Isekai Overpower Triplets : The Saint, The Hero, The Sage - All Reincarnator

Isekai Overpower Triplets : The Saint, The Hero, The Sage - All Reincarnator
Chapter 16


__ADS_3

Pulang sekolah, Leon, Cathy dan Rose menuju kantor kepala sekolah, mereka langsung masuk ke dalam, ternyata di dalam masih ada Ria dan Jared yang masih berdiskusi dengan Rodrick bersama dengan Sylvia, pembahasan mereka bertambah karena ada kejadian tadi siang di cafetaria.


“Eh ada Ria nee san....” Ujar ketiganya ketika masuk.


“Kalian...kenapa kesini ?” Tanya Ria.


“Ada perlu sama Rodrick sensei....” Ujar ketiganya serempak.


“Oh ada perlu dengan ku ? ada apa ?” Tanya Rodrick.


Leon, Cathy dan Rose langsung mengatakan maksud dan analisa dengan kejadian tadi siang, lalu mereka minta Rodrick memberikan daftar murid yang di curigai dan sedang menjadi sorotan.


“Jadi menurut kalian sasarannya bukan ojotenka ?” Tanya Rodrick.


“Ya, demon wanita itu bisa dengan mudah membunuh ojotenka tadi, bahkan kita bertiga saja tidak menyadari kehadiran nya.” Jawab Leon.


“Sama waktu di menara juga gitu, kita tidak sadar dan selain kita juga tidak ada yang menyadari nya.” Tambah Cathy.


“Jadi tak perlu buat keributan kan kalau hanya sekedar mau menghabisi ojotenka.” Tambah Rose.


“Benar juga sih, lalu kalau begitu mereka mencari apa ?” Tanya Jared.


“Itu yang kita belum tahu, waktu di menara, tujuan mereka mau menghancurkan batu segel, tapi setelah kalah tidak kembali lagi.” Jawab Cathy.


“Tapi kalau mendengar cerita ojo tenka di ibukota, para noble berkonspirasi berarti tujuan nya hanya satu, yaitu mengambil alih kerajaan.” Tambah Leon.


“Seperti yang di katakan ramalan, mereka sedang memicu perang besar terjadi dan menghancurkan semua kerajaan. Di mulai dari Ingresia 13 tahun yang lalu, benar kan nee san ?” Tambah Rose.


“Hmmm benar, sekarang aniue Edmund menjadi raja di kerajaan Ingresia dan adik ku Travis tidak di ketahui keberadaan nya.” Gumam Ria.


“Satu hal lagi, kami yakin markas mereka di sini, di akademi ini, makanya kami minta daftar murid yang di curigai.” Ujar ketiganya bersamaan.


“Kenapa kalian bisa bilang markas mereka di akademi ini ?” Tanya Rodrick.


Leon, Cathy dan Rose langsung mengemukakan teori mereka, di kota ini tempat paling aman dan tidak di curigai adalah akademi ini karena selain untuk pendidikan, isi nya hanya murid murid yang tidak di anggap berbahaya, lagipula hanya modal seragam atau lambang akademi, siapapun bisa masuk ke dalam akademi. Semua demon yang sudah mati berasal dari kalangan noble, jadi mereka otomatis mengutus orang orang nya kesini dan membangun sekte nya di akademi ini. Dan ketika kerajaan Ingresia menyerang, mereka bergerak atau malah mungkin merekalah yang merancang penyerangan Ingresia dengan bekerja sama dengan kerajaan itu. Desa yang berisi demon itu juga mencurigakan, kemungkinan desa itu adalah pasukan mereka yang sengaja di tempatkan dekat menara, jika pasukan kerajaan Ingresia berhasil menembus perbatasan dan menyerang kota, desa itu akan bergerak menghancurkan menara.


“Jadi boleh tahu daftar nama nama murid yang di curigai itu ?” Tanya ketiganya lagi.


