
Dua hari berlalu, Leon, Cathy dan Rose tidak melihat Ria dan Altea selama dua hari, mereka hanya menitip pesan kepada Alfred kalau Ria dan Altea pulang, tolong katakan mereka pergi ke kota pertambangan Helion. Pagi pagi sekali, ketiganya sudah siap pergi, Rose mengeluarkan mobil nya dan ketiganya naik mobil dari depan rumah nya. Alfred yang mengantar mereka di gerbang tercengang melihat mobil itu, tapi dia sudah tidak heran lagi semenjak dia tinggal dengan ketiganya,
“Hati hati di jalan Leon sama, Cathy sama, Rose sama....” Ujar Alfred sambil memberikan bungkusan makanan kepada Rose yang membuka kaca jendela di belakang.
“Baiklah, kami pergi dulu ya Alfred san.....” Ujar Leon dari depan.
“Jangan lupa sampaikan ke nee san ya kalau dia kembali....” Tambah Cathy.
“Pasti saya sampaikan....selamat jalan Leon sama, Cathy sama, Rose sama....” Ujar Alfred.
Mobil mulai berjalan, Rose dan Cathy mengeluarkan kepala dari jendela dan melambai kepada Alfred dan para maid lainnya yang membalas melambaikan tangan. Mereka melewati jalan ibukota yang masih sepi dan tidak ada orang sama sekali, hanya ada beberapa penjaga yang sedang patroli dan petugas yang mematikan lampu jalan. Leon memacu mobil nya sedikit kencang supaya cepat keluar dari gerbang, tapi begitu mereka sampai di depan gerbang, seseorang yang memakai jubah dan kerudung melompat ke depan mobil yang berjalan dan merentangkan tangan nya. Leon langsung menginjak rem nya dan mobil berhenti mendadak persis di depan orang itu.
“Huff.....siapa sih, tidak tahu bahaya apa.” Teriak Leon.
“Uuuuh......sakit....apa sih orang itu....” Teriak Cathy yang kepalanya sedikit terbentur dasbor karena rem mendadak walau dia memakai sabuk pengaman.
“Adu duh.....kenapaaaaaaaaa mengereeeem....” Ujar Rose di belakang yang baru berdiri karena dia jatuh.
Orang yang memberhentikan mereka langsung berlari ke pintu belakang dan membuka pintu, kemudian naik ke dalam mobil.
“Hei....” Teriak Leon sambil menoleh.
Orang itu membuka kerudung nya dan ternyata dia adalah Sylvia, kemudian dia membuka jubah nya dan dia sudah memakai armor yang lengkap seperti mau berperang.
“Ojo tenka.....” Teriak ketiganya.
“Ssst....ayo cepat jalan sebelum penjaga menyadari nya....” Bisik Sylvia.
“Aku tidak mau membawa mu....” Ujar Leon.
“Ayolah...cepat cepat.....” Bisik Sylvia lagi.
“Huuuuh.....ini raja tahu tidak ?” Tanya Cathy.
“Tentu tidak hehe...lagipula, kalian butuh pemandu kan di kota Helion...aku orang yang cocok untuk pekerjaan itu.” Jawab Sylvia.
“Aaaah....lagi lagi putri bermasalah yang kerjanya nyusahin orang....” Gumam Rose.
“Kita tidak bisa membawa mu Sylvia, tolong mengerti, kalau sampai terjadi apa apa bagaimana ?” Tanya Leon.
“Heee aku tidak lemah ya...lagipula aku tahu loh job kalian yang sebenarnya...bukan begitu Hero sama, Saint sama, Sage sama....” Ujar Sylvia.
“Eh.....kenapa kamu bisa tahu ?” Tanya ketiganya serempak.
“Ada deh, pokok nya kalau aku tidak di ajak, aku sebarkan, oh ya papa ku belum tahu mengenai kalian hehe.” Jawab Sylvia yang merasa menang.
“Duh repot nih....” Ujar Leon.
“Ya sudah ikut....tapi kami tidak mau tanggung jawab kalau ada apa apa.” Ujar Cathy.
“Kenapa jadi begini...baru kupikir kita akan bertiga aja dan menyenangkan....” Keluh Rose.
“Ayo ayo jalan, tenang saja, aku tahu resiko nya.....” Balas Sylvia.
Akhirnya karena tidak ada pilihan lain, Leon menjalankan mobil nya keluar gerbang untuk menuju kota Helion dengan membawa Sylvia yang terlihat riang gembira.
