
Atas usulan dari kepala akademi Rodrick, kepala akademi ibukota juga membuat akademi khusus untuk siswa siswi yang memiliki job kuning. Leon, Cathy, Rose dan teman teman nya, menjadi pelopor kelas kuning pertama sebelum para murid yang memiki job kuning tersebar di dua akademi di kumpulkan untuk bersama mereka. Kelas akademi khusus di ibukota akan di buat 3 kelas karena banyak nya murid yang memiliki job kuning di akademi dan mereka tidak bisa berbaur dengan yang lain. Setelah melapor ke kepala akademi, Leon, Cathy, Rose dan teman teman nya, di antar oleh seorang sensei ke kelas mereka yang masih kosong karena mereka adalah murid pertama di akademi khusus.
“Wah enak juga nih, kita hanya ber delapan di sini.” Ujar Freddy senang.
“Hehehe iya, tidak ada yang rese rese...” Balas Fran.
“Berarti hari ini kita belum belajar ya ?” Tanya Cathy.
“Sepertinya belum, akademi nya saja baru ada kan....” Jawab Leon.
“Lalu kita di sini ngapain ?” Tanya Laurie.
“Hehe main main saja.....” Jawab Rose.
Pintu kelas di buka, Sylvia melihat ke dalam kelas dan langsung masuk ke dalam. Dia berjalan mendekati semuanya yang berkumpul di tengah.
“Halo semuanya....” Sapa nya sambil mengangkat tangan nya.
“Halo Sylvia ojo tenka.....” Balas semuanya kecuali Leon, Cathy dan Rose.
“Aku kan sudah bilang, kalau di akademi jangan panggil aku ojo tenka.” Balas Sylvia bersungut sungut.
“Hehe maaf Sylvia sama, kebiasaan.” Ujar Paul sambil mengusap belakang kepalanya.
Slyvia langsung mendekati Leon dan berdiri di sebelah nya. Dari luar kelas terdengar suara bising, Leon, Cathy dan Rose berbalik ternyata banyak sekali murid murid lain yang berasal dari dua akademi sedang melihat mereka di dalam, sepertinya mereka melihat Sylvia yang berdiri di sebelah Leon dan membelakangi mereka.
“Apa ini, Sylvia ojo tenka kenapa mau dengan noble rendahan itu...” Ujar seorang siswa dengan kencang dari luar.
“Ih...kampungan, begitulah kalau noble dari luar kota.....” Tambah seorang siswi yang sepertinya sengaja supaya semua mendengar nya.
Dan masih banyak kata kata menyakitkan tentang status mereka yang di lontar kan oleh para murid yang berkerumun di depan kelas mereka. Tapi Leon, Cathy, Rose dan teman teman nya santai saja, mereka sama sekali tidak memperdulikan nya. Tiba tiba sebuah panah melesat ke arah Sylvia. Tentu saja Leon menangkap panah nya tanpa sepengetahuan Sylvia yang tidak sadar dia sedang di target. Leon memberikan panah nya kepada Cathy di samping nya dan dia langsung menyimpan nya di tas dimensi milik nya.
“Ada yang mengincar Sylvia....” Ujar Leon di kepalanya.
“Ya aku tahu....diantara kerumunan banyak itu.” Ujar Cathy yang melirik tanpa menoleh.
“Coba ku lihat....” Rose langsung menoleh melihat kerumunan di luar.
“Rose, jangan menoleh, diam saja dulu....kita tunggu reaksinya...” Balas Leon.
“Ups...maaf onii chan...hehe..tapi ada beberapa orang mencurigakan di luar.” Tambah Rose yang sempat menoleh sebentar.
“Awas....datang lagi.” Ujar Cathy.
Tiga buah anak panah melesat masuk ke dalam kelas, Leon langsung menangkap satu, Cathy memukul satu dan Rose menghadang dengan tongkatnya satu. Ketiganya langsung berjalan menuju keluar kelas, kerumunan di depan langsung menyingkir dan pergi. Melihat ketiganya bergerak, barulah Sylvia dan teman teman yang lain menyadari ada yang tidak beres dan mereka di serang, semuanya langsung melindungi Sylvia, lalu semua yang berkerumun di luar pergi satu persatu meninggalkan kelas mereka. Seorang sensei masuk ke dalam kelas, Leon, Cathy, Rose, Sylvia dan teman teman nya yang lain langsung duduk di kursi mereka dengan rapi.
