Isekai Overpower Triplets : The Saint, The Hero, The Sage - All Reincarnator

Isekai Overpower Triplets : The Saint, The Hero, The Sage - All Reincarnator
Chapter 21


__ADS_3

Leon, Cathy, Rose, Ria dan Altea masuk ke dalam halaman yang penuh rumput tinggi dan berjalan menuju rumah mereka yang sangat besar tapi sangat bobrok walau pun dari kejauhan tampak bagus dan megah. Tanaman rambat sudah menjalar ke dinding rumah di bagian luar. Hari sudah menjelang malam dan membuat suasana sedikit mencekam,


“Ini...ada hantunya ga ya ?” Celetuk Rose.


“Ke..kenapa bilang begitu......jangan bicara macam macam.” Ujar Cathy yang langsung menggandeng tangan Leon dan berjalan di belakang nya.


“Hee rupanya nee san takut hantu ya......” Ledek Leon sambil menoleh kebelakang.


“Diam, siapa yang takut hantu....kita kan dari kecil selalu bersama, masa kalian tidak tahu aku tidak takut hantu....” Teriak Cathy.


“Booo.....bleeee....” Teriak Rose yang diam diam menyelinap ke belakang Cathy.


“Waaaaaaa......” Cathy melompat memeluk kepala Leon dan mendekap nya.


“Nee....san....se...sak.......” Leon menepuk nepuk tubuh Cathy supaya melepaskan kepalanya.


“Hehehe onee chan.....sudah...lepaskan onii chan....nanti dia sekarat lagi hehehe.” Ujar Rose sambil menarik Cathy turun dari Leon.


Ria yang melihat nya tersenyum kecil dan Altea melihat nya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Ketika mereka sampai di depan rumah, tiba tiba lampu di dalam rumah menyala,


“Hii....kenapa ada lampunya......bener bener ada hantu...hiiii.....” Cathy semakin erat memeluk Leon yang terpaksa menggendong nya.


“Di dalam ada 10 orang, 7 wanita dan 3 pria, mau aku bereskan ?” Tanya Altea dengan wajah datar.


“Eeeh...tunggu, jangan main bereskan saja, lihat dulu...ayo masuk semuanya.” Ajak Ria.


Ke lima nya berjalan menaiki tangga dan berdiri di depan pintu. Rose dan Ria berdiri di belakang Leon sambil memegang Leon, termasuk Altea yang juga berdiri di belakang Leon walau tidak memeluk nya, sedangkan Cathy di gendong Leon di punggung nya.


“Sebentar, kenapa kalian bersembunyi di belakang ku ?” Tanya Leon bingung.


“Kamu cowo....” Ujar Cathy.


“Onee chan benar onii chan....kita mengandalkan mu.” Tambah Rose.


“Ayo Leon, buka....kita dukung dari belakang.” Tambah Ria.


“.......” Altea diam saja tapi dia juga berdiri di belakang Leon dengan wajah tanpa ekspresi.


“Haaaah...kalian ini....segitu takutnya ya sama hantu....baiklah, siap siap aku buka.” Ujar Leon.


Leon membuka pintunya dengan lebar dan ternyata di dalam sudah ada barisan maid di kanan dan kiri beserta dua orang buttler di tengah di tambah seorang chef di belakang nya.


“Selamat datang di mansion keluarga Heins.” Sapa seluruhnya serentak.


Di bagian dalam rumah itu sangat bagus, sangat bersih dan rapih, tampilan luarnya memang hancur dan bobrok. Seorang buttler maju ke depan, melihat buttler yang maju itu, Leon, Cathy, Rose dan Ria tertegun karena wajah nya sangat mirip dengan Albert walau dia terlihat lebih muda dan rambutnya masih berwarna.


“Al...bert ?” Tanya Leon.


“Bukan Leon sama, namaku Alfred, aku adalah adik dari Albert nii san, dia sering menceritakan tentang anda semua di surat nya, sayang dia meninggal waktu desa di serang.” Jawab Alfred sambil menunduk dan meletakkan tangan di dada nya, gaya menyapa yang khas seorang buttler berpengalaman.


“Oh jadi begitu....” Balas Ria.


“Benar Valeria ojo tenka.” Balas Alfred.


“Wooo wooo....jangan panggil aku Valeria ojo tenka, panggil Ria....” Protes Ria.


“Oh maafkan saya, Ria sama.” Balas Alfred yang kembali menunduk.