“Oh kalian tidak usah menyamar tidak apa apa, rambut hitam dan mata silver hehe.” Gumam Sylvia.
“Arrrgh....kita begini saja....terima kasih.” Ujar ketiganya kompak.
Setelah sudah agak jauh dari ibukota, Leon mulai jalan perlahan mengikuti jalan di padang yang luas,
“Maaf nih Sylvia sama, tapi bagaimana kamu bisa tahu mengenai kita bertiga ?” Tanya Leon.
“Um....aku katakan, tapi kalian tidak boleh marah dengan yang bersangkutan ya.” Ujar Sylvia.
“Ya, katakan saja...” Tambah Cathy.
__ADS_1
Akhirnya Sylvia menceritakan, kemarin dia bertemu dengan Fran di pasar ketika dia sedang berjalan jalan. Keduanya berbincang bincang layak nya teman dan pergi bersama untuk berbelanja. Menurut Sylvia, Fran terus membicarakan Leon, Cathy dan Rose, sebab dia merasa bangga menjadi teman ketiganya. Sylvia iseng bertanya mengenai job Fran, tapi dia ragu menyebutnya dan menyebut job yang salah dari yang Sylvia tahu. Akhirnya Sylvia mengkorek Fran mengenai ketiganya menggunakan otoritasnya sebagai putri kerajaan. Fran yang takut akhirnya menceritakan semuanya dan minta Sylvia berjanji supaya tidak memberitahu ketiganya kalau dia yang membocorkan semuanya.
“Sudah kuduga.... kasihan Fran.” Balas Rose sambil melihat keluar jendela.
“Haaaah......tidak mungkin marah juga sama Fran, dia di paksa sih.” Sindir Cathy.
“Sylvia sama, mohon rahasiakan ya, kita bertiga tidak akan mengungkitnya lagi, jangan pernah beritahu siapapun.” Ujar Leon.
“Tenang saja Leon sama....mulut ku rapat dan aku minta kalian jangan marah sama Fran, aku yang salah soalnya hehehe.” Sylvia mengingatkan kembali.
“Ya ya kami tahu....” Jawab ketiganya pasrah.
“Tapi kok tumben, Ria nee sama tidak ikut ? biasanya kan kalian selalu berempat. Oh berlima dengan maid nya.” Tanya Sylvia.
“Itu dia yang kita heran, biasanya nee san kalau mau pergi pasti bilang walau dia pergi jauh dan sedikit lama. Dua hari terakhir kita belum bertemu dia, terakhir ketemu, dia pamit mau ke guild katanya.” Jawab Cathy.
“Iya benar, tumben nee san tidak bilang sama kita....” Tambah Rose.
“Tapi nee san biasanya ada alasan sendiri kan, nanti juga dia cerita, biasanya gitu kan.” Balas Leon.
“Iya sih...kalau pulang pasti cerita nanti, tapi kita sudah keburu pergi dan tidak tahu berapa lama di kota itu.” Balas Cathy.
“Sayang di sini ga ada smartphone....” Celetuk Rose.
“Eh...smartphone...apa itu ?” Tanya Sylvia.
“Ah....bukan apa apa hehehe.....” Jawab Rose.
Mereka meneruskan perjalan mereka menuju kota Helion. Saat ini mereka masih belum mengetahui apa yang sedang di alami oleh Ria dan Altea yang menuju ke tujuan yang sama dengan mereka. Menurut Sylvia, perjalan menuju Helion memakan waktu 5 hari naik kereta, jadi kalau naik mobil mungkin bisa lebih cepat dari seharusnya.
***
Hari sudah sore menjelang malam, rombongan kereta yang mengangkut Ria dan Altea sudah mendekati ujung jalan untuk keluar dari hutan. Ria merasakan kereta berhenti dan berbelok menerobos pepohonan, pengemudi kereta turun dan memaksa kudanya untuk berjalan di jalan setapak menembus hutan.
“Kita mau di bawa kemana ?” Tanya Ria.
“Yang jelas mereka bukan petualang.....mereka bandit.” Balas Ria.
“Sayang guild master itu dan Oscar tidak ikut, kalau tidak kita bisa menghabisi mereka.” Balas Marvel dengan geram.
“Benar, kita tunggu saja dulu.....siap siap saja untuk beraksi....Altea, kamu siap ?” Tanya Ria.
