
Setelah selesai mengganti pakaian, dengan membawa senjata replika yang di buat Rose dan sangat mirip aslinya, kecuali milik Rose sendir, Leon, Cathy, Rose dan Ria pergi dari rumah dan menuju kembali ke guild. Di depan guild, Sarah sudah siap dengan pakaian dancernya dan dua buah cakram milik nya, Paul juga sudah siap dengan armor dari kulit nya dan Rex sudah memakai jubah serba hitam nya.
“Sudah siap semua ? ayo kita berangkat.” Ajak Oscar.
“Sudah....” Jawab semuanya.
Ria, Oscar dan Mabel memimpin di depan, sementara Leon, Cathy, Rosa dan ketiga teman mereka mengikuti dari belakang. Mereka semua menuju gerbang untuk keluar dari kota menuju menara. Tiba tiba Rose berbicara di kepala menghubungi Leon dan Cathy.
“Onii chan....onee chan....boleh pakai mobil ?” Tanya Rose.
“Kamu ini....terserah nee san....” Jawab Leon.
“Loh kok di serahkan padaku....jauh ya, nanti aja di luar gerbang.” Tambah Cathy.
“Siiip...aku pegang dulu mobil nya.” Ujar Rose sambil mengambil mainan mobil nya di tas dimensi nya.
“Kamu bisa nyetir kan Leon ?” Tanya Cathy.
“Bisa, tidak masalah.” Jawab Leon.
“Sip..aku juga bisa, nanti gantian saja.” Balas Cathy.
“Ok nee san....” Balas Leon lagi.
Ketika mereka sudah keluar dari gerbang dan sedikit menjauh dari gerbang. Rose langsung melemparkan mobil nya dan dia mengangkat tangan nya. Setelah mobil menjadi besar,
“Yuk naik....” Ajak Rose.
Leon langsung naik ke kursi kemudi dan Cathy duduk di sebelah nya. Oscar, Mabel, Sarah, Paul dan Rex bengong dan ternganga.
“Ini....makhluk apa ? semua dari besi.....” Ujar Oscar.
“Ini temuan adik ku, ayo naik....kita menuju menara menggunakan benda ini.” Ujar Ria yang sudah di jelaskan oleh ketiganya.
“Tapi...ini aman ?” Tanya Mabel.
“100% aman, di jamin hehe.” Jawab Rose.
“Um....kita duduk di mana ?” Tanya Paul.
Ria membuka pintu belakang nya dan membuka kursi nya supaya bisa naik ke paling belakang.
“Waaaaa......dia terbuka....” Teriak Rex.
“A..aku takut....” Tambah Sarah.
“Sudahlah, ayo naik.....” Teriak Cathy yang keluar lagi.
Akhirnya karena tidak ada pilihan, Sarah, Paul dan Rex naik ke dalam paling belakang, Ria, Mabel dan Rose di tengah, sedangkan Oscar yang bertubuh paling besar di bak belakang, karena mobil double cabin itu di lengkapi dengan bak di belakang nya.
“Sudah ya....yuk...” Leon langsung menghidupkan mesin nya dan mulai berjalan.
Bahan bakarnya dalam keadaan full yang menggunakan kristal yang di isi mana oleh Rose. Mobil mulai berjalan kencang melintasi padang rumput yang sangat luas menuju utara. Karena tidak ada jalan aspal dan jalan yang berbatu, guncangan di dalam mobil sedikit lebih keras dari kalau berjalan di aspal.
“Waaaaaaa......” Sarah, Paul dan Rex berteriak di belakang.
“Ri...Ria.....” Mabel berpegangan dengan Ria yang duduk di tengah.
“Hahahahaha...seru kan...” Teriak Ria.
“Lihat tuh di belakang, Oscar san santai saja, walau wajah nya masih bingung.” Ujar Rose menoleh ke belakang.
“Pakai sabuk pengaman nee san biar ga loncat loncat.” Ujar Cathy yang duduk di depan.
“Ba...bagaimana cara mengemudikan nya ?” Tanya Paul.
“Se..sepertinya sulit...itu batang apa di tengah.” Tambah Rex.
“Kalian bisa diam ga....kepala ku pusing...” Ujar Sarah yang sepertinya mabuk perjalanan.
__ADS_1
Tiba tiba jalan mereka di hadang oleh giant bull, seekor monster banteng besar yang besarnya melebihi mobil mereka.