“Selamat pagi, perkenalkan namaku Jules, aku adalah wali kelas kalian, semoga kita bisa bekerjasama selama setahun ini. Baiklah....langsung saja kita mulai.” Jules sensei menyapa semuanya.
Pelajaran pun di mulai dan berjalan tanpa gangguan apapun, walau Leon, Cathy dan Rose tidak memperhatikan sama sekali karena selalu bereaksi kalau ada yang berjalan melewati kelas mereka. Istirahat makan siang, mereka bersama sama pergi ke taman karena masing masing membawa bento mereka sendiri. Setelah mendapatkan tempat di bawah pohon, mereka mulai duduk membentuk lingkaran dan makan bersama. Tiba tiba saja sebuah bola api yang cukup besar mengarah kepada mereka dari atap. Leon dengan santai menendang bola api itu ke atas dan bola api itu meledak.
“Masih juga ya.....kalian tunggu sini.”
Leon berlari dan melompat tinggi, dia memakai sihir penguatan untuk melompat, sehingga dia bisa sampai di atas atap. Ketika muncul ke atas, dia melihat dua orang siswa laki laki sedang melihat nya dan berusaha lari ke dalam. Leon menginjak kakinya sendiri dan melontarkan tubuhnya sehingga dia mendarat persis di depan kedua murid itu.
“Mundur, atau kamu kami tembak....” Ujar seorang murid yang mengacungkan tongkat nya kepada Leon dengan api di ujung nya.
__ADS_1
“Kenapa menyerang kami ? siapa yang menyuruh mu ?” Tanya Leon.
“Mundur......wahai api yang agung....”
Belum selesai murid itu membaca mantra nya, pipinya sudah di jepit oleh kedua jari Leon yang tiba tiba ada di depan nya. Seorang lagi langsung lari masuk ke dalam meninggalkan teman nya. Tapi begitu dia masuk ke dalam, dia langsung terpental lagi keluar, Cathy keluar dari dalam,
“Enak saja mau lari...dasar pengecut....” Ujar Cathy.
“Hehashan ahu....(lepaskan aku).” Ujar siswa yang pipinya di jepit Leon dan di angkat ke atas.
“Jawab dulu, siapa yang menyuruh mu....” Balas Leon.
“Hahu hahya henuhuhi hehintah hahi hehua....” Jawab siswa itu dengan kata kata ga jelas.
“Apa ? bicara yang jelas.....” Teriak Leon.
“Oi Leon, lepaskan dulu dia, mana bisa bicara pipinya kamu tekan gitu hehe.” Ujar Cathy di samping Leon sambil menepuk pundak nya.
“Oh iya ya....maaf.” Leon melepaskan pipinya dan siswa itu jatuh terduduk di depan nya.
“Aku hanya di suruh oleh ketua student council....mengetes kalian.” Ujar siswa itu.
“Heee.....berarti yang menyerang dengan panah tadi pagi kamu juga ya ?” Tanya Cathy sambil jongkok di depan siswa itu.
“Hah...panah ? apa maksud mu ? kami dari akademi sihir.....barusan hanya mengetes saja.” Jawab siswa itu bingung.
“Iya benar, kami hanya di mintai tolong oleh ketua student council, kalian tanya kepada mereka saja....” Tambah siswa yang terlungkup dan ingin melarikan diri tadi.
“Jadi yang menyerang dengan panah tadi pagi bukan kalian dan bukan ulah student council ?” Tanya Leon.
Tiba tiba seorang siswa pria ikemen dari ras dragonoid keluar ke atap, Leon dan Cathy langsung menoleh melihat nya.