“Selalu.....” Balas Altea santai.
Kereta terus berjalan melalui jalan berbatu, sehingga menimbulkan guncangan di belakang. Ria, Marvel dan Altea melompat lompat kecil karena guncangan di belakang. Akhirnya jalan kembali mulus, Marvel mengintip keluar dengan menjulurkan kepalanya dari jendela. Ternyata mereka mengarah masuk ke dalam gua yang sangat besar. Di kanan dan kiri pintu gua ada obor besar menyala, sepertinya memang inilah markas bandit bandit yang membawa mereka. Setelah itu, kereta berhenti, terdengar suara ramai di luar kereta. Seorang pria berwajah seram dengan codet di wajah nya membuka tirai pintu belakang kereta,
“Turun....” Teriak nya.
Ria dan Marvel menurut, mereka berdiri dan turun, kemudian beberapa bandit masuk ke dalam kereta dan menggotong Altea turun dari kereta dengan wajah sengsara karena Altea sangat berat bagi mereka. Ria dan Marvel melihat mereka sudah di mulut gua yang terang dengan cahaya obor. Mereka melihat ke dalam gua, banyak obor yang menancap di dinding untuk penerangan. Seorang bandit mendorong Marvel dari belakang,
“Jalan....jangan diam saja......” Teriak nya.
Keduanya berjalan masuk ke dalam gua, ketika di dalam, mereka tiba di gua yang besar, penuh dengan karung, gentong, meja, kursi dan beberapa kerangkeng di sudut gua. Para bandit itu langsung memasukkan Ria ke sebuah kerangkeng terpisah dari Marvel dan Altea yang masing masing di masukkan ke kerangkeng berbeda walau ketiga kerangkeng mereka berdekatan jadi mereka masih bisa bicara. Tiba tiba, “Gruyuuuuk....grooowl.” Perut Ria berbunyi kencang.
“Ups....hei...aku lapar...” Teriak Ria kepada bandit yang sedang berjaga di depan mereka.
“Diam....siapa yang suruh bicara....” Teriak bandit itu sambil memukulkan golok nya ke jeruji kerangkeng.
Tapi penjaga itu keluar dari gua dan menuju ke mulut gua. Tak lama kemudian, dia kembali membawa dua nampan dari kayu berisi semangkuk sup cair dan roti berserta minum nya, kemudian dia menaruh nya di depan kerangkeng Ria dan mendorong nya ke dalam kerangkeng. Setelah itu, dia menaruh nampan satunya di depan kerangkeng Marvel dan mendorong nya ke dalam.
“Makan, kita di perintah Oscar sama untuk melayani kalian......tapi jangan harap lebih dari ini....” Ujar penjaga itu.
“Gimana caranya makan kalau tangan kita di ikat begini ?” Tanya Ria.
Bandit yang berjaga itu menaruh golok nya di meja dan mencabut pisau dari pinggangnya, dia berbalik dan berjalan menuju kerangkeng Ria,
“Berbalik.....” Ujar penjaga itu.
__ADS_1
Ria berbalik dan penjaga itu menarik tangan nya yang di ikat sampai Ria menempel pada jeruji. Dia memotong tali yang mengikat Ria, tapi Ria langsung berbalik dan menyambar pakaian nya, kemudian membentukan kepala penjaga itu ke jeruji dan membuatnya pingsan.
“Ok Altea...silahkan mengamuk...” Ujar Ria.
“Affirmative...” Altea langsung berdiri seperti vampire
Tangan nya langsung berubah menjadi pedang dan “Sriiing...” sabetan pedang nya menghancurkan jeruji kerangkeng yang mengurung nya. Altea keluar dengan santai, kemudian dia menghancurkan jeruji kerangkeng Marvel dan Ria, keduanya keluar dan mengendap ngendap menuju mulut gua. Ria melihat tas dimensi nya ada di meja yang dekat dengan mulut gua. Dia menoleh kepada Altea yang langsung mengangguk. Roket di punggung dan kaki nya keluar, Altea melayang berdiri di depan mulut gua, semua bandit yang ramai di depan gua langsung mengepung Altea yang melayang di udara. Langsung saja seluruh persenjataan Altea keluar dari tubuh nya dan terdengar suara tembakan yang bising di iringi teriakan para bandit yang bernasib malang karena berhadapan dengan Altea.
“Ayo Marvel sama....” Ajak Ria.
