
“Jadi ini kerajaan Marina.....” Ujar Leon.
Leon, Cathy dan Rose sudah sampai di ibukota kerajaan Marina setelah beberapa hari perjalanan menggunakan mobil. Mereka berdiri di depan gerbang dan melihat kota yang megah di daerah pesisir pantai. Ibukota Marina berada di atas sebuah danau yang terhubung dengan laut, bangunan bangunan yang padat mengapung di atas danau, sebuah istana besar berada di luar kota dan tersambung ke dalam kota. Sarana transportasi di dalam kota adalah sampan dan perahu kecil. Kereta kuda berjalan di jalan jalan yang di hubungkan dengan jembatan jembatan yang berjumlah banyak dan tersebar di seluruh penjuru kota.
“Wah seperti venesia di bumi ya......” Ujar Cathy.
“Memang kamu pernah ke sana onee chan ?” Tanya Rose.
“Pernah waktu tugas, sekali hehehe.” Jawab Cathy.
Tiba tiba sebuah sampan panjang (gondola) berhenti di depan mereka, seorang barcioli (pendayung gondola) langsung menyapa mereka,
“Kalian mau ke dalam kota dan ke distrik pasar ? di sana sedang ada festival.” Tanya nya.
“Wah boleh juga, yuk nee san, Rose.”
Ketika Leon mau melangkah masuk ke sampan, Cathy menarik pakaian nya supaya dia tidak masuk dulu.
“Berapa biaya ke sana ?” Tanya Cathy.
“Wah nee san sudah tahu rupanya hehehe, baiklah biayanya hanya 1 keping silver saja.”
“Hmm ya sudah, bertiga kan ?” Tanya Cathy.
“Masing masing....” Jawab pendayung itu.
“Rose, kamu punya sampan atau sejenis kapal boat......” Cathy langsung menoleh kepada Rose.
“Hehehe akhirnya...sebentar.....”
Rose mengambil maninan berbentuk kapal pesiar di dalam tas dimensi nya dan langsung melemparkannya ke air. Dia langsung mengangkat tangannya,
“Tu..tunggu Rose....itu kebesaran.....” Teriak Cathy.
Tapi terlambat, lingkaran sihir sudah keluar di atas permukaan air dan sebuah kapal pesiar yang sangat besar keluar menutupi sungai dan membuat sampan sampan tidak bisa bergerak.
“Ups....hehehehe.....” Ujar Rose.
“Cepat masukkan lagi.....” Teriak Cathy.
Rose langsung memasukkan kembali kapal pesiarnya dan ketika kapal itu berubah menjadi kecil, sungai menjadi berombak dan menjatuhkan para penumpang sampan, pendayung dan semua yang ada di sungai besar itu.
“Hey, kita bayar 3 silver....cepat bawa kita bertiga dari sini....” Teriak Cathy.
Akhirnya ketiganya naik ke sampan dan langsung menuju distrik pasar di tengah kota. Ternyata di kota itu tidak ada jalan kering, semuany melalui air dan sangat jarang sekali ada kereta kuda di atas, kecuali kereta barang yang membawa barang dagangan pedagang atau lainnya. “Priiiit....” Suara peluit terdengar di belakang, ternyata sebuah sampan milik penjaga mengejar mereka di belakang, pendayung yang tidak mau mencari masalah, berhenti dan sampan penjaga kota berhenti di sebelah nya,
“Kalian yang menyebabkan kekacauan di depan kan ? bisa ikut kami ? komandan kami mau bicara....” Tegur penjaga.
Leon dan Cathy langsung menoleh kepada Rose yang sedang bersiul siul sambil melihat ke arah yang lain.
“Baiklah....baiklah......” Ujar Leon.
Akhirnya mereka pindah ke sampan penjaga dan melemparkan tiga keping koin silver pada pendayung yang mereka naiki barusan. Setelah itu, para penjaga membawa mereka kembali ke depan untuk menuju pos mereka.
“Grrr Rose.....” Ujar Leon dan Cathy.
__ADS_1
“Loh kan tadi onee chan yang nyuruh aku.....”