Rodrick terdiam, sebenarnya dia sendiri sudah menduganya, itulah makanya dia mencurigai beberapa noble yang datang dari luar kota ini. Belum sempat Rodrick menjawab, tiba tiba seorang petugas di akademi masuk ke dalam ruang kepala sekolah dengan tergesa gesa. Dia langsung memberikan surat kepada Rodrick dengan stempel keluarga kerajaan dan keluar meninggalkan ruangan. Rodrick langsung membuka surat nya dan ternyata pemberitahuan kalau pasukan kerajaan Ingresia maju menyerang kembali dan sekarang sudah berada di depan perbatasan. Raja meminta bantuan karena tidak bisa mengirimkan pasukan ke perbatasan, sebab pasukan ibukota sedang meredam pemberontakan rakyat dan kota Lindwurm adalah kota terdekat dari perbatasan. Rodrick langsung memberikan surat nya pada Jared, setelah membacanya,


“Baiklah, aku kerahkan seluruh petualang untuk ke perbatasan, Rodrick kirimkan pasukan dari kota, kamu sebagai pemimpin kota harus menjawab panggilan ini.” Ujar Jared.


“Aku tahu, aku tidak mungkin mengirim murid ke perbatasan....” Ujar Rodrick.


Pintu ruangan terbuka, enam murid senior masuk ke dalam, mereka langsung berjalan ke depan meja Rodrick tanpa menyapa orang lain di dalam.


“Kirim kami ke perbatasan sensei, kami dari student council memohon anda memberikan kita kesempatan.” Ujar seorang siswa pria yang ganteng seperti pangeran.


Leon, Cathy dan Rose memandang ke enam nya dengan pandangan curiga, bagaimana tidak, baru saja mendapat kabar soal penyerangan dan belum di umumkan mereka sudah masuk ke dalam mengatakan ingin berperang, seakan akan sudah tahu akan terjadi perang. Ketiganya juga memandangi seorang wanita yang terlihat kalem dan tidak banyak bicara, dia hanya mengikuti kelima teman nya yang lain. Selagi ke enam siswa itu berdebat dengan Rodrick, ketiganya berdiskusi di kepala mereka.


“Mereka ingin membokong kita dari belakang supaya pasukan Ingresia bisa masuk ke dalam perbatasan.” Ujar Leon.


“Benar, lagipula, wanita di belakang itu mencurigakan, siap siap Leon.” Ujar Cathy.


“Gimana kalau kita biarkan mereka dan kita ikut juga ke perbatasan, kita bokong mereka, mau bokong di bokong enak kan hehe.” Tambah Rose.


“Hmm ide bagus, daripada rusuh disini mending di perbatasan hehe.” Tambah Leon.

__ADS_1


“Kalian ini...tapi aku suka ide kalian....ayo kita lakukan.” Tambah Cathy.


“Baiklah, tunggu di sini, aku perlihatkan cara kerja Shadoukira.” Ujar Leon.


Leon langsung berdiri dan dia menghampiri senpai tampan yang sedang berdebat dengan Rodrick. Dia memegang bahu senpai,


“Sensei, aku juga memohon demi senpai supaya di ijinkan pergi, aku juga sebenarnya panas mendengar kerajaan di serang oleh kerajaan sebelah, benar kan senpai ?” Tanya Leon sambil tersenyum.


“Benar sensei, kita mohon supaya kita di ijinkan dengan pasukan untuk berangkat ke perbatasan.” Tambah senpai itu.


“Tapi ini perang bukan jalan jalan, kalian tentu mengerti itu kan ?” Tanya Rodrick.


“Kami, aku dan senpai, ingin membela kerajaan ini...kami sebagai warga kerajaan ini merasa sedih kalau melihat musuh menyerang tanpa bisa berbuat apa apa, jiwa patriotis kami teriak, benar kan senpai ?” Tanya Leon.


“Hahaha benar benar, dia benar sensei, tujuan kita membela kerajaan bukan mau jalan jalan, biarlah kita tunjukkan hasil latihan kita pada mereka.” Senpai semakin berapi api menjelaskan.


Leon berkedip pada Rodrick yang kira kira mengerti maksudnya. Leon melirik dan melihat wanita itu menjadi sedikit resah melihat Leon memegang pundak senpai di samping nya. Cathy dan Rose mengamati wanita itu dan berkata di kepala mereka kalau gerak gerik nya mencurigakan. Akhirnya Rodrick memberikan ijin, seluruh siswa kelas 2 sampai kelas 4 akan berangkat ke medan tempur di perbatasan. Karena merasa puas, enam orang itu langsung keluar kembali dari ruangan, hanya wanita itu yang menoleh melihat Leon, Cathy dan Rose yang tersenyum padanya. Setelah mereka keluar, Leon minta kepada Rodrick supaya kelas khusus jangan di utus dan di kerahkan untuk melindungi kota dan menara. Yang keperbatasan biar Leon, Cathy, Rose dan Ria yang mengajukan diri mau ikut.