“Ya....” Balas Marvel.
Ria keluar dan menyambar tas pinggang nya, sedangkan Marvel menyambar sebuah busur dan tempat anak panah nya sebab tongkat nya tidak tahu ada di mana. Ketika keluar, mereka melihat Altea sudah berdiri di depan dengan para bandit sudah terkapar bersimbah darah.
“Wuihh...mengerikan...” Ujar Marvel.
“Yah begitulah, tapi mereka pantas mendapatkan nya, ayo kita pergi, karena kota Helion lebih dekat dari sini, kita kesana saja dulu.” Tambah Ria.
“Hati hati...ada yang datang.” Ujar Altea.
“Plok...plok...plok...” Terdengar suara orang bertepuk tangan di belakang mereka.
Ria, Marvel dan Altea menoleh, ternyata Oscar datang di belakang mereka sambil bertepuk tangan.
“Memang hebat Valeria sama, kamu memang tidak normal ya, coba mau jadi party ku.” Ujar Oscar.
Oscar ternyata tidak sendiri, ada dua orang lagi bersama nya, seorang wanita dan seorang pria.
“Hei..inikah mereka ?” Tanya pria itu.
“Ya...ini mereka....” Balas Oscar.
“Hmm yang wanita itu bagian ku....” Tambah wanita yang maju duluan.
Wanita itu mengerang keras dan tubuhnya mulai berubah, dari pinggang ke bawah berubah menjadi kaki serigala yang besar, tubuh bagian atasnya sampai kepala nya menjadi serigala besar berwarna merah. Ekor serigala keluar dari pinggang nya dan wajah nya berubah menjadi moncong serigala. Kedua tangan nya berubah menjadi cakar yang besar,
“Aaaaaaooooooo.” Wanita itu melihat ke atas dan melolong seperti serigala.
Setelah itu, wanita itu melesat maju dan langsung menyerang Altea dengan cakarnya yang menangkis nya dengan tangan nya yang berubah menjadi pedang. Altea mundur dan manusia serigala itu mengejarnya.
“Altea....” Teriak Ria menoleh melihat Altea.
“Hei...jangan melihat yang lain....” Tinju Oscar yang sudah berubah menjadi tinju manusia serigala besar berwarna hitam sudah di depan wajah Ria.
Ria langsung bersalto ke belakang menghindari nya, dia menoleh, Marvel juga sedang di serang oleh manusia serigala berwarna putih.
“Apa sebenarnya mau mu Oscar....” Teriak Ria.
“Tidak ada, aku hanya ingin mengembalikan kamu ke tempat mu yang sebenarnya yaitu kerajaan Ingresia dan aku dapat hadiah, oh mereka tidak perduli kok hidup atau mati, aku hanya butuh kepalamu....hehehe....maaf ya.”
Oscar mengerang dan dirinya langsung berubah menjadi manusia serigala yang lebih besar dari tubuh nya sebelum nya. “Aaaaaaaooooooo.....” Oscar melolong tanda bersiap menyerang, kemudian dia melihat Ria dengan garang, siap mencabik cabik Ria di hadapan nya. Cakarnya sudah terbuka dan terlihat senyuman di wajah serigalanya. Tapi begitu dia mau maju menyerang,
“Yahoooooooooo.......” Terdengar teriakan dari atas.
Ria dan Oscar menoleh ke atas melihat arah teriakan terdengar. Tiba tiba “Bum..” Debu dan tanah berhamburan sehingga membuat keduanya susah melihat, ketika debu sudah menghilang, Ria melihat Leon mendarat di tengah tengah Oscar dan dirinya, dalam keadaan sudah mencabut pedang nya dan tersenyum melihat Oscar.
“Eh Leon ? kok di sini ?” Tanya Ria bingung.
“Hehe panjang ceritanya nee san.....” Balas Leon.
“Yang lain mana ?” Tanya Ria.
Leon menunjuk ke atas, Ria menoleh dan melihat seekor naga dari tulang sedang terbang di atas mereka. Cathy dan Rose melompat turun sambil membawa Sylvia, mereka mendarat di sebelah Leon.
“Hahaha...pas...semua datang kesini, sekalian ku habisi semua....” Ujar Oscar.
“Silahkan kalau bisa....” Balas Leon sambil memasang kuda kuda nya dan meletakkan nodachi nya di belakang lehernya sambil tersenyum lebar.
__ADS_1