“Sampan Rose...sampan....atau boat....bukan kapal pesiar......paham ga....” Ujar Cathy kesal.
“Hehe maaf onee chan....aku ga punya sampan, ada nya yang tadi....” Ujar Rose.
“Duh lain kali bilang dong....sekarang kita jadi kena masalah....” Balas Leon.
“Hehehe iya maaf onii chan....”
Setelah mereka sampai pos penjaga, mereka melihat seorang ksatria yang memakai pakaian zirah untuk pelaut dan sepertinya berpangkat, dia sudah menunggu duduk di meja nya.
“Silahkan duduk.” Ujar nya.
Leon, Cathy dan Rose langsung duduk di hadapan nya. Komandan itu tersenyum dan menyuruh anak buahnya keluar, sepertinya dia ingin bicara pribadi dengan ketiganya.
“Maaf, namaku Frieden Bathorsa. Aku komandan para penjaga sekaligus walikota di ibukota, boleh aku bertanya sesuatu ?” Tanya Frieden.
“Silahkan....” Jawab Leon.
“Apa hubungan kalian dengan Sage dalam legenda, Amakura Fumie ?” Tanya nya.
Ketiganya langsung menoleh satu sama lain dan langsung memperhatikan Frieden yang duduk di depan mereka.
“Kenapa anda bisa bertanya seperti itu ?” Tanya Leon.
“Karena benda yang tadi kalian keluarkan adalah benda yang pernah sage Fumie keluarkan ketika mempertahankan kerajaan ini dari serangan kerajaan bawah laut Merantis, sekitar 1700 tahun lalu.” Jawab Frieden.
“Haaah....” Ujar Leon, Cathy dan Rose.
“Hmm kapal itu masih ada ?” Tanya Leon.
“Ya, kapal itu sekarang sudah menjadi pulau di tengah lautan dan menjaga perbatasan dengan kerajaan Merantis. Tapi hari ini aku melihat kapal serupa di kota walau ukuran nya berbeda, sebab yang di buat oleh sage Fumie jauh lebih besar.”
Tiba tiba Altea melepaskan diri dari punggung Rose dan kembali menjadi wujud asalnya.
“Itu benar, sage Fumie memang membuat kapal itu sekaligus tempat untuk meletakkan batu segel.” Ujar Altea.
“Hmm...jadi kapal itu adalah dungeon....sepertinya kita harus kesana.” Gumam Leon.
“Kalau kalian mau ke sana, kalian harus bertanya dulu kepada pihak kerajaan, aku bisa memintakan ijin kepada raja, tapi aku perlu tahu dulu, apa hubungan kalian dengan sage Fumie.” Balas Frieden.
Ketiganya saling menoleh satu sama lain dan berdiskusi sendiri di kepala mereka, kemudian mereka melihat lagi kepada Frieden. Ketiganya menekan gelang dan berubah menjadi wujud aslinya, yaitu berambut hitam dan bermata silver. Frieden yang melihat nya langsung menunduk di depan ketiganya, sebab dia tahu dari legenda dan sejarah di kota, wujud sage Fumie yang sebenarnya. Setelah itu, ketiganya merubah lagi penampilan nya. Karena sudah melihat, Frieden tidak perlu penjelasan lagi, dia langsung menulis surat kepada raja tanpa membongkar identitas ketiganya untuk meminta ijin ke pulau dan memanggil anak buahnya untuk untuk mengantarkan surat itu ke istana. Setelah itu, Frieden mempersilahkan ketiga nya keluar dan merekomendasikan penginapan untuk mereka sehingga nanti kalau sudah ada kabar dari raja, dia bisa mengubungi mereka. Ketiga nya menunduk dan pamit, kemudian keluar. Setelah semuanya keluar, Frieden mengambil surat dari atas mejanya dan membacanya lagi, ternyata surat itu dari kepala akademi di kota Lindwurn, Rodrick.
“Kamu benar Rodrick.......mereka ada di sini sekarang, berarti ramalan sudah terjadi.....” Ujar Frieden.