***


Keesokan harinya, Rodrick mengumumkan akademi ksatria dan akademi sihir akan berangkat menuju medan perang di perbatasan. Wajah teman teman sekelas Leon, Cathy dan Rose bersungut sungut karena mereka di minta menjaga kota dan menara. Sementara itu, Leon, Cathy, Rose, Ria bersiap berangkat menuju perbatasan untuk berperang, kelompok mereka akan berangkat terpisah dari kelompok siswa akademi dan mendahului lebih dulu pergi ke perbatasan. Leon, Cathy dan Rose meminta Altea yang bisa berteleportasi ke menara kapan saja dia mau, untuk kembali ke menara dan berjaga ke sana, sebab ada kemungkinan para siswa itu tidak ke perbatasan melainkan ke menara. Ria juga meminta tolong Oscar dan Mabel ke menara bersama Altea untuk menjaga batu segel dan tidak usah ke perbatasan atas seijin Jared yang sudah di beritahu rencana ketiganya oleh Ria. Di depan gerbang, Rose mengeluarkan mobil nya dan ke empat nya langsung naik mobil menuju perbatasan, tapi mereka tidak sadar, selain mereka ada seorang lagi yang naik mobil di bak belakang yang menutupi dirinya dengan jubah dan kerudung. Setelah setengah perjalanan,


“Nah kalau begini, nanti sore juga kita sudah sampai perbatasan.” Ujar Ria.


“Hehe iya, yang mengerti enak nya naik mobil hanya Ria nee san, yang lain nya payah....” Balas Rose.


“Mereka belum terbiasa saja....” Ujar Leon.


“Awas batu Leon...” Teriak Cathy.


“Aduuuh.....” Terdengar teriakan seorang wanita di belakang.


Leon menghentikan mobil nya, Cathy dan Ria yang duduk di belakang langsung melihat ke arah bak yang ada di belakang mobil.


“Leon, kamu bawa apa di belakang ?” Tanya Ria.


“Aku tidak bawa apa apa nee san....” Jawab Leon heran.


“Eh...kok bergerak, ayo turun, kita periksa....” Ujar Cathy.


“Aku di mobil saja....jaga mobil.” Ujar Rose.


Leon dan Cathy turun dari mobil, sementara Rose berjaga di mobil bersama Ria. Leon dan Cathy melihat sebuah benda besar yang di tutupi kain terpal, Leon membuka kain nya dan ternyata di balik karung itu ada seorang wanita yang mereka sudah kenal sedang menutup mulut nya.


“Haaah...Sylvia ojo tenka, mau ngapain di sini ?” Teriak Cathy dan Leon bersamaan.


“Hehe halo Leon sama, Cathy san, ini aku.....” Ujar Sylvia sambil duduk.


Leon dan Cathy membawa Sylvia turun dan naik duduk di tengah, karena sudah tidak mungkin kembali ke kota lagi, akhirnya mereka membawa Sylvia bersama mereka. Sepanjang perjalanan, Ria, Cathy dan Rose marah marah kepada Sylvia yang nekat ikut, walau alasannya karena dia ingin membantu Leon, Cathy, Rose, Ria dan semua teman sekelas pergi ke menara diam diam untuk menjaga menara.


“Yare yare.....” Ujar Leon sambil terus menyetir mobil nya dan menggelengkan kepala.


“Maaf.....” Ujar Sylvia sambil menunduk di marahi.


 “Ya sudahlah, toh dia juga akan lebih aman sama kita.” Ujar Ria.


“Benar nee san, tapi Sylvia ojo tenka, di larang keras dekat dekat dengan Leon ya...” Tambah Cathy.

__ADS_1


“Iya benar ojo tenka.....jangan dekati onii chan....” Teriak Rose yang berbalik karena dia duduk di depan.


“Iya iya, tenang saja, tapi aku belum menyerah ya....iya kan Leon sama....” Sylvia yang duduk di tengah langsung memeluk Leon yang sedang mengemudi dari belakang.


“Waaaaaaaa...” Teriak Leon yang kaget dan membanting setir.


“Ckiiiiit......” Mobil langsung oleng karena belok mendadak dan semua yang di dalam mobil jumpalitan, termasuk Sylvia sendiri. Akhirnya setelah Leon berhasil menstabilkan lagi laju mobil nya, Rose memegang kepalanya dengan kedua tangan nya karena terbentur langit langit, Cathy, Ria dan Sylvia bertumpuk di belakang,


“Sylvia ojooo tenkaaaaaa......” Teriak Ria, Cathy dan Rose bersamaan marah.