“Perkenalkan aku ketua student council, nama ku Vince Dragnar, maaf, aku memang meminta tolong kedua siswa itu untuk mengetes kalian. Tapi kami tidak punya tujuan lain selain mengetes kalian. Alasannya karena Leonard san adalah tunangan Sylvia ojo tenka, kami hanya ingin melihat apakah anda pantas berada di sebelah ojo tenka. Sekali aku mohon maaf kepada kalian.” Vince menunduk di depan Leon dan Cathy.
“Haaaa...hanya karena alasan itu ?” Tanya Leon dan Cathy.
“Bagi kami, masa depan Sylvia ojo tenka lebih penting dari nyawa kami, sebab kami adalah pengawal beliau.” Jawab Vince.
“Haa pengawal, kalau begitu siapa yang menyerang Sylvia tadi pagi dengan panah di kelas ?” Tanya Leon.
“Maaf, aku baru dengar mengenai hal ini, boleh ceritakan detail nya pada ku ?” Tanya Vince.
Leon menoleh kepada Cathy, dia bertanya kepada Cathy di kepalanya apakah Vince bisa di percaya. Cathy mengangguk tanda Vince bisa di percaya. Leon menceritakan penyerangan di kelas ketika mereka sedang berdiri di tengah bersama Sylvia kepada Vince. Wajah Vince terlihat tegang, kemudian dia menceritakan kalau tidak seluruh murid di akademi ibukota berasal dari fraksi pembela keluarga kerajaan seperti dirinya, ada juga dari fraksi yang diam diam ingin menggulingkan keluarga kerajaan. Dia juga mengatakan itulah fungsi dari dirinya dan alasan utama mengetes Leon, sebab kalau Leon tidak mampu melindungi Sylvia maka mereka akan turun tangan. Tapi sekarang dia lega karena Leon lebih dari yang di kabarkan dan dia sudah melihat nya sendiri. Tiba tiba,
“Kyaaaaaah....” Terdengar teriakan dari bawah.
Leon, Cathy, Vince dan dua orang siswa lainnya melihat ke bawah, ternyata 7 orang murid sedang mengepung Rose yang melindungi Sylvia dan semua teman nya.
“Mereka dari fraksi noble yang menentang kerajaan....” Gumam Vince.
“Kita harus turun....” Ujar siswa yang menyerang tadi.
Leon menoleh kepada Cathy yang juga menoleh kepadanya. Leon langsung menggendong Cathy ala princess.
“Yuk nee san....” Ujar Leon.
__ADS_1
“Kalian mau kemana ?” Tanya Vince.
“Turun....” Jawab Cathy.
Leon langsung melompat dan Cathy membuatkan pelindung yang menyelimuti keduanya. “Boom.” Leon mendarat sambil menggendong Cathy di bawah dan menimbulkan bunyi kencang. Para pengepung langsung menoleh dan maju menyerang Leon yang baru turun. Leon menurunkan Cathy dan berpegangan tangan dengan nya, kedua nya langsung berdansa seperti sedang di ballroom. Mereka menyerang para penyerang mereka sambil berdansa, tendangan dan pukulan melayang mementalkan 7 siswa yang menyerang mereka. Rose yang melihat Leon berdansa dengan Cathy, langsung cemberut dan berteriak,
“Curaaaaaaang....” Teriak Rose
Leon dan Cathy menoleh dan menyuruh Rose datang ke mereka, Rose lari menghampiri keduanya dan akhirnya mereka berdansa bertiga sambil terus menghajar para pengepung yang bangkit kembali dan menyerang mereka kembali sampai seluruhnya sudah tidak bisa berdiri lagi. Seorang penyerang yang berkepala botak dan berbadan besar, berusaha berdiri,
“Tidak mungkin.....aku sudah level 200, tidak mungkin aku kalah, Graaaaah....” Dia berdiri dan berlari menuju Leon.
Si botak mencabut pedang nya dan langsung menusukkan ke arah Leon, tiba tiba Rose menendang pedang nya dan terlontar ke atas, lalu Cathy yang sedang bergandengan tangan dengan Rose, menendang perutnya sampai dia mundur, tapi Leon tidak membiarkan nya terpental mundur, dengan cepat dia menangkap kemejanya dan menarik lagi tubuh nya ke depan, Rose menampar wajah nya dengan tangan dan Cathy menambahkan tamparan dengan kaki nya, mereka melakukan nya berkali kali. Ketika wajah si botak sudah bonyok dan Leon melepasnya. Dia berlutut di depan ketiganya tanpa bisa melawan lagi. Leon berdiri di depan nya,
“Hei...yang menyerang kami dengan panah tadi pagi kalian bukan ?” Tanya Leon.