“Awas....” Teriak Oscar di belakang.
Leon menekan tombol di dashboardnya dan dua buah senapan mesin keluar dari kap mobil di depan. Senapan itu menembak secara beruntun dan langsung membunuh giant bull di depan. Leon berhenti sejenak untuk mengambil kristal sihirnya dan kembali naik ke dalam mobil. Leon memberikan kristal sihirnya kepada Cathy untuk di simpan di tas dimensi milik nya. Sebelum jalan kembali,
“Yo...lihat kebelakang.” Ujar Ria.
Leon, Cathy dan Rose menoleh, ternyata Sarah, Paul dan Rex pingsan karena mendengar bunyi senapan mesin yang keras, sedangkan Oscar di belakang masih menutup telinga nya dan menepuk nepuk telinganya. Mabel terus menunduk sambil bergumam tidak jelas dan berpegangan kepada Ria.
“Ah tidak apa apa....” Ujar ketiganya bersamaan.
“Haaah dasar kalian....” Balas Ria.
Kemudian mereka kembali berjalan. Ria hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Leon, Cathy dan Rose, tapi dia tersenyum melihat nya. Mobil double cabin itu terus berjalan menerobos apa saja di depan nya, seperti monster monster kecil contoh nya slime, kelinci bertanduk dan lainnya. Mereka berjalan seharian menggunakan mobil, hari sudah sore mendekati malam, mereka langsung parkir di tepi jalan dan mulai berkemah. Sarah, Paul, Rex dan Mabel turun dari mobil dengan kaki gemetar, Mabel sampai menopang dirinya dengan tongkat nya dan di tuntun Ria. Sarah langsung mutah dan punggung nya di tepuk tepuk oleh Paul. Sedangkan Rex terus mengamati mobil itu walau dia juga berdiri di topang oleh tongkat nya.
“Oh cepat juga, kita sudah sampai di pertengahan...” Ujar Oscar yang membuka peta nya.
“Bi...biasanya sampai sini makan waktu dua hari berjalan kaki, memang lebih cepat....tapi kalau seperti ini, aku milih jalan kaki....” Ujar Mabel.
“Sama...aku juga....urk...” Sarah berlari dan muntah lagi.
“Aku juga setuju.....” Tambah Paul yang langsung mengejar Sarah.
“Kalian dengar mereka kan ?” Tanya Ria.
“Yaaaah...kenapa ? kan tidak cape jalan kaki.....” Jawab Rose.
“Be..benar kita bisa menghemat waktu....” Tambah Rex.
Rose langsung menoleh melihat Rex, keduanya langsung tos karena sepaham dan setipe. Leon dan Cathy menggelengkan kepala,
“Yah aku sih terserah saja, jalan ok, naik mobil juga ok.” Balas Leon santai.
“Aku juga terserah saja.....” Tambah Cathy sambil memisahkan Rose dan Rex.
“Awas semuanya ada yang datang.” Teriak Oscar sambil mengambil perisainya dari punggung nya.
“Skriiiiekkkk....krieeeek.”
“Wyvern....hati hati semuanya.” Ujar Oscar yang berdiri di depan.
Leon langsung berlari dan melompat jauh, di udara dia menghunus pedang nya dan langsung membelah dua ekor wyvern di depan nya. Cathy mengangkat satu gadanya dan dari langit keluar panah panah cahaya yang menghabisi wyvern yang masih terbang di atas mereka. Semua wyvern yang mendarat di bunuh Leon dengan menggunakan pedang nya dan sabetan sinar nya.
“Waaa aku tidak kebagian.....” Teriak Rose.
Tanpa pikir panjang, Rose melompat dan melayang di udara, dia mengangkat tongkat nya dan seluruh tubuh nya di selimuti aura merah dan kuning bersamaan.
“Chain flare spark.”
Dari tongkat nya keluar petir yang terbakar oleh api menuju ke salah satu wyvern. Begitu mengenai wyvern nya, petir terbakar itu memantul ke wyvern lain dan begitu seterusnya. Wyvern yang tersengat petir itu langsung terbakar dan hancur menjadi abu. Setelah semua habis, petir itu langung mengarah ke hutan dan terdengar teriakan,
“Uwaaaaah.....”