“Tapi kok Alfred san bisa di sini ?” Tanya Cathy.


“Awal nya rumah ini adalah rumah yang di berikan raja kepada Sylvia ojo tenka dan kami adalah pelayan pelayan yang melayani beliau. Tapi ketika aku mendengar kalau rumah ini di berikan kepada Valeria ojo tenka, Leon sama, Cathy sama dan Rose sama, saya langsung mengajukan diri kepada Sylvia ojo tenka untuk melayani kalian bersama semua pelayan di sini dan Sylvia ojo tenka menyetujui nya.” Jawab Alfred.


“Aku tidak tahu harus berkata apa, bagi ku...eh bagi kami semua, jasa Albert san sangat besar, dia mendidik kami dari kecil sampai menjadi seperti sekarang.” Ujar Rose sambil menunduk.

__ADS_1


“Senang aku medengar nya, aku bangga dengan Albert nii san. Ngomong ngomong dia siapa ?” Tanya Alfred sambil menunjuk Altea.


Altea langsung maju ke depan, dia langsung membungkuk dengan memegang rok nya dan menyilangkan kaki nya.


“Namaku Altea, aku adalah golem tempur dan  pelayan pribadi Leon sama, Cathy sama, Rose sama.” Ujar nya dengan wajah datar.


“Sudah kami bilang kamu bukan pelayan melainkan teman.” Teriak ketiganya bersamaan.


“Baiklah, kalau begitu Altea san kami tunjuk sebagai pelayan pribadi Leon sama, Cathy sama dan Rose sama...” Ujar Alfred.


“Terima kasih kerjasamanya, hanya saya yang bisa melayani Leon sama, Cathy sama dan Rose sama.” Balas Altea sambil melirik bangga kepada para maid lainnya yang melihat nya dengan geram dan tidak bisa meninggalkan barisan.


“Baru tahu ada golem punya harga diri seorang maid begini....” Ujar Ria perlahan.


“Yare yare...ulah sage sinting itu.” Ujar Leon, Cathy dan Rose di kepala mereka sambil menggelengkan kepala mereka.


Kemudian Alfred memperkenalkan semua maid, chef dan buttler, sekaligus menjelaskan tugas mereka masing masing. Setelah itu, Alfred mengajak mereka keliling mansion, dia menjelaskan ruang demi ruang, dari ruang makan, ruang tengah, ruang baca, ruang rekreasi dan kamar kamar mereka masing masing.


“Alfred san, kamar kita bertiga satu saja.....” Ujar Cathy.


“Iya benar Alfred san.....kita sudah biasa tidur bertiga.” Tambah Rose.


“Tapi bukankah kalian dulu di pisah oleh Albert nii san ? Ah benar juga, ujung ujung semua kumpul di kamar Leon sama.....baiklah aku akan sediakan tempat tidur tambahan di kamar yang paling besar..” Ujar Alfred yang sudah pernah membaca tentang mereka dari surat yang di kirimkan Albert.


“Um....kayaknya dari pada nambah tempat tidur, lebih baik sediakan tempat tidur yang besar saja satu, karena percuma...benar kan nee san, Rose....” Ujar Leon.


“Benar....percuma Alfred san.” Tambah keduanya serempak.


“Haaah...kalian sudah 16 tahun....jangan samakan seperti waktu 3 tahun. Aku heran, dirumah yang ada di kota Lindwurm juga gitu.” Ujar Ria.


“Hehehe begitulah kita nee san.” Balas ketiganya.


Akhirnya Alfred menambahkan dua tempat tidur di kamar yang paling besar dan di rapatkan sehingga mirip seperti satu tempat tidur. Setelah itu, ke empat nya mandi di sebuah kamar mandi yang sangat luas dengan kolam yang sangat lebar. Cathy, Rose dan Ria masuk lebih dulu dan mengusir maid yang bertugas untuk memandikan mereka termasuk Altea. Dan ketika Leon yang masuk ke dalam, ketiganya berjaga di depan pintu untuk mengusir maid yang datang, termasuk Altea. Makan malam sudah tersedia, semuanya masuk ke ruang makan yang di tengah nya sudah ada meja panjang dengan kursi kursi mewah. Makanan sudah tersedia di atas meja dan masih hangat, semua di masak oleh chef yang di perkenalkan kepada mereka tadi. Ke empatnya makan dengan lahap karena enak dan memang sudah lapar. Selesai makan, mereka bermain main sebentar di ruang rekreasi dan kemudian tidur di kamar masing masing. Di dalam kamar Leon, Cathy dan Rose, ketiganya masih mengobrol di kepala mereka.