Siswa itu diam saja tidak menjawab, dia hanya tersenyum dengan wajah nya yang bonyok itu, sepertinya dia masih menyembunyikan sesuatu jika melihat senyum sinis nya. Penjaga sekolah kemudian datang bersama Vince dan menangkap nya, kemudian Vince berdiri di depan Sylvia dan menunduk.
“Anda tidak apa apa ojo tenka ?” Tanya Vince.
“Tidak apa apa Vince senpai....terima kasih.” Jawab Sylvia.
“Tentu saja dia tidak apa apa, ada aku....” Ujar Rose.
“Aaaaaaaaaah.....”
Tiba tiba dua penjaga sekolah yang membawa siswa tadi berteriak, Leon, Cathy dan Rose menoleh, ternyata si botak berubah menjadi besar, seragam nya hancur karena tubuhnya menjadi raksasa yang kekar, dari bawah kedua lengannya muncul dua buah lengan lagi, matanya menjadi hanya satu di tengah kening nya dan dari ujung kepala botak nya muncul sebuah tanduk lurus ke atas. Seluruh murid yang berada di luar gedung langsung berlarian dan berdesakan masuk ke dalam, demon bertangan empat itu, melihat Leon, Cathy dan Rose di depan nya,
“Graaaaaaaaaaah......” Demon itu meraung kencang di depan Leon, Cathy dan Rose yang bersiap melawan nya.
Sementara di belakang Vince melindungi Sylvi bersama dengan Freddy, Paul, Fran, Sarah dan Laurie yang juga sudah bersiap siap. Leon meminta semuanya mundur dan menjauh, dia juga menyuruh para penjaga mundur. Ketiganya berbicara di kepala mereka,
“Kalau begini gimana ga menarik perhatian ?” Tanya Rose.
“Yah, apa boleh buat kan, ada makhluk seperti ini muncul...” Jawab Cathy.
“Awas, dia datang.” Teriak Leon.
Raksasa bermata satu itu maju memukul mereka dengan dua tinjunya yang di satukan di atas kepalanya. Cathy mengangkat tangan nya dan pelindung dari cahaya berbentuk setengah lingkaran muncul menyelimuti ketiganya. Melihat pukulan nya di hadang pelindung, demon itu terus memukuli pelindung. Ketiganya terus berdiskusi bagaimana mengalahkan nya tanpa menarik perhatian, walau sebenarnya mereka bisa saja dengan mudah mengalahkan demon itu. Tiba tiba,
“Aaaah tolooooong.....”
Leon, Cathy dan Rose berbalik, mereka melihat Sylvia sedang di bawa pergi oleh seorang demon yang langsung terbang membawa Sylvia, mereka juga melihat Vince dan semua teman teman mereka terkapar di tanah.
“Rose, Cathy kejar demon itu......” Ujar Leon.
“Tapi onii chan gimana ?” Tanya Rose.
“Biar aku melawan dia....cepat...nanti keburu jauh....” Teriak Leon.
“Ya sudah, hati hati Leon.....” Ujar Cathy yang melompat sambil menarik Rose.
Leon menghindari pukulan demon raksasa itu karena sudah tidak ada pelindung, sementara di belakang, Rose mengeluarkan naga nya dan bersama Cathy naik menunggangi nya. Mereka langsung terbang mengejar demon yang membawa Sylvia. Leon berhadapan dengan demon raksasa bermata satu dan bertangan empat di depan nya.
“Hehe....mari kita bermain......” Ujar Leon sambil tersenyum dan mengambil pedang nodachi replikanya dari tas dimensi di pinggang nya.
__ADS_1
Leon langsung melompat, mengangkat pedang nya dan menyerang demon raksasa yang juga sudah siap menyambutnya dengan ke empat tangan nya yang mengepal.