Medengar ada yang berteriak, Oscar dan Paul langsung berlari ke hutan, ketika mereka melihat ke dalam hutan, ternyata yang berteriak barusan adalah para bandit yang sudah hangus berjumlah kira kira 20 orang. Tidak ada yang tersisa dari bandit bandit itu selain seonggok abu yang masih berasap.
“Heee.....mengerikan.” Ujar Paul pucat.
“Yap mereka semua bandit, tidak masalah di bunuh, hebat memang ketiga adik nya Ria....padahal Ria saja sudah aku akui hebat melebihi normal. Mereka memang keluarga tidak normal hahaha.” Ujar Oscar yang memeriksa lambang di sisa tubuh bandit yang masih ada dan tidak terbakar.
“Tapi kalau bukan bandit gimana ?” Tanya Paul.
“Yah memang berbahaya tapi tenang saja, lihat.....sepertinya Ria sedang memarahi adik nya.” Ujar Oscar sambil menunjuk ke arah yang lain menggunakan jempol.
Paul menoleh, dia melihat dari kejauhan Ria sedang bertolak pinggang berceloteh di depan Rose yang berlutut sambil menunduk sementara Leon dan Cathy berdiri di sebelah Rose sambil melipat tangan di dada. Dari kejauhan juga terlihat Sarah sedang berpelukan dengan Mabel dan Rex jongkok di belakang keduanya sambil memegang kepala dengan kedua tangan nya.
“Anoo...apa Ria onee san...lebih kuat dari mereka ?” Tanya Paul bingung.
“Ah...mungkin hahahaha.” Jawab Oscar sambil tertawa dan merangkul Paul.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, karena pemintaan semuanya, Rose akhirnya menyimpan kembali mobil nya dengan wajah cemberut. Leon dan Cathy menghiburnya dengan memegang pundak kanan dan kiri nya. Mereka melanjutkan perjalanan, menurut Oscar kalau jalan kaki mereka akan sampai Skytower dua hari lagi, tapi mereka bisa beristirahat di desa yang berada dekat menara yang bisa di tempuh seharian dari tempat mereka sekarang.
“Tapi desa itu bukannya ada seorang nobel yang lalim dan menjadi tuan tanah nya ?” Tanya Ria.
“Ya benar, Lord Dowson.....dia memeras penduduk desa dan dia doyan wanita.” Ujar Oscar.
“Ih...malas aku dengarnya.” Ujar Cathy.
“Sama...menjijikkan, bantai saja....” Tambah Rose.
“Tenang nee san, Rose, ada aku hehehe...” Leon bercanda.
“Hehe iya, ada Leon, walau sebenarnya tidak perlu juga.” Balas Cathy sambil merangkul lengan Leon.
“Pokok nya ada onii chan aman....” Tambah Rose yang juga merangkul lengan Leon di sebelah Cathy.
Leon, Cathy dan Rose berjalan lebih dulu dari pada yang lain, karena malas mendengar cerita tentang noble yang di katakan Oscar. Melihat ketiga anak kembar itu sangat akrab satu sama lain, Mabel langsung bertanya kepada Ria.
“Mereka itu kembar dan saudara kandung kan ?” Tanya Mabel.
“Iya benar, mereka lahir dari ayah dan ibu yang sama...kenapa ?” Tanya Ria kembali setelah menjawab nya.
“Ah tidak, aneh saja, tidak seperti saudara kandung....” Ujar Mabel.
“Hahaha mereka terkenal brocon dan siscon di kelas Mabel nee san....” Jawab Paul.
“Benar Mabel nee san, tidak ada yang berani mendekati mereka....” Tambah Sarah.
“Sayang ya, mereka tampan dan cantik cantik.....” Tambah Rex.
“Berarti cuma bisa dilihat ya hahahaha.” Tambah Oscar.
“Yah begitulah mereka, tapi faktor itulah yang membuat aku sayang pada mereka.” Balas Ria sambil tersenyum melihat ketiganya yang berjalan di depan mereka.