“Aku kok kurang suka ya, risih, di kehidupan sebelum nya semua serba sendiri soalnya.” Balas Cathy yang juga melihat langit langit dengan kedua tangan di belakang kepalanya.


“Hehehe justru karena dulu sendirian, seperti ini aku malah senang.” Balas Rose yang bergaya sama seperti keduanya, melihat langit langit dengan kedua tangan di belakang kepalanya.


“Huh...di kehidupan lalu, aku malah jadi Alfred haha....melayani para nyonya yakuza, kalau lagi baik mending, kalau lagi mood nya jelek langsung kasar dan seenak nya, suka menyiksa dan memaksa aku melakukan hal itu, benar benar membuatku trauma dengan perempuan.” Ujar Leon tidak sadar bercerita tentang masa lalu nya.


Cathy dan Rose langsung menoleh dan melihat Leon yang terlihat tidak sadar dengan apa yang di ucapkan nya barusan. Keduanya baru tahu kalau ternyata Leon bukan hanya canggung dan tidak biasa dekat dengan perempuan, melainkan dia trauma karena apa yang di alami nya di masa kehidupan pertama nya, terutama dengan perempuan yang berkuasa. Cathy saling melihat satu sama lain dengan Rose dan keduanya mengangguk sambil tersenyum.


“Kalau sama kita sudah tidak trauma kan ?” Teriak keduanya sambil langsung memeluk Leon dari sisi kanan dan kiri dengan senyuman lebar.


“Hahaha geli...apa sih nee san, Rose, tentu saja kalau sama kalian aku tidak masalah.....(sadar) aaaaah...aku cerita apa barusan......” Leon langsung menutup wajah nya.


“Bagus dong, kita jadi tahu, kalau aku bukan trauma dengan laki laki, tapi benci dengan laki laki hehehe....” Balas Cathy yang juga membongkar diri nya sendiri supaya adil.


“Kalau aku sih, perempuan atau laki laki sama saja, aku benci semuanya hehehe.” Tambah Rose yang memang tidak pernah bersosialisasi sama sekali.


“Gitu ya ?” Tanya Leon sambil menoleh ke kanan dan kiri nya melihat wajah keduanya.


“Hehe tenang saja kalau kamu pengecualian....” Ujar Cathy.


“Sama, kalau kalian pengecualian....oh tambah Ria nee san.” Ujar Rose.


“Haha benar, tambah Ria nee san....” Tambah Leon dan Cathy bersamaan.


“Braaak...” Tiba tiba pintu di buka dengan kencang, Ria masuk dengan wajah yang garang dan marah. Dia langsung menutup pintu kembali dan berjalan menuju ketiganya.


“Kalian...tidak bisa diam ya....berisik...gedebak gedebuk....” Ujar Ria.


“Eh...maaf nee san...” Balas ketiganya.

__ADS_1


“Awas kalian.....kalian membicarakan aku kan di kepala kalian.” Ria melompat dan langsung menindih memeluk ke tiganya yang sedang berbaring di tempat tidur dengan senyuman yang lebar. Dia mengelus kepala ketiganya yang ada di bawah nya.


“Hahahahaha....” Ke empat nya tertawa dengan ceria.


***


Beberapa hari kemudian, seorang utusan istana datang ke rumah membawakan surat yang berisi tanda masuk akademi dan seragam baru yang berwarna biru (hanya blazernya saja yang berwarna biru, sisanya sama). Leon, Cathy dan Rose mulai masuk sekolah lagi di akademi ibukota.


“Hmm berarti mulai besok kalian sudah sekolah lagi, tapi akademi di ibukota berbeda dengan di kota Lindwurm, di sini banyak siswa dan siswi dari kalangan noble, walau kita juga sekarang noble, aku minta kalian jangan terlalu mencolok. Ingat, kita di sini bukan nya main main, kita tugas...” Ujar Ria menasihati ketiganya.


“Iya nee san, aku mengerti, aku juga memang tidak mau cari perhatian. Moto ku selalu bergerak diam diam dan sekali pukul beres.” Balas Leon yang lupa mengatakan prinsip kerjanya di kehidupan lalu.


“Tenang saja nee san, soal menyusup serahkan pada ku, aku ahli.” Ujar Cathy yang lupa kalau dia ahli menyusup di kehidupan yang lama.


