
Sebulan setelah nya, di kota, akademi sudah berjalan seperti biasa dalam suasana berkabung karena sekitar 40 orang murid dari kedua akademi meninggal dunia di penyerangan sebulan lalu. Baru di ketahui, ke enam orang kemarin adalah anggota student council dan sekarang posisi itu kosong, akademi akan mengadakan pemilihan untuk calon student council yang baru. Leon, Cathy dan Rose menghadap Rodrick,
“Aku memanggil kalian ke sini, karena raja memerintahkan kalian ke istana untuk menerima penghargaan dan pindah sekolah di akademi ibukota. Hanya saja......” Ujar Rodrick.
“Hanya saja ?” Tanya ketiganya besamaan.
“Raja minta kalian menetap di kerajaan dan akan di beri gelar kebangsawanan (noble), dia sedikit memaksa mengenai hal ini.” Ujar Rodrick.
“Tidak mau....” Jawab ketiganya serempak.
“Aku sudah tahu jawaban kalian pasti begitu, itulah sebab nya aku mengatakan kepada raja kalau kalian pasti tidak akan bersedia dan Sylvia ojo tenka juga membantu menudukung pernyataan ku.” Ujar Rodrick.
“Suasana ibukota masih kacau sensei ?” Tanya Leon.
“Masih, noble di ibukota terbagi dua fraksi, satu fraksi yang mendukung keluarga kerajaan dan satunya menentang. Yang menentang lebih banyak daripada yang mendukung.” Jawab Rodrick.
“Padahal batu segel kerajaan ini sudah hancur, kenapa mereka tidak berhenti ?” Tanya Rose.
“Karena kerajaan Oreano adalah kerajaan besar yang berada di tengah benua dan berbatasan dengan kerjaan lainnya, walau bukan kerajaan tertua. Kalau berhasil menguasai kerajaan ini, mudah menyerang kerajaan lain, kita berbatasan dengan kekaisaran Lenox di barat, kerajaan Marina di timur dan dekat pantai, kerajaan Hillbove di utara dan kerajaan Astarte di selatan yang juga berbatasan dengan kerajaan Ingrasia di sebelah nya.” Jawab Rodrick.
“Benar juga, kerajaan ini paling strategis untuk menyerang semuanya. Wajar saja kalau mereka ingin menguasai nya.” Balas Cathy sambil berpikir.
“Kekaisaran Lenox sekarang sedang dalam kondisi perang dingin dengan kita dan kerajaan sihir Xifonus di ujung paling barat benua ini karena batas wilayah. Yang jadi masalah di sini semua kerajaan itu memiliki batu segel kecuali kerajaan sihir Xifonus.” Ujar Rodrick.
Leon, Cathy dan Rose terdiam, mereka melihat satu sama lain, mereka berdiskusi sendiri di kepala mereka dan akhirnya,
“Baiklah sensei, kita bertiga bersedia pindah sekolah ke ibukota, tapi ada syaratnya, pertama jangan beri kita hadiah berupa status noble karena sudah pasti kita menolak nya, syarat kedua, semua teman sekelas kita pindah ke ibukota dan bersekolah di sana dan ketiga, Ria nee san harus ikut kami.” Ujar Leon.
Rodrick terlihat berpikir keras, dia meminta Leon, Cathy dan Rose meninggalkan ruangan dulu dan nanti di beritahu keputusan nya. Ketiganya keluar dari ruang kepala sekolah setelah berpamitan dan kembali ke kelas mereka. Selagi berjalan menuju kelas,
“Sebentar onee chan...onii chan.....ikut aku dulu ke taman.” Ajak Rose.
“Ada apa ?” Tanya Leon.
“Kok tumben kamu menarik kita berdua seperti ini.” Tambah Cathy.
“Sudah ikut saja dulu.” Rose ke belakang keduanya dan mendorong keduanya.
“Iya iya jangan dorong dorong.” Ujar Leon dan Cathy bersamaan.
Ketika sampai di taman, Rose langsung membuka tas dimensi nya, dia mengeluarkan dua buah senjata modern dari tas nya.
“Onii chan...ini shotgun pesanan mu dan onee chan ini sniper riffle pesanan mu, aku pakai dua pistol magnum ini hehe.” Ujar Rose sambil memberikan senjatanya.