Yang tidak di ketahui Oscar dan lainnya adalah di dunia asal mereka ketiganya bukan saudara kembar, tapi orang yang saling tidak kenal sama sekali, kecuali mereka mengatakan code name pekerjaan mereka. Ketiganya tidak memiliki keluarga di kehidupan lalu, Leon yang dulu bernama Yukihiro Touya, selalu di siksa dari kecil karena di pungut yakuza dan di jadikan mesin pembunuh. Cathy yang dulu bernama Ichinose Suzuno (di tugas terakhirnya, sebenarnya dia tidak punya nama, hanya nomor yaitu 709) dari semenjak lahir ada di fasilitas dan selalu sendirian. Sedangkan Rose yang dulu bernama Shiratori Akane, ditinggal mati oleh orang tuanya ketika dia lahir, dia terlantar di rumah sakit dan tidak ada yang mau mengakuinya apalagi merawat, kecuali seorang perawat yang mengasuhnya karena kasihan. Dia menjadi hacker untuk menghidupi dirinya sendiri. Jadi sekarang mereka senang sekali karena punya keluarga dan saudara, walau akhirnya jadi sedikit berlebihan karena mereka tidak mengerti apa itu keluarga, mereka hanya tahu mereka saling sayang satu sama lain dan mereka sayang kepada Ria.
***
Setelah seharian berjalan, sore harinya, mereka sampai di sebuah desa, kondisi desa itu benar benar memprihatinkan, banyak penduduk kelaparan dan anak anak menghampiri mereka hanya sekedar minta makan. Tapi para penduduk desa menyambut mereka dengan hangat dan sangat ramah, mereka menyediakan makanan dan penginapan. Bagi Ria, Oscar, Mabel, Sarah, Paul dan Rex, mereka menganggap hal itu adalah keramah tamahan penduduk desa, tapi bagi Leon, Cathy dan Rose, para penduduk itu mecurigakan, mereka mengamati sekeliling dan melihat wajah para penduduk yang menyambut mereka,
“Hmm....mereka tidak punya apa apa, tapi memberikan kita sambutan yang cukup mewah untuk ukuran dunia ini. Sepertinya, mereka berniat menahan kita di sini.” Gumam Leon.
“Benar, mereka pasti mengincar sesuatu dari kita. Walau mereka menyambut kita, tatapan mata mereka melihat kita semua sebagai harta berjalan yang siap di ambil dan sepertinya mereka takut akan sesuatu.” Tambah Cathy.
“Dari sejak masuk aku sudah melihat ada yang tidak beres, anak anak yang masih polos itu sudah mengatakan maksud para penduduk ini. Mereka lapar, pandangan mereka mati.” Tambah Rose.
“Ya, kita harus waspada...” Balas Leon.
“Benar....jangan termakan oleh bujuk rayu para penduduk ini. Mereka berbahaya.” Ujar Cathy.
“Justru kalau aku, pura pura terpancing aja sekalian, bantai dalangnya.” Ujar Rose.
“Lihat saja nanti...” Tambah Leon.
“Kita lindungi Ria nee san dan teman teman kita saja, Oscar san dan Mabel san sepertinya juga menyadari nya kok.” Tambah Cathy.
Akhirnya mereka mengikuti arus saja dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Seperti dugaan mereka, para penduduk menaruh obat tidur di makanan mereka dan malam nya, menculik Ria, Mabel, Sarah, Cathy dan Rose. Leon sudah mengetahui nya dan membiarkan Cathy juga Rose di culik, sebab ketiganya tidak ada yang makan makanan yang di berikan oleh penduduk, mereka makan bekal mereka sendiri. Ketiganya berkomunikasi di kepala mereka.
“Hati hati nee san, Rose.....ingat yang di culik bukan hanya kalian, ada Ria nee san juga.” Ujar Leon yang mengintip dari kamar.
“Sip santai Leon, nanti selamatkan kita ya hohoho.” Canda Cathy yang pura pura tidur dan sedang di masukkan ke karung oleh penduduk.
“Hehe iya onii chan, tenang saja, semua aman....nanti datang ya.” Tambah Rose yang pura pura tidur dan sedang di masukkan ke karung.
“Ugh...karung ini bau....keterlaluan....” Ujar Cathy setelah masuk ke dalam karung.
“Iya onee chan....aku sampai mau muntah nih...” Balas Rose.
__ADS_1
“Hehehe tahan ya..aku mengikuti kalian kok.” Ledek Leon sambil keluar dari jendela kamar.
Cathy dan Rose terus berada di dalam karung, sementara Leon mengikuti mereka dari belakang. Oscar, Paul dan Rex tertidur pulas karena obat tidur yang ada di makanan mereka. Leon melihat kereta yang membawa para gadis itu menuju sebuah rumah yang sangat besar di luar desa.