****
Sementara itu, di luar, Leon, Cathy dan Rose minta di antar ke distrik pasar untuk melihat festival yang sedang di gelar di kota kepada penjaga sekaligus pendayung sampan. Altea kembali menempel di punggung Rose supaya tidak memakan tempat di sampan, mereka melihat lihat suasana kota yang mengapung di atas air,
“Berarti di bawah ini semua, ada kapal induk yang dulu di buat Fumie ya....” Ujar Rose sambil melihat ke air.
“Iya, ternyata dia jadi pahlawan besar di sini bukan hanya legenda.” Balas Cathy.
“Kapal pesiar di jadikan simbol perdamaian....padahal di tempat kita dulu, banyak sekali kapal pesiar yang berjalan di lautan hahaha.” Balas Leon.
__ADS_1
“Yah begitulah, aku malah penasaran seperti apa yang namanya kerajaan bawah air Merantis, seperti legenda di bumi ya....benua yang tenggelam di laut atlantik.” Balas Cathy.
“Heee nee san rupanya suka hal hal itu ya...” Ujar Leon.
“Iya, aku senang saja baca baca hal hal seperti itu...” Balas Cathy.
“Ngomong ngomong kok Rose diam saja....” Ujar Leon sambil melihat Rose di samping nya.
Leon dan Cathy melihat wajah Rose sedikit pucat dan pandangan nya sedikit tidak fokus, Cathy langsung memegang kening nya dan ternayta kening nya panas.
“Rose, kamu sakit ?” Tanya Cathy yang langsung mengeluarkan sihir penyembuh nya.
“Aku mau ke daratan......”
Leon dan Cathy langsung saling menoleh dan melihat satu sama lain, mereka langsung tahu kalau Rose bukan nya sakit, melainkan dia mabuk laut.
“Hoo jadi ini kelemahan dia.....” Ujar Leon dan Cathy.
Kemudian, mereka minta berhenti dan berjalan kaki saja menuju penginapan, tapi seorang penjaga menemani ketiganya, sebab kalau tidak, ketiganya bisa tersasar dan susah untuk keluar lagi kalau tidak tahu, karena bangunan di sana padat dan memiliki bentuk yang mirip bahkan sama.
****
Sementara itu, di kerajaan Xifonus, di sebuah rumah di ibukota. Ria dan Marvel sedang duduk di meja makan,
“Kira kira mereka kapan ya sampai ke sini ?” Tanya Ria.
“Sepertinya mereka memang harus memutar, angin ****** beliung itu masih menutupi perbatasan.” Jawab Marvel.
“Tapi aneh ya, kok bisa ada angin besar seperti itu dan tidak bergerak, tidak ada yang hancur selain jembatan....” Gumam Ria.
“Itu dia yang mengherankan, bukan hanya itu, perbatasan kekaisaran dengan Hillbove juga tertutup karena longsor besar dan sama sekali tidak bisa di lewati, sepertinya memang ada yang mengarahkan mereka supaya ke kerajaan Marina.”
Tiba tiba pintu di buka, Mark dan empat saudara kembarnya masuk berlarian ke dalam.
“Kami pulang....” Teriak ke lima nya.
“Loh Sylvia mana ?” Tanya Ria.
“Um...nee san di depan...” Jawab Monica.
Tak lama kemudian Sylvia masuk ke dalam dan langsung menghampiri Ria dan Marvel yang duduk di meja makan.
“Ria nee san, ada yang mau bertemu dengan kalian.....” Ujar Sylvia.
“Siapa ?” Tanya Ria.
“Aku.....”
Seorang pria yang memakai jubah lusuh berwarna hijau dan memakai topi lebar seperti penyihir, membawa tongkat kayu dan berjanggut panjang berdiri di belakang Sylvia. Ria dan Marvel langsung berdiri dan menarik Sylvia.
“Siapa anda ?” Tanya Ria.
“Dia...Dorian the wise......” Gumam Marvel sambil menunjuk pria berjanggut itu.
“Benar sekali....bisa kita bicara.....” Balas Dorian.
__ADS_1