukup tinggi dan yang paling menarik perhatian adalah istana yang besar berada sedikit di atas ibukota.


“Wooow....” Ujar Leon, Cathy dan Rose yang menjulurkan kepalanya keluar.


“Hehe kalian baru pertama kali ke ibukota ya ?” Tanya Ria.


“Memang nee san pernah ?” Tanya Cathy.


“Pernah sekali, ketika mendapat misi mengantar pedagang.” Jawab Ria.


“Oh yang nee san tidak pulang hampir 2 minggu itu ya ?” Tanya Leon.


“Iya benar, aku ke sini....” Jawab Ria.

__ADS_1


Selagi mereka menikmati pemandangan ibukota dari jauh, tiba tiba dari dalam hutan keluar banyak sekali orc dan troll mengepung mereka.


“Serahkan pada ku....” Ujar Altea yang membuka pintu dan keluar.


Altea terbang ke atap dengan roketnya dan mengeluarkan semua persenjataan nya termasuk misil launcher nya. Altea menembak kan semua senjatanya, suara nya sangat memekakkan telinga sampai semua orang menutup telinganya, termasuk Leon, Cathy dan Rose. Tapi hasilnya tidak ada satu pengepung yang tersisa, semua nya hancur berantakan. Altea kembali terbang ke dalam kereta dan duduk di sebelah Ria di ujung dengan wajah tanpa ekspresi.


“Heeeee.....” Ujar Leon, Cathy dan Rose yang kemudian menasihati Altea supaya tidak melakukan itu lagi.


Ria hanya bisa menggelengkan kepalanya dan Sylvia tertawa kecil melihat ketiganya memarahi Altea yang diam saja dengan wajah tanpa ekspresi.


***


Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju gerbang ibukota, setelah sampai di depan gerbang, dua orang penjaga menyetop kereta mereka. Penjaga memeriksa isi kereta dan ketika melihat Sylvia mereka membukakan gerbang, tapi sebuah anak panah melesat menuju ke arah Sylvia. Leon menangkap nya dan langsung turun, Cathy dan Rose juga menyusul turun.


“Siapa yang menembakkan panah ini ?” Tanya Leon sambil melihat sekeliling.


Di dalam hanya ada penduduk saja yang sedang beraktifitas, para penjaga juga mencari penembak panah itu. Altea turun dari kereta, dia melihat keliling lalu pandangan nya langsung mengarah ke atas benteng yang memutari ibukota.


“Leon sama, di sana....boleh aku kejar ?” Tanya Altea sambil menunjuk ke atas.


Leon menoleh ke arah yang di tunjuk Altea, dia melihat seorang berkerudung melarikan diri di atas benteng.


“Jangan, biar aku saja.....”  Ujar Leon.


Dia langsung melompat ke atap kereta kemudian melompat ke atap sebuah rumah dekat gerbang, dia melompati atap demi atap dan berlari di atap untuk mengejarnya. Leon melihat orang itu turun dari tangga dan dia langsung menyergap nya. Pria itu seperti gelandangan dengan pakaian yang lusuh, jubah yang sobek sobek dan kerudung yang berlubang, ketika Leon menangkap nya dia memakan sesuatu dan tersenyum kepada Leon, tiba tiba saja matanya melotot dan dia memegang lehernya, kemudian dia mati dengan mulut berbusa.


“Ah kurang ajar, dia menelan racun....”


Leon melihat sekeliling mencari kaki tangan pria itu, tapi sepertinya dia beraksi sendirian dan Leon baru sadar kalau dia berada di daerah kumuh yang ada di sisi lain ibukota. Banyak orang yang bersembunyi di rumah mereka ketika melihat Leon. Beberapa penjaga datang dan Leon memberikan pria itu kepada penjaga, kemudian dia berjalan. Di sinilah Leon melihat semuanya, ternyata ibukota tidak seindah ketika di lihat dari luar, banyak pedagang yang menjual budak dan menjajakan dagangan nya secara terbuka, tidak hanya manusia, ras lain seperti elf, dragonoid dan oni juga ada. Semua budak yang di dalam kerangkeng, entah pria, wanita atau anak kecil semua di rantai dan menggunakan kalung di lehernya. Leon naik tangga dan kereta sudah menunggu di atas. Ketika masuk ke dalam kereta,


“Sylvia ojo tenka, di sini ada perbudakan ?” Tanya Leon.


“Dimana melihatnya Leon sama ?” Tanya Sylvia.


“Disana...di bawah.” Leon menunjuk ke tempat dia datang barusan.


Sylvia langsung memberi kode pada para ksatria di luar kereta dan dua ksatria langsung pergi turun ke bawah dengan kuda mereka.


“Kerajaan kita melarang perbudakan, tidak seperti di kekaisaran Lenox yang mengedepankan perbudakan, para pedagang yang menjual budak di sini kebanyakan datang dari sana dan nekat berjualan di ibukota. Kita selalu menertibkan yang seperti itu.” Ujar Sylvia.


“Hmm begitu ya....tapi daerah di bawah itu kumuh sekali ya ?” Tanya Leon.


“Ya, di sana sarang penjahat dan kriminal, mereka di larang naik di ke kota dan perbudakan marak di kalangan mereka.” Jawab Sylvia.


“Sepertinya masalah di sini cukup pelik ya.” Balas Cathy.


“Begitulah Cathy san, ibukota banyak sekali masalah nya. Ibukota tidak seindah yang di bayangkan orang dari luar kota.” Tambah Sylvia.


“Ternyata memang ibukota itu dimana mana kejam ya.......” Tambah Rose.


Sylvia juga bercerita kalau banyak noble yang sekarang membeli budak dari luar kerajaan dan kadang mereka memasukkan pedagang untuk berjualan di ibukota, tapi karena kurang nya bukti dan karena mereka sangat licin, pihak kerajaan belum bisa berbuat apa apa. Ria menanyakan siapa kira kira yang menyerang barusan, Sylvia mengatakan kalau yang menyerang nya adalah penduduk daerah kumuh yang di bayar oleh fraksi noble yang ingin menggulingkan keluarga kerajaan. Leon, Cathy dan Rose terdiam, baru saja masuk ke dalam ibukota, Leon, Cathy dan Rose sudah di hadapakan dengan masalah kesenjangan sosial di sana, walau mereka masih mengagumi keindahan kota yang belum pernah mereka lihat sebelum nya.


“Kita tetap tidak boleh menarik perhatian disini, kalian mengerti ya.” Tambah Ria.


“Mengerti nee san.” Jawab Leon, Cathy dan Rose bersamaan.

__ADS_1


“Baiklah, kita lanjutkan perjalanan menuju istana.” Ujar Sylvia.


Kedua kereta dan para pengawalnya meneruskan perjalanan menuju istana besar yang berada di atas bukit.


__ADS_2