“Woooow....” Gumam Leon dan Cathy memegang senjata masing masing.
“Pelurunya ?” Tanya Leon.
“Pakai sihir, kamu kan sihir tanpa elemen onii chan, kerahkan saja sihirnya ke shotgun itu dan onee chan juga kerahkan sihir holy ke sniper riffle nya.”
Leon langsung mengerahkan sihir nya ke shotgun barunya, kemudian dia mengarahkan ke sebuah pohon dan menembakkan shotgun nya, yang keluar peluru yang tidak terlihat dan tiba tiba saja, pohon yang di tembak nya itu langsung berlubang dan tumbang. Begitu juga Cathy dia mencoba menembak pohon yang agak jauh, peluru yang keluar adalah cahaya putih kekuningan yang melesat cepat dan menghancurkan bagian atas pohon, karena memang dia membidik nya ke sana. Rose juga mencoba pistol magnum nya dengan berbagai elemen dan peluru yang di tembakkan memiliki warna sesuai elemen nya. Suara kencang menggema dari tembakan ketiganya dan suara pohon yang tumbang.
“Keren Rose....kok kamu bisa cepat mengembangkan nya ?” Tanya Leon.
“Hehe Altea membantu ku mengembangkan nya.” Jawab Rose.
“Pantas kamu mengurung diri di kamar bersama Altea setiap pulang dari akademi sebulan ini.” Balas Cathy.
“Hehe yang penting berhasil onee chan, sekarang kita bisa menggunakan senjata di kehidupan lama, hanya saja sementara di rahasiakan ya....” Ujar Rose.
“Kami mengerti....” Balas Leon dan Cathy.
“Hei apa yang kalian lakukan....” Seorang petugas akademi berlari ke arah mereka.
__ADS_1
Dengan cepat, Leon, Cathy dan Rose menyimpan senjata senjata itu di tas dimensi nya masing masing.
“Maaf...” Ujar ketiganya kepada petugas yang langsung memarahi dan menasihati mereka dengan panjang lebar.
Setelah selesai di ceramahi, ketiganya berjalan dengan santai ke dalam kelas, karena hari ini adalah peringatan sebulan gugurnya siswa siswa kedua akademi, para siswa di minta belajar sendiri sampai pulang sekolah. Selain di kelas, banyak siswa yang menghabiskan waktu hari ini di lapangan dan arena, juga belajar di cafetaria dan perpustakaan. Pemilihan student council baru di gelar karena student council yang lama mendadak pensiun. Leon, Cathy dan Rose berjalan melewati beberapa kelompok dari dua akademi yang sedang menyusun kampanye mereka,
“Mereka ingin mencalonkan diri jadi student council ya....” Ujar Cathy.
“Hah..aku sih tidak mau, itu kerjaan yang paling ku benci....kerjaan di balik meja.” Balas Leon.
“Hehe onii chan orang lapangan sih ya.....kerjanya di lapangan mulu.” Ujar Rose sambil merangkul lengan Leon.
“Hahaha...mungkin yang senang dengan kerjaan itu Rose ya.” Tambah Cathy.
“Siapa bilang, aku tidak suka......aku juga orang lapangan....” Balas Rose.
“Iya, orang lapangan yang ada di dalam kamar dan tidak keluar keluar kecuali makan dan ketoilet.” Sindir Cathy.
“Ihhh....onee chan....aku ambil lagi nih senjatanya....” Balas Rose ngambek.
“Ah...tapi berguna kok di dalam kamar terus hehehe...jangan di ambil lagi ya.” Balas Cathy sambil merangkul lengan Leon.
“Huh....” Rose cemberut dan membuang wajah nya, tapi dia melirik Cathy di sebelah Leon.
“Yare yare...intinya kan kita tidak senang kerja.” Ujar Leon sambil tersenyum.
“Betuuul...” Teriak Cathy dan Rose dengan ceria.
Ketiga nya berjalan dengan ceria dan saling bercanda menuju kelas mereka. Para siswa yang melihat mereka sudah tidak heran lagi, hanya saja mereka berkomentar.
“Dasar siscon dan brocon akut....” Gumam mereka bisik bisik supaya tidak terdengar.