“Ja..jangan bercanda.....Sylvia...ojo...tenka...huff.” Ujar Leon dengan wajah merah dan nafas memburu.


“Hehehe maaf........” Ujar Sylvia.


Kembali, Cathy, Rose dan Ria memarahi Sylvia sepanjang perjalanan. Mereka meneruskan perjalanan menuju perbatasan, karena hari sudah malam, Leon memarkir mobil nya masuk sedikit di dalam hutan supaya tidak terlihat oleh orang lain terutama oleh para siswa kedua akademi yang pergi belakangan setelah mereka.


“Aku tidur di atas pohon, sekalian berjaga, kalian berempat tidur saja di sini.” Ujar Leon sambil turun dari mobil.


“Gruyuuuuk.....” Perut ke empat nya berbunyi.


“Kita makan dulu yu....” Ujar Rose yang langsung membuka tas dimensi nya dan mengambil onigiri yang sudah di buat sejak berangkat dan di simpan di tas dimensi sebagai ransum.


Rose membagi bagikan onigirinya kepada Cathy, Ria dan Sylvia, kemudian dia membuka pintu untuk memberikan nya pada Leon. Tapi Rose di cegah Sylvia,


“Rose san, boleh aku saja yang memberikan nya pada Leon sama ? Aku sekalian mau minta maaf karena menggodanya.” Ujar Sylvia.


“.........Baiklah. tapi benar ya hanya minta maaf.” Ujar Rose.


“Iya iya benar...tenang saja.” Ujar Sylvia.


Akhirnya Rose memberikan beberapa onigiri untuk Leon kepada Sylvia. Langsung saja Sylvia turun menghampiri Leon yang sedang duduk di sisi pohon dengan menggunakan selimut.


“Leon sama.....” Tegur Sylvia dari belakang Leon.


“Hiyaaaa.....o..ojo tenka.....jangan mengangetkan ku...” Leon langsung berdiri dan menjaga jarak.


“Sepertinya kamu takut ya sama aku Leon sama ? maaf ya aku sering menggoda mu.” Balas Sylvia sambil menunduk dan memberikan onigirinya.


“Ti..tidak apa apa ojo...tenka.....a..aku tidak...terbiasa....” Ujar Leon sambil mengambil onigirinya dengan cepat dan sedikit menjauh.


“Eh..maksudnya Leon sama tidak terbiasa dengan perempuan ?” Tanya Sylvia.


Leon mengangguk dan berbalik menghadap ke pohon sambil mulai makan onigiri nya. Sylvia yang melihat nya tersenyum, dia sekarang tahu kalau Leon benar benar polos dan tidak benci dirinya.


“Sini aku bantu supaya kamu terbiasa. Coba berbalik Leon sama...” Ujar Sylvia.


Leon menuruti nya, dia berbalik dan melihat Sylvia berdiri di depan nya, kemudian Sylvia menjulurkan tangan nya supaya Leon memegang nya, dengan perlahan dia mengangkat tangan nya. Tiba tiba dari balik semak,


“Priiiiit.....priit...priit....” Rose keluar sambil meniup peluit layaknya wasit sepak bola dan menunjuk ke duanya.


“Janjinya kan cuma kasih makanan kan.....” Ujar Cathy yang bertolak pinggang di sebelah Rose dan keluar juga dari semak semak dengan wajah merah.


“Hehehe aku hanya ingin membantu Leon sama.....” Jawab Sylvia sambil tersenyum sambil menurunkan tangan nya dan memainkan rambutnya yang seperti bor.


“Priiit priiit....priit.” Ujar Rose yang tidak di mengerti maksudnya.


Leon tertawa kencang melihat Rose yang wajah nya merah meniup peluit yang entah dia dapat dari mana peluit itu. Melihat Leon tertawa, Cathy dan Sylvia juga tertawa sedangkan Rose malah bingung kenapa semuanya tertawa. Akhirnya malam itu, semuanya tidur di dalam mobil. Paginya mereka langsung meneruskan perjalanan, mereka melihat dari kejauhan, benteng yang mejaga perbatasan sedang di serang oleh kawanan demon. Leon langsung memacu kencang mobil nya, sementara Cathy, Rose, Ria dan Sylvia bersiap siap.

__ADS_1


__ADS_2