“Benar nee san, soal mencari informasi dan membongkar sesuatu aku juga ahli....” Tambah Rose yang ikut ikutan lupa.


“Kalian ini bicara apa ?” Tanya Ria.


Medengar pertanyaan Ria ketiganya langsung sadar kalau Ria bukan bos atau klien mereka dan mereka keceplosan bicara.


“Ah tidak...ahahaha.” Ujar ketiga nya serempak sambil cengengesan.


Ria mengatakan kalau dirinya akan menjaga benteng yaitu rumah mereka bersama dengan Altea. Ria juga tidak mau terlalu aktif di guild petualang dulu karena masalah status nya. Dia juga khawatir kalau ada noble yang mengenalinya karena sebenarnya dia adalah putri kerajaan Ingresia.


***


Keesokan harinya, Leon, Cathy dan Rose sudah memakai seragam baru mereka. Ketiganya berpamitan dengan Ria, Altea dan Alfred untuk pergi menuju akademi. Alfred berniat mengantar mereka menggunakan kereta tapi mereka menolak dan memilih jalan kaki karena rumah mereka dan akademi tidak terlalu jauh. Ketiganya berjalan keluar gerbang dan berjalan di jalan kota, banyak orang yang melihat mereka bertiga dan menyapa mereka. Ketiga membalas sapaan penduduk kota yang menyapa mereka. Ketika tiba di depan akademi, Leon, Cathy dan Rose tertegun melihat betapa megahnya akademi di ibukota dengan gedung besar, lapangan luas, memiliki auditorium besar dan gedung khusus arena untuk berlatih.


“Oi kalian....” Teriak seseorang dari belakang.


Ketiganya menoleh, rupanya yang berteriak adalah Paul yang berjalan mendekati mereka di ikuti Freddy, Sarah, Fran dan Laurie.


“Hehe kita mulai sekolah di ibukota...” Ujar Sarah setelah berada di depan ketiganya.


“Hehe iya Sarah san....kelihatan nya seru nih.” Balas Rose.


“Yuk masuk, kita harus ke kantor kepala akademi dulu kan.” Ajak Fran.


“Ya...jangan lama lama diam di sini, banyak yang melihat.” Tambah Laurie.


Leon, Cathy dan Rose melihat sekeliling dan ternyata Laurie benar, mereka menjadi pusat perhatian, banyak murid murid yang berjalan masuk dan melihat mereka, sikap nya macam macam, ada yang mencibir, ada yang melihat dengan sinis, ada yang malah ingin kenalan, ada yang senang melihat mereka dan banyak juga yang masa bodoh alias netral. Akhirnya semuanya masuk ke dalam gerbang bersamaan dengan Leon, Cathy dan Rose jalan di depan. Banyak sekali yang melihat mereka masuk ke dalam,


“Sepertinya kita benar benar menarik perhatian....maaf Ria nee san.” Ujar Leon di kepalanya.


“Huh...biarin aja...aku tidak mengerti kenapa mereka melihat kita.” Tambah Cathy.


“Sebentar aku tanya.” Balas Rose.


Rose kemudian berbalik dengan tetap menggandeng lengan Leon dan berjalan mundur menghadap teman teman nya.


“Eh kalian tahu tidak kenapa kita di lihat terus seperti ini ?” Tanya Rose kepada teman teman nya.


“Tahu, karena kalian kembar tiga dan jalan bergadengan tangan.” Jawab teman teman nya serempak dan bersamaan.


“Oh hehehe....” Ujar Rose yang langsung berbalik dan meneruskan jalan nya bersama Cathy dan Leon.


Sementara itu, dari sebuah jendela yang berada di lantai 3, di dalam gedung akademi, beberapa bayangan siswa dan siswi melihat mereka sambil tersenyum.


“Ketiga murid kembar di bawah, itu mereka ya ?” Tanya seorang siswa sambil menoleh kesebelahnya.


“Benar, tidak salah lagi, itu mereka, aku melihat mereka di ruang singgasana karena aku kebetulan di sana di ajak papa.” Jawab seorang siswi di sebelah siswa yang bertanya.


Dan baru hari pertama Leon, Cathy dan Rose datang ke akademi, mereka sudah menarik perhatian sekelompok siswa dan siswi yang mengincar mereka dengan  tujuan yang belum jelas terhadap ketiganya.

__ADS_1


__ADS_2