Ketika sampai di kelas, ketiganya langsung di sambut teman sekelas, bukan karena kangen atau karena hal lain nya, tapi,
“3 lagi nya adalah Evan, Maria dan aku....” Tambah Jeremy.
“Apaaaaa ? Tidak mau......” Teriak ketiganya kaget.
Seluruh teman teman sekelas langsung mengerubungi mereka bertiga dan mengatakan akan mendukung penuh ketiganya. Wajah ketiganya menjadi merah dan terlihat sangat malas menjawab dukungan semua teman sekelas mereka. Ketiga nya langsung berdiskusi di kepala mereka,
“Ok, usahakan kita kalah.....” Ujar Leon.
“Benar, aku sama sekali tidak mau menjadi student council.” Tambah Cathy.
“Tapi mereka semangat sekali tuh....gimana dong, padahal kita mau kalah.” Ujar Rose sambil menunjuk teman teman nya.
Ketiga nya melihat wajah teman teman nya yang ceria dan sepenuh hati mendukung mereka, sehingga mereka tidak enak.
“Tapi kenapa kita bertiga....hiks kehidupan santai ku.” Ujar Cathy.
“Hiks...kerja lagi.” Tambah Leon dan Rose bersamaan.
Akhirnya ketiganya lesu dan duduk kembali di tempat duduk mereka, sementara teman sekelas sibuk menyiapkan kampanye bagi ketiganya.
***
Beberapa hari kemudian, ketiganya kembali di panggil oleh Rodrick kembali, ketiganya sudah berada di ruangan Rodrick,
“Aku sudah mendapat balasan dari raja, untuk hadiah dia tidak masalah, tapi untuk semua teman sekelas pindah ke ibukota dia agak keberatan, tapi dia memberikan ijin bagi Sylvia, Fran, Paul, Sarah, Freddy, Laurie dan Rex untuk pindah bersama kalian, mengenai Ria, aku sudah bicara dengan Jared dan menurutnya tidak masalah dia ikut pindah bersama kalian, bagaimana ?” Tanya Rodrick.
“Kami mau....kapan pindah...secepatnya.” Teriak ketiga nya
“Eh...kenapa kalian langsung bersedia begini ? Tidak seperti biasanya...” Ujar Rodrick heran.
__ADS_1
“Sebab kami tidak mau jadi student council....” Teriak ketiganya bersamaan.
“Ah...itu sebab nya.....” Balas Rodrick.
Akhirnya di putuskan kalau mereka akan pindah ke ibukota mulai dua minggu dari sekarang, sebab perjalanan ke ibukota memakan waktu seminggu. Rodrick meminta Agnes untuk mengumumkan nya di kelas mereka, seluruh teman sekelas lesu mendengarnya, tapi mereka mengerti dan melepaskan ketiganya dengan rela. Untuk Fran, Paul, Sarah, Freddy dan Laurie bersedia, tapi Rex menolak dan dia mau tetap di Lindwurm. Pulang sekolah, ketika sudah sampai di rumah, Ria langsung membicarakan hal kepindahan ke ibukota kepada ketiganya, Ria tidak masalah asal bisa selalu bersama, dia malah sudah bersiap siap di bantu Altea sejak mendengar hal itu dari Jared siang tadi.
“Oh iya Ria nee san....ini....” Rose memberikan sebuah smg mp5 kepada Ria.
“Apa ini ?” Tanya Ria sambil mengamati pistol nya.
“Semi machine gun, senjata tembak untuk Ria nee san, caranya tinggal mengisi sihir nee san ke dalam senjata dan tekan pelatuk nya, oh tapi buka dulu pengaman nya seperti ini.” Rose mengajarkan Ria cara memakai nya.
Kemudian Rose dan Altea mengajak Ria ke halaman belakang rumah, Ria mencoba memasukkan sihir elemen petir nya ke dalam senjata itu dan dia menekan pelatuk nya, Ria kaget karena tembakan nya beruntun dan mengeluarkan suara keras di tambah hentakan nya yang keras, tubuhnya mundur kebelakang setelah menembak dan di tahan oleh Altea di belakang nya, tapi daya rusak senjata nya luar biasa, pohon yang terkena tembakan beruntun nya langsung berlubang. Ria sedikit kaget melihat hasil nya dan mengamati senjatanya karena dia baru pernah melihat senjata seperti itu.
“Tapi ini aman kan.....senjata yang mengerikan.” Ujar Ria sambil mengamati nya.
“Aman...tenang saja nee san...yang penting di gunakan bila perlu saja, kita juga masing masing punya hehe.” Ujar Rose.
“Aku juga sudah membuat untuk diri ku sendiri.” Altea mengangkat kedua lengan nya dan dari punggung tangan nya keluar senapan gattling mini.
Dia menembakkan senapan nya dan hasil nya sama seperti yang lain nya. Setelah itu, dia memasukkan nya lagi ke dalam punggung tangan nya dan menurunkan tangan nya.
“Wow....” Ujar Leon dan Cathy yang melihat nya.
“Hehe itu belum seberapa, Altea tolong tunjukkan tapi jangan di tembakkan.” Ujar Rose.
“Baik...” Balas Altea.
Langsung saja, kedua punggung tangan, kedua samping paha, kedua samping lengan bagian atas, perut, kedua pundak meluarkan senapan gattling mini dan sebuah misil louncher keluar dari punggung nya.
“Whooah....” Teriak Leon, Cathy dan Ria.
“Sudah cukup Altea....gimana keren kan hehehe.” Ujar Rose.
“Benar benar otaku......aku pernah baca juga sih manga seperti itu.” Balas Leon.
“Hahaha ya benar, apa yang ada di manga bisa di wujudkan di sini.” Tambah Cathy.
“Hehehe ya begitulah.....kalau bisa bikim mobile suit aku mau bikin...” Ujar Rose.
“Jangan coba coba melakukan itu atau kami marah.” Balas Cathy dan Leon.
“Iya iya...onee chan dan onii chan payah....” Ujar Rose.
“Anoo...kalian bicara apa ? otaku ? manga ? mobile suit ?” Tanya Ria bingung.
“Manga : sebuah karya seni bergambar yang berasal dari sebuah negara bernama jep....”
Belum selesai Altea menjelaskan, mulutnya sudah di tutup oleh Leon, Cathy dan Rose. Ketiganya menoleh melihat Ria yang bingung dan melihat ke arah ketiganya yang berkeringat deras.
“Jangan di pikirkan onee san, bukan apa apa ahahaha.....” Ujar ketiga nya sambil memaksakan diri tersenyum.
“Ah baiklah, kalian memang aneh, aku sudah tidak heran. Ayo masuk ke dalam.” Balas Ria.
“Hehehehe...” Balas ketiganya sambil tetap menutup mulut Altea dan membawanya masuk ke dalam.
Ketiganya menarik nafas lega karena Ria tidak mempertanyakan lagi dan terlihat tidak mau tahu.
“Lain kali kalau mau bahas soal dunia lama di kepala saja...” Ujar Leon.
“Loh...kamu (Cathy) onii chan (Rose) yang mulai....” Teriak Cathy dan Rose.
“Ah benar juga hahaha.” Balas Leon.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam dan mulai membereskan barang barang mereka untuk pindah ke ibukota. Dua hari kemudian, Leon, Cathy, Rose, Ria dan Altea sudah siap di depan gerbang menunggu kereta menjemput mereka. Tak lama mereka menunggu, Fran, Paul, Sarah, Freddy dan Laurie datang membawa bawaan mereka. Oscar dan Mabel juga datang untuk mengantar kepergian mereka, bersama Jared, Agnes, Rodrick dan seluruh teman sekelas. Dua kereta indah yang di kawal oleh sekitar 10 ksatria tiba di gerbang, Sylvia sudah berada di dalam kereta yang di belakang. Fran, Paul, Sarah, Freddy dan Laurie naik kereta yang ada di depan, sedangkan Leon, Cathy, Rose, Ria dan Altea naik kereta di belakang bersama Sylvia. Kereta berangkat di iringi lambaian tangan orang orang yang mengantar kepergian mereka. Leon, Cathy dan Rose membuka jendela dan mengeluarkan kepala mereka untuk membalas lambaian tangan orang orang yang mengantar mereka dengan wajah ceria.